Saturday, December 10, 2011

[sehat] Digest Number 16676

Messages In This Digest (25 Messages)

1a.
Re: Cancer paru otak dan tulang From: ЯĭzkyNgªkuªshlέy
1b.
Re: Cancer paru otak dan tulang From: rully875@gmail.com
1c.
Re: Cancer paru otak dan tulang From: risma
1d.
Re: Cancer paru otak dan tulang From: cut maha ratu
1e.
Re: Cancer paru otak dan tulang From: Endah
1f.
Re: Cancer paru otak dan tulang From: /ghz
1g.
Re: Cancer paru otak dan tulang From: dedieriyandi@xl.blackberry.com
1h.
Re: Cancer paru otak dan tulang From: rosshy77@yahoo.com
2a.
Re: DACRIOCYSTITIS OS + Dokter Mata RUM di JEC From: rosshy77@yahoo.com
3a.
Re: [oot] Mancing From: /ghz
4a.
[news] Gaya Hidup dan Kanker => LEBIH dari 40% kanker disebabkan ole From: /ghz
4b.
Re: [news] Gaya Hidup dan Kanker => LEBIH dari 40% kanker disebabkan From: risma
5.
Kanker dan Studi Epidemiologi => Paging dr. putra ismaya From: /ghz
6a.
Re: [sharing] pendarahan akibat subchorionic hematoma From: pancakitchen@yahoo.com
6b.
Re: [sharing] pendarahan akibat subchorionic hematoma From: mentari.lunaira@gmail.com
7a.
AB setelah caesar From: dviryanti
7b.
Re: AB setelah caesar From: siti amatullah mutmainah
7c.
Re: AB setelah caesar From: alifah.davida@gmail.com
7d.
Re: AB setelah caesar From: dviryanti
7e.
Re: AB setelah caesar => WHO-Antibiotic prophylaxis for caesarean se From: /ghz
7f.
Re: AB setelah caesar From: /ghz
7g.
Re: AB setelah caesar From: siti amatullah mutmainah
8.
[news] Antibiotics in C-sections: American Congress of Obstetricians From: /ghz
9.
Rekomendasi ACOG : Antimicrobial Prophylaxis for Cesarean Delivery - From: /ghz
10a.
Re: (help) jari kejepit kursi sampai bertanda From: astrid

Messages

1a.

Re: Cancer paru otak dan tulang

Posted by: "ЯĭzkyNgªkuªshlέy" nasyifa_sahda@yahoo.com   nasyifa_sahda

Fri Dec 9, 2011 7:45 pm (PST)



Noted saran2nya dokter Anto
Mbak Risma, *Hugs* semoga diberikan yg terbaik
Untuk tubuh manusia kanker memang dahsyat daya hancurnya, tapi di lain sisi, buat aku...
Cancer is so limited...
It cannot cripple love.
It cannot shatter hope.
It cannot corrode faith.
It cannot eat away peace.
It cannot kill friendship.
It cannot shut out memories.
It cannot silence courage.
It cannot reduce eternal life.
It cannot quench the Spirit.

Salam,
Kiky
*Ingat papa alm w/AML*
ĭkhlªsly sέnt from my hέart®
1b.

Re: Cancer paru otak dan tulang

Posted by: "rully875@gmail.com" rully875@gmail.com   rully027

Fri Dec 9, 2011 8:05 pm (PST)



4. bila ada faktor risiko di keluarga maka mulai browsing dan regular
check-up (sesuai indikasi), dan edukasi keluarga terdekat (ini yg susah)

Dok, alm kakek saya dulu kena sirosis. Saya ga hafal sih darimana pencetusnya, sayangnya ibu saya dan keluarga lain enggan cerita banyak *saya dulu masih kecil banget*. Tapi beliau itu ya sepertinya sampai pengambilan sumsum tulang belakang dsb. Apakah ini juga bisa disebut sbg "warisan" sehingga kita musti lebih waspada? Termasuk apakah misalnya ca paru akibat kebiasaan merokok juga musti diwaspadai sbg "warisan"? Mengingat muncul akibat gaya hidup di kala dewasa.

Terimakasih
Rully
Powered by Telkomsel BlackBerry�

-----Original Message-----
From: yulianto <yuliantosk@gmail.com>
Sender: sehat@yahoogroups.com
Date: Sat, 10 Dec 2011 09:52:07
To: <sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: sehat@yahoogroups.com
Subject: Re: [sehat] Cancer paru otak dan tulang

dear bu ade,

buat saya pribadi lesson learnednya :
1.gaya hidup sehat : stop rokok, makan seimbang; olahraga teratur (ini
juga masih berusaha :)
2. deteksi dini : papsmear, sadari (periksa payudara sendiri); di atas
50 tahun ada anjuran kolonoskopi (sesuai indikasi) ada di cancer.gov
3.asuransi kesehatan (askes, dll) pengalaman saya sangat sangat membantu
(karena papa pensiunan PNS jadi kita sangat terbantu ASKES terlepas
kerumitannya :)
4. bila ada faktor risiko di keluarga maka mulai browsing dan regular
check-up (sesuai indikasi), dan edukasi keluarga terdekat (ini yg susah)
5. everyday is special, everyday is a bless, so always do the best :)
(walau saya juga susah, masih ngomel" di rumah, ngambeg-ngambegan,
mentingin hal lain : kerjaan, atau yg ga penting lainnya. yg penting
usahaaa)
6. lots of praying :) biar jiwa seimbang
7. travel; see beautiful places; breath unpolluted air; watch
traditional dance; fishing; etc. (with your loved ones or best friends
or alone) and pursue your dream :) (ini tips pribadi saya, jangan di
jakarta aja, pusiiiing :D)
8. write your own story :) buat diari kecil aja,hehe, atau yg ga suka
nulis maka foto" aja, atau rekam-rekam momen" indah bersama keluarga,
teman. Enak punya memori yg manis saat kita sudah ditinggal duluan sama
yg kita sayang. Kalau foto" pas udah sakit nanti yg diinget pas
sedih-sedih aja.
9. tabungan buat yang ditinggal (persiapan mandiri buat istri, suami
atau anak yg ditinggal). Atau kalau masih single buat ahli waris :)

everyone have their own time. Jadi jangan khawatir, yg penting
bersiap-siap. semoga ga sedih lagi ya

salam,
-anto-


------------------------------------

Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================Yahoo! Groups Links



1c.

Re: Cancer paru otak dan tulang

Posted by: "risma" bunda_fazil@yahoo.com   bunda_fazil

Fri Dec 9, 2011 8:12 pm (PST)




Tnx utk semua atensi, input dan hug nya
It means a lot really.
#hug balik

-risma-

1d.

Re: Cancer paru otak dan tulang

Posted by: "cut maha ratu" maharatu.maharsya@gmail.com   cut_maharatu

Fri Dec 9, 2011 9:57 pm (PST)



Hm.. Tadinya gak pgn komen.. Soalnya kyk mbuka luka baru yg blm kering... Tp gak nahan jg.. Hehe..

Baru 6 bln lalu slm suami meninggal krn kanker pembuluh darah stadium 4 di otak and nyebar ke paru.
Trs terang baru tau istilah DNR ini... walaupun jd lbh ngerti di sisi dokter pasti pertimbangannya persis spt penjelasan dr. Anto, Tp bgmnpun di sisi keluarga pasti ingin semaksimal mungkin entah itu sbnrnya bermanfaat atau gak. 'Sesak' lho ..kalau melihat kondisi org yg kita sayangi tdk mendapat tindakan apa-apa... Jawabnya cuma 'ini mmg perjalanan dr penyakitnya bu..' Trus gak diapa2in.. Hiks..

Suster and dokter menyerahkan sm keluarga, terserah mau dibawa ke ICU apa gak, terserah apa mau resusitasi apa nggak... kondisi sbnrnya gmn gak disampaikan detil.. Semua terserah keluarga aja... Cari ruang ICU jg sibuk sendiri telpon sana-sini. Mgkn usaha dokter dan suster jd terlihat kurang maksimal krn di satu sisi mereka udah tau kalo itu semua gak akan membantu banyak and mungkin mmg gak akan menolong sm sekali..dan tinggal tunggu waktu aja..

Tp di sisi pasien... Hiks.. He's the only one I have in the world. Pastinya ingin yg terbaik.. apapun itu caranya...
Mana bisa duduk do nothing and cuma nunggu waktunya..

Sedih bgt waktu akhirnya nyampe di ICU RS lain, dokter jaga cm melihat alat deteksi dr jauh and do nothing. Cuma bilang' ini sih udah gak bisa..' Hiks.. Pdhl suami sy msh bernafas.. Detak jantung msh berdenyut. And selama dia msh bernafas dan jantungnya msh berdetak sy msh tetap berharap keajaiban itu ada !
Jadi dengar reaksi dokter yg begitu sgt mengecewakan...

Malah suster2 aja yg terlihat sibuk memompa jantung dsb. Dokternya cuek...malah waktu sy ngotot minta dia periksa suami saya lagi, dia bilang.. Bu, saya cuma dr. Jaga, gak bs ambil tindakan apa2. Dan ngomong ke suster, ya udah kalo gitu jadi deh tolong panggilin dr. Spesialis nya...(??) Dan dia berdiri begitu aja ninggalin ruangan sambil bilang sm suster kalo sbnrnya jam jaga dia sdh habis! Dan dia hrs pergi.
Melihat itu saya semprot itu dokter yg gak ada empatinya sm sekali. Saya bilang, "dokter.. Kalo malam ini suami sy gak tertolong dokter msh punya banyak pasien lain, tp saya gak punya siapa2 lg dok!'

Maaf ya para dokter.. Tp itu sgt menyakitkan bgt.. Sy cm pgn bilang sm dokter itu, mungkin buat dia, ini hanya salah satu dr sekian banyak pasien2 yg dia rawat... Mgkn dia sdh sering menangani org sekarat dan n akhirnya meninggal. Tp bagi keluarga pasien, 1 pasien itu is everything for them. Jd jgn perlakukan spt hilang satu tumbuh seribu...

I know kondisi suami sdh kritis. But at least pls do something.. Sekedar kalimat empati atau penjelasan kondisi apapun itu... Ini memegang dan mendekati suami saya aja nggak lho.. Hanya liat catatan dan alat monitor..
Susternya sampe nepuk2 bahu saya bilang' sabar ya bu..'

Dr. Spesialis gak muncul2 sampe akhirnya dtg dr. muda yg saya tau dia juga pasti sbnrnya tau is nothing can do anymore... Dia jelasin pelan2 kalau ventilator gak akan membantu dan gak bisa kalau jantung suami sy tdk bereaksi. Dan dia periksa semua pupil mata, detak jantung dll. Dan jelasin obat apa aja yg udah masuk and suami sy ttp tdk reaksi positif. Sampe akhirnya suami sy dinyatakan meninggal. Sy hargai usaha dokter yg kedua. Walopun gak banyak plg tidak ada empati yg ditunjukkan.. dan terutama dia pegang dan periksa kondisi suami saya langsung. Dan jelasin kondisinya. Bukan sekedar dokter yg cuma baca catatan tanpa megang suami sy sm sekali. Dan saya hargai suster2 di ICU yg tak henti berusaha memompa detak jantung dan pernafasan suami

Yah mungkin kondisinya sedikit berbeda ya...krn suami sy baru sehari di RS. Sy kaget dan nggak nyangka dia akan langsung drop, jd kecewa dgn tindakan RS yg spt do nothing krn adanya vonis stadium 4 itu...

Utk paman mb Risma mdh2an keluarga bs lbh siap ya.. Krn keluarga sdh lihat dilakukan semua tindakan selama di RS. Tapi tetap dokter kudu sgt hati2 menyampaikan ke keluarga terutama istri. Mudah2an tante bisa lbh siap ya mb Risma... Krn pasti dlm hati kecilnya pgn tetap ada mujizat dan akan sgt merasa bersalah kalau merasa tdk maksimal dan tdk mencoba...

Anyway makasih ya dr. Anto utk sharingnya, sy jd lbh memahami sisi dr alasan tindakan dokter di RS thdp pasien stadium 4. Walaupun tetap berharap cara penyampaian dan penjelasan kpd kel pasien akan lebih manusiawi.. Tentu tergantung dokter masing2 dan RS nya.. Kebetulan kmrn sy kebagian RS yg mmg agak lambat dan krg empati dr dokter2nya. Intinya komunikasi nya gak dpt.

Maaf ya jd curcol kepanjangan..
Semoga yg terbaik utk paman mb Risma ya.. Amin..

Cut Ratu
Bunda Harsya-Syifa


Sent from XL BlackBerry�
1e.

Re: Cancer paru otak dan tulang

Posted by: "Endah" endahgunawan@ymail.com

Fri Dec 9, 2011 10:28 pm (PST)



Tks sharingnya Mbak Ratu ..
Membuat saya introspeksi mengenai skill komunikasi saya pada pasien, terutama how to tell the bad news.

Turut berduka cita, maaf, saya baru tau suami sdh meninggal. Semoga alm mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT

Endah

1f.

Re: Cancer paru otak dan tulang

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Fri Dec 9, 2011 10:31 pm (PST)



On 12/10/2011 1:28 PM, Endah wrote:
> Membuat saya introspeksi mengenai skill komunikasi saya pada pasien, terutama how to tell the bad news.
>
> Turut berduka cita, maaf, saya baru tau suami sdh meninggal. Semoga alm mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT
>
> Endah
>
=> Subhanallah....
respon yg sangat luar biasa dari dr. endah.
karena saya seringgggg sekali mendengar baik langsung dan tidak langsung
yg pada akhirnya orang banyak lari ke pengobatan alternatif.

saya ikut mengamini dr endah.

tabiq
bapakeghozan

1g.

Re: Cancer paru otak dan tulang

Posted by: "dedieriyandi@xl.blackberry.com" dedieriyandi@xl.blackberry.com   dedi_annahl

Fri Dec 9, 2011 10:42 pm (PST)



Sedih sangat mndalam membaca crita rekan kita, sangat memprihatinkan kondisi dokter yg tidak mau brusaha, yang seolah2 tidak mau prduli. Tp saya jg yakin masi bnyak dokter yg berusaha semaksimal mungkin dlm mnolong pasien2 mereka. Buat ibu cut yang sabar dan tabah selalu dlm mnghadapi cobaan hidup. Amiinn
Sent from my BlackBerry� smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "cut maha ratu" <maharatu.maharsya@gmail.com>
Sender: sehat@yahoogroups.com
Date: Sat, 10 Dec 2011 06:00:12
To: <sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: sehat@yahoogroups.com
Subject: Re: [sehat] Cancer paru otak dan tulang

Hm.. Tadinya gak pgn komen.. Soalnya kyk mbuka luka baru yg blm kering... Tp gak nahan jg.. Hehe..

Baru 6 bln lalu slm suami meninggal krn kanker pembuluh darah stadium 4 di otak and nyebar ke paru.
Trs terang baru tau istilah DNR ini... walaupun jd lbh ngerti di sisi dokter pasti pertimbangannya persis spt penjelasan dr. Anto, Tp bgmnpun di sisi keluarga pasti ingin semaksimal mungkin entah itu sbnrnya bermanfaat atau gak. 'Sesak' lho ..kalau melihat kondisi org yg kita sayangi tdk mendapat tindakan apa-apa... Jawabnya cuma 'ini mmg perjalanan dr penyakitnya bu..' Trus gak diapa2in.. Hiks..

Suster and dokter menyerahkan sm keluarga, terserah mau dibawa ke ICU apa gak, terserah apa mau resusitasi apa nggak... kondisi sbnrnya gmn gak disampaikan detil.. Semua terserah keluarga aja... Cari ruang ICU jg sibuk sendiri telpon sana-sini. Mgkn usaha dokter dan suster jd terlihat kurang maksimal krn di satu sisi mereka udah tau kalo itu semua gak akan membantu banyak and mungkin mmg gak akan menolong sm sekali..dan tinggal tunggu waktu aja..

Tp di sisi pasien... Hiks.. He's the only one I have in the world. Pastinya ingin yg terbaik.. apapun itu caranya...
Mana bisa duduk do nothing and cuma nunggu waktunya..

Sedih bgt waktu akhirnya nyampe di ICU RS lain, dokter jaga cm melihat alat deteksi dr jauh and do nothing. Cuma bilang' ini sih udah gak bisa..' Hiks.. Pdhl suami sy msh bernafas.. Detak jantung msh berdenyut. And selama dia msh bernafas dan jantungnya msh berdetak sy msh tetap berharap keajaiban itu ada !
Jadi dengar reaksi dokter yg begitu sgt mengecewakan...

Malah suster2 aja yg terlihat sibuk memompa jantung dsb. Dokternya cuek...malah waktu sy ngotot minta dia periksa suami saya lagi, dia bilang.. Bu, saya cuma dr. Jaga, gak bs ambil tindakan apa2. Dan ngomong ke suster, ya udah kalo gitu jadi deh tolong panggilin dr. Spesialis nya...(??) Dan dia berdiri begitu aja ninggalin ruangan sambil bilang sm suster kalo sbnrnya jam jaga dia sdh habis! Dan dia hrs pergi.
Melihat itu saya semprot itu dokter yg gak ada empatinya sm sekali. Saya bilang, "dokter.. Kalo malam ini suami sy gak tertolong dokter msh punya banyak pasien lain, tp saya gak punya siapa2 lg dok!'

Maaf ya para dokter.. Tp itu sgt menyakitkan bgt.. Sy cm pgn bilang sm dokter itu, mungkin buat dia, ini hanya salah satu dr sekian banyak pasien2 yg dia rawat... Mgkn dia sdh sering menangani org sekarat dan n akhirnya meninggal. Tp bagi keluarga pasien, 1 pasien itu is everything for them. Jd jgn perlakukan spt hilang satu tumbuh seribu...

I know kondisi suami sdh kritis. But at least pls do something.. Sekedar kalimat empati atau penjelasan kondisi apapun itu... Ini memegang dan mendekati suami saya aja nggak lho.. Hanya liat catatan dan alat monitor..
Susternya sampe nepuk2 bahu saya bilang' sabar ya bu..'

Dr. Spesialis gak muncul2 sampe akhirnya dtg dr. muda yg saya tau dia juga pasti sbnrnya tau is nothing can do anymore... Dia jelasin pelan2 kalau ventilator gak akan membantu dan gak bisa kalau jantung suami sy tdk bereaksi. Dan dia periksa semua pupil mata, detak jantung dll. Dan jelasin obat apa aja yg udah masuk and suami sy ttp tdk reaksi positif. Sampe akhirnya suami sy dinyatakan meninggal. Sy hargai usaha dokter yg kedua. Walopun gak banyak plg tidak ada empati yg ditunjukkan.. dan terutama dia pegang dan periksa kondisi suami saya langsung. Dan jelasin kondisinya. Bukan sekedar dokter yg cuma baca catatan tanpa megang suami sy sm sekali. Dan saya hargai suster2 di ICU yg tak henti berusaha memompa detak jantung dan pernafasan suami

Yah mungkin kondisinya sedikit berbeda ya...krn suami sy baru sehari di RS. Sy kaget dan nggak nyangka dia akan langsung drop, jd kecewa dgn tindakan RS yg spt do nothing krn adanya vonis stadium 4 itu...

Utk paman mb Risma mdh2an keluarga bs lbh siap ya.. Krn keluarga sdh lihat dilakukan semua tindakan selama di RS. Tapi tetap dokter kudu sgt hati2 menyampaikan ke keluarga terutama istri. Mudah2an tante bisa lbh siap ya mb Risma... Krn pasti dlm hati kecilnya pgn tetap ada mujizat dan akan sgt merasa bersalah kalau merasa tdk maksimal dan tdk mencoba...

Anyway makasih ya dr. Anto utk sharingnya, sy jd lbh memahami sisi dr alasan tindakan dokter di RS thdp pasien stadium 4. Walaupun tetap berharap cara penyampaian dan penjelasan kpd kel pasien akan lebih manusiawi.. Tentu tergantung dokter masing2 dan RS nya.. Kebetulan kmrn sy kebagian RS yg mmg agak lambat dan krg empati dr dokter2nya. Intinya komunikasi nya gak dpt.

Maaf ya jd curcol kepanjangan..
Semoga yg terbaik utk paman mb Risma ya.. Amin..

Cut Ratu
Bunda Harsya-Syifa


Sent from XL BlackBerry�

------------------------------------

Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================Yahoo! Groups Links

1h.

Re: Cancer paru otak dan tulang

Posted by: "rosshy77@yahoo.com" rosshy77@yahoo.com   mommynyaarion

Fri Dec 9, 2011 10:46 pm (PST)



Dear Mba Cut,

Turut berduka ya mba, jadi menangis membaca sharingmu mba.
pasti sangat berat melewati semua itu aplg mendapatkan pengalaman yg tidak berempati bgt.
Semoga dgn semprotan mba, sang dokter boleh evaluasi diri dan makin memberi hati melayani dgn benar.

Semoga mba cut bisa melewati masa berat ini

Semoga hidupmu dan anak2 diberkatiNYA selalu

Peluk erat dr ku

Rusmina
Teringat lg saat kakakku mengalami kehilangan suaminya 3thn lalu :(
Powered by Telkomsel BlackBerry�
2a.

Re: DACRIOCYSTITIS OS + Dokter Mata RUM di JEC

Posted by: "rosshy77@yahoo.com" rosshy77@yahoo.com   mommynyaarion

Fri Dec 9, 2011 7:48 pm (PST)



Aih aku salah n
lancang manggil mba :)
Maaf ya dok...tepat sekali imelnya jd langsung switch ke dokter ahlinya

Makasi infonya mpok
Makin komplit deh dokter2 di milis tercinta ini, duuh senangnya

Salam
Rusmina
Lg antri di JEC ke Dr. Hernawita




Powered by Telkomsel BlackBerry�0�3
3a.

Re: [oot] Mancing

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Fri Dec 9, 2011 8:03 pm (PST)



On 12/10/2011 10:42 AM, nia2R wrote:
> ~▸ mudah2an pas di banda aceh nanti dr.anto mau diajak mancing suamiku naik boat..jdwl tiap minggu
=> wuih ngiler.com.
banda aceh relatif perairan belum separah teluk jakarta.
ikan kecil..besar..besaaaaarrrr.....masih berseliweran.
duh banyangin 'straight' angkat kakap 7kg......pulang nongkrong nyeruput
ulee kareng...sambil bakar ikan...lupa deh mau balik ke jakarta

salamku
bapakeghozan

4a.

[news] Gaya Hidup dan Kanker => LEBIH dari 40% kanker disebabkan ole

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Fri Dec 9, 2011 8:08 pm (PST)



LEBIH dari 40% kanker disebabkan oleh gaya hidup.

Hal itu menyangkal anggapan bahwa kanker itu penya kit yang tak bisa
dihindari dan terjadi
akibat faktor ge netik. Demikian hasil pene litian yang dipublikasikan
British Journal of Cancer.

Penelitian dilakukan terha dap 134 ribu kasus kanker di Inggris pada
1993-2007. Studi ini mengungkapkan gaya hidup yang lekat dengan tembakau
ialah penyebab tertinggi kanker, ialah penyebab tertinggi kanker, yakni
23% pada laki-laki dan 15,6% pada perempuan. Penyebab tertinggi kedua
ialah minimnya konsumsi sayuran dan buah-buahan pada laki-laki (6,1%)
dan kelebihan berat badan pada perempuan (6,9%).

Secara keseluruhan, ada 14 faktor gaya hidup dan lingkungan yang
menyebabkan kanker. Sebanyak 34%-nya atau sekitar 100 ribu kasus kanker
berhubungan dengan kebiasaan merokok, diet, alkohol, dan kelebihan berat
badan. (bbc/*/X-5)

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/12/09/ArticleHtmls/PAUSE-Gaya-Hidup-dan-Kanker-09122011001022.shtml?Mode=1

4b.

Re: [news] Gaya Hidup dan Kanker => LEBIH dari 40% kanker disebabkan

Posted by: "risma" bunda_fazil@yahoo.com   bunda_fazil

Fri Dec 9, 2011 8:19 pm (PST)




Yup...
Betul pak'e

Smoking....
Aduuuhh...
Ini jg yg jd penyebabnya di om saya

Si perokok dapet sakit...
orang sekitar terutama keluarga...udahlah dapet kebagian sakit jg sbg perokok pasif...babak belur jg ngurusin si sakit mikirin biayanya, tenaga, waktu...
Stres abis ngeliat si sakit kejang2 misalnya

Ayo...
Buat yg msh suka nyelipin tuhan 9 senti diantara jari2...please stop.

-risma-

5.

Kanker dan Studi Epidemiologi => Paging dr. putra ismaya

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Fri Dec 9, 2011 8:18 pm (PST)



sekedar repsoting.
siapa tahu bermanfaat.
dari ahli salah satu ahli patology uns, dr. tonang phd.
selebihnya bisa buka arsip milis.

ada member baru juga...
dr putra ismaya...residen di obygn uns....nitip salam buat mas tonang kl
temu pak dokter :)
ayo pak dokter ilmunya di sharing...monggoooo....

salam pembelajar
bapakeghozan

----- Original Message -----
*From:* Tonang D Ardyanto <mailto:tonang.milist@gmail.com>
*To:* sehat@yahoogroups.com <mailto:sehat@yahoogroups.com>
*Sent:* Monday, March 20, 2006 5:05 PM
*Subject:* [sehat] Kanker dan Studi Epidemiologi (1)

Beberapa kali tersebar email tentang hubungan konsumsi susu dan produk susu
dengan kanker payudara, setelah beredar buku dari Prof Jane Plant
(http://www.positivehealth.com/reviews/books/plant64.htm).
<http://www.positivehealth.com/reviews/books/plant64.htm%29.> Sebenarnya
buku
itu sudah ada sejak tahun 2000, kemudian juga mendapatkan beberapa
tanggapan. Dan sekarang di milis jadi ramai. Wah, apa enaknya nggak minum
susu ya ? Masak sih nggak boleh minum susu biar nggak kena kanker payudara ?

Sebentar, bagaimana sih sebenarnya bisa menderita kanker ?

Seharusnya sel-sel tubuh berkembang dalam irama yang terkontrol, sesuai
kondisi lingkungan dan sesuai dengan peruntukan/fungsi sel tersebut.
Pengaturan ini dikendalikan oleh resultansi berbagai faktor yang membentuk
"signalling pathway" sehingga mengerucut pada pertumbuhan badan sehat.

Kanker adalah sekelompok sel yang berubah sifatnya sehingga tidak lagi bisa
diatur oleh sistem pengaturan tersebut. Dia tumbuh tak terkendali, tidak
beraturan, tidak sesuai peruntukannya, dan tidak pada tempat seharusnya.

Teori yang luas diterima untuk menjelaskan proses berubahnya sifat suatu sel
menjadi sel kanker, dikenal sebagai two-hit theory. Diperlukan minimal 2
kali proses sebelum menjadi sel kanker.

Perubahan tahap I (atau Hit pertama) akan mengubah DNA sel (mutasi) tersebut
sehingga rentan berubah menjadi kanker, tetapi belum mengubah menjadi sel
kanker. Perubahan ini bisa terjadi secara genetik, sejak saat pembuahan,
sehingga disebut bersifat menurun (inherited). Contohnya kanker payudara
dengan gen BRCA1 dan BRCA2. Contoh lain adalah glioma pada bayi.

Perubahan tahap I juga bisa terjadi selama dalam kandungan atau segera
setelah lahir. Belum banyak yang diketahui sifat genetiknya, sehingga
sebagian besar kanker memang sulit diketahui penyebab aslinya.

Faktor-faktor penyebab Hit pertama ini disebut "initiating factor".

Seperti disebut sebelumnya, initiating factor saja belum akan membuat sel
menjadi sel kanker. Dibutuhkan tahap II atau Hit ke dua, yang disebut
promoting factor. Adanya infeksi, penyakit autoimun, gangguan metabolisme
tubuh, radiasi, iritasi, trauma, pengaruh obat-obat tertentu adalah
contoh-contoh promoting factor (dan banyak yang belum diketahui).

Sel baru akan menjadi sel kanker, setelah mengalami dua tahap : initiating
factor dan promoting factor. Yang belum diketahui adalah "hit-hit" ini
ternyata tidak hanya "sekali hit langsung bereaksi" dalam 1 tahapan. Belum
jelas berapa kali dibutuhkan paparan suatu faktor untuk menimbulkan "1 hit"
ini.

Di luar kedua faktor itu, ada lagi predisposing factor seperti : diet,
faktor lingkungan, life-style, obesitas, kondisi imunocompromised dan
mungkin juga banyak lagi yang belum diketahui.

Karena itulah, tidak heran bahwa kalau ada 2 orang tinggal bersama-sama
sejak kecil, pekerjaannya sama, yang satu merokok selama bertahun-tahun,
tetapi justru yang tidak merokok yang menderita kanker paru-paru. Bisa
terjadi karena yang merokok justru tidak mengalami initiating factor,
meskipun merokok menimbulkan iritasi sel-sel saluran nafas (bisa menjadi hit
kedua), sementara orang kedua mengalami initiating factor plus promoting
faktor karena menjadi "perokok pasif".

Sebaliknya dalam hal kanker payudara. Kalau ada orang tuanya yang menderita
kanker payudara, maka anaknya lebih berisiko, karena dia berisiko sudah
memiliki "initiating factor" untuk Hit pertama. Berarti tinggal butuh 1 Hit
lagi untuk menjadi kanker.

Begitu pula, meskipun penduduk Hiroshima terkena radiasi, belum tentu
mengalami kanker. Mungkin baru 1 Hit yang dialami oleh radiasi, tetapi masih
butuh "hit" yang lain.

Tetapi, adanya initiating factor sebagai Hit pertama, bahkan Hit kedua pun,
belum tentu juga menimbulkan kanker. Tubuh memiliki sistem tersendiri untuk
mengontrol pertumbuhan sel. Di satu sisi ada growth-factor yang mendorong
pertumbuhan sel, disisi lain ada "tumor supressor gen" yang memproduksi
protein-protein tertentu untuk memberantas sel-sel yang tumbuhnya menyimpang
sebelum sempat berkembang menjadi tumor/kanker. Contoh umumnya adalah
Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1) dan protein P53 (tumor supressor).
Bahkan DNA pun memiliki metode tersendiri untuk mendeteksi, menyingkirkan
dan memperbaiki bila ada mutasi pada urutan asam aminonya dengan auto-repair
mechanism-nya (bagian ini mungkin bagi para dokter saja, agak rumit bagi
awam).

Tetapi keseimbangan itu bisa kalah bila Hit-hit yang terjadi lebih kuat,
lebih cepat, daripada kemampuan sistem tubuh untuk menyingkirkan sel-sel
menyimpang. Dalam kondisi inilah baru terjadi kanker.

Menariknya, setelah terjadi kanker pun (artinya dua tahap sudah terlampaui),
pertumbuhan kankernya bisa berbeda-beda antar penderita. Predisposing factor
berperan dalam hal ini. Tidak heran, ada yang bertahan relatif lama, ada
yang terpaksa pendek saja.

Berlanjut ya ... Biar bernafas dulu ...

--
tonang
dokter umum

----- Original Message -----
*From:* Tonang D Ardyanto <mailto:tonang.milist@gmail.com>
*To:* sehat@yahoogroups.com <mailto:sehat@yahoogroups.com>
*Sent:* Monday, March 20, 2006 5:04 PM
*Subject:* [sehat] Kanker dan Studi Epidemiologi (2)

Setelah ramai soal ³susu dan kanker payudara², kemarin saya tambahkan
beberapa poin biar tambah "ramai" :

1. Diet lemak jenuh dan alkohol orang Perancis tinggi, tetapi kejadian
penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung, pembuluh darah dan stroke) justru
lebih rendah. Berarti lebih baik makan lemak jenuh dan minum alkohol ?

2. Orang-orang kita sering bilang "penderita kanker prostate gara-gara
libidionya terlalu tinggi atau suka jajan", tetapi ada penelitian yang
bilang "frekuensi onani berpengaruh positif terhadap kesehatan kanker".
Terus gimana coba ?

3. Tidak ada beda prevalensi kanker paru-paru antara komunitas perokok dan
bukan perokok, jadi ya tidak masalah, silakan saja merokok ?

4. Penelitian di Swedia 1965-1995, ternyata jumlah penderita kanker payudara
pada konsumen alkohol justru lebih rendah, jadi minum alkohol saja biar
tidak kena kanker payudara ?

Nah lho ... !

Dengan mengingat uraian sebelumnya tentang terjadinya kanker, tentu kita
paham, tidak sesederhana itu orang bisa menderita kanker. Poin ke 3 soal
merokok dan kanker, tentu sudah terjawab kan ? Tetapi dalam hal ini, bukan
itu poin yang ingin dikemukakan. Pada ke-4 butir diatas, yang berperan
adalam soal ³studi epidemiologi².

Suatu studi epidemiologi dilakukan pada sekelompok orang di suatu daerah.
Hasilnya adalah ada tidaknya suatu hubungan antara 2 faktor atau lebih.
Misalnya walau makan lemak jenuh dan alkohol orang Perancis ternyata
kejadian penyakit kardiovaskuler lebih rendah. Apakah lantas berarti lebih
baik makan lemak jenuh dan minum alkohol ?

Ternyata bukan, bukan itu masalahnya. Ada kandungan zat anti oksidan kuat
dalam minuman orang perancis itu sehingga menetralisasi efek radikal bebas
dari lemak jenuh. Lho berarti alkoholnya, kan minuman anggur mengandung
alkohol ? Bukan, bukan alkoholnya. Tetapi pada anggurnya, karena penelitian
di jepang, pemprosesan anggur tanpa alkohol tetap memberikan efek yang sama.

Kondisi yang disebut ³French Paradox² ini menuju anjuran : minumlah anggur
dalam batas moderate untuk kesehatan jantung. Anggur ini ternyata yang
berkhasiat baik adalah anggur merah. Bagaimana dengan kita ? Lebih baik kita
makan buah anggurnya, karena alkohol juga memiliki efek samping (misalnya
pembengkakan hati karena alkoholisme).

Seandainya penelitian itu dilakukan di ³Bantul² (sekedar contoh) mungkin
hasilnya akan berbeda, karena kebiasaan orang Bantul berbeda dengan orang
Perancis. Disinilah memahami studi epidemiologi harus cermat, jangan
hitam-putih.

Dengan pola yang sama, kita bisa pahami butir-butir selanjurnya :

Butir 2. Sudah dari ³sana²nya prostate itu memiliki ciri genetik akan
membesar (initiating factor sudah ada, tidak ada P53 disana). Artinya, semua
laki-laki akan mengalami pembesaran, hanya tidak semua menimbulkan gejala,
hanya beberapa yang mengalami kanker prostat. Mengapa, karena tergantung
promoting factornya. Kadar testosteron yang tinggi berhubungan dengan
kepadatan dan pola pertumbuhan sel-sel prostate, sehingga lebih berisiko
mengalami ³promoting factor² menjadi kanker prostate.

Kebetulan saja, studi epidemiologi itu dilakukan pada orang-orang dengan
frekuensi masturbasi tinggi, dan ternyata angka kanker prostatnya rendah,
jadilah kesimpulan itu. Apakah itu benar ? Pada studi lain dengan
multi-center (sehingga subyeknya bermacam-macam) hubungan itu tidak
terbukti. Lho, apakah berarti sebaliknya : yang jarang melakukan aktivitas
seksual berarti lebih aman ? Bukan juga, aktivitas yang wajarlah yang
dianggap paling aman.

Lha terus gimana dong ? Untuk itulah ada suatu pemeriksaan laboratorium yang
mencoba mengukur risiko pembesaran prostate yang mengarah ke kanker prostat.
Namanya Prostate Specific Antigen.

Efek studi epidemiologi kembali terjadi pada butir 4. Diduga masalahnya
bukan karena ³alkohol²nya, tetapi zat antioksidan di dalamnya, ditambah diet
lain yang berpengaruh positif terhadap kejadian kanker payudara
(predisposing factor).

Kembali ke soal semula, bagaimana soal ³susu dan kanker payudara² ? Bernafas
sebentar ya ...

--
tonang
dokter umum

PS. Kalau tahun 1980-an dilakukan penelitian epidemiologi di pelosok
boyolali, mungkin muncul kesimpulan "kebiasaan menggunakan sarung
berhubungan dengan kualitas spema dan kegagalan program KB" hehehe ...

----- Original Message -----
*From:* Tonang D Ardyanto <mailto:tonang.milist@gmail.com>
*To:* sehat@yahoogroups.com <mailto:sehat@yahoogroups.com>
*Sent:* Monday, March 20, 2006 5:03 PM
*Subject:* [sehat] Kanker dan Studi Epidemiologi (3)

Apakah klaim Prof Jane itu benar ?

Bagi saya, mungkin saja itu benar. TETAPI benar itu artinya : memang cerita
itu dia alami, artinya dia tidak berbohong.

Masalahnya, apakah itu juga benar kalau diterapkan kepada orang lain ?
Disinilah kita harus jeli.

Setelah muncul klaim ini di tahun 2000, beberapa penelitian sudah mencoba
menganalisa. American Journal of Clinical Nutrition February 2004 menyusun
meta-analisis. Beberapa hipothesis penting :

1. Susu (dan kemudian menjadi produk susu) berasal dari hewan. Dalam tubuh
hewan ini, ada beberapa zat baik produknya sendiri ataupun karena perlakuan
dari luar termasuk kandungan pestisida, yang bisa bersifat karsinogenik.
Adanya "cemaran" inilah yang mungkin mempengaruhi kejadian kanker - dalam
hal ini payudara.
2. Susu mengandung IGF-1 (ingat email nomor 1), yang mendorong perkembangan
kanker payudara (sehingga susu menjadi predisposing factor).
3. Sebaliknya, susu juga mengandung calcium, vitamin D dan
conjugated-linoleic acid (CLA) yang berpengaruh menurunkan perkembangan
kanker payudara.

Dari sekian banyak penelitian, kesimpulan akhir analisis tersebut, tidak ada
bukti kuat hubungan antara kanker payudara dengan susu atau produk susu.
Artinya, di dalam susu ada faktor-faktor yang mungkin mendukung kanker
payudara, tetapi juga ada faktor-faktor yang mungkin menekan pertumbuhan
kanker payudara. Hasil akhirnya, tidak ada bukti hubungan yang signifikan.

Bila karena hasil penelitian kemudian konsumsi susu dianjurkan untuk
dikurangi, maka efek positif susu menjadi hilang, padahal efek negatifnya
juga belum bisa dipastikan.

Bagaimana menanggapinya ?

Kembali ke awal, penyebab terjadinya kanker bisa beda-beda. Artinya, mungkin
memang benar yang diceritakan Prof Jane terhadap dirinya, tetapi tidak dapat
dibuktikan bahwa itu juga akan berlaku pada orang lain (ingat initiating,
promoting, predisposing factor). Kalaupun seandainya benar ada hubungan susu
dengan kanker payudara, maka itu hanyalah salah satu dari sekian kemungkinan
penyebabnya.

Pencegahan dini tetap yang utama, lakukan SARARI secara rutin, lakukan
tindakan sejak dini, sehingga risikonya menjadi minimal.

Terakhir, sekedar mengingatkan lagi : susu adalah pelengkap, bukan
segalanya.

--
tonang
dokter umum

[Non-text portions of this message have been removed]

6a.

Re: [sharing] pendarahan akibat subchorionic hematoma

Posted by: "pancakitchen@yahoo.com" pancakitchen@yahoo.com   pancakitchen

Fri Dec 9, 2011 8:18 pm (PST)



Mba Fanny...

Mau share aja pengalaman saya dl wkt hamil 20w juga flek2 trs dan pendarahan...parah2nya pas hamil 28w sampai harus bedrest di RS...obgyn saya dl di Jakarta cuma menyimpulkan kalau kondisi saya hanya kebetulan (heh?).
Selain minum obat penguat kandungan, saya bener2 bedrest..pipis pun di pispot. Sampai trauma kalau mau buka cd, hiks...
Syukur saya bisa mempertahankan janin sampai lahir di usia kehamilan 37w dan melahirkan dgn selamat :)

Yg sabar ya mba....semoga mba dan anak yg di dlm kandungan sehat selalu..oya..mba tinggal di Bali ya? Boleh info RS Ibu dan Anak yg bgs di sana?karena saya sedang tinggal di Uluwatu. Tq

Cheers,

Veronica
Powered by Telkomsel BlackBerry�
6b.

Re: [sharing] pendarahan akibat subchorionic hematoma

Posted by: "mentari.lunaira@gmail.com" mentari.lunaira@gmail.com   mentari_mayang

Fri Dec 9, 2011 11:09 pm (PST)



Dear mba fanny,

Duuuuh kalo deket pengen pelukan sambil toss deh sama mba fanny :)

Saya sedang hamil 14 minggu, sudah bed rest selama 10 minggu (kurleb 2,5bln) dan masih nih...mudah2an bisa aktifitas ringan di usia 16 mgg dengan diagnosa yg sama, Subchorionic Hematoma

Saya waktu itu gak tau kalo hamil mba, jd sewaktu perdarahan pertama saya kira mens,ternyata sudah hamil dan perdarahan selama hampir 7hari..jadilah saya bed rest di usia kehamilan 5 minggu...

Pada usia kehamilan 10minggu, saya sudah boleh aktifitas,karena sudah tidak ada darah yg keluar...di dalam rahim pun sudah bersih..karena suami khawatir, saya tetap hanya aktifitas ringan di rumah,tidak keluar rumah dulu...

Benar, beberapa hari kemudian, saya perdarahan banyak sekali, sampai keluar gumpalan darah yg agak besar..dirawat lah saya dengan bed rest total selama 3 hari..kondisi bayi baik..bed rest diperlukan supaya perdarahan tidak meluas..

Baru seminggu saya di rumah (masih bed rest,hanya pipis ke kamar mandi) saya pun perdarahan kembali...kali ini gumpalan darah yang besar2 keluar hampir 6-8 buah..saya kembali dirawat di RS...dokter nya pun kaget dengan perdarahan berulang..perdarahan kali ini adalah yg terbanyak..kondisi bayi baik,pertumbuhannya juga normal,detak jantung normal, tidak ada pembukaan rahim..nginep 4 hari lagi di RS...pulang ke rmh masih harus bed rest total (tdk turun samsek dr tempat tidur) seminggu di rmh kontrol...ternyata masih harus bed rest total juga :)

Sampai sekarang saya di tempat tidur, skr sih boleh ke kamar mandi kalau mau BAK dan BAB, selebihnya ya berbaring dan duduk di tempat tidur...mudah2an bisa pelan2 dicoba nanti di usia kehamilan 16 mgg dan tidak ada perdarahan lagi...

Karena perdarahan yg banyak itu membuat suami saya yg sejati nya takut darah, trauma...skr dia menjaga saya ketat, lebih dr dokter untuk tidak turun dr tempat tidur...ya...saya anggap saja itu tanda cinta deh :D soalnya wajar dia takut, laaah dia 2x liat darah bececer2 kemana2 :p
*laaaaah jd curcoool :D

Mba fanny, sama2 berdoa yuuuk...berdoa supaya kita dan bayi sehat..berdoa supaya terus diberi kekuatan dan pikiran positif..
Bed rest tidak mudah, selain krn kita tidak berdaya ngapa2in (mau minum aja mesti minta tolong) kadang keadaan emosi naik turun...maklum bosen :) tapi yakin deh, kita bisa ya mbaaa....

Maaf malah jd curhaat hehehee.....maklum yaaa banyak waktu :p

Regards,
Mayang

Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
7a.

AB setelah caesar

Posted by: "dviryanti" dviryanti@yahoo.com   dviryanti

Fri Dec 9, 2011 8:47 pm (PST)



Docs dan SPs,
Mau tanya domg, peresepan AB setelah caesar apakah harus diminum? Setau saya kan AB utk mengobati infeksi,
Klo stlh operasi tdk ada tanda2 infeksi, apakah AB hrs ttp diminum dan dihabiskan?
Klo kata Dsog-nya, pemberian AB spy luka cepat mengering.

Tks, atas tanggapannya

-vira-

7b.

Re: AB setelah caesar

Posted by: "siti amatullah mutmainah" amianakbinus@yahoo.com   amianakbinus

Fri Dec 9, 2011 9:06 pm (PST)



Dear mba vira,
Tdk ada klausul pemberian ab stlh sectio..
Luka kering bukan krn ab loh ..

Bisa ubek arsip milist, sering dibahas kok


Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry� via Smart 1x / EVDO Network.
7c.

Re: AB setelah caesar

Posted by: "alifah.davida@gmail.com" alifah.davida@gmail.com   alifah_davida

Fri Dec 9, 2011 9:30 pm (PST)



Nambahin Mbak Ami,
Kalau luka-nya tidak ada tanda2 infeksi ya gak usah AB. Dirawat saja dengan baik ya Mbak luka bekas caesar-nya.

Regards,

-alifah-
Regards,
--Alifah--
challenge yourself, being smart never hurt

7d.

Re: AB setelah caesar

Posted by: "dviryanti" dviryanti@yahoo.com   dviryanti

Fri Dec 9, 2011 9:47 pm (PST)



Makasih mbak Ami dan mbak Alifah,
Iya sy agak ga sreg mnm AB krn sy memberikan Asi eksklusif ke anak saya.
Untuk luka, diresepkan salep jg oleh dokter, jd sy putuskan utk memberikan salep saja.
AB tdk sy minum.
Maaf kalau sdh sering dibahas, aga susah search dgn BB, sdgkn sy mengetik sambil menyusui.

Tks a lot
-vira-

7e.

Re: AB setelah caesar => WHO-Antibiotic prophylaxis for caesarean se

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Fri Dec 9, 2011 9:49 pm (PST)



sekedar urun bacaan, siapa tahau bermanfaat :

Antibiotic prophylaxis for caesarean section

Prophylactic use of antibiotics (regardless of regimen) in women
undergoing caesarean section reduces the risk of infection-related
complications and serious infection post operation. Antibiotic
prophylaxis should be used in all cases of caesarean section.

RHL Commentary by Cecatti JG

1. EVIDENCE SUMMARY

The Cochrane Review entitled "Antibiotic prophylaxis for caesarean
section" analysed a large number of randomized controlled trials. It
found that the use of antibiotic prophylaxis in women undergoing
caesarean section leads to a decreased risk of infection-related
complications, including fever, endometritis, wound infection, urinary
tract infection, and serious infection after caesarean section; a small
reduction was also found in the mother's duration of stay in hospital.
There was, however, an increased risk of certain side-effects, although
they were neither serious nor consistently recorded. Regardless of the
antibiotic regimen used and of the differences among populations
studied, the protective effect of prophylactic antibiotics was
homogeneous across all patients undergoing caesarean section (reported
in the trials as being elective, non-elective, or not specified). This
effect of significant reduction in postoperative infectious morbidity
(by around two-thirds) leads the reviewers to recommend that antibiotic
prophylaxis be provided to all woman undergoing caesarean section.

The second review entitled "Antibiotic prophylaxis regimens and drugs
for caesarean section" aimed to identify the most effective antibiotic
regimen for the specific purpose of decreasing infectious morbidity
after caesarean section. It found that it does not matter which regimen
is used. Ampicillin and first generation cephalosporins show similar
effectiveness and there seems to be no justification for using any other
drug with a broader spectrum or multiple drugs. These effects are
similar and homogeneous for all the main outcomes measured:
endometritis, febrile morbidity, wound infections and urinary tract
infection. There was, however, no consensus on the optimal timing of
administration and doses.

Randomized controlled trials indexed in the Cochrane Pregnancy and
Childbirth Group and the Cochrane Controlled Trials Register were
selected for inclusion in both the reviews. The data were then pooled
and analysed following standard procedures.

As to analysis of subgroups of data, a concern may arise regarding
"non-elective caesarean section". In the trials this term was applied to
women in labour with or without rupture of membranes for more than six
hours. It would perhaps have been interesting to have these two
conditions evaluated separately. This suggestion is based on the
assumption that the effect of antibiotic prophylaxis would be higher
among women with prelabour rupture of membranes for more than six hours.

2. RELEVANCE TO UNDER-RESOURCED SETTINGS

2.1. Magnitude of the problem

In general, the inability of health services to offer caesarean section
in non-urban under-resourced settings is seen as a problem. However,
more recently, sharp increases in caesarean section rates in some
developing countries, especially in Latin America, have become a major
problem. Data available for Brazil show that the overall rate of
caesarean section for the country as whole is 30% of all deliveries,
reaching as high as 50% of all deliveries in certain provinces (1, 2).
In this situation other factors including malnutrition and poor social
conditions are likely to exacerbate the already higher risk of
infectious morbidity and mortality associated with caesarean section.
Another serious concern is the fact that a considerable number of
caesarean sections are unnecessary and planned in advance, with the
additional potential risk of iatrogenic prematurity.

Deciding which antibiotic is most suitable as a prophylactic for
caesarean section is very important given that in some developing
country settings almost half the women deliver through an abdominal
incision. In such cases, in order to reduce the cost for the health
system, it would be very helpful to have a simple and inexpensive
recommended antibiotic regimen.

2.2. Applicability of the results

The results of this review are applicable to under-resourced settings,
especially those where caesarean section rates are high. Although the
review includes a dozen studies from developing countries, data from
these studies have not been analysed separately. If this were done
results may show not only similar results but also a higher effect in
the same direction (i.e. of reducing infectious puerperal morbidity).
Even considering some differences and difficulties in diagnostic
criteria, the high prevalence of poor social and economic conditions,
anaemia, blood loss, vaginal examinations, prelabour rupture of
membranes and other pathological conditions could account for a stronger
protective effect of antibiotic prophylaxis.

The recommendation to use ampicillin or first generation cephalosporin
for the purpose of caesarean section antibiotic prophylaxis makes this
task easier. These antibiotics are in fact the most common drugs that
have been used in the past decades in developing countries.

2.3. Implementation of the intervention

The results of this review are clear in recommending antibiotic
prophylaxis for all caesarean sections. The only restriction could be
for elective caesarean sections in institutions in which the rates of
postoperative infectious complication are very low. This, of course, is
not the case of under-resourced settings.

In order to implement this recommendation some education and training of
health staff would be necessary. The inclusion of this recommendation in
the rules and guidelines of ministries of health and of the national
societies of gynaecology and obstetrics would help in the adoption of
this practice by hospitals. This knowledge should also be spread among
professionals in congresses, meetings and bulletins.

The choice of antibiotic is addressed in the second review which
identified ampicillin or first generation cephalosporin as the most
appropriate drugs for prophylaxis. For women with a history of
penicillin-allergy, clindamycin is another suitable option. These should
constitute the general national recommendations for a single-dose regimen.

3. RESEARCH

The above recommendations are based on a large number of trials that
found strong and clear beneficial effects of antibiotic prophylaxis for
caesarean sections. Additional efforts could be concentrated on
clarifying the exact role of prelabour rupture of membranes, the
existence of previous vaginal and cervical infections like bacterial
vaginosis, and some cost-effectiveness analysis comparing the effects of
this prophylaxis with the treatment of infectious morbidity in the
post-partum period. These goals should not be addressed in new trials
but perhaps in secondary analysis of already available data. Another
research question to be elucidated refers to the real maternal
side-effects associated with this intervention.

References

* Barros FC, Vaughan JP, Victora CG, Huttly SRA. Epidemic of
Caesarean sections in Brazil. /The lancet/ 1991;338:167-169.
* Faundes A, Cecatti JG. Which policy for Caesarean section in
Brazil? An analysis of trends and consequences. /Health policy and
planning/ 1991;8:33-42.

----------------------------------------------------------

This document should be cited as: Cecatti JG. Antibiotic prophylaxis for
caesarean section: RHL commentary (last revised: 18 January 2005). /The
WHO Reproductive Health Library/; Geneva: World Health Organization.

http://apps.who.int/rhl/pregnancy_childbirth/childbirth/caesarean/jgccom/en/index.html

[Non-text portions of this message have been removed]

7f.

Re: AB setelah caesar

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Fri Dec 9, 2011 10:14 pm (PST)



On 12/10/2011 11:47 AM, dviryanti wrote:
> Mau tanya domg, peresepan AB setelah caesar apakah harus diminum? Setau saya kan AB utk mengobati infeksi,
> Klo stlh operasi tdk ada tanda2 infeksi, apakah AB hrs ttp diminum dan dihabiskan?
> Klo kata Dsog-nya, pemberian AB spy luka cepat mengering.
>
==> dah bacakan bu...
jd cukup sekali..ndak terus dikasih sangu sampai pulang.
inikan yg sering terjadi?

sarum
baapkeghozan

7g.

Re: AB setelah caesar

Posted by: "siti amatullah mutmainah" amianakbinus@yahoo.com   amianakbinus

Fri Dec 9, 2011 10:22 pm (PST)



Iyap pak'e.. Ab stlh sc srgkali diberikan pasca op, baik infus dan oral, ada yg dikasih bekal, ada jg yg enggak..


Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry� via Smart 1x / EVDO Network.
8.

[news] Antibiotics in C-sections: American Congress of Obstetricians

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Fri Dec 9, 2011 9:59 pm (PST)




New Thinking on C-section Antibiotics

By SHIRLEY S. WANG
<http://online.wsj.com/search/term.html?KEYWORDS=SHIRLEY+S.+WANG&bylinesearch=true>

* AUGUST 24, 2010

In order to minimize the risk of infection in mothers, women giving
birth to babies by caesarean section should routinely receive
antibiotics an hour before the surgery, according to a new
recommendation issued Monday by a national doctor group.

Currently, women who undergo caesareans often receive antibiotics as a
precaution against infection to the abdomen and uterus---but usually
only after the delivery, when the umbilical cord is clamped, because of
concern for the baby's safety.

Some pediatricians worry that antibiotics administered to the mother
will reach the newborn and suppress the baby's blood bacterial count,
potentially masking a serious infection in the baby unrelated to the
caesarean section.

The American Congress of Obstetricians and Gynecologists examined
several large, recent studies that administered antibiotics to mothers
before and after caesarean deliveries. The group concluded there was no
evidence of greater risk to the babies when mothers received antibiotics
before surgery. Yet there was an increased benefit for the mothers in
receiving the antibiotics before surgery.

C-sections Climb

32% of U.S. births in 2007 were c-sections, versus 26% in 2002,
according to the Centers for Disease Control and Prevention's National
Center for Health Statistics.

The voluntary recommendation will be published in the September issue of
Obstetrics and Gynecology.

"Our hope is that by bringing some review and consensus to this, we can
get people to shift practice," said William Barth, one of the authors of
the recommendation and chief of maternal-fetal medicine at Massachusetts
General Hospital, Boston.

Some 8% to 10% of women who have a scheduled caesarean will acquire an
infection, as will about 30% of women who have a caesarean delivery
after labor has begun, because of greater exposure of the inside of the
uterus to bacteria from the vagina, according to Dr. Barth. Infection
affects only 3% of women who deliver vaginally.

In newborns, the prevalence rates for sepsis, a potentially fatal
bacterial blood infection that the baby gets during or after delivery,
is estimated at less than 1% of live births.

While the maternal antibiotic appears to neither help nor hinder a
newborn's chances of getting sepsis, doctors have worried that in babies
who have the bacterial infection, antibiotics administered to the mother
before the c-sectionwill suppress bacteria in the babies' blood test,
resulting in a failure to detect the sepsis infection.

Some doctors, however, question whether the existing research adequately
addresses the question of harm to the baby.

Daniel Frattarelli, who is chair of the American Academy of Pediatrics
committee on drugs and who wasn't involved with the new recommendation,
says he remains concerned about sepsis in infants because the studies
weren't designed specifically to test the question of the newborns'
safety and how the drugs might affect the ability to detect bacterial
infection.

The obstetrics group acknowledges that the data aren't definitive. But
studies published in the past five years suggest there is "no signal of
harm"---meaning there is no evidence that more babies get sepsis if
their mothers get antibiotics before surgery, Dr. Barth said.

Concerns about masking babies' infections are largely theoretical, says
Carol Baker, a professor of pediatrics, molecular microbiology and
immunology at Baylor College of Medicine, in Houston, and a member of
the Pediatric Infectious Disease Society. While the antibiotic does
cross over from the mother to the baby through the placenta, and while
it could mask the blood culture, there are usually other clinical signs
that a baby is sick. And pediatricians can always choose to treat a baby
for infection anyway, Dr. Baker adds.

Antibiotic resistance isn't an issue, because in most cases the mother
is administered only one dose of antibiotic, which doesn't represent
enough time for bacteria to develop resistance, says Dr. Baker, who
wasn't involved with the study. She is "completely comfortable" with the
new recommendation, she says.

Mary Rosser, an obstetrician at Montefiore Medical Center in Bronx,
N.Y., said she would "absolutely" be changing her practice to conform to
the new recommendation, since it would improve safety for the mother
while not harming the infant.

But while such a change in practice could make caesarean deliveries
safer, it "comes nowhere close to eliminating all the risks of a
c-section," says the obstetrics group's Dr. Barth. "For an uncomplicated
delivery, vaginal delivery is still the safest for mom and baby."

*Write to * Shirley S. Wang at shirley.wang@wsj.com
<mailto:shirley.wang@wsj.com>

http://online.wsj.com/article/SB10001424052748703846604575447742717265522.html

[Non-text portions of this message have been removed]

9.

Rekomendasi ACOG : Antimicrobial Prophylaxis for Cesarean Delivery -

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Fri Dec 9, 2011 10:08 pm (PST)



Dan ini Press releasenya
Quote:
"*The Committee on Obstetric Practice recommends antimicrobial
prophylaxis for all cesarean deliveries unless the patient is already
receiving appropriate antibiotics (eg, for chorioamnionitis) and that
prophylaxis should be administered within 60 minutes of the start of the
cesarean delivery. When this is not possible (eg, need for emergent
delivery), prophylaxis should be administered as soon as possible. "*

Number 465, September 2010

*Committee on Obstetric Practice*
/This document reflects emerging clinical and scientific advances as of
the date issued and is subject to change. The information should not be
construed as dictating an exclusive course of treatment or procedure to
be followed./

PDF Format
<http://www.acog.org/%7E/media/Committee%20Opinions/Committee%20on%20Obstetric%20Practice/co465.ashx?dmc=1&ts=20111210T0104367950>

Antimicrobial Prophylaxis for Cesarean Delivery - Timing of Administration

Abstract: Antimicrobial prophylaxis for cesarean delivery has been a
general practice for cesarean deliveries because it significantly
reduces postoperative maternal infectious morbidity. Recently, several
randomized clinical trials investigated the timing of antimicrobial
prophylaxis for cesarean delivery. The Committee on Obstetric Practice
recommends antimicrobial prophylaxis for all cesarean deliveries unless
the patient is already receiving appropriate antibiotics (eg, for
chorioamnionitis) and that prophylaxis should be administered within 60
minutes of the start of the cesarean delivery.

Antimicrobial prophylaxis for cesarean delivery has been a general
practice for cesarean deliveries because it significantly reduces
postoperative maternal infectious morbidity (1). These antibiotics have
been administered intraoperatively after umbilical cord clamping for two
theoretic concerns related to the fetus: 1) antibiotics in neonatal
serum may mask newborn positive bacterial culture results; and 2) fetal
antibiotic exposure could lead to an increase in newborn colonization or
infection with antibiotic-resistant organisms. Recently, several
randomized clinical trials investigated the timing of antimicrobial
prophylaxis for cesarean delivery (2--4).

Surgical research data support antimicrobial prophylaxis administration,
ideally within 30 minutes and certainly within 2 hours of the time of
skin incision, to prevent surgical site infection (5). In one study,
1.4% of patients who received perioperative antimicrobial prophylaxis
within 3 hours after skin incision had wound infections, versus 0.6% of
patients who were given preoperative prophylaxis in the 2 hours before
skin incision (5). The infusion should be timed so that a bactericidal
serum level is established by the time of skin incision, and to maintain
therapeutic levels throughout the operation (6). For longer surgical
procedures, readministration of the drug is indicated at intervals of
one or two times the half-life of the drug (using the same dose) (7).
Narrow-spectrum antibiotics that are effective against gram-positive
bacteria, gram-negative bacteria, and some anaerobic bacteria, such as a
first-generation cephalosporin, are mainly used for prophylaxis for
cesarean delivery. After a single 1 gram intravenous dose of cefazolin,
a therapeutic level is maintained for approximately 3--4 hours. A larger
dose may be indicated if a woman is obese. For women with a significant
allergy to ?-lactam antibiotics, such as cephalosporins and penicillins,
clindamycin with gentamicin is a reasonable alternative.

In a 2007 randomized, controlled trial designed toexamine maternal
infectious morbidity rates after cesarean delivery, 175 and 182 women
received antibiotics preoperatively and after umbilical cord clamping,
respectively (2). This study included both laboring and nonlaboring
women. The administration of cefazolin (1 g, intravenously) 15--60
minutes before cesarean delivery (preoperative group) was associated
with a significant reduction of endometritis of 1% compared with a rate
of 5% in women who received the same medication after umbilical cord
clamping (cord-clamp group) (2). There was no significant difference in
the rates of postoperative wound infections in the two treatment groups.
Overall, the total postoperative infection rates were decreased
significantly from 11.5% to 4.5% in the preoperative group compared with
the cord-clamp group. There were no differences in the rates of neonatal
sepsis, neonatal intensive care unit admission, or neonatal sepsis due
to resistant organisms, although the study was not designed with
sufficient power to address these secondary outcomes.

In 2005, another randomized controlled trial evaluated the
administration of cefazolin (2 g, intravenously) at the time of skin
incision (at-incision group) compared with administration after
umbilical cord clamping in women in labor undergoing cesarean delivery
(cord-clamping group) (3). The investigators observed a significant
decrease in endometritis (7.8% versus 14.8% in the at-incision group and
the cord-clamping group, respectively), but not wound infection (3.9%
versus 5.4% in at-incision group and cord-clamping group, respectively)
(3). The initial power analysis for this study suggested that 270 women
per group were needed, but the interim analysis determined a need for
only 150 per group; therefore, the study was stopped with 153 and 149
women per group for the at-incision and cord-clamping groups,
respectively. In addition, the infection rates for both groups in this
study were three times higher than in the 2007 study. There were no
differences in rates of neonatal intensive care unit admission, neonatal
sepsis, or suspected sepsis between the groups although this study also
was underpowered for evaluation of these secondary outcomes. The only
other randomized trial examining cefazolin was smaller (90 patients),
and found no significant difference in maternal infectious outcome (4).
These investigators observed similar rates of endometritis (2% versus
2.4% in the preoperative antibiotic group and the after-cord-clamping
group, respectively) and wound infection (2% versus 4.9% in preoperative
antibiotic group and after-cord-clamping group, respectively) (4, 8).

From these data, it would appear that preoperatively administered
antimicrobial prophylaxis does not appear to have any deleterious
effects on mother or neonate. Preoperative administration significantly
reduces endometritis and total maternal infectious morbidity compared
with administration of antibiotics after umbilical cord clamping (8).
These data further suggest that preoperative antimicrobial prophylaxis
for cesarean delivery is not associated with an increase in neonatal
infectious morbidity or the selection of antimicrobial resistant
bacteria causing neonatal sepsis. However, because the studies were not
powered to analyze those outcomes, additional prospective evaluation is
warranted.

*The Committee on Obstetric Practice recommends antimicrobial
prophylaxis for all cesarean deliveries unless the patient is already
receiving appropriate antibiotics (eg, for chorioamnionitis) and that
prophylaxis should be administered within 60 minutes of the start of the
cesarean delivery. When this is not possible (eg, need for emergent
delivery), prophylaxis should be administered as soon as possible. *

*References*

1. Smaill FM, Gyte GM. Antibiotic prophylaxis versus no prophylaxis
for preventing infection after cesarean section. Cochrane Database
of Systematic Reviews 2010, Issue 1. Art. No.: CD007482. DOI:
10.1002/14651858.CD007482.pub2.
2. Sullivan SA, Smith T, Chang E, Hulsey T, Vandorsten JP, Soper D.
Administration of cefazolin prior to skin incision is superior to
cefazolin at cord clamping in preventing postcesarean infectious
morbidity: a randomized, controlled trial [published erratum
appears in Am J Obstet Gynecol 2007;197:333]. Am J Obstet Gynecol
2007;196:455.e1--455.e5.
3. Thigpen BD, Hood WA, Chauhan S, Bufkin L, Bofill J, Magann E, et
al. Timing of prophylactic antibiotic administration in the
uninfected laboring gravida: a randomized clinical trial. Am J
Obstet Gynecol 2005;192:1864-8; discussion 1868--71.
4. Wax JR, Hersey K, Philput C, Wright MS, Nichols KV, Eggleston MK,
et al. Single dose cefazolin prophylaxis for postcesarean
infections: before vs. after cord clamping. J Matern Fetal Med
1997;6:61--5.
5. Classen DC, Evans RS, Pestotnik SL, Horn SD, Menlove RL,Burke JP.
The timing of prophylactic administration of antibiotics and the
risk of surgical-wound infection. N Engl J Med 1992;326:281--6.
6. Mangram AJ, Horan TC, Pearson ML, Silver LC, Jarvis WR. Guideline
for prevention of surgical site infection, 1999. Hospital
Infection Control Practices Advisory Committee. Infect Control
Hosp Epidemiol 1999;20:250-78; quiz 279--80.
7. Page CP, Bohnen JM, Fletcher JR, McManus AT, Solomkin JS,Wittmann
DH. Antimicrobial prophylaxis for surgical wounds. Guidelines for
clinical care [published erratumappears in Arch Surg
1993;128:410]. Arch Surg 1993;128:79--88.
8. Costantine MM, Rahman M, Ghulmiyah L, Byers BD, Longo M, Wen T, et
al. Timing of perioperative antibiotics for cesarean delivery: a
metaanalysis. Am J Obstet Gynecol 2008;199:301.e1--301.e6.

http://www.acog.org/Resources_And_Publications/Committee_Opinions/Committee_on_Obstetric_Practice/Antimicrobial_Prophylaxis_for_Cesarean_Delivery_-_Timing_of_Administration.aspx

[Non-text portions of this message have been removed]

10a.

Re: (help) jari kejepit kursi sampai bertanda

Posted by: "astrid" astrid_proborini@yahoo.com   astrid_proborini

Fri Dec 9, 2011 10:30 pm (PST)



Mb indaaaahhh,
Saya mo crita pengalaman saya waktu diklat kmrn, jari saya kecepit kursi kelas (yg lipat itu). Waktu itu cmn berdarah setitik,cmn saya plester. Eeehhh,sminggu kmdn badan saya menggigil,saya bawa ke RS,ga taunya infeksi dan bernanah. Trs di RS dibersihin sambil dikurek2 lukanya. Alhamdulillah sembuh. Memang saya akui saya tdk terlalu care sama luka saya itu krn saya anggap cmn luka biasa eh ga taunya bs jd parah. Maap klo ga membantu, sekedar sharing sp tau bermanfaat.

~ Astrid ~

Recent Activity
Visit Your Group
Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

Yahoo! Health

Healthy Aging

Improve your

quality of life.

Meditation and

Lovingkindness

A Yahoo! Group

to share and learn.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB           : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter      : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

No comments: