Monday, December 12, 2011

[sehat] Digest Number 16685

Messages In This Digest (25 Messages)

Messages

1.1.

Re: (Tanya) metode glen domand

Posted by: "Ida Rifai" riffatriffan@gmail.com   farida_indriyani

Sun Dec 11, 2011 8:57 pm (PST)



Quote:
Btw, Alice, 3y3m belum sekolah, baru tahun depan dia sekolah..jadi maknya buta sama sekali soal kurikulum sekolah sekarang..sebenernya itu di sekolah TK memangnya di ajarin baca atau gak yah ?

Me:
Tergantung TK-nya mba. Ada yg ngajarin ada yg engga. TK Riffat sih gak scara khusus ngajarin baca, tp melalui permainan. Belajar baca lebih banyak dirumah sih kalo Riffat, itupun krn anaknya yg minta. Asal enjoy, gpp juga sih di TK itu ada pelajaran bacanya. Lihat kondisi si anak aja mba :)

Smoga membantu

Ida
Mama 2R

1.2.

Re: (Tanya) metode glen domand

Posted by: "Nickibelle" nickibelle168@yahoo.com   nickibelle168

Sun Dec 11, 2011 10:14 pm (PST)



Hi Mbak Ida,

Wadohh, begitu ya...berarti kalo gak di ajarin mak nya kudu ngajarin baca..jangan sampai saya ketinggalan kereta..tahu2 anak masih buta huruf..hehe..
Terima kasih atas tanggapannya ya.

Regards,

Jovita

--- In sehat@yahoogroups.com, "Ida Rifai" <riffatriffan@...> wrote:
>
> Quote:
> Btw, Alice, 3y3m belum sekolah, baru tahun depan dia sekolah..jadi maknya buta sama sekali soal kurikulum sekolah sekarang..sebenernya itu di sekolah TK memangnya di ajarin baca atau gak yah ?
>
> Me:
> Tergantung TK-nya mba. Ada yg ngajarin ada yg engga. TK Riffat sih gak scara khusus ngajarin baca, tp melalui permainan. Belajar baca lebih banyak dirumah sih kalo Riffat, itupun krn anaknya yg minta. Asal enjoy, gpp juga sih di TK itu ada pelajaran bacanya. Lihat kondisi si anak aja mba :)
>
> Smoga membantu
>
>
> Ida
> Mama 2R
>

1.3.

metode glen domand

Posted by: "Dewi Wisnu" dewi.wisnu@yahoo.ca   dewi.wisnu

Sun Dec 11, 2011 10:15 pm (PST)



sekedar info aja, anak saya termasuk salah satu yg menggunakan metode
ini, alhamdulilah dari baru lahir sudah diajak main kartu glen doman.

yang banyak tdak dipahami oleh orang tua tentang metode ini adalah
bahwa dalam metode ini anak disuruh belajar baca atau berhitung di usia
dini padahal metode ini adalah metode BERMAIN sambil belajar dan tidak
memaksa anak untuk menghafal. dalam metode ini juga tida banyak memakan
waktu banyak, sehari 3 kali main dalam durasi tidak lebih dari 5 menit
jdi salah anggapan orang tua yg bilang bahwa metode ini belum waktunya
diterapkan karena bayi dan balita cukup diajak bermain saja padahal
metode ini jelas2 bermain dan anak bayi atau balita masih memiliki
waktu bermain dan berinteraksi dengan teman2nya.

justru dalam penerapan metode ini biasanya masalahnya adalah
dikreatifitas orang tua yang terbatas dalam mengajak anaknya bermain
metode ini sehingga orang tua kewalahan mengajak anaknya bermain
mengingat anak2 diusia 1 tahun keatas memiliki tingkat kebosanan dalam
suatu kegiatan sehingga mereka cenderung tidak bisa diam dan suka
mencari2 mainan baru dlll.

alhamdulilah dengan metode2 ini anak saya sudah banyak pembendaharaan
katanya, banyak juga yg berhasil lebih dari saya. ibu2/bpk2 bisa liat
video2 anak2 glan doman di  http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=1036171883  atau youtube

semoga bisa bermanfaat
Salam kenal semua

Dewi Wisnu

________________________________
From: Ida Rifai <riffatriffan@gmail.com>
To: sehat@yahoogroups.com
Sent: Monday, December 12, 2011 11:58:06 AM
Subject: Re: [sehat] Re: (Tanya) metode glen domand


 
Quote:
Btw, Alice, 3y3m belum sekolah, baru tahun depan dia sekolah..jadi maknya buta sama sekali soal kurikulum sekolah sekarang..sebenernya itu di sekolah TK memangnya di ajarin baca atau gak yah ?

Me:
Tergantung TK-nya mba. Ada yg ngajarin ada yg engga. TK Riffat sih gak scara khusus ngajarin baca, tp melalui permainan. Belajar baca lebih banyak dirumah sih kalo Riffat, itupun krn anaknya yg minta. Asal enjoy, gpp juga sih di TK itu ada pelajaran bacanya. Lihat kondisi si anak aja mba :)

Smoga membantu

Ida
Mama 2R

[Non-text portions of this message have been removed]

1.4.

Re: (Tanya) metode glen domand

Posted by: "Esti Handayani" ehandayani@gmail.com   esti_fgj

Sun Dec 11, 2011 10:27 pm (PST)



Mb Jovita,

Maap, thread awalnya udah tak hapus :D

Jangan khawatir anak buta huruf lah. Meski gak secara special diajarin baca dll, seiring pertambahan usia, dia akan penasaran kok dgn berbagai hal di sekelilingnya. Nanti dia akan banyak tanya dan mau tau terus.
Anak saya gak pernah secara khusus diajarin baca, tau2 bisa nulis namanya sendiri krn liat begitu banyak tulisan namanya di alat2 sekolahnya. Trus mulai deh nanya : kalo nulis "Ibu" gimana? Kalo nulis "ayah" gimana? Dan seterusnya. Bahkan skrg dia yg ngotot minta diajarin baca, karena gak sabar pengen baca buku sendiri.

Enjoy sajah :)

Esti
Powered by JempolBerry®
1.5.

Re: (Tanya) metode glen domand

Posted by: "Ida Rifai" riffatriffan@gmail.com   farida_indriyani

Sun Dec 11, 2011 10:49 pm (PST)



Mba Jovita,

Setuju mba Esti. Anakku jg nanya kok. Ma ini bacanya apa? Ma, ini huruf apa? Dst dst..
Ngajarin sambil main jg bisa loh, malah efektif. Dulu saya beliin puzzle2 huruf, angka. Kalo sama si adek ini, belajarnya ngikut si kakak, sering perhatiin mas-nya main n belajar, eh tiba2 pas beresin puzzle huruf dia dah bisa sebutin satu2 hehehe..

Don't worry yaa.. Anak2 itu pinter kok :)

Ida
Mama 2R

1.6.

Re: metode glen domand=> metode 'glendotan'

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Sun Dec 11, 2011 10:53 pm (PST)



sekedar reposting kesekian kalinya.
kl buka thread ini pasti menjadi panjang.
saya lebih suka bilang metode 'glendotan"(glendotan=gendong) karena
sampai sekarang maih banyak yg nglendoti.....:)

monggo...
dibaca pelan2....dan silakan disimpan dalam hati kita masing2 agar ndak
ketinggalan.

sekedar quote dari seorang pakar/bu julia selengkapnya ada di bawah :

"Jadi kita musti hati hati ya Bapak Ibu...Kita curahkan waktu dan perhatian
kita dalam pola tumbuh kembang yang baik, dalam jalur normal."

quote dari saya , detailnya ada dibawah :

"Buku ini mengingatkan kita bahwa kita terjebak dalam asumsi yang
salah sehingga kita membuat anak-anak kita belajar (dalam konteks akademis)
lebih awal dan mengurangi waktu bermain mereka, sementara dalam bermainlah
anak-anak belajar banyak."

semoga ndak bosen bacanya

salam pembelajar.

----- Original Message -----
From: "gendi" <gendij@gmail.com <mailto:gendij@gmail.com>>
To: <sehat@yahoogroups.com <mailto:sehat@yahoogroups.com>>
Sent: Thursday, November 09, 2006 11:43 AM
Subject: [sehat] Repost Metode Glenn Doman was Belajar Membaca

Karena melihat milis lagi giat membahas seputar belajar membaca, sudah
"patternnya" cepat atau lambat pertanyaan seputar glenn doman akan muncul.
jadi sebelum dibahas lebih lanjut, saya posting ulang repostnya yuli yang
isinya diskusi metode glenn doman yang pernah dibahas di milis sehat.

Sekali lagi jangan lupa untuk selalu buka2 file or email2 lama. Be prepared,
panjang loohhh....

sorry menuhin bandwith

Regards,
Gendi J - Father of 2
----------------------------------
From: Pudji Yulianti Sukri <psukri@permatabank.co.id
<mailto:psukri@permatabank.co.id>>
To: sehat@yahoogroups.com <mailto:sehat@yahoogroups.com>
Date: Nov 18, 2005 6:51 AM
Subject: [sehat] REPOST: Metode Glenn Doman

dear sps,..kebetulan pertengahan tahun yang lalu,. pernah dibahas dimilis
ini juga tentang metode glen doman ini,, disitu juga sudah dijelaskan
panjang lebar oleh ibu julia dan ada beberapa sharing dari sps,..

mudah2an bisa memberikan informasi yang seimbang buat kita dalam mengasuh
dan mendidik anak..

buat sps lama,.. sori yaa...

oh iya satu lagi.. kalo sps tertarik dengan metode flash card,...kalo ga
salah di web sehat ada lho flashcard,.. jadi sps tinggal print aja (lebih
bagus kalo printer-nya berwarna).. trus bisa ditempel di karton or
dilaminating..jadi bisa lumayan irit biaya.. (thanks banget niih sama
bundanya simamat.. hehehe...(

rgds,
-yuli-
mamabumi
=========
PERTANYAAN:

Dear Dr. Wati & SPs?

Mau numpang tanya mengenai metode membaca sambil bermain "Metode Glenn
Doman"?apakah para SPs ada yang punya pengalaman mengenai metode ini ?

Saya ditawari seminar "Bagaimana Mengajar Balita Membaca Sambil Bermain"
pembicaranya : Irene F. Mongkar , Penyelenggaranya : PT Tigaraksa Satria
(maaf nyebut nama).

Sebelum daftar mau konsultasi dulu ke milis? siapa tau ada yang bisa kasih
masukan mengenai penting hal ini, karena pada dasarnya saya tertarik? tapi
takut salah?

Mohon sharingnya ya Dok? dan SP juga tentunya?

Terima Kasih.
Bunda Kayla.
=============
TANGGAPAN:

Yang aku inget dari metoda ini adalah, jangan mengajari anak membaca dengan
memperkenalkan huruf. Jadi kita memperkenalkan tulisan AYAH itu
bacanya "ayah" kemudian tulisan BUNDA itu bacanya bunda dan bukan dieja AYAH
itu terdiri dari huruf A, Y, A, dan H. Caranya dengan membuat
tulisan di karton besar (ukuran 20 x 60 cm, kira-kira) kemudian setiap hari
sambil bermain anak-anak diperkenalkan dengan huruf-huruf itu
sambil bicara. Misalnya saat flashcard-nya bertulisakan AYAH maka yg
ngajarin bilang ayah, trus 5 detik ekmudian ganti dengan flashcard yg
lainm begitu seterusnya. Beberapa waktu yg lalu saya sempat meihat di NGC
beberapa waktu yg lalu (yg membahas ttg metoda ini) diperlihatkan
seorang ibu yg giat "mengajari" anaknya dengan memperlihatkan gambar-gambar
pesawat tempur dan jenis batu-batu. Selang beberapa tahun
kemudian sang anak dites dengan menggunakan flashcard yg dulu digunakan
ibunya ternyata sang anak tidak kenal sama sekali gambar-gambar yg
ditunjukkan.

Rina rinso

==============
Mbak Yulia bundanya Kayla,
Kalau boleh aku berbagi cerita niii...
terus terang aja, aku tuh gak percaya dah sama metode2 kayak
ginian...,buatku hanyalah suatu taktik marketing (apalagi kalo gak salah PT
Tigaraksa ini jualan buku yg muahal2 banget kan yah??), and kenapa yah
"jualan" yang kayak ginian selalu marak di Indo, tapi disini gak ngeblooming
tuh.. Buatku metode paling tokcer mau ngajarin balita/anak membaca yah baca
buku sama2. Tanamkan cinta membaca sejak dini, kalau gak ditanamkan cinta
membaca lah percuma aja toh, banyak anak yang sudah bisa membaca tapi males
baca, malah lebih milih main playstation or game boy..;o).

Mau sharing aja.. Mamatku (3tahun 7 bulan) sudah bisa membaca simple words
(3-4 huruf misalnya cat, dog, dad, shut, door etc)dan tau
phonics dari tiap alphabet (a = ah, b= buh, c=keh..etc)dan konsonan sh, ch.
Terus terang aja aku gak pernah ngajarin secara special set time. Aku sama
bapaknya membacakan dia buku dari masih newborn banget... apa aja deh gak
cuma buku bacaan bayi... kadang catalog belanjaan/supermarket jadi sasaran
juga hehehe..(kalo bapae si mamat emang doyan baca buku banget, kalo emake
si mamat demennya catalog toko..heheh) sambil mangku si Mamat yang masih
bayi banget saat itu, sambil ngeliat catalog supermarket trus aku bilang"
wah Mat, jeruknya lebih murah nih disini (sambil tunjuk gambar jeruk)" sampe
suka diledek emaknya mau menularkan hobi belanja ke anaknya hehehe.. Dari
dia lahir hingga saat ini tiap malam aku/bapaknya sebelum dia tidur selalu
baca buku, sambil baca kita point satu persatu kata2nya, trus sebelum balik
ke halaman selanjutnya, kita tanya tuh seputar cerita
yang kita baca, dan juga suruh dia tunjuk gambarnya.. misalnya kalo lagi
baca buku si Spot the dog, kita tanya "Spot mana?" atau "Spot tuh binatang
apa?" , or "Spot lagi ngapain?" Kami ngelakuin ini bukan hanya untuk
menanamkan dia jadi cinta membaca tapi juga melatih dia untuk konsentrasi
dan menyimak/mengerti apa yang dibacakan. Ke library pun merupakan acara
ritual tiap minggu.. Mamat sekarang hobi banget ke library, dia udah bisa
pilih buku mana yang dia mau pinjam dan tentunya dia tahu banget harus look
after itu buku properly karena minjam.

Karena tiap hari kita selalu membacakan buku, akhirnya mendorong dirinya dia
untuk bisa membaca sendiri. Buku favorite pertamanya adalah buku picture
dictionary. Pengenalan dia pertama dengan huruf, aku belikan dia poster A-Z
yang ada gambarnya misalnya A for Apple, B for Ball.. etc. Trus dia sendiri
yang tanya ini huruf apa? baru deh sambil nyanyi lagu abc aku tunjuk
hurufnya satu persatu.Selain pengenalan huruf aku merasa pengenalan akan
bunyi huruf tersebut sangatlah penting (apalagi dalam bahasa inggris yang
nama huruf dengan bunyinya beda).Karena dia sudah tahu semua bunyi huruf,
akhirnya mendorong dia untuk mengeja dan merangkai bunyi satu persatu hingga
pada akhirnya dia bisa membaca simple word. Inget banget, pertama kali kata
yang dia baca adalah CAR. Saat itu kita lewat car park ada sign gede "CAR
PARK" (tanpa gambar mobil tentunya) trus dia sambil tunjuk dia bilan "mummy,
C-A-R spell car!" kaget campur seneng tentunya aku, trus aku tanya lagi, and
dia bilang "keh (C)-ah (A) -er (R).. car!!" wah langsung deh ta cium and
tentunya kasih pujian. Sejak saat itu dia semangat banget buat belajar baca.

Soal buku... gak perlu beli buku yang muahal2 koq... or mbak bisa bikin
sendiri juga bukunya (jadi deh special book apalagi bikinnya sama2 dengan
Kayla).. misalnya ditempelin fotonya mbak trus ditulis "ini bunda" lalu
fotonya Kayla "ini Kayla", etc.. trus bikin cerita sendiri dehh ;o)

Ok deh.. sorry banget kalau kepanjangan and gak berkenan..

regards,
Shereen

================
Waaahh...Shereen...bagus juga tuh metode pembelajaran ala "Shereen' simple,
murah dan mudah dimengerti..dan idenya untuk membuat buku belajar membacanya
sangat bagus sekali... Saya justru lebih setuju jika para orang tua
menerapkan pola pembelajaran dengan metode yang Shereen terapkan...

PAPARAFI

===============
halo, sy Martha, mama Kezia (2th). Wah yg beginian rupanya lagi booming
dimana-mana. Sy pikir cm di Sby aja. Sampe2 pesat4jatim jd kalah pamor
(hiks..sedih).Sekarang ortu berlomba2 membuat anaknya genius
(weleh...weleh).

Metode mengajar anak membaca ala Glenn Doman sudah pernah sy ikuti. Bukan
latah. Bener. Tapi kok ya penasaran aja. Kayak apa sih? Pembicaranya adalah
beliaunya sendiri pengikut Glen Doman di Indo yg notabene pernah mengikuti
beberapa pelatihan di sekolah Glenn Doman sono di Philadelphia.
Malah sy mengikuti workshopnya seharga 300rb (plus buku) yg dimulai dr jam 9
pagi sampai 7 malam. Metodenya mmg seperti yg dijelaskan oleh mbak Rina.
Plus diajarkan jg cara membuat flashcard tsb. Dari jam ke jam sy ikuti,
aduh...(maaf) tidak ada sesuatu yg baru yg sy dapat. Apalagi tidak mengacu
pada satu teori baku yg reliabilitas&validitas nya sdh teruji (maksud saya
mis. berdasar pd teori psikologi y.i tahap perkembangan bahasa).

Ketika ada peserta yg bertanya:"Loh, bu. Kita hanya memberikan/mengajarkan
flashcard ini tanpa boleh menguji anak (ga boleh ngulang yg kita ajarin
dengan mis:hayo ini apa ya?) darimana kita tau bahwa metode ini berhasil?"
Sang narasumber menjawab (dgn setgh tertawa):"Ya darimana-mana
(waduh).Ya pokoknya kita ajarin aja. Kan nggak susah kita cuma butuh
beberapa menit aja.Lebih baik diberikan daripada tidak
samasekali...bla...bla(membeberkan pengalamannya)."

Disela-sela memberikan presentasinya beliau membawa buku2 yg muahal2 itu dan
mempromosikannya. "Kalo yg ini segini, isinya bagus bgt...bla...bla...Coba
kalau anak kita sejak dini uda kita ajarkan dgn....bla...bla..."

Oiya, beliau juga membawa paket flshcard utk dijual seharga ratusan ribu
/paketnya. Pdhl hanya cetakan tulisan berwarna merah tanpa gbr. Sy tertegun.
Sementara dosen sy pernah berbagi cerita kl beliau ditegur oleh guru anaknya
yg baru msk SD karena anaknya belum bisa membaca. Krn dosen sy ini psikolog
ya pasti dia punya alasan kuat utk itu. Masa TK kan masa bermain & bermain &
bermain. Jd tidak perlulah ngotot hrs bisa baca (tp kurikulum ya yg
mengharuskan begitu. Kali perlu direvisi ya?he). Toh pd akhirnya beberapa
saat stlh diajarkan anak dosen sy ini bisa lancar membaca.
Kembali ke workshop yg sy ikuti. Ketika beranjak sore, sy msh mencoba
bertahan&berharap mungkin nanti ada materi yg lebih penting yg akan
diberikan.Tp toh sama sj cm penawaran2 buku. Dann...ketika waktu sdh
menunjukkan pukul 5.30 pm sy sudah nggak tahan.Sy bergegas
pulaaaaang.Kepalasudah mau
EXPLODE.Setengah kesal sy injak pedal gas kenceng2 berharap bisa sgr nemui
Kezia yg agak demam wkt itu.
Yaa bukannya percaya tidak percaya atau berusaha memberi judgement pd pihak
tertentu, tp mungkin bapak/ibu bisa mengambil hikmah dr
pengalaman sy. Biarkan anak-anak menikmati masa bermainnya,
jingkrak-jingkrak, nyanyi,...dsb..tidak usahlah dipaksakan harus bisa ini
dan
itu. Semua kan ada masanya. Jgn dijejali melulu.Beri mrk fun jgn kejenuhan.
Jgn menciptakan2 robot2.Belajar sambil bermain sgt tdk maslah tp tidak usah
memaksa. Apalagi menuntut tinggi2 outcome dr yg kita ajarin. Ajarkan sesuai
tahap perkembangannya&jgn paksakan, shg anak2 kita nantinya bisa tumbuh
matang, ceria, dan kreatif.

Maaf kepanjangan.

Salam,
martha sitompul

==========

Dear Bapak Ibu,

Mengajarkan membaca anak terlebih anak batita, maksudnya bukan mengajarkan
membaca seperti kalau kita mengajarkan anak sekolah. Mengajarkan membaca
batita bisa dicari bacaannya di Webnya Zero to Three org, maksudnya kita
memperkenalkan pada anak bahwa di dunia ini ada kegiatan membaca dengan cara
melatih perilakunya agar ia siap menghadapi kegiatan membaca kelak. Misalnya
saja beri ia buku penuh gambar (bukan tulisan), lalu ajak ia bagaimana
caranya memperlakukan buku, yaitu buku di taruh dimukanya, lalu lembar demi
lembar dibuka. Bukan diuwel uwel apalagi dikunyah kunyah, atau dijejer jadi
mobil-mobilan. Dari mana lembaran bisa dibuka, dan bagaimana kita
mengajaknya menunjuk gambarnya. Lalu bercerita
tentang gambar itu. Hal seperti ini juga akan memperkaya wawasannya.
Misalnya ada gambar buah-buahan yang setiap harinya dimakan. Mainan
dan alat-alat yang setiap hari digunakan.

Jika ia sudah bisa berkonsentrasi mengikuti cerita (sekitar 2,5 tahun)
barulah kita mulai mengajaknya membaca, tetapi bukan ia disuruh membaca,
tapi mendengarkan cerita pendek sambil melihat gambarnya.

Untuk bisa belajar, learning process (proses belajar) seorang anak perlu
menunggu berbagai hal tumbuh kembangnya sampai mencukupi untuk mendukung
belajar membaca, menulis dan berhitung. Mengajar matematika pada bayi kan
nonsen?

Jika sejak bayi kita ketahui anak kita ternyata mengalami gangguan
perkembangan, nah itu harus kita perhatikan lebih ekstra dan lebih
hati-hati, karena ia mempunyai resiko mengalami gangguan belajar. Berbagai
tumbuh kembang yang tertinggal atau melenceng perlu kita stimulasi
perkembangannya, agar disaatnya seorang anak belajar betulan, ia sudah siap.
Contoh, kalau ia mengalami gangguan perkembangan motorik halus, nah anak ini
kita latih-latih agar
motorik halusnya berkembang baik, agar saat sekolah tangannya siap untuk
menulis.

Salam,
JM
================

Sharing aja nih..

Setuju banget nihma Mbak Shereen n papa Rafi..
Aku terrapin ke Kavin 16,5 bln sama aja kok.. minimal sehari sekali ada
acara baca buku bareng? so, anak2 suka n ngerasa diperhatiin.. Pake kartu2
semacam flashcard pernah juga but kurang efektif buat Kavinku yg sukanya ke
mana2.. but kalo sama buku2 cerita , VCD, or liat langsung di sekelilingnya
suka tuh.. bahkan skarang kalo ada buku pasti Kavin ambil n bilang.. "cita..
cita" maksudnya crita..crita.. minta dicritain getu.. Now, Kavin juga udah
ngerti macem2 binatang, alat transportasi, macem org, kosakatanya juga
banyak dsb.. n yg aku bias dikit bang atuh kemajuan bicara Kavin lebih dr
anak2 sebayanya di komples aku..

Btw, setelah aku banyak belajar dr berbagai seminar n berbagai milis or web2
metode pembelajaran anak yg tepat adalah metode dr otunya sendiri?
karna dr metode2 yg diungkapan para ahli tuh gak smuanya bias ditrima oleh
masing2 anak.. Ingat anak adalah pribadi yg unik? so, sebagai ortu kita sih
seharusnya ngerti metode yg cocok buat anak masing2..

Bukan aku tidak setuju dg metode yg diterpkan para ahli or pakar..but,
alangkah baik kita juga tau metode2 tsb tetapi untuk penerapannya perlu
disesuaikan dg kemauan n kemampuan anak.. Yg penting dlm mengajari anak
harus fun n tanpa paksaan.. kalo udah capek ya udah brenti.. yg perlu lagi
juga konsisten dlm mempelajari sesuatu n perlu juga kompak dengan org2 di
sekitar anak? biar anaknya gak bingung.. Kalo perlu punya buku khusu buat
nyatet perkembangan anak.. so, kita nantinya bias gampang mereview apa yg
udah kita jarkan?

Ok deh happy parenting yah..

Uci mamaKavin

============

Dear semuanya,

Metoda ini sudah seliweran bertahunan di milis-milis, tanpa ada yang protes.
kalau ada yang protes, yang jualan marah dan ngajak "berkelahi".

Untuk bisa tahu apakah metoda ini bermanfaat atau tidak, seharusnya kita
mempelajari saja pola tumbuh kembang dan prinsip prinsip perkembangan otak
dari sumber yang baik. Saya anjurkan sumber yang baik adalah: dari Zero To
Three org. http://www.zerotothree.org/ztt_parents.html
Selain ia juga membahasa berbagai ilmu di luaran (masayarakat yang
membingungkan saat ini) betul atau tidak, mereka juga mengeluarkan majalah,
buku-buku, dan ada radio web yang bisa kita dengarkan.

Sp's,
Sebetulnya gak susah kok dimana kita bisa berdiri kokoh mengasuh anak kita,
tidak dibingungkan dengan berbagai publikasi yang menyesatkan.
Kalau saja kita selalu berpatokan bahwa tumbuh kembang anak-anak selalu
dipengaruhi oleh masalah nature biologis (genetik) dan nurture pengasuhan.
Nature biologis akan senantiasa menjadi blue print anak itu tumbuh, dan
nurture (pengasuhan) yang baik akan memaksimalkan potensinya. Sehingga ia
akan menjadi anak sebagaimana dirinya. Bukan seperti yang dicita-citakan
oleh kita yang justru cita-cita itu seringkali menyimpang dari karakteristik
dan pola tumbuh kembangnya, itu kalau kita tidak memperhatikan nature
biologisnya.

Ambil contoh, seperti halnya ingin membuat anak menjadi jenius dengan musik
mozart yang dipublish bisa meningkatkan sel sel otak tanpa batas. Itu kan
engga mungkin karena faktor genetik akan mengendalikan besar, pola dan
kecepatan tumbuh kembang.

Glenn Doman dari Human Potensial Institute adalah seorang pencipta ide dari
kelompok yang justru tidak melihat faktor nature biologis. Sehingga sajian
materinya selalu menggiurkan. Mereka, dengan caranya mencoba seorang anak
mempunyai memori yang hebat,memori yang tahan lama (long term tanpa bisa
hilang lagi), detil dan tepat, memori fotografis namanya. Itu tah engga
normal. Seseorang yang mempunyai memori demikian, sebetulnya akan menjadi
anak yang sangat sulit dalam hidupnya. Saya sudah banyak mendongeng tentang
memori fotografis di blog ini.
http://si-entong.blogspot.com/2004/08/memori-fotografis-1.html

Sekalipun anak itu jenius, memori fotografisnya akan hilang juga, karena ia
mampu berfikir kreatif dan analisis. Jika seorang anak yang mempunyai memori
fotografis tapi tidak diikuti dengan kemampuan kreativitas dan analisis, ia
akan menjadi anak tidak normal.

Jadi kita musti hati hati ya Bapak Ibu...Kita curahkan waktu dan perhatian
kita dalam pola tumbuh kembang yang baik, dalam jalur normal.

Salam,
Julia Maria van Tiel

==============

Nah..Si Ibu pakar udah muncul nih?

Thx Mbak Jul? masukkan Mbak Jul sangat berarti buat aku.. terutama setelah
seminar online bebrapa wkt lalu di milis WRM (ingat gak yg sampe
benjol2.. n jd rame diskusinya gara2 per?an aku ttg metode pembelajaran yg
tepat bai baby..)

Pokoke intinya yg fun2 aja dlm mendidik n mengembangkan potensi anak? serius
tapi santai gitu lah.. jangan terlalu ngoyo dg ambisi/ego ortu
secara pribadi? Sekali lagi ingat setiap anak tu diciptakan secara unik..
gak bisa disamakan satu sama lain dlm hal pngasuhan or pembelajaran..

n ternyata ok menerapkan teori NATURE + NURTURE.. Kavin aku 16,5 bln jd
lebih happy n lebih bisa bekembang sesuai minat n kesukaannya.... suka
baca2 gambar n suka nyanyi (walo masih dikit kurang jelas..)

Salam,
Uci mamaKavin

==========
--- In sehat@yahoogroups.com <mailto:sehat@yahoogroups.com>, "ade"
<ade@a <mailto:ade@a>...> wrote:
> Ya, saya sependapat dengan mbak Intan dan mbak Heni.
> Memang pola pembelajaran yang baik menurut saya adalah pola pembelajaran
yang diberikan oleh orang tuanya sendiri. Karena orang tuanyalah
yang tahu mengenai luar dalamnya si anak.

Setuju pendapat Ibu Ade,
Banyak saran dalam pendidikan anak bahwa pendidikan/pengasuhan itu
perlu sesuai dengan:
- pola tumbuh kembangnya
- kulturnya
- logis dan realis

Jangan lupa (Mamakavin gak pernah lupa... he he) bahwa setiap anak akan
selalu membawa pengaruh dari nature-nya (genetik sebagai blue printnya) dan
nurture-nya (pola pengasuhan).

Jika mau mendongengkan siapa Glenn Doman, panjang dan menarik juga. Di
Amerika ia dikelompokkan sebagai orang yang melakukan quackery dan health
fraudulent (penipuan dalam bidang kesehatan), karena memperdagangkan
programnya untuk menyembuhkan (katanya) anak-anak cacat mental, mental
retarded, dan brain damage (yang sebetulnya long live disabilities yah!).
Menurutnya bisa disembuhkan. Sehingga banyak orang tua mengambil anaknya
dari pendidikan sekolah khusus yang mengajarkan kemandirian dan sosialisasi
(menyiasati kemampuan si anak agar ia mampu menyandang gangguan tsb dan
mampu hidup di tengah-tengah masyarakat). Anaknya dibawa ke Glenn Doman,
tidak boleh sekolah karena harus ditreat 40 jam seminggu (menyita waktu
ya?). Hasilnya? Abusing terhadap mental anak menjadi stress, waktu anak
tersia-sia untuk mempelajari kemandirian, dan menyikat habis duit orang
tuanya, orang tuanya berkelahi kiri kanan dengan saudara, dlst.

Glenn Doman sekarang sudah tua, usahanya diteruskan oleh putrinya Jannet
Doman tetapi tetap membawa nama bapaknya. Usahanya engga lagi ke arah
anak-anak cacat, tapi mengikuti trend terakhir menjadi The Prodigy Makers
(pembuat super baby jenius) dengan dasar teorinya yang justru bertentangan
dengan berbagai temuan ilmiah. Para The Prodigy Makers ini juga selalu
dicaci maki oleh berbagai fihak termasuk Zero to three org, karena membuat
bingung para orang tua dengan berbagai teorinya yang kelihatan ilmiah tetapi
ngawur. Lebih seru lagi kalau bisa membaca bukunya Edward F Zigler dengan
judul The First Three Years & Beyonds. Disana banyak deh ditampilkan
berbagai masalah dan dilema pengasuhan anak batita. Rusuhnya banyak.

Munculnya The Prodigy Makers ini karena adanya program pemerintah US Early
Head Start yaitu penyantunan anak-anak berkebutuhan khusus (special needs)
dari keluarga miskin. Oleh pemerintah anak-anak ini diberi full screening
dan berbagai intervensi dini, maksudnya agar nanti saat usia 5 tahun ia
sudah siap secara fisik dan psikis (mental, emosional, percaya diri dlsb)
masuk sekolah (school readiness). Tapi ide pemerintah ini kemudian
diplesetkan oleh kelompok The Prodigy Makers yang umumnya pedagang program
dan buku itu, untuk mengeruk duit para orang tua yang terkesima oleh ide
early intervention ( bukan cuma mulai bayi saja sasarannya, ibu-ibu hamil
juga jadi sasaran, disuruh pakai musik di perut, dibacakan buku cerita dlsb)
lalu dibohongin saja sekalian oleh mereka. Akhirnya ngetrend deh di dunia.
Lagian masak kita mau sih dibohongin orang Amerika itu? Datangnya dari
Amerika, dari negara maju, bukan berarti terus bener lho. Kalau sudah banyak
warning gitu, ya kita ini ngeh lah ya.... masak mau sih ikutan ditipu.
Lagipula negara kita sedang krismon gini... ee kok ya tega...

Di bawah ini ada worning dari Zero to Three:

Salam,
Julia Maria van Tiel

ZERO TO THREE Response to
The Myth of the First Three Years

A book entitled The Myth of the First Three Years has been reported on by
the news media and has created confusion about the significance of the early
years. ZERO TO THREE has developed the following response to help put the
book into perspective for parents, policymakers, professionals and others
who care about babies and toddlers. As you will see, there is no myth about
the importance of the first three years.

www.zerotothree.org/ztt_professionals.html
<http://www.zerotothree.org/ztt_professionals.html>

The Myth of the First Three Years, by John Bruer, is an attempt to
redresssome popular misconceptions about the importance to brain development
of achild's earliest experiences. The book is an extension of "Education and
the Brain: A Bridge Too Far," a scholarly article by Bruer that appeared in
the November 1997 issue of Educational Researcher. Bruer, who is president
of the James S. McDonnell Foundation, which awards $18 million annually for
biomedical, educational, and international projects, has no formal training
in either neuroscience or child development. But his "Bridge Too Far"
article provided an astute examination of the ways in which recent findings
in neuroscience have been blown out of proportion and used to imply that we
know how to increase the neural connections in a child's brain and
ultimately, the child's intelligence. Take the so-called "Mozart effect,"
for example, the
notion that playing classical music, especially Mozart, will boost a child's
IQ. This idea was popularized in the press and capitalized on by
entrepreneurs selling Mozart CDs for babies and parents, but it has no clear
foundation in science.

However, in The Myth of the First Three Years, a book written for a popular,
mass audience, Bruer crosses his own bridge and then burns it,taking his
correct observation that the neuroscience of early childhood is,in a sense,
in its own infancy, and leaping to the extreme conclusion thatwhat happens
to a child in the early years is of little consequence tosubsequent
intellectual development. He also suggests that intervening inthe lives of
very young children at risk for poor outcomes in school andadulthood will
have little or no effect. Nothing could be further from thetruth. We are
particularly concerned that readers will come away from this bookconfused
about what babies need and what parents can do to encouragedevelopment, and
that policymakers will see Bruer's argument as an excuseto ignore the
growing interest and demand for policies and services that support babies,
toddlers, and their families.

The Myth of Boosting Baby's Brain

ZERO TO THREE agrees with some of Bruer's assertions. He is right
thatscience has just begun to sort out how the trillions of nerve cells in
achild's brain are organized during the first three years of life to allow
achild to learn to talk, read, and reason. The application of these new
andexciting findings has sometimes been exaggerated, particularly by
themedia, or used inappropriately to make claims about what
parents,educators, and policymakers should or
should not be doing.Much of the confusion centers on the notion that the
first three years area "critical period," defined as a window of opportunity
for laying downcircuits in a child's brain or learning a particular set of
skills thatcloses irrevocably after a set amount of time. What we know from
earlyresearch is that critical periods exist in children only for some
verybasic capacities, such as vision, and to a lesser extent for
learninglanguage. For example, it has been well-documented that young
children canlearn a second language much more easily -- and often with
better pronunciation and grammar -- than can adolescents or adults. We agree
with Bruer that a child's brain is not even close to being completely wired
when the third candle on the birthday cake has been blownout. In fact, brain
research suggests the opposite conclusion:

Importantparts of the brain are not fully developed until well past puberty,
and thebrain, unlike any other organ, changes throughout life. The human
brain is capable of learning and laying down new circuitry until old age.
But thisdoes not mean that the first three years are unimportant.

Why the Early Years Are So Important.
While scientists have so far only confirmed a few "critical periods" in
thedevelopment of the human brain, there is no doubt that the first
threeyears of life are critical to the growth of intelligence and to
latersuccess in adulthood. We know from rigorous psychological and
sociological research, and from compelling clinical experience, that early
childhood isa time when infants and toddlers acquire many of the motivations
and skills needed to become productive, happy adults. Curiously, Bruer turns
a blind eye to the immense and crucial social and emotional development that
begins during a child's first three years, which provides a foundation for
continued later intellectual development.

The importance of the first three years is no myth, and parents and
policymakers must not be misled by Bruer's book. Following are a few
examples that underscore why and how a child's intellectual development
rests on social and emotional skills learned in the early years:

1. Development of Trust
Every person needs to learn to trust other human beings in order to function
successfully in society. It is crucial that this sense of trustbegins to
grow during the earliest years. While it is certainly possible tolearn this
later, it becomes much more difficult the older a child gets.Years of living
in an interpersonal environment that is unresponsive,untrustworthy, or
unreliable is difficult to undo in later relationships.

Trust grows in infancy in the everyday, ordinary interactions between
thechild and the significant caregivers. A baby learns to trust through
theroutine experiences of being fed when she is hungry, and held when she
isupset or frightened. The child learns that her needs will be met, that
shematters, that someone will comfort her, feed her, and keep her warm
andsafe. She feels good about herself and about others. Children whose basic
needs are not met in infancy and early childhood oftenlack that sense of
trust, and have difficulty learning to believe inthemselves or in others. We
know this from a
multitude of scientificstudies, including the research of Alan Sroufe and
Byron Egeland, at theUniversity of Minnesota. In a long- term study that
followed infants throughtoddlerhood and into adulthood, Sroufe and his
colleagues found that when children were reared within relationships they
could count on, they hadfewer behavior problems in school, had more
confidence, and were emotionally more capable of positive social
relationships.

2. Development of Self-Control
From the time a child begins to walk, we can see the progress she is making
in mastering an important skill: self-control. Babies do not comeinto the
world knowing that nobody likes it when they bite and hit, or grabtoys and
food from them; they need help from adults to understand thatthese impulses
are not socially acceptable. John Gottman, of the Universityof Washington,
among others, has demonstrated that children who get no helpmonitoring or
regulating
their behavior during the early years, especiallybefore the age of three,
have a greater chance of being anxious,frightened, impulsive, and
behaviorally disorganized when they reachschool. Further, these children are
more likely to rely on more violent or other intimidating means to resolve
conflicts than their peers who havesuccessfully begun the long process of
learning self-control.

3. The Source of Motivation
Another pillar of intellectual development and success in school is
motivation. Infants and toddlers develop this through day-to-day
interactions with responsive caregivers. Responding to the needs of thechild
is a powerful process that builds confidence and an inner sense ofcuriosity.
This motivates the child to learn and has direct effects onsuccess in
school. The more confident a child is, the more likely she is totake on new
challenges with enthusiasm.

The Emotional Foundations of Learning
Trust, self-control, and motivation form the bedrock of a child's
intellectual development. Intelligence and achievement in school do
notdepend solely on a young child's fund of factual knowledge, ability to
reador recite the alphabet, or familiarity with numbers or colors. Rather,
in addition to such knowledge and skills, success rests on children,
ofwhatever background, coming to school curious, confident, and aware of
whatbehavior is expected. Successful
children are comfortable seekingassistance, able to get along with others,
and interested in using their knowledge and experience to master new
challenges.

Bruer is right that there is no magic bullet for making kids smart. But
byerroneously focusing exclusively on intellectual achievement, he fails
torecognize that all aspects of development affect one another, and
thatchildren cannot learn or display their intelligence as well if they
havenot developed emotionally and socially. The task for parents and
othercaregivers who want their children to succeed in school is not to
forcedevelopment. Rather, it is to try to ensure
that the moment-to-momentevents of daily life give babies and toddlers the
sense of security,encouragement, and confidence that are the foundation of
emotional health. It is this that will ultimately allow them to learn at
home, in school andthroughout life.

Dangers of the Book
We are concerned that readers will draw the wrong conclusions. Many
parentsare likely to be confused by Bruer's message, which contradicts what
theymay know instinctively about the importance of the first three years.
Thebook may let other parents off the hook -- particularly those parents who
aren't willing or able to devote the time and attention that is needed to
provide a nurturing environment for babies and toddlers.

Moreover, some parents will be offended by Bruer's assertion that
"motherswho behave in acceptable American middle-class fashion tend to
havesecurely attached children. The challenge is to get more
non-complying,mostly minority and disadvantaged, mothers to act in this
way." We know that there are plenty of poor, minority parents doing a
marvelous job of raising their children in securely attached relationships.
Whether by design or accident, Bruer stigmatizes minority racial and ethnic
groups by defining them as the exception to the rule. And just what is
"acceptable American middle-class"
parenting? We know of no such thing as a homogeneous approach to parenting
and attachment.

Policymakers may come away from Bruer's book with the misconception that
efforts to help young children are a waste of money and time. Indeed, it
appears that this may be Bruer's intent. For example, he attacks the very
modest funding provided for such programs as Early Head Start, a desperately
needed initiative that is a drop in the bucket relative to other government
programs. Early Head Start was conceived on the basis of ample evidence for
the value of early intervention -- evidence that was gathered long before
the hoopla began over neuroscience, but that Bruer conveniently omits from
his
book.

Pioneering work done in the 1970s by Sally Provence, at the Child Study
Center at Yale University provides just one example. Over a period of
several years, Provence studied two groups of families with young children
who were at risk for poor outcomes in school and adulthood. One group was
offered free medical care and high quality day care, which included help in
learning to be more responsive parents. The other group received no
assistance. Provence found that when the children of both groups reached
school age, those who received help missed far less school than the others,
were able to learn and retain information more easily, and were more
motivated. Their families had fewer children and the births were spaced
farther apart.

Efforts to help all children achieve the basic skills of trust,
motivation,and self-control needed for later intellectual and emotional
development should not be aimed at creating super-babies, or giving anxious
parents one more thing to worry about, or overambitious parents one more
reason to push
their children. Our aim should be to ensure that all children reach school
age with a solid foundation for learning and relating to others, and that
all parents know what they can do to help their children develop. In the
last decade, the United States has made important progress in recognizing
the needs of young children. Businesses have made efforts to create
family-friendly policies. Government has made efforts to provide services to
families. Parents are increasingly interested in how best to encourage and
prepare their children. Taking to heart many of the negative messages of The
Myth of the First Three Years can only set back those efforts. Our nation's
youngest citizens deserve better.
----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
Readiness and Relationships ? Issues in Assessing Young Children,
Families, and Caregivers
By Samuel J. Meisels

School readiness has become a near obsession in this country. Although no
agreed-upon definition of readiness exists, children are now being asked to
take standardized "readiness" tests as early as the beginning of first
grade. This obsession with readiness has even gone below preschool and
kindergarten. Recent years have witnessed an explosion of interest in
infants' developing brains. Books and magazines are filled with information
on how to "grow the best brains possible." Though some of this information
is quite good, these publications fuel the view that infants' brains are
essentially moldable as long as you intervene early enough, and that if you
don't intervene early enough, you've missed the boat.

The critics of this interpretation of brain research complain that brain
development is not over at age three, and they are correct. However, that
does not free us from an obligation to nurture, support, and seek to advance
the development of children during those years. What we do during the first
three years is extremely important, even though much more growth and
development is still to come.

An essential element of good practice in the first three years is
assessment. Assessment should give a picture of the whole child, not just
splinter skills and milestones, and it should help to differentiate and
expand parents' and providers' perception of their babies. In early
childhood, assessment is not the same thing as testing. Assessment should
engage us in a process of ongoing discovery. It should be viewed as a
collaborative process of observation and analysis that involves formulating
questions, gathering information, sharing observations, and making
interpretations to form new questions.

Functional Assessment
What does an assessment like this look like at a practical level? My
colleagues and I make two assumptions in our work on new assessment tools.
The first is that skills and behaviors that have functional applications
should be the centerpiece of early intervention. A second is that positive
relationships between infants and their primary care providers, both within
and outside the family, advance development most effectively. In short, our
overall purpose is to enhance relationships by strengthening infant/toddler
competence and increasing parental and caregiver knowledge, information, and
skills. We can do this through functional assessments.

Functional assessments focus on everyday, naturally occurring behaviors that
are easily recognizable. In a functional approach, children do not have to
score at a certain level or exhibit a certain type of behavior to achieve a
certain acceptable score. Instead, we're trying to help parents and
caregivers appreciate children's abilities in the first three years of life
and think about how that relates to a whole range of other developmental
indicators.

Functional assessments help families and service providers set goals. They
also enable families and providers to work together to document
accomplishments and identify areas in need of further development. This type
of assessment provides a vehicle for families and service providers to learn
to observe the child and contribute to the evaluation of his or her growth.
It links intervention with assessment, programs with families, and families
with young
children's developing competence.

Returning to school readiness, we must begin to think of readiness as much
more than a few skills seen in the first few weeks of kindergarten.
Consistent with ZERO TO THREE's "Heart Start Indicators" described in the
1992 Head Start Report, The Emotional Foundations of School Readiness, the
characteristics that equip children to come to school with knowledge of how
to learn include confidence, curiosity, intentionality, self-control, and
the ability
to relate, communicate, and cooperate. To attain these readiness skills,
children need a sense of self that can only be developed over time and
through interactions with trustworthy and caring adults. We believe that
functional assessments can contribute to these kinds of relationships.

We have reached a critical moment in the life of Head Start. Besieged by
those who advocate a downward extension of K?12 testing practices, Early
Head Start must remain strong in its commitment to children, families, and
communities. It must remain committed to maximizing meaning in all aspects
of its activities, and particularly in assessment. If we can use assessment
data to enhance the child' s primary context? the family?then we will have
engaged
in something meaningful?something that will open the doors to lifelong
learning for untold numbers of children.

Sam Meisels is Professor of Education at the University of Michigan-
Ann Arbor. T: 734-763-7306, E: smeisels@....

==============
Selamat sore sp's

sekedar share aja....
karena saya penasaran dengan kecerdasan beliau (Prof. Ken Soetanto) yang
menyabet gelar profesor dan empat doktor
(
http://tn85.blogsome.com/2005/07/01/profesor-ken-soetanto-arek-suroboyo-peraih-empat-doktor-di-jepang/
)

pikiran saya tergelitik ingin tanya ke beliau ...
berikut jawaban dari Ken Soetanto yg di wakili oleh sekertarisnya.

Dear Handadi,

Persilahkan saya Kenny Chen seketaris membalas surat anda. Terima kasih atas
perhatiannya pada articlenya Prof. Soetanto. Kami hanya orang biasa dan
bekerja keras demi memenui impian kami. Dan kami merasa lucky juga.
Persilahkan kami menanyakkan melalui milis mana anda melihat article kami?

Prof. Soetanto selalu mengajarkan kita lumayan banyak juga, tetapi yg kami
merasa beliau selalu bekerja keras sekali dan boleh dapat dikatakan tidak
pernah berputus asa. Beliau selalu berterima kasih atas segala-galanya,
termasuk kegagalan atau kesuksesan.

Pertanyak anda ttg kunci rahasia sebenarnya adalah biasa saja dan susah
menjawabnya. Tetapi persilahkan apa yg saya rasa selama bekerja dgn Prof.
Soetanto.
1. Untuk ilmu
Hanya mempunyai Goal dan berusaha benar2 dan tekun demi mencapaikan Goalsnya
tsb.
2. Keluarga
Berterima kasih atas adanya keluarga. Pengertian dan berani mengalah.
3. Mendidik anak
Menenukan bakatnya si anak serta memberi/membuat kesempatan demi grow. Self
esteem adalah sangat penting sekali. Penghormatan pada orang tua
juga sangat penting juga. Teman dan pergaulan sangat penting juga. Jadikan
anak kita sebagai Lakonnya di study/career/hidupnya.

Semoga ada gunanya.

with all the best,

Kenny Chen

jadi pendapat PapaRafi, Ibu Julia , Ibu Intan, Ibu Heni adalah benar....

saya copy paste lg dari Ibu Dr.drg. Julia Maria van Tiel.

Banyak saran dalam pendidikan anak bahwa pendidikan/pengasuhan itu
perlu sesuai dengan:
- pola tumbuh kembangnya
- kulturnya
- logis dan realis

Jangan lupa (Mamakavin gak pernah lupa... he he) bahwa setiap anak akan
selalu membawa pengaruh dari nature-nya (genetik sebagai blue
printnya) dan nurture-nya (pola pengasuhan).

kebetulan saya pernah baca buku yang lumayan bagus menurut saya Judulnya
Dunia Anak/ Memahami Perasaan Anak karangan Hisbullah (kl tidak salah agak
lupa maaf...kl perlu besok saya confirm lagi.Insya Allah besok, beliau
pemikir dari lebanon)

beliau menyebutkan bahwa...faktor genetik masih bisa di kalahkan oleh faktor
lingkungan/kultur yg disebutkan Ibu doktor Julia. kecuali kl kemudain dia
tumbuh dan berkembang dengan apa adanya...tentu faktor genetik akan lebih
dominan.

kemudian dalam buku tersebut juga betapa beliu sangat tidak setuju dengan
pola asuh yang di berikan ke pengasuh
(red-babysister)...kecuali..amat..sangat...diperlukan...dan tentu dipilih
pengasuh yang baik....karena akan sangat berdampak pula dalam
proses tumbuh kembang anak.

kemudian di buku: (pernah saya posting ke milis ini silakan kalo yang
berminat di buka-buka lagi arsip milis tercinta ini)

Einstein Never Used Flash Cards : How Our Children Really Learn- And Why
They Need to Play More and Memorize Less
by Roberta Michnick Golinkoff (Author), Kathy Hirsh-Pasek (Author), Diane
Eyer (Author)
Hardcover: 272 pages ; Dimensions (in inches): 1.15 x 9.39 x 6.38
Publisher: Rodale Press; (October 3, 2003)
ISBN: 1579546951

Itu pesan yang disampaikan dalam buku ini yang ditulis oleh tiga peneliti di
bidang psikologi perkembangan. Pesan tersebut didukung oleh berbagai
penelitian dalam bidang psikologi perkembangan anak selama 40 tahun
belakangan. Tetapi meskipun bukti-bukti penelitian menyatakan demikian,
pesan tersebut tampaknya tidak sampai kepada kita, orang tua dan pengasuh
anak. Buku ini mengingatkan kita bahwa kita terjebak dalam asumsi yang
salah sehingga kita membuat anak-anak kita belajar (dalam konteks akademis)
lebih awal dan mengurangi waktu bermain mereka, sementara dalam bermainlah
anak-anak belajar banyak.

Sebagai orang tua, kita tentu selalu mengkhawatirkan kesejahteraan anak-anak
kita. Salah satu yang kita khawatirkan adalah apakah anak kita akan memiliki
keunggulan untuk bersaing di dunia yang semakin kompetitif. Akibatnya kita
sangat mengedepankan perkembangan otak anak: susu formula
yang kita pilih adalah susu yang mengandung semua zat yang membantu
pertumbuhan otak bayi; kita membelikan mainan yang merangsang intelejensia
anak; musik Mozart dan Bach menjadi menu bagi telinga mereka. Begitu
anak-anak kita mulai bicara, sebagian dari kita berlomba-lomba memasukkan
anak-anak kita ke kelompok bermain dan taman kanak-kanak yang menawarkan
pelajaran musik, program dwi-bahasa, mental aritmatika dan berbagai
aktivitas lain. Kita merasa bahwa belajar secara mandiri sebagaimana yang
telah dilakukan selama ribuan tahun tidak lagi cukup. Kekhawatiran kita
menyebabkan anak-anak kita menjadi "anak-anak yang dibuat tergesa-gesa," dan
mereka pun kehilangan masa kecil ...dst....(selanjutnya => pernah saya
posting ke milis ini silakan kalo yang berminat di buka-buka lagi arsip
milis tercinta ini).

mohon maaf jika ada yg tidak berkenan....
semata-mata sekedar share saja

semoga bisa menjadi inpirasi buat kita agar anak-anak kita kelak tumbuh dan
berkembang sesuai dengan keinginan orang tua masing2.

salam,
-ayahghozanwongcilikbiasayangselaluberusahamenjadiorangtuayangbijak-
"Kesempurnaan Manusia Sejati Bukan Dari Apa Yang Dimilikinya, Tapi
Bagaimana Dia.!!!"

[Non-text portions of this message have been removed]

2a.

Re: please advice urgent,,CRP 50 hrs dirawat?

Posted by: "WienTha" Muhammad.athaya@gmail.com

Sun Dec 11, 2011 9:21 pm (PST)



dear bunda,dr anto,mba alif
Akhirnya arka dirawat setelah berdiskusi dgn dsanya bhw memang hrs krn pertimbangan CRPnya
Waktu itu cek urin bun,tp krn sepertinya cr pengambilan slh jd hslnya tdk ada bakter

dr.anto,,makasih buat penjelasannya dan memang kondisi arka skrg seperti gambaran dr.anto,,barusan dpt injeksi antibiotik taxegram 0.5 plus sanmol dan infus N4,sdg nunggu buat rontgen dan br selesai pengambilan urin,,berarti arka ga overtreatment stlh baca email dokter

Mba alif,,thx ya buat linknya jd makin menguatkan

Sekali lagi makasih byk,,

Br
Wiwinn
Powered by AthayArkanaBerry®
2b.

Re: please advice urgent,,CRP 50 hrs dirawat?

Posted by: "purnamawati.spak@cbn.net.id" purnamawati.spak@cbn.net.id

Sun Dec 11, 2011 9:38 pm (PST)



Dear Wiwin

Ada bbp hal yg menurut saya butuh kehatihatian tinggi
- usia 5 bulan
- demam sejak 2 des
- tidak mau menyusu
- lemas

Kesemua di atas buat saya kondisi yang "gak enak"

Sukurlah sudah dirawat dan masuk AB
Untuk di bawah usia 1 tahun, memang harus kultur urinnya (sukurlah sudah diulang)
Pem lain sdh dikemukakan dr anto ya

Dear Alifah
Thx artikelnya
Iya bayi kecil dg kondisi di atas plus crp lebih 40, harus hati2

Wati
Patient Safety, first

2c.

Re: please advice urgent,,CRP 50 hrs dirawat?

Posted by: "WienTha" Muhammad.athaya@gmail.com

Sun Dec 11, 2011 10:43 pm (PST)



Dear bunda
Terimakasih sdh diingatkan,ketakutan sy adalah bila arka overtreatment jd sempet ragu,alhamdulillah dpt penguatan dr bunda,dr.anto.mba alif berarti arka sdh dpt treatment yg tepat
Krn kami smpt panik liat kondisi atha yg membiru smbl mengigil td pagi
Nanti stlh hasil pemeriksaannya selesai sy update lg perkembangan arka

Terimakasih byk

Br
Wiwinn
Powered by AthayArkanaBerry®
3.

[news] NEJM: Drug Shortages — A Critical Challenge for the Gener

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Sun Dec 11, 2011 10:04 pm (PST)



Perspective
Drug Shortages — A Critical Challenge for the Generic-Drug Market

Bruce A. Chabner, M.D.

N Engl J Med 2011; 365:2147-2149December 8, 2011

Comments open through December 14, 2011

Article
References
Comments (5)

While the oncology community has been focusing much of its
attention on the remarkable activity and enviable science related to the
discovery of targeted drugs, the importance of standard cytotoxic
therapeutics has suddenly become apparent, owing to shortages of the
common workhorses of cancer treatment — methotrexate, leucovorin,
5-fluorouracil, cytosine arabinoside, vincristine, etoposide, the
anthracyclines, paclitaxel, cisplatin, and others. The list of generic
drugs in short supply across all medical specialties is astounding and
includes antibiotics, anesthetic agents, antihypertensive medications,
and common electrolyte solutions and vitamins.1 These shortages, which
primarily affect injectable generic drugs, have forced physicians to
prioritize patients, improvise standard regimens (substituting
capecitabine for 5-fluorouracil, for example, in adjuvant therapy for
colorectal cancer), and at times, choose unproven treatment options for
patients with curable disease. The National Cancer Institute has watched
with increasing concern as common drugs have disappeared from the
shelves of cancer-center pharmacies, threatening the completion of
research protocols.

The gravity of the problem has provoked a response from oncologists
and from governmental agencies. In November 2010, the American Society
of Clinical Oncology convened a summit on drug shortages. The Food and
Drug Administration (FDA) has set up a special office for collecting
information on drug shortages, stepped up its inspection of facilities
shut down because of production problems, and loosened requirements for
drug importation. Congress has held hearings, and Senators Amy Klobuchar
(D-MN) and Robert Casey (D-PA) have proposed legislation requiring early
warning of impending shortages from companies anticipating problems with
drug supply. On October 21 of this year, the Life Sciences Consortium of
the CEO Roundtable on Cancer convened a meeting of interested parties at
the Institute of Medicine to consider solutions. Despite all this
discussion, no simple answer is in sight, and the number of drugs in
short supply grows daily.

The origins of drug shortages are multifactorial, but simply
stated, the problem for cancer treatment stems from a confluence of
factors: consolidation of generic-drug production in the hands of a few
manufacturers (Teva, Bedford, APP Pharmaceuticals, Hospira), who in turn
have experienced both increased demand for drugs and production
"problems." In general, generic drugs are sold for very limited profit,
as fixed by Medicare legislation, and therefore are produced as
inexpensively as possible, using older and less efficient production
facilities, and with limited inventories to reduce carrying costs for
the company. Contamination of commercial drug vials with particulate or
biologic matter has led to the closure of several key plants (Bedford
and Hospira).2

These plants are being upgraded to comply with FDA standards. The
FDA has taken additional measures to expand the drug supply. It has
hastened its inspection and approval of new or refurbished facilities
and has stated its intent to expedite approval of alternative
manufacturers from the United States and abroad. However, the list of
drugs in short supply continues to grow. In the face of these production
difficulties, there has been suspected stockpiling of scarce drugs by
hospitals and by "gray-market" (unofficial, though not necessarily
illegal) wholesalers that are out to profit from the sudden unfulfilled
demand. To add to these problems, the worldwide demand for oncology
drugs is growing rapidly, as Asian, South American, and even African
countries expand access to cancer treatment. This trend is likely to
exacerbate the shortage and divert supplies abroad.

Are there alternative sources of drugs? There is an extensive
untapped capacity to produce generics in Europe and Asia. Major
pharmaceutical companies, such as Pfizer and Sanofi, have generic
products, many of which are sold exclusively overseas. In recent months,
Pfizer has begun to market in the United States two drugs, irinotecan
and doxorubicin, that it formerly produced on patent in this country.
Sanofi has offered to make its extensive list of common generics
available in the United States but has not yet been encouraged to do so
by the FDA. Major pharmaceutical companies could re-enter the market for
off-patent products, but they need the incentives of a reasonable profit
and an expedited route to marketing approval.

A number of long-term remedies, both legislative and regulatory,
have been suggested. Although manufacturers cannot be required to
produce drugs to meet market demand, congressional hearings have led to
calls for requirements for early warning about shortages. Others,
including me, have suggested basic changes in the Hatch–Waxman Act of
1984, which set standards for the generic-drug category. We propose
that, as a part of a new license application, manufacturers should be
required to present projections for product demand and plans for meeting
those demands. Legislation could require that a company establish
redundancy in its production capacity for generics, just as it does for
patented drugs, and could allow the FDA to revoke marketing licenses for
companies that fail to meet minimal production goals. Holders of
Abbreviated New Drug Application (ANDA) licenses who have effectively
met market demand and maintained production should be afforded priority
review in the competition for future generic licenses, while the track
record of those that fail should be a strong negative factor in
consideration of approvals for new applications. Even exclusivity in
licensing generic products could be considered. In assessing the growing
urgency of the situation, we must keep in mind that some of the current
leading patented drugs used in oncology, including granulocyte
colony-stimulating factor (G-CSF) and erythropoietin products, will be
coming off patent in the next few years, and the problem of providing
life-sparing generics will only get worse.

Finally, a greater financial incentive for manufacture of generics
would very likely improve industry's track record. Currently, Medicare
legislation resets reimbursement for injectable generics at no more than
6% above the average sales price (ASP) paid during the preceding quarter
for any given agent.3 These limits affect price and reimbursement for
all purchasers and providers, result in little profit for the
manufacturer and the provider in the U.S. market, and greatly limit the
ability of generic-drug manufacturers to increase their prices.
Meanwhile, generic drugs manufactured in the United States can be sold
abroad for a greater profit. This differential will promote the
"leakage" of U.S. drugs to overseas markets.4 Although the United States
can ill afford higher prices for drugs, raising the price of generics,
which currently account for less than 2% of the cost of cancer drugs,
would have minimal effect on the total cost of cancer care.

On October 31, 2011, in response to the shortages, President Barack
Obama issued an executive order in which he broadened reporting
requirements for potential shortages and instructed the FDA to
accelerate reviews of new applications for marketing of generics and to
provide information to the Justice Department about possible collusion
or price gouging related to the shortages. This action represents a step
forward in addressing this issue. The specific manner in which these
orders will be implemented and the degree to which they will ameliorate
the drug shortages are unclear. The executive order does not improve
reimbursement for generic drugs or address the need for redundant
production facilities or incentives such as rewarding past performance
in the approval of new generics applications.

It will be up to the community of cancer doctors, patients, and
concerned citizens to demand further action at the federal level and by
the private sector to ensure access to lifesaving and life-extending
drugs. A license to market lifesaving products should entail a public
obligation to meet demand. After all, if we can afford to spend billions
of dollars on medical research, we should, as a society, enjoy the
fruits of that investment by assuring the manufacture of generic drugs.

Disclosure forms provided by the author are available with the full
text of this article at NEJM.org.

This article (10.1056/NEJMp1112633) was published on October 31,
2011, at NEJM.org.
Source Information

From the Massachusetts General Hospital Cancer Center, Boston.
http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMp1112633

comments :

NANCY DOW, MD | Physician | Disclosure: None
SILVER SPRING MD
November 05, 2011

Drug Shortages

Why not just admit that the principles of Behavioral Economics 101 have
proven once again to be fulfilled?

"Price controls on any product will create shortages of that product" no
matter how well intended they are. Businesses that want to stay
competitive will divert their resources to other products. That opens
the door to black markets and complete loss of control of the quality of
the price-controlled product. Exactly what we're seeing now.

I would contend that the solution is actually easy... though probably
impossible due to its political incorrectness. Congress needs to fix the
incentives. They need to remove the reimbursement limit for injectables
that was included in the Medicare legislation of 2003. Attempts to defy
the reality of supply and demand will be tremendously expensive and will
inevitably prove to be futile.

GERARD VENTURA, MD | Physician - Oncology | Disclosure: None
NACOGDOCHES TX
November 04, 2011

Political Will? -The Duck Wins

The economic incentives that cause this are not part of an overall
strategy but nonetheless reflect the refusal of Congress over the last
30 years - one whole generation - to lead and govern responsibly, for
fear of not being re-elected (sound familiar?). The remuneration for
go-along/get-along after a stay in DC (consulting and board chairs) also
plays a role.
It reminds me of the Ronald Reagan joke.
How do you tell the Italian at the cock fight? He's the one who brings a
duck.
How do you know the Mafia's involved? The duck wins.

Bola Akinlade | Physician | Disclosure: None
November 01, 2011

Drug Shortages — A Critical Challenge for the Generic-Drug Market

Dr. Chabner's perspective on the shortage of essential drugs in the US
is most welcome and provides a valuable insight from a physician's view,
adding to the recent spate of news on this most important topic. As he
points out, the solutions are not easy. However, it does appear that
economic incentives should surely persuade manufacturers to fill these
shortages. His comment of "even African countries..." in the context of
describing regions that have a demand for these drugs seemed somewhat
condescending and unnecessarily gratuitous. I am inclined to believe
that Dr. Chabner did not intend this. Nevertheless, the issue of drug
shortages should not just be a US-centered problem, but should be looked
upon as a global issue, with all stakeholders putting heads together to
address this very challenging problem. I am aware that given the
existing economic realities, many US-based pharmaceutical companies are
shifting their sales and marketing focus to emerging markes such as
India and Brazil.

JOSEPH WILDMAN, MD | Physician | Disclosure: None
SHORT HILLS NJ
November 01, 2011

Drug shortages

Bravo, Dr.Chabner! This pressing issue has heretofore been approached
with incredible timidity and passivity. "A license to market lifesaving
products should entail a public obligation to meet demand." Why should
we not add that "a license to manufacture absurdly expensive and
profitable new products should entail an obligation to meet the OVERALL
pharmaceutical needs of the community?" The next Rituxan, for
example,should not be approved without a requirement that the
manufacturer guarantee sufficient supplies of the cyclophosphamide and
doxorubicin which are so often given with it; the next Oxaliplatin
without guarantees for 5FU and leucovorin.

GORDON HUTCHINSON, MD | Physician | Disclosure: None
NEW HAVEN CT
October 31, 2011

Drug shortages

I like Dr. Chabner's point of view! The "license to market lifesaving
products should entail a public obligation to meet demand." Enforcement
of this ethical obligation would rely on tough standards for production
and supply, but ensure an easier path to licencing the next generic for
responsible manufacturers and a pathway out of business for those who
are not. I do not think that procuring drugs from foreign sources is
currently a viable solution to this crisis given the FDA's known
inability to effectively monitor drug or pharmaceutical constituent
production outside the US.

[Non-text portions of this message have been removed]

4.1.

Pesat Medan 2011

Posted by: "hilda iriany" hilda.iriany@gmail.com   h_iriany

Sun Dec 11, 2011 10:36 pm (PST)



PESAT (Program Edukasi Sehat bagi Orang Tua) Medan didukung oleh YOP, akan
diselenggarakan tgl 17 Des 2011

»Topik 1 : Common Problems (demam, batpil, diare, muntah)
-Kebanyakan penyakit anak-anak disebabkan oleh infeksi virus.
-Sudah tahukah kita tata laksana yang tepat untuk itu?
-Does my child really need drugs?
-Kapan harus ke Dokter atau RS?

»Topik 2 : MPASI (Makanan Pendamping ASI)
-Umur berapa anak boleh mulai makan?
-Makanan apa yg diberikan pertama kali?
-Seberapa banyak porsi yang diberikan?

»Topik 3 : Rational Use of Drugs dan Antibiotik
-Apakah setiap gejala penyakit harus diobati (a pill for an ill)?
-Perlukah kita mengetahui efek samping dari obat?
-Apa beda obat paten dengan obat
generik?
-Apa itu polifarmasi?
Jangan sampai ketinggalan diskusi ini agar kita dapat lebih bijak dan
rasional
menggunakan obat.

Pembicara: dr. Yulianto SK (YOP)
Lokasi: Gedung IKATSI, FT USU, Jln. Perpustakaan USU
Pukul: 08.00-14.00 WIB
Biaya: Rp.100.000/org atau Rp.180.000/pasangan

Pendaftaran:
- daftar via SMS ke Irma
085296414454 / Hilda 0818815866.
Pembayaran dilakukan setelah ada konfirmasi dari panitia.

Yuk, cerdas bersama untuk anak-anak kita!
Segera daftar agar tdk kehabisan seat :)

Salam sehat,
Panitia PESAT 2 Medan

*ada bazaarnya juga loooh, mulai dari clodi, kosmetik sampai hijab gaul
masa kini ;)

-hilda-

[Non-text portions of this message have been removed]

5a.

Re: Tutorial: Growth Chart Software WHO Anthro

Posted by: "Sativa Huang" sativahuang@gmail.com   sativahuang

Sun Dec 11, 2011 11:08 pm (PST)



Dear all,
Selain monitor BB, TB, LK dll, Moms juga bisa monitor motorik anak.
Menunya (Motor) ada di samping Anthro yang akan muncul ketika klik
tanda + untuk mengisi data pertumbuhan anak. Tinggal dicentang sesuai
perkembangan anak dan ada ilustrasinya. Setelah itu bisa dilihat
grafiknya juga dengan memilih parameter Motor Milestones

Salam,

6a.

Butuh penguatan kanker usus dan terapi

Posted by: "indrawanmaya@gmail.com" indrawanmaya@gmail.com   mayahadisaputro

Sun Dec 11, 2011 11:23 pm (PST)



Dear sp's,

Sabtu pagi kmrn saya mendapat kabar dr ibu saya, bahwa oma saya (76th) didiagnosa mengidap kanker usus setelah sebulan mengeluh sakit di bagian ususnya. Ibu saya pertama membawa beliau ke dokter dan hasilnya dinyatakan typhus. Kemudian dokter kedua tidak memuaskan karena tidak mengatakan penyakit yg jelas.

Dokter yg terakhir (jumat kmrn) langsung menyuruh pemeriksaan lewat ct scan dan hasilnya sabtu kmrn dokter mengatakan ada benjolan2 di usus dan mengatakan ini kanker. Lalu dokter menyuruh utk endoskopi, tetapi oma saya menolak karena takut tidak kuat. Dokter meresepkan obat penahan sakit saja, yg diminum 2x (@ 2kapsul) sehari.

Kondisi oma tentu saja menjadi kurus dan susah makan. Saya sangat sedih. Setelah menggoogle, menemukan bahwa keladi tikus dpt membantu menyembuhkan. Namun setelah membaca lebih lanjut, rata2 tanaman/kapsul keladi tikus lbh bekerja dgn maksimal setelah ada kemoterapi atau operasi. Apa yg bs saya lakukan agar meringankan sakitnya oma? Dan apa saya bs memberikan keladi tikus tersebut mengingat dokter tidak memberikan obat apa2..

Terima kasih n maaf kepanjangan

Salam,

Maya
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
6b.

Re: Butuh penguatan kanker usus dan terapi

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Sun Dec 11, 2011 11:35 pm (PST)



On 12/12/2011 2:23 PM, indrawanmaya@gmail.com wrote:
> Dokter yg terakhir (jumat kmrn) langsung menyuruh pemeriksaan lewat ct scan dan hasilnya sabtu kmrn dokter mengatakan ada benjolan2 di usus dan mengatakan ini kanker. Lalu dokter menyuruh utk endoskopi, tetapi oma saya menolak karena takut tidak kuat. Dokter meresepkan obat penahan sakit saja, yg diminum 2x (@ 2kapsul) sehari.
ibu maya..
turut prihatin dengan kondisi omanya.
kl berkenan sebaiknya secepetnya endoskopi utk memastikan diagnosisnya.
lupakan keladi tikusnya.

mohon maaf kl kurang membantu

semoga lekas sembuh

salamku
baapkeghozan

7a.

[news] Menakar Gejala Kanker Usus Besar

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Sun Dec 11, 2011 11:37 pm (PST)



repost :

On 6/24/2009 8:27 AM, ghozansehat wrote:
> Menakar Gejala Kanker Usus Besar
>
> Kalau sudah stadium lanjut, bisa menyebabkan anoreksia.
>
> Pada awalnya, Suwanto mengira ia menderita wasir atau ambeien. Setiap
> buang air besar fesesnya selalu disertai darah. Lebih parah lagi, pria
> 68 tahun ini sering mengeluarkan kotoran setiap buang angin. Karena tak
> kunjung sembuh dengan obat wasir dari dokter, dia mencoba pengobatan
> herbal. Akibatnya, penyakitnya malah makin kronis. Proses defekasi
> (BAB)-nya tambah sulit dan bobot tubuhnya merosot drastis.
>
> Dari herbal, Suwanto pergi ke dokter penyakit dalam untuk menjalani
> endoskopi. Hasilnya, ditemukan ada tumor ganas di usus besar dekat
> anusnya. Dan pada 27 November 2008, Suwanto menjalani operasi
> urostomi--suatu pembedahan yang membentuk bukaan pada bagian dalam tubuh
> untuk membuat jalan baru aliran air seni. Selain itu, hasil laboratorium
> menunjukkan bahwa ia mesti menjalani kemoterapi sebanyak 12 kali.
>
> Menurut konsultan bedah digestif Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM),
> dr Fajar Firsyada, SpB, sekitar 15 persen dari angka kasus baru kanker
> adalah kanker kolon (usus besar). Risiko tertinggi kanker jenis ini,
> kata dia, ada pada kelompok usia 40 tahun ke atas. Namun, tak tertutup
> kemungkinan menyerang yang lebih muda. "Saya pernah mendapatkan pasien
> perempuan berusia 19 tahun," ujarnya seusai menjadi pembicara dalam
> seminar bertajuk "Kanker Usus Besar: Pentingnya Gaya Hidup Sehat dan
> Deteksi Dini" di Hotel Le Meridien, Jakarta, Sabtu lalu.
>
> Biasanya gejala yang timbul berupa berbagai gangguan pencernaan, seperti
> buang air besar berdarah, susah buang angin, atau anemia (kurang darah).
> Fajar menjelaskan, dokter akan mengevaluasi, apakah darah itu menetes
> sesudah feses keluar atau bercampur dengan kotoran. Kemudian dicek
> kembali, apakah selain darah, ada lendir yang menyertainya. "Kecurigaan
> kanker usus besar adalah saat dokter mendeteksi adanya darah yang
> menetes sesudah kotoran keluar dan terdapat lendir," ujar dokter tiga
> anak ini.
>
> Lebih lanjut, Fajar memaparkan, jika usus besar sebelah kanan yang
> terserang kanker, tidak ada perdarahan yang nyata. Sifat darahnya samar,
> sehingga pasien mendadak kurang darah atau dalam kondisi anemia. Jika
> yang terkena kanker usus besar sebelah kiri, umumnya penderita akan
> mengeluarkan darah dan lendir. Karena letak ususnya dekat dengan anus,
> hal itu terlihat pada kasus Suwanto. Malah, menurut Fajar, ada kasus
> stadium lanjut yang dapat menyebabkan anoreksia. "Gangguan kronis di
> saluran pencernaan membuat penderita menjadi tidak nafsu makan."
>
> Sementara itu, spesialis penyakit dalam RSCM, dr Aru Wisaksono Sudoyo,
> SpPD, mengatakan gejala kanker kolon ditandai adanya perubahan dalam
> pola BAB atau defekasi, seperti adanya rasa nyeri di perut bagian bawah
> yang tak kunjung sembuh, dan ambeien yang terjadi terus-menerus.
> "Ambeien bisa menjadi gejala awal seseorang menderita kanker kolon,"
> katanya dalam kesempatan yang sama. Selain itu, menurut dokter kelahiran
> Washington ini, gangguan pada usus besar bisa dilihat lewat bentuk
> kotorannya. "Banyak ditemukan kotorannya itu panjang-panjang dan mirip
> pensil."
>
> Para ahli masih sepakat kalau penyebab kanker kolon sendiri masih
> bersifat multifaktorial. Tidak bisa dibilang hanya satu faktor.
> Penelitian dokter Murdani Abdullah dari Divisi Gastroenterologi
> Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
> Indonesia--yang menemukan peran enzim /cyclooxygenase-2/ atas munculnya
> kanker usus besar--menurut Fajar, juga termasuk salah satu faktor itu.
> "Cikal bakal sel kanker pada usus besar yang ditemukan masih difaktori
> genetik dan paparan makanan yang melewati usus besar."
>
> Menurut Aru, kanker muncul karena paparan bahan-bahan karsinogen yang
> terjadi akibat gangguan metabolisme tubuh, seperti yang ditemukan pada
> obesitas. Dari semua jenis kanker, kanker usus besar paling dipengaruhi
> oleh makanan yang bersifat karsinogenik. Selain itu, menurut dia, pola
> makan yang kaya kolesterol, tinggi lemak, miskin serat, rendah kalsium,
> kurang konsumsi buah-buahan, serta kebiasaan merokok dan konsumsi
> alkohol turut mempercepat laju penyakit ini.
>
> Di Indonesia, kanker usus besar banyak terjadi pada usia muda di bawah
> 40 tahun. Seperti yang menimpa dr Sugiharto, 30 tahun, dan Sapto, 41
> tahun, yang hadir dalam seminar. Untuk itu, pemeriksaan sebaiknya
> dimulai ketika seseorang berusia 30 tahunan. Beberapa cara deteksi dini
> untuk kanker usus besar bisa lewat pemeriksaan colok dubur, /occult
> blood/ (pemeriksaan darah samar), endoskopi, maupun kolonoskopi. Di
> samping itu, dapat dilakukan /enema barium/, yaitu memasukkan bahan
> cairan barium ke dalam usus besar melalui dubur. Kemudian setelah difoto
> dengan menggunakan alat /rontgen/, dapat dilihat siluetnya.
>
> Apabila sudah ditemukan adanya kanker, penanganan bisa dilakukan melalui
> pembedahan, kemoterapi, dan radiasi. Menurut Fajar, salah satu upaya
> pembedahan adalah ostomi--yaitu pelubangan (stoma) permanen atau
> sementara dinding abdomen. Pembedahan dilakukan untuk mengarahkan
> pembuangan air besar atau air seni. Biasanya stoma permanen
> diperuntukkan penderita kanker stadium lanjut karena kanker sudah
> menyebar ke organ sekitarnya dan ahli medis tak bisa mengangkat tumornya.
>
> Sesudah ostomi, penderita akan memakai kantong sebagai pengganti anus.
> Kantong stoma, dijelaskan dokter kelahiran Jakarta ini, aman untuk
> menemani penderita beraktivitas. Malah ada dari mereka yang tetap
> melakukan aktivitas ekstrem, seperti menyelam, dengan memakai kantong
> ini. Kantong itu dibuat dari bahan dan lem yang kuat, sehingga tidak
> bocor. *HERU TRIYONO*
>
> ----------------------------------------------------------
>
> 1. Sel-sel pada usus besar sangat aktif, secara teratur membelah diri
> dan membentuk polip. Kebanyakan berukuran kecil dan berhenti tumbuh.
> 2. Namun, sejumlah kecil polip terus berkembang, kadang-kadang
> berlangsung selama 10 tahun lebih. Mutasi genetik bisa
> membentuknya menjadi tumor yang berbahaya.
> 3. Tumor kemudian tumbuh besar, bahkan terus melakukan mutasi dan
> menyelusup lebih dalam ke otot-otot pada dinding usus besar.
> 4. Selanjutnya kanker menerobos darah dan sistem limfa, lalu sel-sel
> berbahaya itu pecah serta menyebar ke organ lain, seperti hati,
> paru, dan lambung.
>
> http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/24/Gaya_Hidup/krn.20090624.169013.id.html
>
>
> ------------------------------------
>
>

Kanker Usus Besar Mengarah ke Usia Muda
Senin, 22 Juni 2009 | 03:28 WIB

Jakarta, Kompas - Dari sekian banyak kematian akibat kanker, kanker usus
besar merupakan penyebab kematian nomor dua. Angka kasus jenis kanker
ini diperkirakan akan terus meningkat dan mengarah pada usia makin muda.

Tingginya kasus di kalangan usia muda antara lain dipengaruhi pola makan
modern yang tak sehat, seperti makanan yang mengandung lemak tinggi.

"Karena itu, kepedulian terhadap penyakit ini perlu ditingkatkan,
terutama dengan menerapkan gaya hidup sehat dan melaksanakan deteksi
dini," kata dr Aru Wicaksono Sudoyo dari Divisi Hematologi
Medik-Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam
pertemuan para pasien kanker dan keluarga, Sabtu (20/6) di Jakarta.

Kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal yang meluas ke jaringan asal.
Pertumbuhan sel kanker tak terkendali, sel tersebut tidak bisa mati pada
waktunya, mendesak sel-sel sehat. "Sekitar 15 persen dari kasus baru
kanker adalah kanker usus besar," kata dr Fajar Firsyada, konsultan
bedah digestif dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo/FKUI.

Aru menjelaskan, dari semua jenis kanker, kanker usus besar paling
dipengaruhi bahan-bahan karsinogenik dan gaya hidup mengingat organ
tubuh itu selalu dilalui bahan-bahan karsinogenik itu dalam makanan.

Sejumlah tanda dan gejala kanker usus besar adalah adanya darah dalam
kotoran, perubahan dalam pola pembuangan kotoran tubuh, serta nyeri
perut bagian bawah yang tidak hilang. Gejala lain adalah bentuk kotoran
yang panjang dan tipis seperti pensil, tes feses tidak normal, anemia
atau kurang darah, dan berat badan turun drastis.

*Makanan*

Sejauh ini penyebab kanker usus besar belum diketahui secara pasti.
Namun, makanan merupakan faktor penting dalam proses terjadinya kanker.
Makanan yang tinggi lemak, kurang bergerak, usia atau penuaan, riwayat
polip usus besar dalam keluarga, riwayat kanker dalam keluarga,
kegemukan, dan merokok merupakan faktor-faktor risiko kanker usus besar.

Untuk mencegah terjadinya kanker jenis itu, beberapa faktor risiko
penyakit itu perlu dihindari terutama kebiasaan mengonsumsi makanan yang
tinggi lemak, terutama hewani. "Kanker usus besar bisa dicegah dengan
menjalani kehidupan yang bersifat antikanker berupa penghindaran dari
zat-zat karsinogenik," kata Aru.

Skrining dan deteksi dini kanker usus besar juga perlu dilakukan
terutama pada mereka yang berisiko tinggi dan memiliki riwayat gangguan
pencernaan.

Bila dapat ditemukan sedini mungkin, terapi dapat dilakukan sebaik
mungkin dan harapan hidup lebih besar. Karena kanker jenis ini banyak
terjadi pada usia muda di bawah 40 tahun, sebaiknya pemeriksaan mulai
dilakukan ketika usia 30 tahun.

"Penanganan kanker usus besar dilakukan lewat pembedahan, kemoterapi,
dan radiasi," ujar Fajar menambahkan.

Salah satu upaya pembedahan adalah dengan Ostomy, yaitu perlubangan
permanen atau sementara pada dinding abdomen pada saat prosedur
pembedahan untuk mengarahkan pembuangan air besar dan air seni. (EVY)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/22/03280761/kanker.usus.besar.mengarah.ke.usia.muda

[Non-text portions of this message have been removed]

8a.

Benjolan dibawah mata

Posted by: "imelda_mumbunan@yahoo.com" imelda_mumbunan@yahoo.com   imelda_mumbunan

Mon Dec 12, 2011 12:27 am (PST)



Dear dr n sp,

Suamiku dimata bag bwh ada benjolan kecil .. Awalnya kami pikir mau bintitan krn bbrp wkt sebelumnya sempat bintitan di kelopak mata. Sdh kami kompres air hangat tp tetap ada n sdh sempat ke dr mata mdp antibiotik n obat tetes. Kata dr kalau belum hilang disuruh kembali utk dibuka / dibelek ... Obat sdh dihabiskan tp benjolan belum hilang n kami belum balik ke dr tsb ... Mohon bantuan sps apakah pernah ada yg mengalami hal tsb? Sy jg minta info dr mata yg RUM yaa...

Makasih sebelumnya,
Imel
Sent from BlackBerry® on 3
8b.

Re: Benjolan dibawah mata

Posted by: "siti amatullah mutmainah" amianakbinus@yahoo.com   amianakbinus

Mon Dec 12, 2011 12:31 am (PST)



Mba imel,
Browse interna hordeolum deh..
Salep dan obat tetesnya sebetulnya ga perlu..
Jika mengganggu dan ga kempes, di-insisi sih biasanya

Saran sy, 2nd opinion dr.matanya deh ..

Maaf ga byk bantu

Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry® via Smart 1x / EVDO Network.
8c.

Re: Benjolan dibawah mata

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Mon Dec 12, 2011 12:51 am (PST)



On 12/12/2011 3:26 PM, imelda_mumbunan@yahoo.com wrote:
> Suamiku dimata bag bwh ada benjolan kecil .. Awalnya kami pikir mau bintitan krn bbrp wkt sebelumnya sempat bintitan di kelopak mata. Sdh kami kompres air hangat tp tetap ada n sdh sempat ke dr mata mdp antibiotik n obat tetes. Kata dr kalau belum hilang disuruh kembali utk dibuka / dibelek ... Obat sdh dihabiskan tp benjolan belum hilang n kami belum balik ke dr tsb ...
=> sekedar sharing...
anak saya dulu juga mengalami hordeolum.....butuh waktu 2bulan (salahnya
kurang begitu konsisten...dah pernah kuposting dimilis) kami sabar utk
mengkompresnya.
alhamdulillah tdk harus pakai obat2an..apalagi di sobek/insisi sampai
sekarang ndak pernah lagi...mudah2an seterusnya.amiiin.
coba pastikan/tanyakan dulu apa diagnosisnya oleh dokternya ibu?

selanjutnya.....
buka arsip milis dengan keyword : bintitan.
banyak banget diskusi perihal itu

saras
bapakeghozan

9a.

Re: Tanya pencegahan filariasis

Posted by: "YOSEPHINE" yosephine@suryamandiricomputer.co.id   yosephinecristanti

Mon Dec 12, 2011 12:33 am (PST)



Maaf dok & Sps,

Agak penasaran dg pemberian obat ini , dianjurkan utk usia 2 th keatas,
alasannya knp ya? Apakah kurang dr 2 th dianggap masih memiliki antibody
tinggi sehingga minim tertular virus ini?

Melihat bentuk obatnya pil dan agak besar ukurannya, boleh tidak jika
pemberian utk anak 2 th an digerus( he..he..he. jd puyer dong, maaf bunda
Wati :-)), karena anaknya blm bisa menelan obat pil.

Dan boleh tidak jika pemberiannya di termin, jadi dibagi2 pagi, siang sore
(karena lumayan byk juga kl digerus)?

Aera 2 tahun 2 bulan, boleh tidak jika pemberiannya ditunda dulu?

Rgds,

Pipin

*pusing kalo harus menghadapi aera minum obat

<http://groups.yahoo.com/group/sehat;_ylc=X3oDMTJmaTVndGt1BF9TAzk3MzU5NzE0BG
dycElkAzExNjU3NjU0BGdycHNwSWQDMTcwNTA2MTEwNARzZWMDdnRsBHNsawN2Z2hwBHN0aW1lAz
EzMjM2NTU0OTg-> Visit Your Group

Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal
FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland,
dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami,
PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS
SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk.
who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi
Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================

MARKETPLACE

Stay
<http://global.ard.yahoo.com/SIG=15roopok1/M=493064.14543979.14562481.132984
30/D=grphealth/S=1705061104:MKP1/Y=YAHOO/EXP=1323662698/L=b1a69f32-2465-11e1
-9bdd-7738673ae543/B=OsgzPNGDJHM-/J=1323655498793320/K=ZSLE2YNKQtb1Ii6nieLmu
A/A=6060255/R=0/SIG=1194m4keh/*http:/us.toolbar.yahoo.com/?.cpdl=grpj> on
top of your group activity without leaving the page you're on - Get the
Yahoo! Toolbar now.

<http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJlODExNGQ5BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExN
jU3NjU0BGdycHNwSWQDMTcwNTA2MTEwNARzZWMDZnRyBHNsawNnZnAEc3RpbWUDMTMyMzY1NTQ5O
A--> Yahoo! Groups

Switch to:
<mailto:sehat-traditional@yahoogroups.com?subject=Change%20Delivery%20Format
:%20Traditional> Text-Only,
<mailto:sehat-digest@yahoogroups.com?subject=Email%20Delivery:%20Digest>
Daily Digest .
<mailto:sehat-unsubscribe@yahoogroups.com?subject=Unsubscribe> Unsubscribe .
<http://docs.yahoo.com/info/terms/> Terms of Use

.

<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=11657654/grpspId=1705061104/msgI
d=297227/stime=1323655498/nc1=5191951/nc2=4025321/nc3=5191947>

[Non-text portions of this message have been removed]

9b.

Re: Tanya pencegahan filariasis

Posted by: "Shinta Oktaviana" vian199@gmail.com   vian199

Mon Dec 12, 2011 12:54 am (PST)



dear mba pipin,

sambil menunggu pertanyaan yg pertama dijawab,
aku comment ttg gerus menggerus obatnya yah.
waktu pesat depok, aku pernah nanya ama Bunda Wati.
dulu saya juga sering di gerus-in parasetamol sama mama di kampung,
apakah gerus mengerus parasetamol buat anak2x termasuk konsep puyer yg
sama2x kita kecam, ternyata enggak.
krn tidak ada sediaan drop or sirup, jd mau gak mau obat tablet itu dikasih
ke anak yah di gerus dulu.
dengan catatan, klo mama ku dulu, di gerusnya cuma parasetamol dan ketika
akan di konsumsi **tidak ada pencampuran zat lain, dan tidak menyimpan lama
dengan kemasaan yg tidak steril**
beda banget sama kasus puyer2x yg sering kita bahas,

jd menurut ku sih gpp yah. CMIIW ya Bunda...

~Shinta
~ygJugaAkanMemberiObatFilariasisKeKakak

2011/12/12 YOSEPHINE <yosephine@suryamandiricomputer.co.id>

> **
>
>
> Maaf dok & Sps,
>
> Agak penasaran dg pemberian obat ini , dianjurkan utk usia 2 th keatas,
> alasannya knp ya? Apakah kurang dr 2 th dianggap masih memiliki antibody
> tinggi sehingga minim tertular virus ini?
>
> Melihat bentuk obatnya pil dan agak besar ukurannya, boleh tidak jika
> pemberian utk anak 2 th an digerus( he..he..he. jd puyer dong, maaf bunda
> Wati :-)), karena anaknya blm bisa menelan obat pil.
>
> Dan boleh tidak jika pemberiannya di termin, jadi dibagi2 pagi, siang sore
> (karena lumayan byk juga kl digerus)?
>
> Aera 2 tahun 2 bulan, boleh tidak jika pemberiannya ditunda dulu?
>
> Rgds,
>
> Pipin
>
> *pusing kalo harus menghadapi aera minum obat
>
> <
> http://groups.yahoo.com/group/sehat;_ylc=X3oDMTJmaTVndGt1BF9TAzk3MzU5NzE0BG
>
> dycElkAzExNjU3NjU0BGdycHNwSWQDMTcwNTA2MTEwNARzZWMDdnRsBHNsawN2Z2hwBHN0aW1lAz
> EzMjM2NTU0OTg-> Visit Your Group
>
> Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
> - Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
> - PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal
> FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.
>
> Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland,
> dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program
> kami,
> PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
>
> "Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
> =================================================================
> Milis Sehat thanks to:
> - AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
> - PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS
> SEHAT 2011.
>
> Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk.
> who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi
> Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
> "SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.
>
> Kunjungi kami di (Visit us at):
> Official Web : http://milissehat.web.id/
> FB : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
> Twitter : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
> ==================================================================
> Donasi (donation):
> Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
> Bank Mandiri
> Cabang Kemang Raya Jakarta
> Account Number: 126.000.4634514
> ==================================================================
>
> MARKETPLACE
>
> Stay
> <
> http://global.ard.yahoo.com/SIG=15roopok1/M=493064.14543979.14562481.132984
>
> 30/D=grphealth/S=1705061104:MKP1/Y=YAHOO/EXP=1323662698/L=b1a69f32-2465-11e1
>
> -9bdd-7738673ae543/B=OsgzPNGDJHM-/J=1323655498793320/K=ZSLE2YNKQtb1Ii6nieLmu
> A/A=6060255/R=0/SIG=1194m4keh/*http:/us.toolbar.yahoo.com/?.cpdl=grpj> on
>
> top of your group activity without leaving the page you're on - Get the
> Yahoo! Toolbar now.
>
> <
> http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJlODExNGQ5BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzExN
>
> jU3NjU0BGdycHNwSWQDMTcwNTA2MTEwNARzZWMDZnRyBHNsawNnZnAEc3RpbWUDMTMyMzY1NTQ5O
> A--> Yahoo! Groups
>
> Switch to:
> <mailto:sehat-traditional@yahoogroups.com
> ?subject=Change%20Delivery%20Format
> :%20Traditional> Text-Only,
> <mailto:sehat-digest@yahoogroups.com?subject=Email%20Delivery:%20Digest>
> Daily Digest .
> <mailto:sehat-unsubscribe@yahoogroups.com?subject=Unsubscribe>
> Unsubscribe .
> <http://docs.yahoo.com/info/terms/> Terms of Use
>
> .
>
> <
> http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=11657654/grpspId=1705061104/msgI
> d=297227/stime=1323655498/nc1=5191951/nc2=4025321/nc3=5191947>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]

10.

Re: Japri :[sehat] [news] Menakar Gejala Kanker Usus Besar

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Mon Dec 12, 2011 12:44 am (PST)



On 12/12/2011 3:08 PM, eviseptiani@gmail.com wrote:
> Dear pak'e
>
> Maaf ya japri, saya sedang bingung dengan kondisi ibu saya 53th.
>
> Beliau mengeluh perutnya sebah dan agak bengkak dibagian tengah atau lambung. Dan sering bab berdarah, terkadang stlh bab pun mengeluarkan darah segar.beliau mempunyai ambeien.
>
> Sudah ke dokter first opinion dibilang maag dan second opinion ke dokter xxxxx juga maag. Dan di tekan2 bagian perutnya tdk ditemukan gejala yg lain. Sampai dengan hari ini ibu saya masih suka sakit perutnya dan masih bengkak.
>
> Membaca kanker usus besar ini saya jadi worries ,,jangan2,, saya rencana mau ke rscm utk lakukan city scan.
>
> Oia ibu saya lupa blg ke semua dokter mengenai ambeien-nya. Maaf mungkin pak'e bisa bantu kasih saran atw link.
>
> Matursuwun Pak'e,maaf ya japri
>
> Salam hangat,
>
> Evi bundanya azka
>
>
Selamat sore
Tanpa mengurangi rasa hormat saya sangat takut kalau menjawab japri,
sebab saya orang awam/buruh pabrik yang sedang/dalam belajar.
kalau ada yang salahndak ada yg mengkoreksi, sehingga saya jawab via
milis yah ibu...semoga ibu bisa mengerti dan mohon maaf kalau kurang
berkenan.

sebah dan agak bengkak ini sangat absurd ibu.....
kalau boleh saran...kalau memang ragu....sebaiknya
diteruskan/konsultasikan dengan ahlinya...bisa ke rscm, rspi atau husada.
mungkin bisa ke Dr Rino A Gani atau Prof Lesmana .cmiiw.....jangan lupa
bekali amunisi dulu yah..caranya buka arsip milis.

setidaknya ada 2 point penting menurut saya dari tulisan yg sesingkat
diatas :

1. maag/gastritis
penyebab maagnya apa? agar segera dioabati....supaya tdk terus berulang

2. ambein/wasir/haemorrhoid
benar darah segar yah?
masuk stage berapa? dah pernah di colok duburnya?
sudah ubah pola makan secara radikal (kaya serat..banyak minum)
kl curiga ada 'sesuatu' didalam rangkaian ususnya...mungkin bisa
dilakukan endoskopi....namun sebaiknya konsultasikan dulu dengan
ahlinya...biayanya cukup mahal...mungkin saja setelah dicek ndak perlu.

dua-duanya sudah sering diposting dimilis.
coba ibu sempatkan untuk buka arsip milis sehat....disana banyak
pembahasannya.

doa kami semoga lekas sembuh

salam prihatin
bapakeghozan

11.

Rencana anak ke 2

Posted by: "ryesya rasady" ryesya.rasady@gmail.com

Mon Dec 12, 2011 12:45 am (PST)



selamat Sore,

mohon informasinya, rencana aku inyin sekali punya anak ke 2,
anak ku yang pertama minggu depan sudah 1 tahun..

yang aku khawatrikan, kelahiran pertma aku SC, karena aku sering flek
dari umur 3 bulan, air ketuban rembes dari umur 5 bulan dan
menyebabkan masuk minggu 38
aku harus SC..

pada saat umur 3 bulan aku flek, DR meminta aku chek TORCH, dan
hasilnya baik tapi CMV LgG nya mencapai 175, sedangkan normalnya <
dari 6

dari umur 3 bulan sampai dengan melahirkan aku di beri obat ( info
dari DR, untuk melindungi si bayi dari "serangan imun" si ibu yang
cukup tinggi ), selain itu di beri vitamin juga..

Alhmadulillah bayiku lahir sehat dengan berta 3.4 kg.. :)

karena tidak KB, agustus 2011 kemarin aku hamil lagi, dan umur
kehamilan 8 minggu, aku keguguran.. dan aku di sarankan untuk di
periksa lagi TORCH nya,
hasil nya semua OK, kecuali CMV LgG aku meninkat jadi 900..

DR juga telah menginformasikan bahwa LgG tinggi tidak masalah..

Info DR, sebetulnya tidak apa2, tapi aku harus meminum obat apabila
diketahui hamil lagi, dan di minum sampai dengan saat melahirkan
karena takut menyerang janin ( katanya rentan terkena apabila di bawah
umur 12 minggu )..

penyebab kegu2ran ku belum jelas, DR tidak bisa menjelakan, karena kondisi
aku sehat, tidak kecapean juga..

ingin hamil lagi, buat aku bingung dan ragu,
1. apakah memang aku harus minum obat seperti hamil pertama ?,
2. Berbahayakan melahirkan ke-2 dengan rentan waktu yang berderkatan dengan
kelahiran pertama yang SC ?
3.Sebaiknya aku harus bagaimana ya ?
4. Info dari DR, setelah kegu2ran Agustus kemarin, aku boleh hamil lagi mulai
bulan des ini..

mohon informasinya ( maaf kepanjangan ceritanya )

salam,
risa

12a.

Re: Kaleidoskop ujung tahun 2011. Bag I: bergumul dg rasa tak nyaman

Posted by: "tika tk" tika_ktk@yahoo.com   tika_ktk

Mon Dec 12, 2011 12:46 am (PST)



Dear All Amazing Docs & SPs,

Terima kasih untuk milis ini,
walaupun baru hitungan bulan (4 bulan kurleb) bergabung disini,
banyaaakk banget ilmu yang didapat.
Milis ini sudah "memaksa" saya (dan suami, secara tidak langsung) untuk belajar dan belajar.

Ngerti banget "ketidaknyamanan"
yang dimaksud sama Bunda & Dokter2 di milis. selain punya tanggung
jawab moral sebagai tenaga kesehatan juga selalu "dituntut" oleh para
member milis (yg pastinya termasuk saya) disini untuk selalu menjawab
(dengan tepat) keluh kesahnya. Dari keluh kesah yang istilahnya bahasannya udah
menjamur sampai yang tergolong berat.

Kalau di analogikan dengan profesi saya sebagai konsultan (bidang IT), kesulitan terbesar adalah berhadapan dengan
klien yang ngeyel-an, panikan dan tidak mau mengubah mindset :) *sekalian curcoll :D. Bener gitu ngga ya.. hehehe..

Maafkan saya jika secara tidak sadar sudah membuat tidak nyaman para Dokter dan mungkin juga Sps disini.. masih harus banyak belajarr dan belajarrr.. :D

semoga Bunda & all Doc di milis ini tidak pernah lelah untuk terus mengayomi dan membimbing kita2 disini ya..

Thanks a ton,
warm regards,
Tika
*selalu antusias kalau Bunda dan dokter2 di milis lagi sharing n curhat. buat introspeksi diri soalnya :)

[Non-text portions of this message have been removed]

13.1.

Re: Cancer paru otak dan tulang

Posted by: "cut maha ratu" maharatu.maharsya@gmail.com   cut_maharatu

Mon Dec 12, 2011 12:52 am (PST)



Amin.. Makasih doanya mbak Rahmi
Dan juga smart parents lainnya..
Maaf saya gak reply semua takut menuh2in inbox para SP.. Ada yg saya japri tp gak bisa delivered.
Makasih ya semua ucapan simpati dan doanya para SP.. Sangat berarti buat saya :-)

Semoga semua kita yang diberi cobaan ikhlas dan semoga keluarga kita selalu dalam lindunganNya..
Amiin YRA

Cut Ratu
Bunda Harsya Syifa

Sent from XL BlackBerry®
14a.

Re: baby sulit bernafas tengah malam

Posted by: "tika tk" tika_ktk@yahoo.com   tika_ktk

Mon Dec 12, 2011 12:56 am (PST)



Dear Mba Qiqie,

kemungkinan besar karena kesulitan sendawa.. cmiiw.

kalau orang dewasa pun, misal kekenyangan dan kesulitan sendawa otomatis agak sesak (pernah terjadi di saya)..
sebaiknya setelah disusui, selalu diposisikan gendong paling tidak 45 derajat untuk di-sendawa-kan.

again..cmiiw all.
warm regards,
Tika

[Non-text portions of this message have been removed]

Recent Activity
Visit Your Group
Meditation and

Lovingkindness

A Yahoo! Group

to share and learn.

Yahoo! Health

Heartburn or Worse

What symptoms

are most serious?

Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB           : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter      : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

No comments: