Monday, November 7, 2011

[sehat] Digest Number 16439

Messages In This Digest (25 Messages)

1a.
Re: FW: Seteven Johnson Syndrom From: F.B.Monika
1b.
Re: FW: Seteven Johnson Syndrom From: diah satrio
1c.
Re: FW: Seteven Johnson Syndrom From: rosshy77@yahoo.com
2a.
Re: HB rendah, rawat inap & kemungkinan transfusi (KMC) From: niken qinen
2b.
Re: HB rendah, rawat inap & kemungkinan transfusi (KMC) From: Hari Rahmi
2c.
Re: HB rendah, rawat inap & kemungkinan transfusi (KMC) From: Khonic
2d.
Re: HB rendah, rawat inap & kemungkinan transfusi (KMC) From: purnamawati.spak@cbn.net.id
3a.
Re: [sehat] (Share) Hati-hati dengan Dokter Laris dan 'Ces Pleng From: leny kurnia sari
3b.
Re: [sehat] (Share) Hati-hati dengan Dokter Laris dan 'Ces Pleng From: Yosy Natalya
3c.
Re: [sehat] (Share) Hati-hati dengan Dokter Laris dan 'Ces Pleng From: ChiciErnest
4a.
Re: tali pusat hampir lepas From: Qiqie Mama Nayla
5.1.
Re: Anak suka sekali air putih From: Sativa Huang
5.2.
Re: Anak suka sekali air putih From: vanessa sutopo
5.3.
Re: Anak suka sekali air putih From: purnamawati.spak@cbn.net.id
5.4.
Re: Anak suka sekali air putih From: meiree2605@yahoo.com
5.5.
Re: Anak suka sekali air putih From: arel.sha
5.6.
Re: Anak suka sekali air putih From: dewi ck
5.7.
Re: Anak suka sekali air putih From: tristanathan
5.8.
Re: Anak suka sekali air putih From: vanessa sutopo
5.9.
Re: Anak suka sekali air putih From: Sativa Huang
6a.
Nyeri pasca Herpes Zoster From: winarish wina
6b.
Re: Nyeri pasca Herpes Zoster From: Laksmi Purwitosari
7a.
Re: Look at the Baby, Not the Scale From: Bunda Daffyisa
8a.
Re: Anak 8 bln susah BAB From: Dessy Dwi Tantono
9.
[news] Kontroversi Zat Berbahaya dalam Sampo Bayi From: /ghozansehat

Messages

1a.

Re: FW: Seteven Johnson Syndrom

Posted by: "F.B.Monika" f_monika_b@yahoo.com   f_monika_b

Sun Nov 6, 2011 11:09 pm (PST)



Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, turut berduka cita Mba..

F.B.Monika

1b.

Re: FW: Seteven Johnson Syndrom

Posted by: "diah satrio" diahfa@yahoo.com   diahfa

Sun Nov 6, 2011 11:35 pm (PST)



Turut berduka cita ya mba...semoga keluarga yg ditinggalkan tabah dan sabar..

Salam,
Diah

1c.

Re: FW: Seteven Johnson Syndrom

Posted by: "rosshy77@yahoo.com" rosshy77@yahoo.com   mommynyaarion

Mon Nov 7, 2011 12:12 am (PST)



Dear mba Rahmi,

Turut berduka yg sedalam2nya
Aku masih merasakan luka kehilangan abang ipar kr kena SJS ini dan tidak mendapatkan penanganan yg tepat lebih sebulan di RS.
Menjadi pembelajaran extra hati2 dlm hal obat2an walau harga yg pembelajarannya teramat mahal.

Semoga keluarga tetap kuat dan tabah

Salam
Rusmina
Powered by Telkomsel BlackBerry®
2a.

Re: HB rendah, rawat inap & kemungkinan transfusi (KMC)

Posted by: "niken qinen" nikenqinen@gmail.com   qinen_q9

Sun Nov 6, 2011 11:10 pm (PST)



Mba Rahmi....
Mintakan dignosisnya dalam bahasa medis, jd nanti bisa kita diskusikan
sama2.
Kejar dokternya yaaa...

Salam,
-Niken-

2011/11/7 Hari Rahmi <hari.rahmi@ericsson.com>

> **
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]

2b.

Re: HB rendah, rawat inap & kemungkinan transfusi (KMC)

Posted by: "Hari Rahmi" hari.rahmi@ericsson.com   cute_dazzling_girl

Sun Nov 6, 2011 11:11 pm (PST)



Dear Mba Ria,

HB nya memang cukup rendah sih mbak, sekitar 6.5 (saya sudah browsing sepertinya untuk bayi 9 bulan HB normalnya 11).
Mungkin ini yang jadi pegangan dokter untuk opname...iya saya sudah bilang ke adik untuk mengejar diagnosa nya...soalnya terus terang saya ndak tega bayi sekecil itu haris diopname, diinfus dan diambil darah setiap hari...belum lagi resiko lainnya karena menginap di RS.

Regards,

RAHMI SRINA HARI

[Non-text portions of this message have been removed]

2c.

Re: HB rendah, rawat inap & kemungkinan transfusi (KMC)

Posted by: "Khonic" khonic@gmail.com   khonic_ds

Sun Nov 6, 2011 11:40 pm (PST)



Mba,
Kalo makan, minum n asinya mau IMHO ga perlu diinfus.. Bisa dibicarakan dengan dsa-nya.. - sol

Khonic

Sent from my Freegift-Berry® supported by my lovely hubby (^__^)
2d.

Re: HB rendah, rawat inap & kemungkinan transfusi (KMC)

Posted by: "purnamawati.spak@cbn.net.id" purnamawati.spak@cbn.net.id

Sun Nov 6, 2011 11:40 pm (PST)



Please jangan ditransfusi kecuali gagal jantung, heart failure atau decompensated heart

Penyebab demamnya apa? Dpt obat apa?
Penyebab anemianya?

Wati
Patient Safety, first

3a.

Re: [sehat] (Share) Hati-hati dengan Dokter Laris dan 'Ces Pleng

Posted by: "leny kurnia sari" leny1804@yahoo.com   leny1804

Sun Nov 6, 2011 11:18 pm (PST)



Well sebenernya batuk pilek kan penyebabnya virus, and virus bisa ilangnya dengan daya tahan tubuh, so pake antibiotik Ga nga ngefek, malah kesian ginjal n hatinya kudu kerja berlebihan.
Batuk pilek obatnya ya fluid, fluid and fluid :D



Love 'n Peace

n!@


Sent from my CuteSexyBerry®
powered by My Aat Love

-----Original Message-----
From: "rezka MommaAZKA" <lopelope_funky@yahoo.com>
Sender: sehat@yahoogroups.com
Date: Mon, 7 Nov 2011 06:59:26
To: <sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: sehat@yahoogroups.com
Subject: [sehat] (Share) Hati-hati dengan Dokter Laris dan ‘Ces Pleng’

http://m.kompasiana.com/post/ibu-dan-anak/2011/11/07/hati-hati-dengan-dokter-laris-dan-ces-pleng/

Hati-hati dengan Dokter Laris dan ‘Ces Pleng’

Oleh: Edy Priyono | 07 November 2011 | 12:49 WIB



Dokter laris artinya dokter yang pasien-nya banyak. Untuk berobat antreannya panjang, bisa sampai ratusan. Tidak jarang nomor antrean mesti diambil hari sebelumnya. Sementara itu dokter ces pleng (catatan: ini istilah saya saja, karena tidak menemukan istilah lain yang pas) adalah dokter yang bisa membuat pasien-nya ‘cepat sembuh’. Kalau pasien punya gejala demam, misalnya, satu atau dua kali minum obat yang diberikan atau diresepkan langsung hilang demamnya.

Secara alamiah, kita â€"artinya: termasuk saya sendiriâ€" suka dengan dokter ces pleng itu tadi. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau dokter ces pleng biasanya pasiennya banyak. Memang, ada juga dokter-dokter yang laris bukan karena ces pleng, tapi karena enak diajak komunikasi, bisa mensugesti (positif) pasiennya, ramah, dsb. Tapi dalam banyak kasus, kelarisan dokter terkait erat dengan keces-plengan.

Tapi ternyata dokter laris dan ces pleng ternyata tidak selalu memberikan pengalaman baik, bahkan bisa bikin kita deg-degan. Contohnya adalah apa yang saya alami terkait dengan pelayanan dokter anak (untuk anak-anak saya, tentu saja).

Sejak menikah hingga anak-anak (ada 2, laki-laki dan perempuan) masih balita, saya tinggal di Jakarta. Waktu anak pertama saya lahir, kami (saya dan istri) masih ‘buta’ tentang dunia perdokteran, alias tidak tahu mesti ke dokter anak yang mana sebaiknya. Akhirnya, saya ingat salah satu nasihat yang pernah disampaikan guru agama waktu masih sekolah dulu:”Kalau ragu, ikutilah kelompok yang terbesar..”. Saya menginterpretasikan: Berarti cari dokter yang pasiennya banyak..

Akhirnya kami memilih dokter yang tinggal tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal. Pasiennya benar-benar banyak, dan dokter itu juga memang ces pleng. Kalau anak saya kena radang tenggorokan (ISPA) â€"salah satu penyakit yg paling banyak diderita anak-anakâ€" cepat sekali bisa disembuhkan oleh sang dokter. Hampir pada semua kasus, obatnya belum habis, anak saya sudah sembuh (meskipun obatnya tetap harus dihabiskan, karena jenisnya anti-biotik). Saya pun tak segan merekomendasikan dokter itu kalau pas ada teman yang bertanya tentang dokter anak yang bagus. Juga waktu anak kedua kami lahir, kami tetap menjadi pelanggan dokter itu.

Sampai kemudian kami sekeluarga harus pindah ke luar Jakarta, tepatnya: ke Bekasi. Beberapa bulan tinggal di Bekasi, kami tetap ‘istiqomah’ dengan dokter di Jakarta itu. “Repot sedikit tidak apa-apa lah, yang penting kita sudah cocok dengan dokter itu, dan terbukti memang dia bisa membuat anak-anak saya cepat sembuh,” begitu pikir kami.

Tapi lama-lama tidak tahan juga.. Kemacetan lalu lintas, plus waktu tunggu yang sangat lama, akhirnya membuat kami ‘insyaf’. Apalagi di Bekasi kemudian mulai berkembang beberapa rumah sakit ibu dan anak yang merupakan cabang rumah sakit di Jakarta. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa dokter anak di Bekasi saja. Lagipula, kami menyimpan buku catatan kesehatan anak-anak dengan rapi, sehingga dokter baru nanti tidak akan mulai dari nol, dia bisa melihat riwayat kesehatan dan penyakit anak-anak saya, termasuk obat apa saja yang diberikan oleh dokter sebelumnya.

Suatu ketika, anak saya sakit, biasa: radang tenggorokan, dengan gejala demam.. Kami pun membawanya ke dokter (yang di Bekasi).

Selesai pemeriksaan, sang dokter melihat-lihat buku catatan kesehatan anak saya. Rupaya dia ingin melihat obat apa saja yang pernah dikonsumsi anak saya, sebelum memutuskan untuk menulis resep.

“Wow…”, komentar sang dokter. Tidak keras, tetapi pilihan kaata “wow” itu membuat saya kaget.

“Ada apa, dok?” tanya saya spontan.

Kami kemudian terlibat dalam sebuah diskusi dengan sang dokter. Dia menyampaikan, bahwa dokter sebelumnya (itu artinya yang di Jakarta, yang laris dan ces pleng tadi itu) selalu memberikan obat anti-biotik ke anak saya dalam dosis yang cukup tinggi. Ternyata ada kisaran takaran obat untuk anak sesuai dengan umur dan gejala sakitnya. Obat yang diberikan dokter lama memang masih dalam kisaran itu, tapi selalu ada di ambang/batas atas. Jadi, sekedar ilustrasi, misalnya kisarannya adalah 6-10 satuan, anak saya selalu diberi 9 satuan..

Saya pun berfikir: Pantas saja selalu cepat sembuh…

Padahal, obat â€"khususnya: anti-biotikâ€" katanya punya sifat yang membuat penyakit ‘resisten’. Artinya, kalau biasa diberi 9 satuan, maka lama kelamaan pasien tidak akan sembuh dengan 9 satuan, tapi harus dengan dosis yang lebih besar (mis: 10 satuan).

Dokter (yang di Bekasi) itu kemudian menawari agar anak kami diberi obat yang dosisnya lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Kami setuju, meskipun itu harus ‘dibayar’ dengan rasa deg-degan pada 1-2 hari pertama (setelah dari dokter), karena gejala sakit anak saya hilangnya relatif lambat, tidak cepat sembuh seperti sebelumnya (dengan dokter lama).

Saya kemudian menyempatkan diri berdiskusi dengan teman yang lebih mengerti masalah kesehatan. Teman saya itu menyampaikan, bahwa secara umum dokter-dokter di Indonesia itu ‘bias anti-biotik’, artinya terlalu cepat dan sering memberikan obat anti-biotik. Padahal, seperti tadi disinggung, katanya anti-biotik itu bisa membuat efek ‘kebal’ bagi penyakit. “Waduh, kalau anti-biotik saja punya efek seperti itu, apalagi kalau diberikan dalam dosis yang relatif tinggi, ” pikir saya.

Untuk orang awam seperti saya, hal itu dilematis. Satu, kita sebagai pasien (atau orang tua pasien) awam tidak tahu sama sekali tentang obat apa yang sebaiknya diberikan, jadi pasrah bongkokan saja ke dokter, mau diberi obat apa saja kita manut. Dua, kalau dosisnya tinggi, anak cepat sembuh, tapi katanya penyakitnya bisa kebal. Tapi kalau dosisnya rendah, sembuhnya lama. Bagaimana kita bisa membedakan antara lama sembuh karena memang harusnya demikian, atau lama sembuh karena obatnya salah? Atau jangan-jangan malah mungkin diagnosa penyakitnya kurang tepat?

Dalam beberapa kasus, setelah diberi obat dengan dosis lebih rendah, karena gejala sakitnya tidak cepat hilang, kami terpaksa membawa anak kembali ke dokter yang sama sekedar untuk memastikan bahwa kondisi anak saya sudah membaik (karena secara fisik kami sulit menilai). Dan itu artinya mesti keluar uang ekstra, karena dokternya kemudian menyatakan, “Oh, sudah membaik, Bapak/Ibu.. Sabar aja, memang prosesnya demikian,”. Tidak ada tindakan lanjutan apa pun, tapi ya tetap saja, meskipun cuma bilang begitu, ongkos dokter yang harus kami tanggung sama…

Akan tetapi, saya memetik satu pelajaran dari kasus ini. Saya kemudian menjadi lebih berhati-hati dengan dokter yang laris dan ces pleng. Kita mesti kritis, dokter itu laris karena apa? Kalau karena ramah, mudah diajak berdiskusi, membuat pasien merasa nyaman, dsb, ya tidak masalah. Tapi kalau dokter itu laris karena membuat pasien cepat sembuh, itu saatnya kita berhati-hati. Tidak tertutup kemungkinan memang dokter itu jago, tapi tidak tertutup kemungkinan pula dia membuat pasien cepat sembuh karena memberikan obat dalam dosis relatif tinggi seperti yang terjadi pada anak saya itu..

Saya pribadi percaya, bahwa masih banyak dokter yang baik, jujur, dan berdedikasi. Tapi, kembali ke pameo yang sempat populer: Dokter kan juga manusia..

Semoga bermanfaat.
salam from mommaazkaberry

[Non-text portions of this message have been removed]

3b.

Re: [sehat] (Share) Hati-hati dengan Dokter Laris dan 'Ces Pleng

Posted by: "Yosy Natalya" yosy_nana@yahoo.com   yosy_nana

Sun Nov 6, 2011 11:32 pm (PST)



Saya pengalaman dengan DSA yang laris, senior dan spesialis tumbuh kembang konon, di Surabaya. Saya datang untuk penegakan diagnosa anak saya yang udah panas naik turun >72jam. Ditanya seadanya, saya jelaskan detailnya ga didengarkan. Diminta rontgen karena napas anak saya dianggap 'ga normal', suspect radang paru. Rasanya mau teriak 'radang paru my ass!' Tapi ya ga saya jalankan aja rekomendasinya dan cari 2nd opinion. Anak saya waktu itu juga memang sedang batuk pilek. Pulang dioleh-olehi puyer segambreng yg setelah saya cek di drugs.com hasilnya menyeramkan.

Di dokter kedua, dokter muda dan ya ga selaris dokter pertama, anak saya dicek dengan seksama. Setelah sesi tanya jawab sekitar 10menitan, muncul pertanyaan dari beliau: 'ada muncul belekan ga, bu?'. Wah iya, seminggu yg lalu memang si kecil belekan. Dokter senyum, sepertinya campak. Disarankan pulang dan banyak asupan cairan. Itu aja.

Dan benar saja, besoknya muncul deh itu ruam merah di punggung anak saya. Saya cuma bisa tersenyum puas dan mengucap Alhamdulillah. :)

Maaf jadi curhat panjang dan bahasanya berantakan :D


Cheers,
Yosy Natalya
3c.

Re: [sehat] (Share) Hati-hati dengan Dokter Laris dan 'Ces Pleng

Posted by: "ChiciErnest" chici.ernest@gmail.com

Mon Nov 7, 2011 12:55 am (PST)



Thanks for sharing yaa... ^^

Kalau saya skr bingung ditanya DSA anak saya siapa? Hehehe... Dokternya ganti2 siapa aja yang lg praktek di markas itupun hanya vaksin..
Terakhir ke DSA unt berobat kira2 2thn 3bln yg lalu! Tulisan DSA terakhir di buku kesehatan anak saya.. Tulisannya Bunda Wati: Baca..Baca..Baca..!!! Bulan agustus thn 2009!!

Maap OOT

Regards,
@chiciernest

4a.

Re: tali pusat hampir lepas

Posted by: "Qiqie Mama Nayla" deswita.nashwa@gmail.com   rizkie3

Sun Nov 6, 2011 11:36 pm (PST)



akhirnya tali pusarnya lepas semua :) dan baby nya bisa tidur
nyenyak.. rewelnya tadi karena kesenggol2 baju dan sebagian sudah
terlepas.. kemarin di RS dipakein kasa steril jadi kebawa sampe rumah
deh.. baru inget jangan ditutup.. tadi pagi malah si kasanya nempel
jadi ngelepasnya pakai air (ga boleh kena air juga ya?) tadi pas lepas
di dalamnya agak basah, kalau baunya seinget saya masih sama kaya dari
RS kemarin.. udah keburu saya kasih betadin (ditepuk2 pake kasa) trus
dibiarin.. kalau begitu gimana ya?

qiqie
*mengurus 2anak setelah SC tanpa ART.. ngantuk euy..

5.1.

Re: Anak suka sekali air putih

Posted by: "Sativa Huang" sativahuang@gmail.com   sativahuang

Sun Nov 6, 2011 11:41 pm (PST)



>>Tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak setuju dg pemberian air putih
pada bayi kurang dari usia 6 bulan.

Dear dr. Wati,
Saya menghargai perbedaan pendapat. :)

Link tersebut saya kutip karena saya yakin tidak akan mencelakan anak,
sebagaimana pembahasannya, yakni tujuannya untuk memberikan training
penggunaan cup.
Sampai ketemu di topik selanjutnya.

Salam,

[Non-text portions of this message have been removed]

5.2.

Re: Anak suka sekali air putih

Posted by: "vanessa sutopo" psycho_laziale@yahoo.com   psycho_laziale

Sun Nov 6, 2011 11:43 pm (PST)



Bunda wati

Klo air putih buat bantu mnm obat kaya parcet sirup atau sirup AB bagaimana bunda bagi baby <6bln?

Saya jadi ragu bunda,walau jmlhnya sedikit bunda.

Apa harus asip atau asi?

Vanessa
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
5.3.

Re: Anak suka sekali air putih

Posted by: "purnamawati.spak@cbn.net.id" purnamawati.spak@cbn.net.id

Sun Nov 6, 2011 11:58 pm (PST)



Dear Vanessa
Kalau minum obat ya gak papa
Kan minum obat kondisi darurat, bukan kondisi rutin setiap hari

Abhi lagi apa?
Wati

Patient Safety, first

5.4.

Re: Anak suka sekali air putih

Posted by: "meiree2605@yahoo.com" meiree2605@yahoo.com   meiree2605

Mon Nov 7, 2011 12:04 am (PST)



Klo bt training cup, ASIP aj, gkusah air putih klo bt baby < 6bln
Klo pun yakin air putih gak akan mencelakakan baby, tp guna nya apa jg?
Kan sudah trcukupi dr ASIP..

cmiiw
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
5.5.

Re: Anak suka sekali air putih

Posted by: "arel.sha" levenons@gmail.com

Mon Nov 7, 2011 12:05 am (PST)



2011/11/7 <purnamawati.spak@cbn.net.id>

> **
> Kalau masih ingat salah satu perjuangan "berat" para penggiat asi di awal
> 2004 adaah, meyakinkan para ibu dan nenek agar tidak memberikan tambahn air
> putih pada bayi berusia belum 6 bulan.
>
>
Hwaa...pernah kecolongan, waktu saya lagi mandi trus baby (2w) bangun
nangis mau nenen, sama neneknya disendokin air putih...selanjutnya terjadi
lagi pas baby 2m.

Sekarang udah 11m, malah nggak suka air putih...paling banyak 20ml sehari.
Nggak apa-apa itu?

Arel.

[Non-text portions of this message have been removed]

5.6.

Re: Anak suka sekali air putih

Posted by: "dewi ck" ck_kusumadewi@yahoo.com   ck_kusumadewi

Mon Nov 7, 2011 12:06 am (PST)



Maaf kalo untuk > 1th brapa takaran minum air putihnya? Keenan doyan banget ni..
1hr bisa 3-4x 250ml air pth, 1x 250ml uht, + asi 3-4x .. Apakah berlebihan?

Trimakasih

Dewi ck

5.7.

Re: Anak suka sekali air putih

Posted by: "tristanathan" tristanathan.amadeo@gmail.com   trinovi

Mon Nov 7, 2011 12:12 am (PST)



idem ditto mbak meiree.. (maap, gak tau namanya :D)
kalo pikiran simple saya dulu sih, dprd kapasitas lambungnya diisi air
putih, mending saya isi pake asip
jd training cup, cup, dot (yup, nat dulu pake dot+botol) isinya tetep asip
semua.
60ml itu kan lumayan banget buat nambah2 asupan gizi ke badan anak2 saya,
hehe...

-ria-

On Mon, Nov 7, 2011 at 3:04 PM, <meiree2605@yahoo.com> wrote:

> Klo bt training cup, ASIP aj, gkusah air putih klo bt baby < 6bln
> Klo pun yakin air putih gak akan mencelakakan baby, tp guna nya apa jg?
> Kan sudah trcukupi dr ASIP..
>

[Non-text portions of this message have been removed]

5.8.

Re: Anak suka sekali air putih

Posted by: "vanessa sutopo" psycho_laziale@yahoo.com   psycho_laziale

Mon Nov 7, 2011 12:25 am (PST)



Makasih bunda
Atas keterangannya

Alhamdulillah abi sehat..

Vanessa
*minta doa ya bun saya stase terakhir, maap OOT
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
5.9.

Re: Anak suka sekali air putih

Posted by: "Sativa Huang" sativahuang@gmail.com   sativahuang

Mon Nov 7, 2011 12:54 am (PST)



>>Klo pun yakin air putih gak akan mencelakakan baby, tp guna nya apa jg?

Kalau menurut saya, digunakan air karena kalau tumpah ke mana-mana,
nggak seribet asi, disamping asi lebih berharga daripada air (nggak
mubazir) dan pengenalan rasa lain ke anak. Namanya training, biasanya
berantakan.

Salam,

6a.

Nyeri pasca Herpes Zoster

Posted by: "winarish wina" win03122002@yahoo.com   win03122002

Mon Nov 7, 2011 12:06 am (PST)



Dear SP's & Doctor

Satu bulan yang lalu mama saya terkena herpes zoster dibagian mata sebelah kiri
Dari kulit dan mata sudah sembuh, cuma nyeri, ngilu dan puanas pasca herpes ini yang masih sangat mengganggu mama saya.
Mohon saran dan sharingnya, kira-kira apa yang harus dilakukan untuk mengurangi rasa sakit ini.
Apakah ada terapi yang bisa menghilangkan/mengurangi rasa sakit ini

Terimakasih
wina

[Non-text portions of this message have been removed]

6b.

Re: Nyeri pasca Herpes Zoster

Posted by: "Laksmi Purwitosari" laksmipurwitosari@yahoo.com   laksmipurwitosari

Mon Nov 7, 2011 12:20 am (PST)



Mba Wina,
Silahkan searching post herpetic neuralgia

http://emedicine.medscape.com/article/1143066-clinical

History
A painful vesicular eruption in a dermatomal distribution is typical of herpes zoster (HZ).
With resolution of the eruption, pain that continues for 3 months or more is defined as postherpetic neuralgia (PHN).
Pain is intense and may be described as burning, stabbing, or gnawing.
HZ can reactivate subclinically with pain in a dermatomal distribution without rash.[4] This condition is known as zoster sine herpete and may be more complicated, affecting multiple levels of the nervous system and causing multiple cranial neuropathies, polyneuritis, myelitis, or aseptic meningitis.[5]

Medication Summary
The goal of therapy for postherpetic neuralgia (PHN) is to reduce morbidity through the use of tricyclic antidepressants, anticonvulsants, anesthetics, analgesics, corticosteroids, and antiviral agents. A recently approved vaccine is also effective for preventing herpes zoster (HZ) outbreaks and PHN. A recent trial demonstrated that the combination of gabapentin and nortriptyline was more efficacious than either drug as monotherapy for neuropathic pain.[13]

Tricyclic antidepressants
Class Summary
Complex group of drugs that have central and peripheral anticholinergic effects as well as sedative effects. They have central effects on pain transmission. They block the active reuptake of norepinephrine and serotonin.

View full drug information
Amitriptyline (Elavil)

By inhibiting reuptake of serotonin and/or norepinephrine by presynaptic neuronal membrane, may increase synaptic concentration in CNS. Useful as analgesic for certain types of chronic and neuropathic pain.

View full drug information
Nortriptyline (Pamelor, Aventyl HCl)

Has demonstrated effectiveness in treatment of chronic pain; by inhibiting reuptake of serotonin and/or norepinephrine by presynaptic neuronal membrane, may increase synaptic concentration in CNS; pharmacodynamic effects such as desensitization of adenyl cyclase and down-regulation of beta-adrenergic receptors and serotonin receptors also appear to play role in its mechanisms of action.

Analgesics
Class Summary
Pain control is essential to quality patient care; it ensures patient comfort and promotes pulmonary toilet. Most analgesics have sedating properties, which are beneficial for patients who experience pain.

View full drug information
Capsaicin topical (Dolorac, Capsin, Zostrix)

Natural chemical derived from plants of Solanaceae family. By depleting and preventing reaccumulation of substance P in peripheral sensory neurons, may render skin and joints insensitive to pain. Substance P thought to be chemomediator of pain transmission from periphery to CNS.

View full drug information
Capsaicin 8% transdermal patch (Qutenza)

Transient receptor potential vanilloid-1 (TRPV1) agonist indicated for neuropathic pain associated with postherpetic neuralgia. TRPV1 is an ion channelâ€"receptor complex expressed on nociceptive skin nerve fibers. Topical capsaicin causes initial TRPV1 stimulation that may cause pain, followed by pain relief by reduction in TRPV1-expressing nociceptive nerve endings. Neuropathic pain may gradually recur over several months (thought to be caused by TRPV1 nerve fiber reinnervation of treated area).

Corticosteroids
Class Summary
These agents have anti-inflammatory properties. Glucocorticoids cause profound and varied metabolic effects. In addition, they modify the body's immune response to diverse stimuli.

View full drug information
Dexamethasone (Decadron, Alba-Dex, Dalalone L.A.)

Used to treat various allergic and inflammatory diseases. Decreases inflammation by suppressing migration of polymorphonuclear leukocytes and by reversing increased capillary permeability.

View full drug information
Prednisone (Deltasone, Orasone, Sterapred)

Decreases inflammation by suppressing migration of polymorphonuclear leukocytes and by reversing increased capillary permeability.

View full drug information
Methylprednisolone (Solu-Medrol, Adlone, Duralone)

Decreases inflammation by suppression of migration of polymorphonuclear leukocytes and reversal of increased capillary permeability.

Antiviral agents
Class Summary
The goal of antivirals is to shorten the clinical course, prevent complications, prevent the development of latency and/or subsequent recurrences, decrease transmission, and eliminate established latency.

View full drug information
Famciclovir (Famvir)

Pro-drug that, when biotransformed into active metabolite penciclovir, may inhibit viral DNA synthesis/replication.

Anesthetics
Class Summary
These agents stabilize the neuronal membrane so the neuron is less permeable to ions. This prevents the initiation and transmission of nerve impulses, thereby producing the local anesthetic action.

View full drug information
Lidocaine anesthetic (DermaFlex gel, Lidoderm 5% patch)

Several recent studies have advocated topical administration of lidocaine as treatment of PHN. Lidocaine gel (5%) in placebo-controlled study showed significant relief in 23 patients studied. Lidocaine tape also decreases severity of pain.

Anticonvulsants
Class Summary
These agents are used to manage severe muscle spasms and provide sedation in neuralgia. They have central effects on pain modulation.

View full drug information
Pregabalin (Lyrica)

Approved by FDA for use in PHN. Freynhagen et al describe a statistically significant reduction in mean pain score and in pain-related sleep interference compared with placebo. Pregabalin binds with high affinity to alpha2-delta subunit of voltage-gaited calcium channels, thereby reducing excitatory neurotransmitters. Has half-life of approximately 6 h and is eliminated by renal excretion. Decrease in creatinine clearance results in decrease elimination and, therefore, increase in plasma concentration. Peak plasma concentration occurs at one and one half hours after oral intake. Bioavailability is 90%. Following repeated dosing, steady state concentration is achieved at 24-48 h. Can be taken with or without food.

View full drug information
Gabapentin (Neurontin)

This medication has been approved by the FDA for the treatment of PHN. Has properties common to other anticonvulsants and antineuralgic effects. Exact mechanism of action is not known. Structurally, gabapentin is related to GABA, but it does not interact with GABA receptors. Believed to have a binding site at the alpha 2-delta protein, an auxiliary subunit of voltage-gaited calcium channels. In the rat brain, binding is localized on neuronal dendritic areas. Relevance of these observations to treatment of PHN is not known.

Laksmi Purwitosari

[Non-text portions of this message have been removed]

7a.

Re: Look at the Baby, Not the Scale

Posted by: "Bunda Daffyisa" bunda.daffyisa@yahoo.com   bunda.daffyisa

Mon Nov 7, 2011 12:07 am (PST)



Dear pak sativa,

Welcome back, rasanya milis ini tambah semarak jika ada bapak :)

Terimakasih utk postingannya, bener2 pas buat saya yg (barangkali) karena baby kayy sempat gagal tumbuh di 2 bulan pertama hidupnya, sampe usianya 5d to5m hari ini,saya msh deg2an ttg asupan minumnya. ASI saya msh sangat sedkit,(dan yahhh...mulai bosan utk bicara soal ini,sebenarnya) saya tiap minggu pasti bawa baby kayy utk nimbang,dan alhamdulillah selalu pulang dengan lega, setiap minggu setidaknya dia naik 100 gram.

Menyimak kalimat yang ini:

"Weight gain
should not be used as a major criterion of good health. Developmental
milestones and interaction with parents and others are more important."

Baby kayy sampai sekarang belum bs tengkurap sendiri,meski saya sering bantu tengkurapkan dia saat dia main. Miring2 sendiri juga tak sering, kalau sdg menyusu tiduran,saya harus bantu ganjal punggungnya dg bantal biar perutnya tetap nempel dg perut saya saat menyusu,karena dia cenderung maunya telentang saja.

Haruskah khawatir,atau msh bisa menunggu sembari latihan?

Tq for any respons :)

~ADE~
*berharap laptop cpt kembali pulang setelah 5 hari nginap di service center *

[Non-text portions of this message have been removed]

8a.

Re: Anak 8 bln susah BAB

Posted by: "Dessy Dwi Tantono" dessy.dwi@gmail.com   denna_7980

Mon Nov 7, 2011 12:12 am (PST)



hai mbak,
mo sharing aja, mudah-mudahan membantu...

setuju ma mb Anind, diperbanyak cairannya, makan buah pepaya n pir.
saya pernah membaca,bisa juga diberi buah peach atau plum. cuma buah
ini nyarinya susah n agak mahal.

anak saya dulu juga susah BAB,rekor BABnya 1x seminggu. tapi tidak ada
tanda-tanda sembelit.
behavior anak biasa saja. pas BAB juga ga nangis, ga ada darah, feses
tidak keras.
sempet senewen juga sih. sudah ke dokter (tapi doktrnya ga RUM :))
dikasih obat penguat gerak usus katanya. lihat efek samping obatnya,
ngeri, jadi ga saya kasih.
saya tanya diagnosanya jawabnya ga jelas :)

kalau makan pisang ambon juga susah BAB.
pisang kepok juga lumayan membantu BAB,kalau di anak saya (ada anak
lain yang efeknya kebalikan kalau makan pisang)
anak saya juga tidak pernah saya beri buah apel.
sekarang anak saya bisa BAB tiap hari, paling ga seminggu 3x BAB.

mudah-mudahan membantu.

dessy-mamiKarel(23bl)

9.

[news] Kontroversi Zat Berbahaya dalam Sampo Bayi

Posted by: "/ghozansehat" ghozansehat@yahoo.com.sg   ghozansehat

Mon Nov 7, 2011 12:16 am (PST)



Kontroversi Zat Berbahaya dalam Sampo Bayi
Lusia Kus Anna | Asep Candra | Senin, 7 November 2011 | 13:44 WIB

KOMPAS.com - Keamanan sampo bayi yang mengandung dua jenis zat kimia
tertentu sempat mencuat akhir-akhir ini. Produk sampo bayi merek Johnson
& Johnson yang dijual di beberapa negara termasuk Indonesia yang
ditengarai tidak aman untuk bayi karena mengandung zat kimia berbahaya.

Dua zat kimia yang diributkan itu adalah dioxane dan quaternium-15.
Koalisi kelompok international untuk kesehatan dan lingkungan kini
mendesak perusahaan kosmetik bayi ini untuk menghilangkan zat kimia
tersebut.

Para aktivitis , yang mengeluarkan laporan bertajuk Baby's Tub is Still
Toxic, telah mengirimkan surat kepada CEO Johnson & Johnson, William
Weldon. Surat tersebut ditandatangani oleh berbagai kelompok, di
antaranya Breast Cancer Fund dan Environmental Working Group.

Dalam situsnya safecosmetic.org, disebutkan bahwa quaternium-15
merupakan pengawet antibakteri yang mengeluarkan formaldehyde atau
formalin dalam produk kosmetik.

Formalin sendiri dikelompokkan ke dalam zat karsinogen (memicu kanker)
oleh U.S Department of Health and Human Service dan The International
Agency for Research on Canter. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan The
National Cancer Institute juga menyatakan formalin terkait dengan
leukimia pada anak.

Formalin dan quaternium-15 juga dikenal sebagai pemicu alergi yang bisa
memicu inflamasi kulit. Zat ini juga diketahui menyebabkan alergi pada
anak-anak. Sementara itu zat kimia 1,4 dioxane ditengarai bersifat
karsinogen. Zat ini dipakai untuk membuat zat-zat mudah larut dan lebih
lembut di kulit.

Menanggapi desakan tersebut, pihak Johnson & Johnson dalam situsnya
www.johnsonbaby.com, menyebutkan bahwa mereka menggunakan formalin dalam
jumlah sangat sedikit, sehingga aman digunakan. Formalin dipakai untuk
menghindari kontaminasi bakteri dalam produknya.

"Seluruh bahan pengawet yang dipakai dalam industri kami aman dan sudah
sesuai dengan standar di negara tempat kami memasarkan produk kami,"
demikian menurut pernyataan tersebut.

Johnson & Johnson juga menyatakan dalam beberapa tahun terakhir ini
telah mengurangi jumlah zat pengawet dalam produknya sampai 33 persen,
bahkan hingga 60 persen pada produk perawatan bayi yang dijual di Amerika.

Mereka juga menyatakan, kandungan zat 1,4 dioxane yang dipakai masih di
bawah standar peraturan Food and Drug Administration (FDA) dan badan
pengawasan di banyak negara lainnya. Mereka juga mengklaim telah membuat
formula baru agar jumlah zat kimia ini berada di bawah level yang bisa
dideteksi. Namun, tidak disebutkan kapan formulai itu akan dipakai.

Aman digunakan

Menanggapi risiko dan keamanan zat yang terkandung dalam sampo Johnson &
Johnson di Indonesia, Kepela Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
Kustantinah menjelaskan, penggunaan quaternium dibenarkan seperti
tertuang dalam Peraturan Kepala BPOM tahun 2007 tentang Bahan Kosmestik.

Menurutnya, kadar penggunaan Quaternium zat yang diizinkan untuk produk
sampo bayi maksimum 0,2%. Selain itu, dia mengatakan penggunaan zat
pengawet tersebut juga berlaku di 10 negara ASEAN sesuai dengan ASEAN
Cosmetic Directive (ACD). Bahkan, Kustantinah mengatakan negara seperti
Amerika Serikat, Uni Eropa, Australia dan China juga memperbolehkan
penggunaan bahan pengawet tersebut.

Hingga saat ini, BPOM mendata ada dua produk Johnson & Johnson yang
terdaftar menggunakan quaternium 15. Namun, ia memastikan kadar
quaternium 15 yang dipergunakan dalam produk itu hanya sebesar 0,05%.
"Artinya dibawah kadar maksimal yang diizinkan," katanya seperti dikutip
situs KONTAN, Selasa (1/11/2011) lalu.

BPOM juga memastikan produk shampo lainnya aman. Sebab, berdasarkan
hasil pengujian BPOM dalam lima tahun terakhir, kadar quaternium-15
dalam produk sampo tidak lebih dari 0,05%. Apalagi, "Saat ini di seluruh
dunia tidak ada laporan masalah serius terkait penggunaan
Quaternium-15," tandasnya.

Produk sampo Johnson & Johnson yang mengandung quaternium-15 masih
dijual di Amerika Serikat, Kanada, Cina, Indonesia, dan Australia.
Sementara itu produk yang dijual di Inggris, Denmark, Jepang, dan Afrika
Selatan, sudah tidak mengandung zat kimia ini lagi.
Sumber :
msnbc
http://health.kompas.com/read/2011/11/07/13440273/Kontroversi.Zat.Berbahaya.dalam.Sampo.Bayi

Recent Activity
Visit Your Group
Meditation and

Lovingkindness

A Yahoo! Group

to share and learn.

Sitebuilder

Build a web site

quickly & easily

with Sitebuilder.

Yahoo! Health

Heartburn or Worse

What symptoms

are most serious?

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB           : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter      : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

No comments: