Tuesday, December 20, 2011

[sehat] Digest Number 16738

Milis SEHAT Group

Messages In This Digest (25 Messages)

1a.
Re: Sharing:Korespondensi saya dengan Pihak Satgas Imunisasi From: Ade Novita Juliano
2.
Trauma abdomen?? dan demam kipi typhoid?? From: ~A D E .M.~
3a.
Re: peraturan penerbangan membawa asi From: Ade Novita Juliano
3b.
Bls: [sehat] peraturan penerbangan membawa asi From: Abrar Mom
4.
[NEWS]  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement threatens us a From: /ghz
5.
[news] JANGAN SALAHKAN GARAM From: /ghz
6.
[news]  Pemeriksaan Mikrobiologi Cegah Resistensi Antibiotik From: /ghz
7a.
Re: urgent, need help BB bayi turun terus tdk tau apa penyebabnya From: Dewinda
7b.
Re: urgent, need help BB bayi turun terus tdk tau apa penyebabnya From: cy
8a.
Re: Bls: Bls: [sehat] Re: peraturan penerbangan membawa asi From: Dwiana
9a.
Ambeien pada anak 2 tahun...hik From: Hari Rahmi
9b.
Re: Ambeien pada anak 2 tahun...hik From: Inta
9c.
Re: Ambeien pada anak 2 tahun...hik From: marcella.kasih@indosat.blackberry.com
10a.
Re: share: sulitnya pengen nerapin RUM From: fia_ku
10b.
Re: share: sulitnya pengen nerapin RUM From: onlyzie@yahoo.com
11a.
Review Buku :  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement threate From: /ghz
11b.
Re: Review Buku :  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement thr From: aina
11c.
Re: Review Buku :  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement thr From: rulinovich94@yahoo.com
11d.
Re: Review Buku :  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement thr From: marcella.kasih@indosat.blackberry.com
12a.
dokter internist rum From: Ria Standa
12b.
Re: dokter internist rum From: niken qinen
13.
Batuk pilek ga mau makan samsek From: nataliesalatiga
14a.
Tanya : Ketuban Pecah, Induksi ato Cesar? From: teramayang
14b.
Re: Tanya : Ketuban Pecah, Induksi ato Cesar? From: aina
15.
OOT: [sehat] dokter internist rum From: marcella.kasih@indosat.blackberry.com

Messages

1a.

Re: Sharing:Korespondensi saya dengan Pihak Satgas Imunisasi

Posted by: "Ade Novita Juliano" ade.novita.juliano@gmail.com   novita_ade

Mon Dec 19, 2011 9:20 pm (PST)



sebetulnya Peraturan PerUndang-Undangan kita sudah mencakup semua upaya
promotif, preventif dan kuratif. Mengenai Imunisasi jelas sekali diatur,
lengkap dari hulu ke hilir udah done semua aturannya.

semua dilakukan seimbang sesuai porsi nya masing2

Banyak banget ketentuan dalam perUndangan yang bisa aja kita gunakan untuk
menjerat orang2 yg salah mengartikan kebebasan berpendapat ini, tapi
peraturan yang sama itu pun dapat menjerat pula orang2 yang tidak bersalah
atau orang2 yang benar2 mengemukakan pendapat dengan bertanggungjawab

mungkin banyak pertimbangan, dan saat ini memang rasanya akan lebih baik
memperbanyak informasi positif sehingga tak ada lagi informasi negatif yang
sempat terbaca, untuk itu mari berlomba2 kampanye secara ppositif,
cerdaskan bangsa, gulirkan bola salju

sering2 berkunjung ke situs2 terpercaya untuk recharge keyakinan kita, akan
putusan kita dalam rangka mengoptimalkan tumbuh kembang anak kita.

buka mata hati buka telinga... mantapkan hati berserah pada Tuhan...

mengenai imunisasi banyak sekali film2 yang menggambarkan bagaimana manfaat
imunisasi bagi kesehatan manusia, yang terbaru itu CONTAGION... kemarin
beberapa teman milssehat nobar bareng

nonton deh.. di bbrp tempat masih ada, klo sudah ketinggalan, sabar nunggu
dvd aslinya ya :)

liat di situs CDC, mereka bikin release resmi soal nilai2 dalam film
tersebut, menurutku pesan dalam film itu "the choice is yours"

salam mencegah lebih baik daripada mengobati
@Ade_Novita

[Non-text portions of this message have been removed]

2.

Trauma abdomen?? dan demam kipi typhoid??

Posted by: "~A D E .M.~" daffa.kayyisa@gmail.com   bunda.daffyisa

Mon Dec 19, 2011 9:25 pm (PST)



Dear sps dan docs.

Mohon bantuannya.
Ada 2 case yang ingin saya tanyakan.

Sulung saya, Daffa (6y9m) imunisasi thypoid dan hep A hari Jumat, tgl. 16 des pukul 15.

Demam baru muncul 26 jam kemudian, sampai mencapai 40 dersel.
Masih naik turun sampe kemaren.
Terakhir demam 38,7 semalam jam 8 malam. Tidak rewel, hanya tidur gelisah.suhu bangun pagi, 37dercel.

Pagi tadi, Rabu 20des, Daffa kepleset dari kamar mandi, dada dan perutnya ngebentur lantai. Baru ada keluhan 2 jam y.l.

Hanya karena Daffa ada keterbatasan komunikasi, dia hanya bisa bilang ,"perut sakit". semua yg saya pegang katanya sakit. Tp yg benar2 membuat dia menghindar utk di pegang adl bagian perut atas, dekat diafragma.

Anaknya mngeluh ingin muntah, sempat menangis jejeritan ketika saya coba gendong, dan sakit klo badannya di rebahkan.
Ayahnya suruh bawa segera ke RS.Tapi saya mau observasi dulu.
Apa ya tanda2 kegawatdaruratan trauma pada abdomen?
Jika, harus ke Rs, apa yg hrs saya siapkan?

Siang ini, panasnya naik ke 39,1dersel.
Apakah ini masih kelanjutan dari kipi vaksin thypoid?(Setelah berjarak hampir 72 jam, tak ada batuk pilek )
Barusan saya kasi parset, lebih utk mengurangi nyeri perutnya, sdh benar belum ya?

Terimakasih

Salam :)

~* A D E .M.*~

Powered by DaffyisaBerry®
3a.

Re: peraturan penerbangan membawa asi

Posted by: "Ade Novita Juliano" ade.novita.juliano@gmail.com   novita_ade

Mon Dec 19, 2011 9:27 pm (PST)



Dear Mom Abrar

sudah banyak yang bantu ya.. semoga bisa lebih tenang

ingin menambahkan sedikit
selain membawa bekal peraturan2 terkait ijin membawa ASI dalam penerbangan,
bisa dilakukan hal2 berikut
1. gunakan waktu yang ada untuk memperbanyak stok ASI Perah, karena
selain bermanfaat dalam meningkatkan volume ASI juga dapat menambah jumlah
simpanan ASIP. Jadi apabila kemungkinan terburuk terjadi, ga bisa bawa
oleh2 ASIP, pada saat kembali nanti tidak perlu kejar2an menyetok ASIP lagi

2. bila sudah diketahui bahwa kemungkinan terburuk terjadi, jangan berhenti
untuk memerah ASI secara rutin selama berada di luar negeri, karena ini
penting untuk menjaga produksi ASI. walaupun pada akhirnya ASIP tersebut
hanya untuk dibuang

salam,
@Ade_Novita

[Non-text portions of this message have been removed]

3b.

Bls: [sehat] peraturan penerbangan membawa asi

Posted by: "Abrar Mom" abrar_mom@yahoo.com   abrar_mom

Mon Dec 19, 2011 11:18 pm (PST)



makasiiiihh...

klo gtu singapore dijadwalkan pertama aja jadi klo pait2nya kebuang ga nangis bombay hehehe..
udah siap stok ASIP sih mom... untungnya Abrar dah 11 bulan jadi dah berkurang mimik ASIPnya..

[Non-text portions of this message have been removed]

4.

[NEWS]  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement threatens us a

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Mon Dec 19, 2011 9:58 pm (PST)



fyi..
kalau ada yg sudah pernah membaca bukunya sharing donk.
mengenai imunisasi saya lebih percaya mas paul.

gerakan anti vaksin ini bukan hanya sekarang saja.
sudah dari jaman baheula.....sebelum kita semua brojol...dan akan terus
beranak-pinak.

bagaimana dengan yg disini.

saya melihat ada 2 kekuatan :

1. golongan profesional yg bukan ahlinya tetapi memanfaatkan issue ini
untuk terapinya/bisnisnya dan sejenisnya....ada dokter indonesia yg
menjadi anggota DAN(Defeat Autism NOW).
saya katakan bukan ahlinya karena tidak meneliti secara langsung dan
kemudian mempublikasi di jurnal internasional agar dapat di nilai ilmiah
atau tidaknya hasil temuannya.
contoh : si "ksatria ngawur' Dr. Andrew Wakefiled, saya aku ksatria
karena berani mempublikasikan hasil risetnya perihal autism berhubungan
dengan mmr pada th 1998, ndak ngumpet2...:)
sehingga dari kengawuranya berdampak pada dicabutnya izin praktek oleh
Dewan Medis Umum Inggris kl disini IDI.
cilakanya sampai skg banyak diikuti oleh para pemggembira disini....

2. golongan pengembira kayak saya...asal njeplak dan comot dari internet.
cilakanya ndak mau menelusuri dulu sumber informasinya...penting
posting..jebret...
lebih cilaka lagi yg taklid buta....ini banyak juga....organisasi
disalahkan.....
mereka jelas2 kumpulan orang berilmu...ndak seperti saya yg asal ngEcap.

solusinya :

1. mestinya ini tugas IDI untuk mengajak dialog, biasanya model
orang/kelompok begini susah diajak dialog....merasa dihakimi....dst.
saya bilang IDI harus tegas...UU sudah mengaturnya...kalau ada yg
cem macem segera ciduk biar ndak nular....soalnya ini amsuk jenis
penyakit menular

2. edukasi terus menerus ke masyarakat

dulu issunya ndah seheboh ini, karena teknologi belum memungkinkan.
sekarang bangun tidur baru melek saja yg di pegang dan BB.....:)
update status.....ampun jgn di timpuk saia.

nah besok2 boleh lah sehari 2 atau 3 kali update status yg
positif.....perihal ASI, Imunisasi, Antibiotik...dst...dsb......

selanjutnya bagaiman sikap kita

1. tegas...jangan abu2......ibarat pohon akarnya menghujam
ketanah...sehingga tdk mudah terombang-ambing.
ini artinya punya sikap.

dan milis ini sejak berdiri sudah punya sikap...berdasarkan EBM/EBP...
bolak-balik-bolak disampaikan yah masihhhh aja posting.
tolong dimengertilah ini..kasihan foundernya......
diluar EBM/EBP mau bahasa apa saja...buanyak banget
tempatnaya........mau ngomongin halal...ada milis HBE....ngomongin
dakwah ada milis tausyaih/DT...dst....disana nanti bisa ketemu saia lagi
:)....

2. tugas kita bersama untuk terus belajar.
bagaimana kalau mau menyampaikan sesuatu kalau kita tidak tahu ilmunya.
sehingga ketika ditanya binggung mau jawab apa...bisa2 malah kebawa
arus.......fwd ke milis.....di jawab dimilis...fwd lagi ke sumber/milis
lain.....
mumet jadi main fwd-fwd-an...apa yg kita dapat?
apes2nya pusing sendiri kalau ndak di cemooh

dah yah kepanjangan ini...

maafken..maafken.....

samsul=SalAM SUaLayangggggg
g-h sampai z.
http://iluvimunisasi.wordpress.com

Deadly Choices: How the anti-vaccine movement threatens us all -- review

My review of the exposé that presents a reasoned and carefully
documented argument about paranoid claims spouted by shrill
"anti-vaxxers" -- a powerful citizen misinformation activist movement

There was a time when vaccines were recognised as the life-saving
medical advances that they are, but somewhere along the way, a portion
of the public became side-tracked by the paranoia spouted by the
powerful citizen misinformation activist movement, the anti-vaxxers, and
stopped vaccinating their children. How did one of the safest of all
medical practices become so widely feared and maligned? In the book,
/Deadly Choices: How the Anti-Vaccine Movement Threatens Us All
<http://www.guardian.co.uk/books/data/book/unclassified/9780465021499/deadly-choices-how-the-anti-vaccine-movement-threatens-us-all>/
(Basic Books: 2011; Amazon UK
<http://www.amazon.co.uk/exec/obidos/ASIN/0465028543/livithescieli-21/>;
Amazon US
<http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0465021492/livingthescie-20/>),
pediatric infectious disease specialist and developer of the rotovirus
vaccine, Paul Offit, investigates the history of the "antivax" movement
in the United States and tells how this particular mass hysteria has
"gone viral", threatening everyone's health.

"We've reached a tipping point," Dr Offit writes. "Children are
suffering and dying because their parents are more frightened by
vaccines than by the diseases they prevent." [p. 191]

Parental fears are hardly surprising when you read about the multitude
of illnesses and disorders that vaccines presumably cause, ranging from
multiple sclerosis to diabetes, learning disabilities, attention
disorders and yes, even autism. But even before British ex-physician,
Andrew Wakefield, fabricated his claim of a link between vaccines and
autism in a 1998 scientific paper that was retracted in 2010, vaccines
have long inspired fear in at least some segment of the public. More
than 100 years ago, a significant proportion of the public was afraid of
vaccines made from cowpox that protected them from smallpox. Even though
this vaccine /halved/ the smallpox death rate at the time, there was a
popular movement in Britain to withhold this life-saving innovation
because people feared it transmitted other diseases, that it might make
the recipients insane or transform them into cattle.

With such a history, it would be easy to be scornful or dismissive of
the public's fears. And undoubtedly, Dr Offit has long been an outspoken
critic of the anti-vaccine movement, but in this book, he presents an
even-handed overview of the vaccine debate, including its setbacks, such
as the live polio vaccine (which could cause polio) -- although he makes
a point to tell us that most vaccines don't rely on live viruses.

Dr Offit argues that the anti-vaccine movement thrives on inspiring
fears that are contrary to actual research. He clearly explains why some
of the so-called "risks" of vaccines are not physiologically realistic
or possible, and talks about scientific studies that effectively
dismantle anti-vaxxers' unfounded claims. But he also reminds us that a
few vaccines /could/ be made safer for everyone if "big Pharma" had a
financial or government-mandated incentive to do so -- a cause that
anti-vaxxers should redirect their rather considerable energies towards
supporting. For example, people who suffer from egg allergies cannot get
vaccines made from chicken eggs -- which means they cannot get the flu
vaccine
<http://girlscientist.blogspot.com/2005/03/influenza-how-its-biology-affects.html>.

Even though he relies on science to refute anecdotal stories repeated by
the anti-vaxxers, Dr Offit doesn't forget to share some personal
stories, too. In the last chapter, he visits several American towns to
tell us what happens when someone who is too young to be vaccinated or
whose immune system is unable to manufacture antibodies in response to a
vaccine is later exposed to an infected child whose parents chose /not/
to vaccinate. These stories show how a seemingly private decision not to
vaccinate one's own kids puts other people at risk -- with potentially
tragic consequences. However, this last chapter is not at all
depressing, quite the contrary: these parents are speaking up, and
people are listening.

This passionate book is a candid and educational must-read for all
health-care professionals, public health officials and especially for
parents. It presents a detailed, clearly-written, and meticulously
sourced argument in support of the scientific basis underlying vaccines,
a discussion of the real and imagined risks of vaccination, and the
public consequences of the private choices that we all make about vaccines.

.. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..

*Paul Offit
<http://www.med.upenn.edu/apps/faculty/index.php/g275/p12540>* is the
Chief of the Division of Infectious Diseases and the Director of the
Vaccine Education Center
<http://www.chop.edu/service/vaccine-education-center/> at Children's
Hospital of Philadelphia <http://www.chop.edu/>, and he is the Maurice R
Hilleman Professor of Vaccinology at the University of Pennsylvania
School of Medicine <http://www.med.upenn.edu/>. Dr Offit is a founding
advisory board member of the Autism Science Foundation and the author of
five books, /Autism's False Prophets/ (2008; Amazon UK
<http://www.amazon.co.uk/exec/obidos/ASIN/023114637X/livithescieli-21/>;
Amazon US
<http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/023114637X/livingthescie-20/>)
and /Vaccinated/ (2011; Amazon UK
<http://www.amazon.co.uk/exec/obidos/ASIN/0061227951/livithescieli-21/>;
Amazon US
<http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/B002NPCUBW/livingthescie-20/>).
He lives in Pennsylvania.

.. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..

http://www.guardian.co.uk/science/punctuated-equilibrium/2011/oct/11/1

[Non-text portions of this message have been removed]

5.

[news] JANGAN SALAHKAN GARAM

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Mon Dec 19, 2011 10:07 pm (PST)



*Tak semua orang yang tinggal di dae- rah kaya garam bisa terbebas dari
pe- nyakit kelainan kelenjar tiroid.*
Empat bulan belakangan ini, Sinta, 20, sering merasa lemas. Genggamannya
tak semantap dulu, jari tangannya pun sering gemetar. Berat badan gadis
berkerudung itu juga turun drastis. "Padahal saya tidak mengubah pola
makan dan berolahraga seperti biasa," katanya. Saat koma dan masuk rumah
sakit, dokter mendiagnosis bahwa Sinta mengalami kelainan kelenjar tiroid.

Menurut ahli endokrinologi, Profesor Sri Hartini K.S. Kariadi, kelainan
kelenjar tiroid terjadi karena hormon tiroid yang terdiri atas hormon T4
(tiroksin) dan T3 yang dihasilkan kelenjar ini tidak dapat bekerja sama
dengan thyrotropin releasing hormon (TRH), yang dihasilkan kelenjar
otak. "Penyakit yang timbul bisa bermacam-macam, bisa hipertiroid atau
kelebihan hormon tiroid, hipotiroid atawa kekurangan hormon tiroid,
gondok, gangguan tulang dan pertumbuhan, hingga tumor atau kanker
kelenjar tiroid,"ujarnya.

Salah satu contoh penyakit yang paling sering muncul dari kelainan
kelenjar ini adalah penyakit gondok. Menurut dokter Sri, banyak orang
salah persepsi, gondok disebabkan oleh kekurangan yodium. Padahal gondok
juga disebabkan oleh kinerja kelenjar tiroid yang terganggu, "Sebab,
kinerja kelenjar ini benar-benar bergantung pada reaksi tubuh ketika
melakukan sekresi atau pelepasan hormon tiroid,"katanya.

Tubuh seseorang yang mengalami kelainan kelenjar tiroid tidak bisa
dideteksi berdasarkan gejala luar."Sebaiknya ada tes laboratorium, lalu
dikonsultasikan khusus kepada ahli endokrinologi atau spesialis kelenjar
agar mendapat pengobatan yang benar,"ujar dokter Sri.

Selama ini tindakan yang paling sering dilakukan untuk mengobati
penyakit yang timbul akibat kelainan kelenjar tiroid adalah pembedahan,
pemberian sinar radioaktif pada kelenjar tiroid, dan terapi sulih
hormon. Namun semua tindakan medis itu tidak bisa selesai seketika.
Suatu saat penyakit itu bisa timbul lagi, sehingga pengobatan harus
dilakukan secara berkala. Terkadang orang yang sudah berobat banyak
bertanyatanya kenapa

disuruh balik lagi ke dokter? "Sebab, ini adalah penyakit yang
disebabkan kelainan dalam tubuh,"kata dokter spesialis penyakit dalam
lainnya, Em Yunir.

Gejala penyakit kelainan kelenjar tiroid harus segera dikenali sejak awal.
Dokter Sri mencontohkan gejala kelebihan hormon tiroid (hipertiroid)
yang sering diderita perempuan."Berkeringat berlebihan, susah tidur,
jantung berdetak lebih cepat, dan sering buang air besar," ujarnya."Bila
semakin parah, akan mempengaruhi fisik luar, seperti mata yang cenderung
melotot, rambut rontok, kulit tipis dan halus, serta penurunan berat badan."

Hipertiroid sering terjadi pada ibu yang baru melahirkan. Lagi-lagi,
bukan karena kekurangan yodium penyebabnya, melainkan reaksi otoimun
tubuh yang mengalami perubahan selama mengandung. "Selama mengandung,
otoimun ibu mengikuti otoimun anaknya, meskipun keduanya adalah indivi
du yang berbeda," ujar Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia dok ter
Pradana Soewondo.

Keku rangan hormon tiroid (hipotiroid) memiliki gejala dan penampakan
fisik sebaliknya."Misalnya, mudah lelah, mengantuk, kedinginan, dan
berat badan cenderung bertambah meski pola makan wajar dan berolahraga
teratur,"ujar dokter Sri. Bila kedua penyakit ini dibiarkan semakin
parah, bisa menyebabkan kanker dan tumor kelenjar tiroid yang berujung
pada kematian.

Menurut Profesor Johan S, Masjhur, tak semua orang yang tinggal di
daerah kaya garam bisa terbebas dari penyakit kelainan kelenjar ini.
Sebab, belum tentu penyakit ini disebabkan oleh kekurangan garam
beryodium."Garam yang mengandung yodium adalah garam yang melalui
fortifikasi atau proses kimiawi untuk mengubah garam atau NaCl murni
menjadi yodium,"ujarnya.

Profesor Johan mencontohkan salah satu kasus daerah sebaran besar
penyakit kelainan kelenjar tiroid di pantai Jepang, yang penduduknya
justru rajin memakan makanan asin. "Sekali lagi, penyakit seperti gondok
dan penyakit lain karena kelainan kelenjar di beberapa daerah bukan
disebabkan oleh kekurangan garam. Kalau kebanyakan makan garam juga bisa
terkena hipertensi," katanya Johan. ? CHETA NILAWATY

http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/12/20/ArticleHtmls/JANGAN-SALAHKAN-GARAM-20122011145011.shtml?Mode=1

[Non-text portions of this message have been removed]

6.

[news]  Pemeriksaan Mikrobiologi Cegah Resistensi Antibiotik

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Mon Dec 19, 2011 10:09 pm (PST)




Pemeriksaan Mikrobiologi Cegah Resistensi Antibiotik
Lusia Kus Anna | Asep Candra | Senin, 19 Desember 2011 | 15:07 WIB

KOMPAS.com - Saat ini, kasus kuman yang resisten terhadap obat terus
meningkat sehingga angka kesakitan dan biaya kesehatan terus meningkat.
Salah satu cara mencegahnya adalah dengan mengetahui jenis infeksi yang
diderita, sehingga dokter bisa memberikan antibiotik yang paling tetap
sesuai jenis bakteri atau virusnya.

"Idealnya, sebelum diberikan antibiotik dicek dulu di laboratorium
mikrobiologi untuk mengetahui jenis bakteri dan uji sensitivitas obat,"
kata dr. Anis Kurniawati, PhD, Sp.MK, Ketua Departemen Laboratorium
Mikrobiologi Klinik Universitas Indonesia dalam acara media edukasi di
Jakarta (19/12/2011).

Ia menjelaskan, saat ini pemanfaatan laboratorium klinik oleh para
dokter masih kurang karena dianggap terlalu lama. "Pemeriksaan
mikrobiologi dulu memang lama, namun sekarang sudah tidak lagi. Dalam
waktu tiga hari sudah bisa diketahui hasilnya," katanya.

Kasus bakteri yang resisten terhadap obat, menurut dia terjadi karena
penggunaan antibiotik yang tidak rasional. "Pemberian antibiotik secara
empirik oleh dokter seharusnya dilakukan pada pasien yang kritis. Jika
pasien masih bisa menunggu, sebaiknya ditunggu dulu sampai diketahui
pola kumannya sehingga obat lebih efektif," imbuhnya.

Namun, ia mengakui bahwa prosedur tersebut masih sulit diterapkan di
Indonesia. "Jika pasiennya anak-anak, biasanya orangtuanya sudah
protes," paparnya. Padahal, dalam jangka panjang hal ini bermanfaat positif.

Senada dengan dr.Anis, menurut dr.Erlina Burhan, Sp.P, dalam kasus
tuberkulosis, ketidakperdulian pada pemeriksaan mikrobiologi bisa
menyebabkan pasien mendapatkan obat yang salah atau tidak perlu.

"Cukup banyak kasus pasien yang sudah minum obat tuberkulosis
bertahun-tahun tapi tetap batuk dan kurus, baru setelah dicek
mikrobiologi ketahuan kalau ia resisten antibiotik lini pertama," papar
ahli paru dari RS. Persahabatan Jakarta ini pada kesempatan yang sama.

Kendati begitu, menurut Erlina dokter memiliki hak untuk menentukan
jenis penyakit dan terapi pengobatan yang tepat berdasarkan pengalaman
(empirik). "Bila sudah bisa dicurigai penyakit TB dari pemeriksaan
klinis namun hasil pemeriksaan belum keluar, bisa diberikan antibiotik
berdasarkan pola kuman di masyarakat," katanya.

Ia menjelaskan, data pola kuman di masyrakat secara berkala dikeluarkan
oleh laboratorium mikrobiologi untuk menjadi panduan bagi para dokter
dalam pemberian obat. Namun sebelum pasien mengonsumsi obat, dokter
tetap akan mengirimkan sampel dahak ke laboratorium mikrobiologi.

"Sambil menunggu hasilnya, tetap diberi obat. Jika dalam seminggu tidak
ada perbaikan, maka biasanya itu resistensi obat," katanya.

http://health.kompas.com/read/2011/12/19/15071242/Pemeriksaan.Mikrobiologi.Cegah.Resistensi.Antibiotik

7a.

Re: urgent, need help BB bayi turun terus tdk tau apa penyebabnya

Posted by: "Dewinda" dewinda_2705@yahoo.com   dewinda_2705

Mon Dec 19, 2011 10:23 pm (PST)



Dear bunda,

maaf saya sama sperti bunda khonic bkn dokter jd gak bisa bantu bgt...tp anak saya jg bulan k6 dan k7 jg beratny stagnan, cenderung turun....pas dperiksa sih kata dokter jg pnyebab BB turun itu ISK.

trus satu lg, mohon maaf sebelumny bukan nakut2in bunda, temen saya juga punya pngalaman setelah anakny usia 5 bln dst BBny turun terus dan diikuti dgn batpil yg terus-menerus. apabila bertemu dgn orang yang sedang menderita batpil dalam hitungan jam bisa tertular. setelah didiagnosa, ternyata ada 2 lobang pd jantungny, istilahnya PDA dan VSD (kalau gak salah istilahnya begitu) tp itu hanya kalau diikuti dgn batpil...

tetep tenang y bunda....kadang2 karakter anak baik fisik dan mental emg beda2...yg pnting dijaga aja asupan ASI dan MPASI. kalau saya sih disuruh dokter untuk boost ASI dan ASIP krena MPASI tetep pendamping yg utama tetep ASI setidaknya sampai anak berumur 1 tahun...

semangat ya, bunda...
salam peluk dan cium bwt bayinya yg pasti lucu dan imut... :)

Salam,
Amaknya Tombo

7b.

Re: urgent, need help BB bayi turun terus tdk tau apa penyebabnya

Posted by: "cy" nankrist@yahoo.com   nankrist

Mon Dec 19, 2011 10:50 pm (PST)



Hi,
Sy jg bukan dr.
Tp mau nyoba bantu.

Ini nimbang di timb yg sama?

Cmiiw,
Sblm ke medis,
Sebaiknya cek dl pola makan&minum nya.
Anaknya msh asi atau sufor?
Sehari brp ml asip nya atau sebrp sering&lama nenen nya?
Makannya ud red meat?
Ud dksh suplemen zat besi?

Segitu dl,mbak.
Cy
Sent from my BlackBerry®
powered by sinyal cinta JordyNara
8a.

Re: Bls: Bls: [sehat] Re: peraturan penerbangan membawa asi

Posted by: "Dwiana" dwiana7179@yahoo.com

Mon Dec 19, 2011 10:25 pm (PST)



Mom abrar,

Sharing saja, klo di spore sih tergantung petugas last check point. Bln mei sy msh bs bawa tuh hampir 3liter asip (beku&cair) ke kabin, hanya dg kalimat "sy membawa asip, untuk baby 5bln yg msh asix". Tp sthnya, mbak Della pny penglaman asip cair ga boleh dibawa even cuman 1plastik.

Drpd situasi tdk jelas, trip selanjutnya asip beku saya taruh di bagasi. Dg memperhitungkan komposisi asip beku dan ice gel tentunya. (sebisa mungkin sy bekuin, jd sy muter otak tuh time management per pumpingan). Sy plan untuk pumping sth last check point, jd ttp bs bawa asip cair.

Regards
Ana
power by RedBerry®
9a.

Ambeien pada anak 2 tahun...hik

Posted by: "Hari Rahmi" hari.rahmi@ericsson.com   cute_dazzling_girl

Mon Dec 19, 2011 10:41 pm (PST)



Dear all,

Sedih banget nih, anak saya yang bungsu (2 tahun 2 bulan) kalau pup selalu nangis nangis...ternyata ada ambeien di duburnya yang menurut saya lumayan besar untuk ukuran anak sekecil itu...saya ingat2 ambeien itu mungkin karena anak saya beberapa waktu lalu menderita kostipasi (pup nya keras...) mungkin duburnya terluka dan munculnya ambeien tersebut...

Setiap pup anak saya selalu menangis, dan tadi pagi saya lihat ada darahnya juga...apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan ambeien ? Anak saya skrg pupnya sudah tdk keras lagi tetapi tetap saja kesakitan setiap pup karena ada ambeien tersebut...Anak saya setiap hari makan buah nya banyak...dan ada pepaya juga (di jus)...

Mohon sharingnya ya bila ada teman2 yang mengalami hal seperti ini...

Terima kasih, salam,

RAHMI SRINA HARI

[Non-text portions of this message have been removed]

9b.

Re: Ambeien pada anak 2 tahun...hik

Posted by: "Inta" dini.maesarinta@gmail.com

Mon Dec 19, 2011 11:00 pm (PST)



Mba Rahmi,

Coba browse skin tag deh.

Cheers, Inta-sol
@Intamardwityo
terkirim dari henponkuh

9c.

Re: Ambeien pada anak 2 tahun...hik

Posted by: "marcella.kasih@indosat.blackberry.com" marcella.kasih@indosat.blackberry.com

Mon Dec 19, 2011 11:08 pm (PST)



Jeung, saya mengerti dikit soal ambeien dari buku why topik pooh (kotoran)
Disitu dijelaskan ambeien itu terjadi peradangan pada pembuluh darah sekitar rectum (tulung kureksi kalau salah) jadi walaupun poop nya sudah tidak keras lagi, pas kotoran melewati bagian situ pasti sakit. Jadi penyebeb sakitnya ini mesti diredakan dulu.

Pakarnya pak e tuh (*timpuk pake singkong)...tadi sih ybs lagi semedi ilmu vaksin. Semoga beliau segera turun gunung. Dan ikut buka suara.

Regards,
Marcella
*panggil pake toa : pak eeee ...
Sent from my BlackBerry0…3
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
10a.

Re: share: sulitnya pengen nerapin RUM

Posted by: "fia_ku" fia_ku@yahoo.com   fia_ku

Mon Dec 19, 2011 10:54 pm (PST)




dear all,

maaf kalo pake jalum, mungkin TS ada yg risi ngeliat masalah intern dokter dibuka di jalum, atau yg non klinisi jg risi ngebacanya... saya ga kenal secara pribadi dokter di milis ini, jadi kalo tau2 japri ga enak juga (dan ga ada juga yg bales japri ke saya). dan untuk rekan smart parents lain, saya kira udah mafhum tentang kondisi peresepan ab di negara kita....tapi saya seneng banget karena yg reply justru parents non dokter, jadi semangat karena ternyata masi banyak pasien yg mau mengerti bahwa kalo berobat ke dokter ga harus dikasi ab atau harus langsung sembuh...empat jempol deh buat smart parents di milis ini

btw, kalo ke dokter lagi, paksa aja dokternya menjelaskan penyakit, perjalanan penyakit, diagnosa dan terapi yg dia berikan, dan kalo ada peresepan yg ga rasional (sebatas pengetahuan pasien), boleh kok menolak. tetep sama2 belajar ya....

cheers,

fia

10b.

Re: share: sulitnya pengen nerapin RUM

Posted by: "onlyzie@yahoo.com" onlyzie@yahoo.com   onlyzie

Mon Dec 19, 2011 11:02 pm (PST)



¥v&f¤f¥fgfl\lm¥kmllllllLmglgn¥g\\mgmg¥¥g¥Mtl¤tly~lyYly¥¥l¥rmyLelhYlTt¥lr¥ymty¥=
@onlyzie
www.celotehsiboenda.wordpress.com
11a.

Review Buku :  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement threate

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Mon Dec 19, 2011 10:57 pm (PST)



fyi.
beliau sedang 'bersemedi' olah kanuragan(baca:project utk S3nya)kl tak
salah :)
'mata batinnya' menangkap sinyal dari milis sehat :)
berhubung belum bisa ikut rerembugan dimari..beliau minta tolong saya
untuk meneruskannya

sok mangga atuh.......

'/Deadly Choices: How the Anti-Vaccine Movement Threatens Us All/' oleh
Paul A. Offit, seorang professor pediatric dalam bidang penyakit
infeksi, virology dan imunologi.

Buku ini sangat recommended untuk para orangtua yang sedang bingung soal
pro dan kontra imunisasi, untuk para dokter, dan juga siapapun yang
berkecimpung dengan dunia kesehatan anak-anak. Sayangnya, buku ini
berbahasa Inggris, baru terbit pula, jadi pasti masih sulit didapatkan
di Indonesia. Berikut ini sedikit cuplikan isinya, semoga biar pun tidak
bisa membaca bukunya, masih bisa mendapatkan gambaran dan mendapatkan
manfaatnya.

Buku ini membuat kita bisa melihat dari atas apa sih sebetulnya yang
terjadi dengan dunia per-vaksinan di dunia sejak jaman dulu sampai
sekarang. Bagaimana perjalanan pembuatan vaksin, apakah mulus-mulus
saja? Bagaimana pula perjalanan para anti vaksin. Apa betul kandungan
vaksin tidak aman? Apa pula bahayanya kalau sekelompok orang menolak
vaksinasi? Buku ini bisa menyanggah teori konspirasi bahwa vaksinasi
merupakan usaha yahudi untuk memusnahkan suatu kaum, sebab ceritanya
terutama tentang vaksinasi di Amerika dan UK. Sejak jaman dulu sampai
sekarang mereka sendiri yang menciptakan vaksin dan memberikannya pada
jutaan penduduknya. Malah boleh dibilang jumlah vaksin yang diberikan
jauh lebih banyak daripada yang diberikan di Indonesia sekarang, karena
mereka punya uang untuk memberikan imunisasi gratis pada rakyatnya. Jadi
teori konspirasi tentang pemusnahan umat Islam sungguh tak masuk akal.

Buku ini membuka mata pula bahwa apa yang terjadi belakangan di
Indonesia, dimana sekelompok orang tidak mau memvaksin anaknya dengan
alasan percaya hanya pada Allah, juga terjadi di Amerika Serikat. Kalau
di Indonesia umumnya di kalangan beragama Islam, di Amerika terjadi pada
kaum kristiani, nama kelompok mereka adalah Cristhian science. Kalau di
Indonesia keyakinan tidak mau memvaksin masih dicampur dengan mau
berobat ke dokter, kalau di kelompok Christian science tersebut mereka
sama sekali menolak kedokteran modern, bahkan membiarkan saja
anak-anaknya meninggal jika sakit tanpa memberikan pengobatan apapun.
Menarik bukan?

Bukan saja mengungkapkan tentang anti vaksinasi, buku ini juga mengupas
kegagalan-kegagalan dan proses yang terjadi saat vaksin dibuat.
Pembuatan vaksin yellow fever yang terkontaminasi darah orang yang
mengidap penyakit hepatitis B beberapa puluh tahun silam, telah
mengakibatkan ratusan orang yang mendapatkan vaksin ini juga mengidap
hepatitis B dan puluhan orang meninggal. Di masa lalu itu, pernah juga
terjadi keteledoran dari sebuah perusahaan vaksin ketika membuat vaksin
polio. Virus dalam pembuatan vaksin polio yang harusnya dibuat lemah
ternyata tidak membuat virus melemah. Alhasil, 70 ribu orang malah
terkena polio, 200 lumpuh dan 10 orang meninggal. Dari kejadian ini,
keamanan perusahaan vaksin semakin diperketat. Kejadian lain juga baru
saja terjadi. Vaksin rotavirus di tahun 2005 ketika pertama kali
dicobakan kepada ratusan ribu anak di Amerika ternyata menyebabkan kasus
intususepsi pada 17 anak. Namun CDC langsung bekerja, vaksin rotavirus
segera ditarik dari peredaran, dan kemudian vaksin yang lebih aman
segera dibuat. Dengan cerita-cerita tentang kegagalan ini penulis ingin
menunjukkan bahwa CDC, AAP, FDA, dan perusahaan vaksin berusaha membuat
vaksin seaman mungkin. Kegagalan-kegagalan ini dipaparkan juga untuk
menunjukkan bahwa, tidak ada yang berusaha ditutupi. Kalau memang gagal
ya gagal, kalau memang tidak aman ya tidak aman, tapi kemudian segera
berusaha belajar dari kesalahan dan ditanggulangi. Alhasil, yang
diproduksi sekarang adalah vaksin yang sudah dibuat melewati
standar-standar agar aman.

Dari buku ini pula kita bisa paham bahwa grup anti vaksinasi sudah ada
sejak vaksin mulai diciptakan, dan gaungnya pun naik turun hingga
sekarang. Kadang begitu ramai sehingga pernah di tahun 50 an membuat
perusahan vaksin hampir mati suri akibat issue vaksin DPT menyebabkan
kelainan otak. Kadang sepi, kadang heboh lagi seperti belakangan ini
sejak kasus MMR-autism merebak. Cerita-cerita seru dibalik para aktivis
anti vaksinasi di Amerika Serikat dan London khususnya juga dipaparkan
dengan menarik karena penulisnya piawai mendeskripsikan cerita dengan baik.

Jeanny McCharty, Barbara Loe Fisher, Oprah Winfrey, Cindy Crawfold,
dokter Oz, dan lain-lain para seleb dan para dokter yang anti vaksinasi
yang berperan besar dalam gerakan anti vaksinasi diceritakan dengan
gamblang dalam buku ini. Para dokter yang mengaku ahli padahal ternyata
tidak punya kredibilitas dalam bidang imunisasi dan kerap menjadi
pembicara serta dipercaya oleh para anti imunisasi juga dibahas dalam
buku ini. Para seleb dan dokter ini bisa dengan bebas membuat acara
mempromosikan anti vaksinasi di TV yang lalu didengar oleh jutaan
pemirsa Amerika atau membuat acara debat tapi dengan mengunggulkan para
aktivis anti vaksin misalnya. Dampaknya tentu saja luar biasa, para anti
vaksin di Amerika jadi semakin banyak tentunya. Tidak heran kalau
website-website anti vaksin pun bertebaran di dunia maya, dari Amerika.
Jadi kebayang kan betapa hebohnya gerakan anti vaksinasi di sana, bahkan
dokter Offit sang penulis buku yang juga anggota CDC ini, kerap mendapat
black mail, cacian dan ancaman pembunuhan karena kegigihannya
memperjuangan vaksinasi, Alhasil setiap akan ngomong soal vaksin di
kongres CDC, sang dokter selalu dikawal body guard. Serem kan, sampe
sebegitunya ternyata 'peperangan' ini. Ups maaf kalo soal ancaman
pembunuhan ini ga ada di buku, tapi baca di website penulis.

Selain cerita-cerita tentang gerakan anti vaksinasi, buku ini juga
membahas tentang issue-isue yang kerap ditiup-tiupkan oleh para anti
vaksin. Isue tentang vaksin DPT menyebabkan kelainan otak yang
sebetulnya tidak, dan baru terungkap 20 tahun kemudian; Isue anak-anak
korban vaksin yang ternyata tak ada hubungannya dengan vaksinasi,
bantahan terhadap issue MMR menyebabkan autism, penjelasan tentang
kandungan dan keamanan isi vaksin yang sering dikatakan tidak aman oleh
para anti vaksin, juga tentang tuduhan pemerintah yang hanya jadi boneka
pabrik vaksin dan motif uang semata. Ternyata kenyataan sebaliknya juga
terjadi.

Sebagian para anti vaksin membantu orangtua yang merasa anaknya terkena
dampak buruk akibat vaksin. Mereka bahkan diedukasi bagaimana caranya
menuntut ke pengadilan, dan motifnya ternyata karena uang. Para lawyer
dan advocate ini dapat uang sangat banyak dengan membawa kasus semacam
ini ke pengadilan. Selain itu, ada udang juga di balik batu dari para
anti vaksin dengan menjual jualannya seperti obat herbal, dan pengobatan
alternative lainnya. Jadi, tak bisa dipungkiri, baik perusahaan vaksin
maupun anti vaksin memang bisa bekerja bermotifkan uang. Yang penting
adalah bicara bukti dan fakta. "Jika memang vaksin bisa menyelamatkan
banyak orang , bermanfaat dan juga aman, mengapa harus menyerang soal
konspirasi. Faktanya, dari berbagai penelitian ilmiah, vaksin terbukti
aman, bermanfaat dan telah menyelamatkan banyak orang," kata dokter
Offit. Karena kalau mau serangan balik ya motif para anti vaksin yang
jualan obat herbal, alternative dan membawa ke pengadilan, juga bisa
dibilang teori konspirasi, begitu kata buku ini.

Namun dibalik cerita-cerita diatas, pesan penting utama dari buku ini
adalah tentang banyaknya kesalahan informasi yang diberikan oleh para
anti vaksin baik di media maupun di website-website. Pilihlah dan
carilah good science, jangan bad science. Pesan penting lainnya adalah
akibat buruk dari penolakan terhadap vaksin yang sungguh bisa fatal.
Outbreak merebak dimana-mana, terutama di kelompok-kelompok yang menolak
imunisasi; penyakit urdu yang dulu sudah bisa dikendalikan juga kembali
muncul. Kalau para anti vaksin mengasihani anak-anak yang dikhawatirkan
kena dampak buruk vaksin, pikirkan juga sebaliknya. Bagaimana dengan
anak-anak yang tidak bisa divaksin karena daya tahan tubuhnya lemah lalu
menjadi korban akibat banyaknya anak yang tidak mau divaksin. Jumlahnya
juga banyak lho, ratusan ribu di Amerika sana. Anak-anak ini hanya
bergantung pada kekebalan yang dibentuk dari komunitas. Kalau banyak
anak yang tidak diimunisasi, kekebalan komunitas ini tidak terjadi. Anak
normal bisa masih baik-baik saja kalau terkena campak misalnya, tapi
bagi anak-anak yang lemah ini, nyawa mereka segera terancam karena
akibatnya mereka bakal terkena campak dengan komplikasi paling buruk.

Di buku itu dicantumkan pula komentar orangtua dari anak-anak lemah
ini,"Setiap orang memang punya hak untuk tidak mau mengimunisasi
anaknya. Tapi coba tolong pikirkan anak-anak lain seperti anak saya yang
kekebalan tubuhnya rendah. Silahkan saja memilih untuk tidak
diimunisasi, tapi tolong tinggal lah terpisah di pulau sendiri bersama
komunitas anti vaksin lainnya, agar keputusan kalian tidak merugikan
anak yang lain."

Ada juga komentar dari seorang ibu yang anaknya punya kekebalan tubuh
rendah, lalu cacat setelah terkena meningitis akibat tinggal di daerah
dengan cakupan imunisasi Hib rendah."Orangtua hendaknya sadar," kata si
ibu."Bahwa ketika mereka memutuskan untuk tidak mau mengimunisasi
anaknya, artinya mereka juga sedang membuat keputusan untuk anak orang
lain."

Dari buku ini, tampak pula betapa persoalan pro dan anti vaksinasi ini
bukan persoalan yang mudah untuk diselesaikan. Dulu, Amerika memaksa
penduduknya untuk divaksin, yang tidak mau divaksin ditangkap masuk
penjara. Belakangan, cara ini ditentang dan dianggap melanggar HAM,
akhirnya dibuat undang-undang, tiap anak yang masuk sekolah harus
divaksin,kalau tidak, tidak boleh sekolah. Undang-undang ini dibuat,
karena meskipun setiap orang punya hak untuk tidak mengimunisasi, tapi
keputusannya bisa merugikan orang lain. Jadi tidak bisa dibiarkan begitu
saja bebas memilih, tetap ada konsekwensi dari pilihan yang merugikan.
Kebijakan ini membuat cakupan imunisasi meningkat. Namun, tidak
berlangsung lama, beberapa kelompok seperti Christian Science protes dan
tetap menolak untuk diimunisasi. Akhirnya kelompok-kelompok seperti ini
mendapatkan pengecualian. Pemerintah Amerika kembali harus talik ulur
karena memang persoalan ini sungguh tidak mudah.

Bagaimana dengan di Indonesia? Gaungnya memang tidak seheboh di Amerika,
tapi mungkin suatu saat bisa menjadi kian heboh dan semakin banyak
memunculkan outbreak? Wallahualam. Bagaimana tindakan pemerintah?
Wallahualam juga. Tapi setidaknya, sebagai individu, sebagai orangtua,
mari kita belajar dari kasus di Amerika.

by: Agnes Tri Harjaningrum

salam es lilin ma cece
ghz

[Non-text portions of this message have been removed]

11b.

Re: Review Buku :  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement thr

Posted by: "aina" aina.anwar@yahoo.com   aina.anwar

Mon Dec 19, 2011 11:04 pm (PST)



Insya ALLOH, ichtiar kita sdh benar...amiinn....

*berdoa utk kesehatan semua

merci beaucoup
wassalamu'alaikum wr wb,
aina.

11c.

Re: Review Buku :  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement thr

Posted by: "rulinovich94@yahoo.com" rulinovich94@yahoo.com   rulinovich94

Mon Dec 19, 2011 11:15 pm (PST)



Wow,baru tau kalo dr oz adlh salah satu org yg menentang vaksinasi,pdhl aku trmasuk yg ngefans sama dia :D...sorry oot

Regards
-ibunya andra-
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
11d.

Re: Review Buku :  Deadly Choices: How the anti-vaccine movement thr

Posted by: "marcella.kasih@indosat.blackberry.com" marcella.kasih@indosat.blackberry.com

Mon Dec 19, 2011 11:32 pm (PST)



Waks...dr Oz ?
Huhuhuhu....

Regards,
Marcella
*numpang nangis
Sent from my BlackBerry0…3
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
12a.

dokter internist rum

Posted by: "Ria Standa" riaisria@yahoo.com   riaisria

Mon Dec 19, 2011 11:09 pm (PST)



Hi Docs n SPs,

Bisa minta info dokter internist yg rum di rspi atau kmc?

Thanks,
Ria Standa
t: @riastanda

12b.

Re: dokter internist rum

Posted by: "niken qinen" nikenqinen@gmail.com   qinen_q9

Mon Dec 19, 2011 11:25 pm (PST)



Mba Ria.....
Buat saya, setelah belajar di milis ini.
Standar saya untuk mencari dokter adalah dokter yg bisa diajak komunikasi
dua arah.
Dokter yg mau berdiskusi dengan hati yg lapang.
Dokter yg dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan.
Dokter yg mau menjelaskan ttg penyakit, perjalanan penyakit, diagnosa dan
jenis terapinya (contek dari dr.Fia)
Dan dokter yg mau menjelaskan ttg obat2an yg diresepkan.

RUM atw tidak dokter, tergantung konsumen kesehatannya ya mba.
Yuk kita ubah paradigma mencari dokter RUM, tp kita cari dokter spt yg
saya uraikan di atas.

Salam,
-Niken-

2011/12/20 Ria Standa <riaisria@yahoo.com>

> **
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]

13.

Batuk pilek ga mau makan samsek

Posted by: "nataliesalatiga" the_sign08@yahoo.co.id   nataliesalatiga

Mon Dec 19, 2011 11:23 pm (PST)



Dear Docs

Anak saya 13 bulan rabu lalu demam + batuk pilek, trs paginya demam turun, sehari berikutnya pilek batuk sembuh. Tapi hari minggu kemarin dia mulai batuk pilek lagi dan susahnya dia sama sekali ga mau makan cuma minum terus. Kl baca2 artikel di milis ini katanya batuk pilek dibiarkan saja tp anak diberi makanan yg bergizi, tp gimana kalau anaknya ga mau mangap sama sekali (huhuhu...sedihnya, padahal menu ud ganti2, kadang sekali makan smp ganti menu 3x, buah cuma secuil aja makannya. Saya malah jd takut kl sakitnya berlanjut lama dan BBnya makin turun, sekarang aja cm 8 kilo. Baiknya bagaimana ya dok?

14a.

Tanya : Ketuban Pecah, Induksi ato Cesar?

Posted by: "teramayang" teramayang@yahoo.com   teramayang

Mon Dec 19, 2011 11:35 pm (PST)



Dear dokter and SPs.,

Titipan pertanyaan dari teman.
Kondisi : hamil 35 minggu, pecah ketuban dari minggu malam. Ketuban setelah pecah 8, semalam diukur 7.
Kondisi ctg dan rekam jantung baik.
Saat ini sedang diobservasi di RS.

Diberi pilihan induksi atau cesar yang rencananya akan dilakukan sore ini.
Kekhawatiran keluarga dan dokter, jika diinduksi belum tentu bisa pembukaan lengkap sampai batas ketuban 5, jadi pilihan lainnya cesar.

Mohon masukan dari dokter dan SPs semua. Barangkali ada pengalaman yang sama, atau kira2 informasi apa yang bisa saya teruskan ke teman saya.
Terima kasih sebelumnya

Salam,
tera

14b.

Re: Tanya : Ketuban Pecah, Induksi ato Cesar?

Posted by: "aina" aina.anwar@yahoo.com   aina.anwar

Mon Dec 19, 2011 11:37 pm (PST)



Selama baby gpp, sy pilih induksi dulu mba....

merci beaucoup
wassalamu'alaikum wr wb,
aina.

15.

OOT: [sehat] dokter internist rum

Posted by: "marcella.kasih@indosat.blackberry.com" marcella.kasih@indosat.blackberry.com

Mon Dec 19, 2011 11:46 pm (PST)



Cuma curhat
Kemarin kan dr Wati ngomongin dr2 muda yang lanjut ke ppds, ada anestesi, dsa, obgyn, bedah

Tapi
Kok gak ada yang ke spd ya ?
Dr Anto...minat ?
He2.

Intermezzo, mimpi siang hari boleh kan ya pas jam makan siang, ini review mimpinya gitu.

Regards,
Marcella
*kado natal yang bagus...menghayal
Sent from my BlackBerry0…3
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Recent Activity
Visit Your Group
Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

Meditation and

Lovingkindness

A Yahoo! Group

to share and learn.

Yahoo! Health

Asthma Triggers

How you can

identify them.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB           : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter      : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

No comments: