Wednesday, October 26, 2011

[sehat] Digest Number 16345

Messages In This Digest (25 Messages)

1.
Look what i found From: Hesty Natalia
2.1.
Re: Campak From: irma-mama zafran
2.2.
Re: Campak From: nia2R
3.
From: Mohammad Faisyal Riza
4a.
Re: Share ttg berat badan bayi yang naiknya  seret From: yanti -
5a.
[news] Menilai Informasi Keamanan Vaksin di Internet From: /ghz
6a.
Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat From: Bunda Farhan & Athar
6b.
Bls: [sehat] Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat From: o . s . s . y
7a.
Bls: [sehat] Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat From: 'Ita' Elisabeth Dianita
7b.
Re: Bls: [sehat] Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat From: Bunda Farhan & Athar
7c.
Re: Bls: [sehat] Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat From: Inta
8a.
Re: FW: [sehat] Perlukah rawat inap (yg lama) pada hepatitis From: Farisda P.M.
9a.
Re: Mohon info/link tentang malaria From: avry
9b.
Re: Mohon info/link tentang malaria From: piep71@ymail.com
10a.
(Ask) bab anak minum UHT From: yulistya
10b.
Re: (Ask) bab anak minum UHT From: yael_morina@yahoo.com
10c.
Re: (Ask) bab anak minum UHT From: rezka MommaAZKA
11a.
OOT: mandi bola From: ary ratna santika
11b.
Re: OOT: mandi bola From: meiree2605@yahoo.com
11c.
Re: OOT: mandi bola From: Inta
12.
Tny: DSA yg pro-ASI & RUM di daerah Sunter & BSD From: allyka.abelle@gmail.com
13a.
Re: Help, Dibohongin DSA, ternyata vaksin tunggal DPat +HIB, dicampu From: lola
14a.
Re: (Sehat) Mohon pencerahan: Istri meminta campur sufor From: ary ratna santika
15.
Tanya Obat Batuk Pilek, tolong pencerahannya From: Devi
16.
[news] Anak Indonesia yang Kena Diabetes Banyak Tak Terdeteksi From: /ghz

Messages

1.

Look what i found

Posted by: "Hesty Natalia" natalia_hesti@yahoo.com   natalia_hesti

Wed Oct 26, 2011 12:19 am (PDT)



<p>Hello<br>I was in need of an alternative my expectations were more than exceeded I know first hand money is power sorry im in such a rush<br><a href="http://kyuto.iiyudana.net/NeilWatson23.html">http://kyuto.iiyudana.net/NeilWatson23.html</a><br>bye</p>

[Non-text portions of this message have been removed]

2.1.

Re: Campak

Posted by: "irma-mama zafran" irmayantidwilestari@yahoo.com   irmayantidwilestari

Wed Oct 26, 2011 12:20 am (PDT)



Sepertinya roseola ya mbak..coba mampir ke link berikut:

http://mommiesdaily.com/2010/03/24/campak-rubella-dan-roseola-iii/

Lengkap dg gambar dan insyaAllah mudah dipahami :)


-irma♡mama zafran-
Sent from my whiteberry
Powered by ♡ luvly husby ♡
2.2.

Re: Campak

Posted by: "nia2R" niea_152@yahoo.com   niea_152

Wed Oct 26, 2011 12:30 am (PDT)



Roseola?
Campak ruam muncul pas demam lg tinggi.
Roseola krna virus jd self limiting.
Mandi wajib ah.
Coba brosing soal roseola dan cocokkan gambarnya.

-nia-ibunya Razan Ragha
@nieafardina

3.

Posted by: "Mohammad Faisyal Riza" mohammadfaisyalriza@yahoo.com   mohammadfaisyalriza

Wed Oct 26, 2011 12:21 am (PDT)



I think your life will change after this letter!.. http://idsl2.fr/com.page.php?nfriend_id=51d6

4a.

Re: Share ttg berat badan bayi yang naiknya  seret

Posted by: "yanti -" yanti135@yahoo.com

Wed Oct 26, 2011 12:27 am (PDT)



Setiap datang ke dokter langsung diplot grafiknya sama dokter anaknya, dan memang sejak usia 3bulan keatas cenderung turun mbak. Malah karena BB lahir gak terlalu tinggi (hanya 2,7 Kg ), sekarang berada dibawah kurva yang paling rendah (sedihnya)

Klo ngitung persentil saya gak tau mbak..:D

--- On Wed, 10/26/11, Novi <novi.lauw@yahoo.com> wrote:

From: Novi <novi.lauw@yahoo.com>
Subject: [sehat] Re: Share ttg berat badan bayi yang naiknya seret
To: sehat@yahoogroups.com
Date: Wednesday, October 26, 2011, 7:14 AM

sehat@yahoogroups.com is not on your Guest List

| Approve sender
| Approve domain
| Approve sehat@yahoogroups.com

[Non-text portions of this message have been removed]

5a.

[news] Menilai Informasi Keamanan Vaksin di Internet

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Wed Oct 26, 2011 12:39 am (PDT)



LET'S SAVE OUR CHILDREN

http://iluvimunisasi.wordpress.com

Menilai Informasi Keamanan Vaksin di Internet

Apakah anda kebingungan oleh banyaknya informasi mengenai imunisasi yang
dijumpai di Internet? Apakah anda dibuat khawatir oleh desas-desus yang
menghubungkan vaksin dengan penyakit-penyakit misalnya diabetes dan
autisme? Di bawah ini ada beberapa petunjuk untuk membantu anda berlayar
mengarungi lautan informasi yang tersedia di Internet dan menentukan
ketepatan informasi tersebut.

Bagaimana cara saya mengetahui apakah informasi mengenai vaksin yang
saya temukan di Internet sudah tepat?

Internet dapat menjadi suatu sumber daya yang berharga dalam menemukan
informasi mengenai kesehatan. Bagaimanapun, kualitas informasi kesehatan
di Internet sangat bervariasi dan sulit dinilai. Mesin pencari paling
umum hanya mengidentifikasi topik-topik dan menyediakan daftar
situs-situs Web, baik itu situs yang bagus maupun situs yang mengandung
informasi yang salah.

Harap diingat bahwa informasi medis itu sangat cepat berubah sehingga
ada baiknya kita mengecek lebih dari satu tempat untuk mencari
informasi. Di bawah ini ada beberapa anjuran sebelum kita mulai mencari
informasi:

Pertama, mulailah dengan suatu sumber yang anda tahu dengan pasti
menyediakan informasi yang terpercaya dan yang dapat mengarahkan anda
kepada sumber informasi lain yang juga terpercaya. Contohnya:

- The National Library of Medicine's Medline Plus adalah salah satu
tempat terbaik untuk memulai pencarian tentang masalah-masalah
kesehatan. www.nlm.nih.gov/portals/public.html
<http://www.nlm.nih.gov/portals/public.html>

- The Centers of Disease Control and Prevention (CDC) adalah badan
federal terkemuka dalam bidang perlindungan kesehatan dan keselamatan
masyarakat --baik di negara asal (USA) maupun di luar negeri. Web
site-nya menyediakan onformasi yang kaya mengenai kesehatan, perjalanan,
lingkungan, dan pencegahan penyakit. www.cdc.gov <http://www.cdc.gov/>

- The National Institutes of Health adalah pengurus penelitian medis dan
perilaku untuk negara Amerika Serikat. Banyak informasi mengenai isu-isu
kesehatan dapat ditemukan di health.nih.gov sebagaimana juga dalam
situs-situs Web dari 27 Institut dan Pusat Penelitian, www.nih.gov/icd
<http://www.nih.gov/icd>.

- The World Health Organization (WHO) adalah badan dari Persatuan
Bangsa-Bangsa yang menangani masalah kesehata. Di sini dapat ditemukan
perspektif global mengenai banyak isu-isu kesehatan. www.who.int
<http://www.who.int/>.

- American Academy of Pediatrics (AAP) mengulas berbagai informasi
mengenai kesehatan anak-anak. www.aap.org <http://www.aap.org/>

- Tufts University Child & Family WebGuide dikembangkan oleh sekelompok
staf pengajar untuk menciptakan suatu alat evaluasi dalam hal informasi
mengenai anak-anak. Situsnya terbagi ke dalam beragam kategori
informasi: keluarga/pengasuhan anak, pendidikan/pengajaran, perkembangan
anak (tipikal), kesehatan/kesehatan jiwa, sumber daya/rekreasi dan
informasi-informasi medis www.childandfamily.info
<http://www.childandfamily.info/>

Apabila anda memasuki suatu situs, carilah karakteristik-karakteristik
berikut ini:

- Suatu situs Web kesehatan yang bagus akan mencantumkan nama penanggung
jawab situs tersebut. Juga, akan dicantumkan cara untuk menghubungi
penyedia informasi atau Webmaster.

- Informasi hendaknya tidak diselewengkan untuk mengikuti kehendak pihak
penyandang dana dari situs Web tersebut. Informasi kesehatan hendaknya
tepat dan tidak bias.

Kemudian, ajukanlah pertanyaan berikut:

- Apakah para ahli di bidang ilmu yang bersangkutan memeriksa informasi
medis itu sebelum dicantumkan dalam situs Web? Apakah mandat mereka
dalam hal ini? Ingatlah bahwa mandat seseorang dalam Internet sulit
dinilai dan bahwa seseorang yang ahli dalam suatu bidang belum tentu
ahli di bidang lain. Amat penting untuk mencari organisasi pendukung
yang mengizinkan nama dan reputasinya tercantum dalam situs Web.
Contohnya, ketahuilah organisasi-organisasi yang mengizinkan situs Web
itu untuk mencantumkan nama dan logo mereka.

- Apakah informasi itu mencantumkan tanggal revisi terakhir, dan apakah
revisi itu selalu diperbaharui?

- Apakah telah ada bukti ilmiah untuk suatu klaim yang tertulis di situs
Web? Sumber asli dari fakta-fakta dan angka-angka yang tercantum,
hendaknya diperlihatkan. Misalnya, situs Web hendaknya menyediakan
kutipan artikel medis atau sumber-sumber informasi lainnya. Anda harus
dapat membedakan antara fakta dengan opini. Demikian juga, fakta-fakta
akan menjadi lebih dapat dipercaya apabila bersumber pada studi ilmiah
pada manusia yang telah dipublikasi, daripada catatan atau laporan yang
belum dipublikasi mengenai studi kasus personal atau studi pada binatang
percobaan. Bagaimanapun, kita perlu megenali bahwa banyak dari
situs-situs anti vaksin tampaknya sah dan mengutip artikel-artikel dari
CDC atau sumber-sumber terpercaya lainnya namun mengutip dengan cara
yang salah atau melepaskan suatu pernyataan dari konteksnya. Situs-situs
tersebut mungkin mengutip secara tidak tepat suatu literatur yang telah
dipublikasi.

- Apakah situs Web menampilkan anekdot (cerita perorangan) mengenai
kejadian-kejadian yang diklaim merugikan dan bukannya bukti-bukti
ilmiah? Apabila demikian, sepertinya situs Web tersebut bukan sumber
informasi yang dapat dipercaya.

Berikutnya, pertimbangkanlah tujuan situs Web tersebut. Tujuan suatu
situs Web hendaknya menyediakan informasi yang teoat dan tidak bias
mengenai suatu topik. Apabila tujuannya adalah untuk mengiklankan suatu
produk perawatan kesehatan, hendaknya kita meragukan informasi yang
tersedia. Apabila banyak materi di dalam situs Web menekankan
cerita-cerita perorangan mengenai anak-anak, maka mungkin situs Web itu
adalah situs Web anti vaksin.

Akhirnya, bicarakanlah informasi kesehatan yang anda dapatkan di
Internet dengan ahli-ahli kesehatan anda (dokter). Informasi kesehatan
di Web hendaknya menjadi tambahan dan bukan menggantikan informasi atau
nasehat medis dari dokter anda.

Apakah ada peraturan atau standarisasi informasi di Internet?

The Federal Trade Commission

Hanya ada sedikit peraturan mengenai informasi di dalam Web. Usaha
penegakan hukum dari Federal Trade Commission (FTC) memusatkan perhatian
pada klaim-klaim yang mengelabui dan tidak terbukti kebenarannya. Badan
ini memonitor Web untuk masalah penipuan/pengelabuan dan kecurangan, dan
dapat bertindak melawan suatu perusahaan apabila terlihat adanya pola
pelanggaran hukum. Untuk membantu para konsumen menjadi mawas akan
situs-situs Web yang mempromosikan produk-produk yang menipu/mengelabui,
FTC meluncurkan kampanya "Operation Cure.All" pada bulan Juni 1999.
Situs Web FTC adalah www.ftc.gov <http://www.ftc.gov/>.

The World Health Organization (WHO)

WHO telah menetapkan tatalaksana-tatalaksana (guidelines) bagi
situs-situs Web yang menyediakan informasi mengenai keamanan vaksin, di
mana ditampilkan suatu daftar situs-situs Web yang memenuhi kriteria
yang telah ditetapkan.

Healthfinder

Situs Web Healthfinder (www.healthfinder.gov
<http://www.healthfinder.gov/>) adalah gerbang milik pemerintah federal
yang menyediakan informasi terpercaya dari badan-badan pemerintah
Amerika Serikat dan organisasi-organisasi lainnya. Situs ini
mencantumkan sumber-sumber informasi terpilih mengenai kesehatan
masyarakat dan pelayanan (umat manusia)? Sumber-sumber informasi
tersebut telah diperiksa dan dinyatakan dapat diandalkan dan masuk akal.

Informasi-informasi Terpercaya Mengenai Vaksin

- National Network for Immunization Information (NNii)

www.immunizationinfo.org <http://www.immunizationinfo.org/>

Situs Web MMii dirancang untuk menyediakan informasi yang
berbasis-ilmiah dan selalu diperbaharui mengenai imunisasi untuk
penyedia layanan kesehatan professional, media, pembuat kebijakan, dan
masyarakat umum. Situs ini menampilkan database yang dapat dilacak dalam
hal informasi mengenai penyakit-penyakit yang dapat dicegah melalui
imunisasi, daftar persyaratan yang harus dipenuhi oleh vaksin-vaksin (di
negara Amerik Serikat?) dan ringkasan berita yang terbit 3 kali dalam
seminggu yang menyoroti isu-isu mengenai vaksi dalam berita-berita di
media massa. Tampilan itu juga termasuk latar belakang pengembangan
vaksin dan keamanan vaksin, guideline mengenai bagaimana menilai
informasi kesehatan di Internet, dan suatu galeri berisi penggambaran
efek penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi. NNii Resource Kit,
Communicating With Patients About Immunization (Berkomunikasi dengan
Pasien Mengenai Imunisasi), juga dapat diunduh dalam format PDF.

- National Immunization Program (NIP)

www.cdc.gov/nip <http://www.cdc.gov/nip>

Home page NIP menampilkan publikasi-publikasi yang menjawab pertanyaan
"Mengapa Mengimunisasi?" dan tautan-tautan untuk topik-topik yang
penting mengenai imunisasi di dalam berita di media massa.

www.cdc.gov/nip/publications <http://www.cdc.gov/nip/publications>

Bagian dari situs Web NIP ini menampilkan publikasi-publikasi dan
lembar-lembar fakta yang disediakan untuk publik mengenai banyak isu
misalnya "6 Kesalahpahaman Mengenai Vaksinasi" dan jawaban-jawaban atas
pertanyaan yang sering dilontarkan public. Tersedia jufa rekomendasi
dari Komite Penasehat mengenai Praktek Imunisasi (Advisory Committee on
Immunnization Practices/ACIP) dan Pernyataan Informasi Vaksin --Vaccine
Information Statements (VISs). (Untuk memesan VISs melalui telepon,
hubungan CDC's Immunization Information Hotline di nomor telepon berikut
1-800-232-2522).

www.cdc.gov/nip/vacsafe <http://www.cdc.gov/nip/vacsafe>

Bagian dari situs Web NIP ini memusatkan perhatian pada keamanan vaksin
dan menyediakan informasi mengenai isu-isu yang berhubungan dengan
vaksin saat ini, glosarium, penjelasan mengenai risiko suatu penyakit
dibandingkan dengan risiko imunisasi, dan instruksi-instruksi mengenai
cara melaporkan efek samping vaksin kepada Vaccine Adverse Event
Reporting System (VAERS).

- Immunization Action Coalition (IAC)

www.immunize.org <http://www.immunize.org/>

Situs ini sebenarnya paling sesuai untuk para penyedia layanan kesehatan
profesional, tetapi banyak aspek yang disediakan juga berguna bagi para
orang tua. Contohnya, ada ringkasan mengenai efek-efek penyakit yang
dapat dicegah dengan vaksinasi, termasuk catatan-catatan pribadi dari
orang-orang yang telah terjangkit penyakit-penyakit tersebut. Pengunjung
dapat melihat foto-foto orang-orang yang telah terkena penyakit yang
sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi dan menilai kondisi kesahihan
(mandat?) dari suatu vaksin. Suatu listserv yang disebut IAC Express
tersedia di situs tersebut, yang menyediakan pemberitahuan berkala
mengenai topik-topik imunisasi terkini. Sebagai tambahan, situs ini
menyediakan VISs dalam 26 bahasa, termasuk bahasa Inggris.

- World Health Organization (WHO) Immunization Safety & Global Advisory
Committee on Vaccine Safety

www.who.int/immunization_safety/en/
<http://www.who.int/immunization_safety/en/>

www.who.int/vaccine_safety/en/ <http://www.who.int/vaccine_safety/en/>

Bagian situs yang membahas keamanan vaksi ini menyediakan edukasi bagi
pengunjung dalam hal isu-isu imunisasi terkini dan bagaimana vaksin
dikembangkan dan disebarluaskan. Tercantum di sana statistik, peta, dan
bagan imunisasi. Situs ini juga menggambarkan apa itu the Global
Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI). Perspektif WHO adalah
global dan konten situs ini juga tersedia dalam bahasa Spanyol dan
Perancis.

- situs-situs lain >>

Referensi:

- Health Summit Working Group. (1988). Criteria for assessing the
quality of health information on the Internet: Policy paper. McLean, VA:
Mitretek Systems.

- World Health Organization: A Global Advisory Committee on Vaccine
Safety (GAVCS). Good information practices for vaccine safety web sites.

- Wyatt JC. (1997). Commentary: Measuring quality and impact of the
world wide web. Brit Med J 314:1879-1881.

(Diterjemahkan bebas dari artikel "Vaccine Safety - Evaluating
Information on the Web " oleh Ira Indrawati, Oktober 2011)

Sumber : http://www.cdc.gov/nip/vacsafe/evalwebs.htm

[Non-text portions of this message have been removed]

6a.

Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat

Posted by: "Bunda Farhan & Athar" radya_cute@yahoo.co.id   icha_grtlo

Wed Oct 26, 2011 12:43 am (PDT)



Dear All..
Pliss dunk, lg panik nih, sesuai topik udah 2x ini baby Athar 43d gumohnya beda dari biasanya, minggu kmrn dan hri ini gumohnya buanyak n muncrat kyak org muntah pdhal minumnya ga trlalu byk (babyku minumnya asi+sufor, diselingi sufor krn kknya msh asi jd sring marah n gangguin adiknya klo lg nenen).

Duh..takutnya knp2 gumoh bgtu :(
Bajunya basah semua kena gumohnya, itu tanda2 apa yaa?

Thx bangt infonya
Plissssss...


Icha
#puaaanik :(



Powered by Farhan&Athar~Berry�
6b.

Bls: [sehat] Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat

Posted by: "o . s . s . y" ossy_pink@yahoo.com   ossy_pink

Wed Oct 26, 2011 12:49 am (PDT)



mungkin karena minumnya kebanyakan mbak Icha... lambung baby kan masih kecil banget, klo bisa full ASI aja :) atau asi diperah, jd kakaknya marah, adek minum ASIP deh ;)

 
..ossy..

________________________________

[Non-text portions of this message have been removed]

7a.

Bls: [sehat] Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat

Posted by: "'Ita' Elisabeth Dianita" ita_sehat@yahoo.com   ita_sehat

Wed Oct 26, 2011 12:47 am (PDT)



Udah disendawain Mbak? Minum sufornya pake apa? Dot kah? Mungkin banyak angin yang masuk ke lambungnya. Coba setiap habis minum susu disendawain.
Kakaknya umur brp Mbak? Kasian jg adiknya kalau harus kena sufor. Coba ajak bicara baik2 ke kakaknya.
Maaf kalo gak bantu.


salam sehat,
ita (ibuke Saka & Ambar)
Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
7b.

Re: Bls: [sehat] Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat

Posted by: "Bunda Farhan & Athar" radya_cute@yahoo.co.id   icha_grtlo

Wed Oct 26, 2011 1:03 am (PDT)



Thx alot yaa mba Ita responcptnya
Pake dot mba, BS yg slalu ngasih sufornya (biar dia ga marah sama mamanya, hikZz..)
maaf curhat dikit
Anak prtama sya usianya 21bln, sjak hamil sya sring ajak dia ngomong kasih sayang ke adiknya, sjak si dd lahir sya bersikeras ga ngasih sufor, si kk sring bngt kena tantrum, kadang klo saya luput si dd dipukul klo lg nyusu, hu...hu.. (#nangis lg deh ingat tragedi itu)
2minggu akhirnya saya goyah, apa lg papanya ank2 suka emosi (mungkin krn cape pulang kntr malam2 trus tdurnya ga nyenyak tiap tdur mlm hrs keganggu trs dgn tantrumnya si kk) jd lah si dd kena sufor (asip blm cukup nih, perahan hri ini pasti hbis paling lama besok)..

Back 2topic.. Jd cuma krn byk angin yg masuk bareng susunya Y� mba mpe si baby gumoh byk gitu?? Duh pikiran ini dah jelek duluan euy..

Thx again yaa mba

Icha

Powered by Farhan&Athar~Berry�
7c.

Re: Bls: [sehat] Help,Babyku usia 43hr gumoh buanyaaaak n muncrat

Posted by: "Inta" dini.maesarinta@gmail.com

Wed Oct 26, 2011 1:23 am (PDT)



Mba,

Punten sebelumnya kalau concern saya justru ke sufor yang diminum adiknya. Apa gak lebih baik kakak yang pelan2 dialihkan ke uht?

Anak saya kebetulan weaning pas adiknya lahir, tapi diawal2 setelah saya melahirkan adiknya tetap jealous kalau sudah waktunya adik menyusu. Ada aja, yang marah sama saya, yang adiknya lah dipukul. Tapi karena prioritas saya saat itu memberi susu (asi) ke adiknya, jadi saya minta bantuan suami atau mbaknya buat gendong2 atau temenin dan mengalihkan perhatian kakak dari adiknya. Nanti setelah itu baru saya bermesraan sama kakak. Akhirnya saat saya cuti saya sempetin hampir tiap 2 minggu sekali saya ajak jalan kakak berdua aja. Lama2 mengerti juga. Tapi memang usia anak saya lebih tua dari anak mba sih. Hanya rasanya mereka sudah bisa kok diberi pengertian.

Maaf sekali lagi kalau tak berkenan yah mba.

Cheers, Inta
@Intamaesarinta
terkirim dari henponkuh

8a.

Re: FW: [sehat] Perlukah rawat inap (yg lama) pada hepatitis

Posted by: "Farisda P.M." faris.dr01@yahoo.co.uk   faris.dr01

Wed Oct 26, 2011 12:48 am (PDT)



Coba bantu ya.
Hasil lab bukan indikasi rawat inap. SGOT/SGPT tidak terlalu tinggi juga.
Menurut saya tergantung keadaan fisik secara umum, apakah ayah ibu kelihatan sakit berat? Kalau sakit berat, ya memang perlu dirawat. Tapi kalau kelihatan bugar, bisa rawat jalan.
Penyebabnya peningkatan enzim fungsi hati yang harus dicari tahu kenapa? Ada hasil lab lainnya yang belum dishare?
Maaf kalau belum banyak membantu.

--- In sehat@yahoogroups.com, <Rizky_P@...> wrote:
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: sehat@yahoogroups.com [mailto:sehat@yahoogroups.com] On Behalf Of Wiwi
> Wijayati
> Sent: 21 Oktober 2011 14:35
> To: sehat@yahoogroups.com
> Subject: [sehat] Perlukah rawat inap (yg lama) pada hepatitis
>
> Dear SP dan Dokter,
>
> Saya anggota pasif tapi selalu memantau milist ini dan menerapkan semua
> kemampuan yg saya pelajari dari milist ini, walaupun belum mampu untuk
> berkontribusi banyak pada milist ini..maafkan:)
>
> Ini terjadi pada ayah saya
>
> Keluhan:
> Kembung dan lesu kira2 2 minggu (konsumsi inpepsa krn dari temennya yg
> dokter, semakin kembung dan saya minta stop inpepsa) Kuning
>
> Yang telah dilakukan ayah saya:
> Pergi ke dokter, usg hati - hasil bagus
> Empedu - ada polyp to kecil sekali dan tidak apa2 menurut dokter radiolog
> Hari pertama kuning (SGOT 450, SGPT 500), langsung rawat inap Sore hari
> periksa Anti HCV, Anti HBs, HBsAG hasil Negatif (saya menolak anti HBsAG, tp
> saya diminta konsul ke dokter yg merujuk lab, tp krn rumah sakit pemerintah,
> jam 19.00 sdh tidak ada) Hari esoknya SGOT,PT (340, 303), billirubin D/I
> (7,39/2,42), Gula darah (211) Satu minggu kemudian, SGOT,PT (67,191),
> billirubin D/I (16,07/2,83), Gula darah (178) Dng Bilirubin tsb,suspect
> penyumbatan empedu. Saya tanya cholestasis kah yg dicurigai, dokter bilang
> belum tahu, krn perlu citiscan dan diminta membeli omnipaque yg nyarinya
> sampe keliling jakarta ga dapet, dan tiba2 petugas citiscan nawarin beli
> sama dia Saya tanya apakah feses pucat, jawabannya ya
>
> Total sudah 11 hari di RS (hari ke 3 kena Flu dan makin teler)...saya tanya
> kenapa musti selama ini, apa memang perlu hepatitis selama ini? krn kalau
> saya lihat makan minum lancar, buah juga bisa kunyah
> Jawaban: hasil lab belum normal, bilirubin masih tinggi di angka 18,90 Saya
> tanya: normanya berapa bilirubin
> Jawabannya: 1
> Saya tanya: saya inget anak saya dulu 13 boleh pulang Jawabannya; itu kan
> bayi bu, beda dng orang tua Saya tanya: apakah ukuran kesembuhannya hasil
> lab
> Jawaban: Iya
> Saya tanya: ibu saya dulu DB di RS ini, tp begitu trombo sdh berangsur turun
> walaupun belum normal boleh pulan Jawaban; Hepatitis kan tidak sama dng DB
> Saya tanya: oh begitu ya dok, walapun keduanya sama2 virus
> Jawaban: betul...lagipula ibu kan bukan dokter Saya tanya:  Ya betul dok
> saya bukan dokter, tp orang awam yang bingung karena ayah saya tidak
> pulang2....saya khawatir terkena penyakit akibat dari rumah sakit, kan rumah
> sakit banyak penyakit
> Jawaban: kan bapak kamarnya kelas 1, sendirian, kecil sekali kemungkinannya
> tertular
> Saya: *ngelus dada* karena ayah saya jg gerah melihat diskusi saya
>
> Disisi lain, ayah saya memang tampak mengkhawatirkan sakitnya akibat
> dikelilingi oleh teman2nya yang dokter yang bilang bahwa memang semuanya
> belum normal
>
> Saya tidak tahu apakah memang harus rawat inap selama ini, karena hepatitis
> kalau saya baca horizaon dan beberapa sumber adalah virus dan memang lama
> penyembuhannya (bisa sampai 6 minggu). Mohon kiranya penguatan dan
> pencerahan mengenai hal ini,apakah memang perlu perawatan di RS...saya takut
> malah kena sakit lain
>
> Terimakasih
>
> Maaf panjang sekali
>
> Salam
> Wiwi Wijayati
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
> - Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
> - PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal
> FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.
>
> Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland,
> dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami,
> PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
>
> "Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
> =================================================================
> Milis Sehat thanks to:
> - AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
> - PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS
> SEHAT 2011.
>
> Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk.
> who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi
> Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
> "SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.
>
> Kunjungi kami di (Visit us at):
> Official Web : http://milissehat.web.id/
> FB : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
> Twitter : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
> ==================================================================
> Donasi (donation):
> Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
> Bank Mandiri
> Cabang Kemang Raya Jakarta
> Account Number: 126.000.4634514
> ==================================================================Yahoo!
> Groups Links
>

9a.

Re: Mohon info/link tentang malaria

Posted by: "avry" ifree_wahidya@yahoo.com   ifree_wahidya

Wed Oct 26, 2011 12:49 am (PDT)



Thanks yah dr. Agnes ,,,, alhamdulillah skrg sy sdh sembuh, sempat cek darah smpai 3kali tp negatif malaria, tapi dokter blg diagnosis nya mirip malaria(wlw smp skrg dr tsb tdk prnh mnjlskn diagnosisnya dg jls), jd ttp d ksh obat malaria wlw hslnya negatif, krn ragu akhrnya sy tdk mnm obatnya, alhasil demm sy ttp naik turun slm 4hr dm kondisi hrus ttp menyusui si kcil. smpet mau pulang k jkrta tp stlh sy pkr2 sprtnya hrus cek d tmpat lain dl, trnyta stlh sy cek darah d lab yg lain sy positif malaria tropika plus1 , sy senang akhrnya jelas penyakit sy ap, dan lnsung sy konsultasi k dr umum yg ad, 3 hari kmudian alhamdulillah sy sdh fit kmbali.
Agak menyesal sdkt knp kptusan u cek d tmpt lain baru trpkir stlh 4hr sy demam. Tp smua sdh berlalu dan bnyk pelajaran yg bs sy ambil ,,, khususnya penyakit malaria yg sprti "kacang goreng" d sini :) .dan smp skrg sy msh mncari tahu alasan knp 3 hasil lab mnytakan sy negatif malaria yah? Skali lg trmksh ats responnya dok.

Avry :)

9b.

Re: Mohon info/link tentang malaria

Posted by: "piep71@ymail.com" piep71@ymail.com

Wed Oct 26, 2011 1:00 am (PDT)




Hai mba Avry, sekedar cerita suami saya juga kerja di Papua pulang 1 bulan skali, Alhamdulillah sehat2 jangan sampai kena malaria, suami tiap hari secara bergantian makan pakai sayur pare, bunga pepaya, daun pepaya menurut cerita bisa mencegah digigit nyamuk, "maaf ga ada EBMnya" mungkin mbak sudah tahu juga ya...dari yg sy baca2 kalo pernah kena malaria walaupun sudah dinyatakan sembuh tapi sebenarnya apanya gt bertahun2 di tubuh yg prnh sakit malaria, kalo daya thn tbh turun bisa kambuh lg katanya. CMIIW
Smoga cepet sembuh sehat ya


Sarica
Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
10a.

(Ask) bab anak minum UHT

Posted by: "yulistya" tya_sweetgreen@yahoo.com   tya_sweetgreen

Wed Oct 26, 2011 12:51 am (PDT)



Dear moms,

share dong moms gimana BAB anaknya yg minum susu UHT..anakku tabitha (15 bulan) seminggu ini BAB lebih dr 1X sehari dgn tekstur cair (tp msh ada ampas) dan banyak..saya khawatir krn dia juga sedang GTM... Please share ya.. Thx

Tya (mamanya tabitha yg lg pusing)
sent from my tataberry

10b.

Re: (Ask) bab anak minum UHT

Posted by: "yael_morina@yahoo.com" yael_morina@yahoo.com   yael_morina

Wed Oct 26, 2011 12:54 am (PDT)



Mbk saya masih mau mengajarkan anak minum uht, share donk caranya? Apa langsung dikasi ato dicampur air uht nya. Tq.
Powered by Telkomsel BlackBerry�

-----Original Message-----
From: "yulistya" <tya_sweetgreen@yahoo.com>
Sender: sehat@yahoogroups.com
Date: Tue, 25 Oct 2011 11:29:26
To: Sehat<sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: sehat@yahoogroups.com
Subject: [sehat] (Ask) bab anak minum UHT

Dear moms,

share dong moms gimana BAB anaknya yg minum susu UHT..anakku tabitha (15 bulan) seminggu ini BAB lebih dr 1X sehari dgn tekstur cair (tp msh ada ampas) dan banyak..saya khawatir krn dia juga sedang GTM... Please share ya.. Thx

Tya (mamanya tabitha yg lg pusing)
sent from my tataberry



[Non-text portions of this message have been removed]

10c.

Re: (Ask) bab anak minum UHT

Posted by: "rezka MommaAZKA" lopelope_funky@yahoo.com   lopelope_funky

Wed Oct 26, 2011 1:05 am (PDT)



Mom yeal_morina
Azka 13m num uht plain pas 12m teng :D alasan saya,, mau minimalkan penggunaan sufor dan lagi sufor utk 1y+ kan udah ada rasa kaya vanila/madu jd percuma aja donkk mpasi no gulgar tp pas di susu manissss bgt

Kl cara kasih nya saya bertahap mom.. Kaya hr pertama 80ml,hr ke 2 nae 120ml, ke3nae 140ml.. Sampe akhirnya bs konsumsi uht 500ml sehari,, utk bab anak saya lancar alhamdulillah 1hr sekali dgn tekstur lembutt,,kl konsumsi uht jgn lupa serat nya di perhatikan mom.. Krn kl gak bakal sembelit,,
sent from mommaazkaberry

11a.

OOT: mandi bola

Posted by: "ary ratna santika" arsantika@gmail.com   ry_na_ta

Wed Oct 26, 2011 12:54 am (PDT)



Ada temen sy nulis ini di note fb-nya:
(entah berita ini benar ato tidak, tp semoga kita semua bisa lebih hati2
untuk memilih tempat bermain)

Dapat pesan dr temenku agar kita lebih waspada ...( Aku ingin memberikan
informasi untuk kalian yang mempunyai putra/i balita, yang sering bermain di
arena mainan anak-anak di mall, pasti untuk para ibu.Tau mandi bola
(kecil-kecil) ...Begini, minggu lalu ada seorang ibu pergi ke suatu mall di
Jakarta, dan mengajak putri semata wayangnya yang berumur 4 th. Memang
seumur anak itu senang sekali bila main mandi bola ... setelah pulang dari
mall tersebut sorenya anak itu badannya panas sekali, dan malamnya dibawa ke
dokter anak dan esok pagi panasnya tidak juga turun ... dan siangnya anak
itu meninggal dunia, ibu itu penasaran kenapa hanya karena panas semalam
anak itu bisa meninggal dunia, dan akhirnya ibu itu menyuruh pihak rumah
sakit untuk otopsi anaknya untuk mendapat kepastian penyebab kematian yang
menurutnya tidak wajar itu. Stelah d otopsi akhirnya dokter memang melihat
sesuatu yang tidak wajar di telapak kakinya ada luka seperti kena bisa ular
... dan sepertinya racun ular tersebut sudah merambat lewat jalan
darahnya.Dan esok harinya sang ibu beserta suami datang ke manager yang
mengelola mall tersebut dan menceritakan pengalaman duka yang menimpa
dirinya, dan meminta untuk membongkar bola-bola tersebut, namun sang manager
tidak mau terima tuduhan tersebut ...tapi karena sang ibu mengancam akan
menyebar-luaskan lewat koran, akhirnya dengan berat hati manager tersebut
memenuhi permintaan itu ... dan setelah dibongkar bola-bola tersebut
ternyata memang benar ada ular-ular kecil (sejenis ular kawat) ada didasar
kolam bola-bola .... Bisa kita bayangkan bola-bola yang jumlahnya ratusan
mungkin juga ribuan yangtidak pernah dibersihkan apalagi dikuras (seperti
kolam renang) dan biasanya lagi anak kecil sambil makan bermain bola-bola,
nah, kemungkinan makanan yang jatuh dari mulutnya itu bisa jadi penyebab
berkembang biak ular (kelabang, dll) yang mungkin tidak sedikit .... :(

best regards,

ary

[Non-text portions of this message have been removed]

11b.

Re: OOT: mandi bola

Posted by: "meiree2605@yahoo.com" meiree2605@yahoo.com   meiree2605

Wed Oct 26, 2011 12:59 am (PDT)



Astaghfirulloh..sereem bgt :(
Ijin copas ya mba..
-ⓣⓗⓐⓝⓚⓢ‎​-


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
11c.

Re: OOT: mandi bola

Posted by: "Inta" dini.maesarinta@gmail.com

Wed Oct 26, 2011 1:10 am (PDT)



Ini bukannya hoax yah, udah lama banget nih cerita beredar.

Cheers, Inta-sol
@Intamaesarinta
terkirim dari henponkuh

12.

Tny: DSA yg pro-ASI & RUM di daerah Sunter & BSD

Posted by: "allyka.abelle@gmail.com" allyka.abelle@gmail.com

Wed Oct 26, 2011 12:54 am (PDT)



Dear all ..


Mau tanya dunk ..
As subject di atas, mau tny referenesi DSA yg pro-ASI & RUM di daerah Sunter, (khususnya RSIA H*rm*n*, tp kalo d luar RS tsb jg gpp) sm di daerah BSD/skitarnya ...

Knp d Sunter? Krn stlh lahiran nanti, msh ngungsi kr2 sbulan d rmh mertua d Sunter hehehe ..

Knp d BSD? Krn stlh ngungsi, domisiliny di daerah BSD .. Jd lg kmpl2in info neh dr skrg bt prepare k depannya :)

Owh iya, sama kalo ad info ttg klinik laktasi di daerah BSD bs tlg diinfo ^_^

Thanks before =)


Cheers,
Ribka ^_^
Mom-to-be (hamil anak ptama 30 mgg)
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry� smartphone
13a.

Re: Help, Dibohongin DSA, ternyata vaksin tunggal DPat +HIB, dicampu

Posted by: "lola" lola_nuurul@yahoo.co.id   lola_nuurul

Wed Oct 26, 2011 1:00 am (PDT)



Mbak Santi, dulu anakku imunisasi DPT pakenya pediacel...itu dlm satu suntikan ada DPT,Polio, Hib...
Emang DSA nya gak punya vaksin pediacel itu ya sampe nyampur sendiri?semoga gak papa ya mbak baby sarah..dulu sempat anakku jg waktu usia 4 bulan imun d dsa yg beda dr biasanya trus ditawari imunisasi secara terpisah DPT infanterix, Hib sendiri dan polio tetes krn ga ada stok pediacel tp aku tolak..soalnya aku kekeuh pengen lanjutin pediacel...akhirnya anakku tetep pake pediacel meski nunggu lama dari apotek nyari stoknya...maaf klo ga bantu...

Lola
Saladin's Mom

14a.

Re: (Sehat) Mohon pencerahan: Istri meminta campur sufor

Posted by: "ary ratna santika" arsantika@gmail.com   ry_na_ta

Wed Oct 26, 2011 1:03 am (PDT)



Pa erry, klo masalah pendekatan emosional kan sudah dijelaskan SP's di atas.
Ini ada notes di salah satu group fb ttg ASI vs sufor, mungkin bisa jadi
bahan untuk menguatkan pemberian asi

http://www.facebook.com/groups/154065181322293/doc/204403992955078/
Fakta Resiko Pemberian Susu Formula Pada Bayi dan Anak
By Wynanda B. S. Wibowo <http://www.facebook.com/profile.php?id=1514420759>
, Iffun Ni'ma Arsyada
Fathni<http://www.facebook.com/profile.php?id=100001870405421>
and 3 others<http://www.facebook.com/groups/154065181322293/doc/204403992955078/>
in TAMBAH ASI, TAMBAH CINTA<http://www.facebook.com/groups/154065181322293/>
�**Edit Doc<http://www.facebook.com/ajax/docs/inline_edit_get.php?group_id=154065181322293&doc_id=204403992955078&permalink=1&show_brief=0>

Fakta Resiko Pemberian Susu Formula Pada Bayi dan Anak

By Yuanita Rosalien

Setelah membaca dokumen ini, dalam hati kecil berkata "Apakah para dokter
baik umum maupun spesialis, bidan dan tenaga kesehatan lainnya tidak
memahami isi dari Sumpah Profesi mereka? Apakah visi, misi dari organisasi
profesi mereka hanya sebuah slogan semata?"

Ketika menyusui secara eksklusif tidak lagi menjadi suatu �keharusan�,
biasanya para ibu dengan mudahnya berpaling pada susu formula. Kegagalan
dari para ibu menyusui bukanlah mutlak di tangan para ibu maupun keluarga
terdekatnya. Namun, menurut James Acre adalah sebuah kegagalan mutlak dari
tenaga kesehatan dalam mengedukasi masyarakat, khususnya keluarga yang
memiliki bayi.

Silakan di print atau diperbanyak dengan fotokopi dan sebagainya, sebarkan
kepada keluarga anda, kerabat anda, relasi, bahkan lingkungan anda. Di bawah
ini adalah bukti ilmiah akan resiko penggunaan susu formula jangka panjang
pada diri seorang anak manusia.

Hanya di Indonesia, negeri tercinta ini yang memiliki beraneka ragam jenis
susu formula berdasarkan usia. Sesungguhnya produk-produk tersebut telah
diboikot di negara lain. Lalu bagaimana dengan negeri ini? Begitu
mudahnyakah mereka menganggap bangsa ini bodoh, sehingga menjadikan negeri
ini target pasar dalam meraup keuntungan? Astaghfirullah al adhim..

Kode Etik Internasional tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (breastmilk
substitute) yang dikeluarkan oleh WHO ditujukan untuk memberikan informasi
pada orangtua tentang bahaya kesehatan akibat penggunaan susu formula yang
tidak tepat. Makalah ini memberikan beberapa contoh hasil penelitian
bertahun-tahun tentang pentingnya menyusui serta resiko yang ditimbulkan
akibat penggunaan susu formula.

REKOMENDASI WHO

WHO merekomendasikan para ibu untuk menyusui secara ekslusif selama 6 bulan,
melanjutkannya dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dari
bahan-bahan lokal yang kaya nutrisi sambil tetap memberikan ASI / menyusui
sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. (World Health Assembly Resolution
54.2, 2001)

RESIKO PEMBERIAN SUSU FORMULA UNTUK BAYI DAN ANAK-ANAK

1.Meningkatkan resiko asma

2.Meningkatkan resiko alergi

3.Menghambat perkembangan kognitif

4.Meningkatkan resiko infeksi saluran pernapasan akut

5.Meningkatkan resiko oklusi pada gigi anak

6.Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi

7.Meningkatkan resiko kurang gizi

8.Meningkatkan resiko kanker pada anak-anak

9.Meningkatkan resiko penyakit kronis

10.Meningkatkan resiko diabetes

11.Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular (jantung)

12.Meningkatkan resiko obesitas

13.Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan

14.Meningkatkan resiko kematian pada bayi dan akan-kanak

15.Meningkatkan resiko infeksi telinga dan otitis media

16.Meningkatkan resiko terkena efek samping dari kontaminasi lingkungan

1. Meningkatkan resiko asma

Sebuah penelitian di Arizona, Amerika Serikat yang menggunakan sampel 1.246
bayi sehat menunjukkan hubungan yang kuat antara menyusui dan gangguan
pernafasan pada bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di bawah
umur 6 tahun yang tidak disusui sama sekali, akan memiliki resiko gangguan
pernafasan tiga kali lebih besar dibandingkan dengan anak-anak yang disusui.
(Wright AL, Holberg CJ, Taussig LM, Martinez FD. Relationship of infant
feeding to recurrent wheezing at age 6 years. Arch Pediatr Adolesc Med
149:758-763, 1995)

Penelitian pada 2.184 anak yang dilakukan oleh Hospital for Sick Children di
Toronto, Kanada menunjukkan bahwa resiko asma dan gangguan pernapasan
mencapai angka 50% lebih tinggi pada bayi yang diberi susu formula,
dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI sampai dengan usia 9 bulan
atau lebih. (Dell S, To T. Breastfeeding and Asthma in Young Children. Arch
PediatrAdolesc Med 155: 1261-1265, 2001)

Para peneliti di Australia Barat melakukan penelitian terhadap 2602
anak-anak untuk melihat peningkatan resiko asma dan gangguan pernafasan pada
6 tahun pertama. Anak-anak yang tidak mendapatkan ASI beresiko 40% lebih
tinggi terkena asma dan gangguan pernafasan dibandingkan dengan anak-anak
yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan. Para peneliti ini
merekomendasikan untuk memberikan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan untuk
mengurangi resiko terkena asma dan gangguan pernafasan. (Oddy WH, Peat JK,
de Klerk NH. Maternal asthma, infant feeding, and the risk for asthma in
childhood. J. Allergy Clin Immunol. 110: 65-67, 2002)

Para ahli melihat pada 29 penelitian terbaru untuk mengevaluasi dampak
�melindungi� terhadap asma dan penyakit pernapasan atopik lainnya yang
diberikan oleh ASI. Setelah menggunakan kriteria penilaian yang ketat,
terdapat 15 penelitian yang memenuhi persyaratan untuk dievaluasi, dan ke-15
penelitian tersebut menunjukkan manfaat/efek melindungi yang diberikan oleh
ASI dari resiko asma. Para ahli menyimpulkan, tidak menyusui atau memberikan
ASI pada bayi akan meningkatkan resiko asma dan penyakit pernafasan atopik.
(Oddy WH, Peat JK. Breastfeeding, Asthma and Atopic Disease: An
Epidemiological Review of Literature. J Hum Lact 19: 250-261, 2003)

2. Meningkatkan resiko alergi

Anak-anak di Finlandia yang mendapatkan ASI lebih lama memiliki resiko lebih
rendah untuk terkena penyakit atopik, eksim, alergi makanan dan gangguan
pernafasan karena alergi. Pada usia 17 tahun, resiko gangguan pernafasan
karena alergi pada mereka yang tidak mendapatkan ASI (atau mendapat ASI
dalam jangka waktu pendek) adalah 65%, sementara pada mereka yang disusui
lebih lama hanya 42%. (Saarinen UM, Kajosarri M. Breastfeeding as a
prophylactic against atopic disease: Prospective follow-up study until 17
years old. Lancet 346: 1065-1069, 1995)

Bayi yang memiliki riwayat asma/gangguan pernafasan karena memiliki riwayat
alergi dari keluarganya, diteliti untuk penyakit dermatitis atopik dalam
tahun pertama kehidupannya. Menyusui eksklusif selama tiga bulan pertama
diakui dapat melindungi bayi dari penyakit dermatitis. (Kerkhof M, Koopman
LP, van Strien RT, et al. Risk factors for atopic dermatitis in infants at
high risk of allergy: The PIAMA study. Clin Exp Allergy 33: 1336-1341, 2003)

Pengaruh dari konsumsi harian ibu akan vitamin C dan E pada komposisi
anti-oksidan di ASI sebagai zat yang melindungi bayi dari kemungkinan
terkena penyakit atopik diteliti. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang
menderita penyakit atopik dipantau selama 4 hari, kemudian diambil sampel
ASI dari ibu yang memiliki bayi dengan usia 1 bulan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C sehari-hari pada makanan ibu dapat
meningkatkan kadar vitamin C pada ASI. Semakin tinggi kadar vitamin C pada
ASI dapat menurunkan risiko terkena penyakit atopik pada bayi. (Hoppu U,
Rinne M, Salo-Vaeaenaenen P, Lampi A-M, Piironen V, Isolauri E. Vitamin C in
breast milk may reduce the risk of atopy in the infant. Eur J of Clin Nutr
59: 123-128, 2005)

3. Mengurangi/menghambat perkembangan kognitif

Untuk menentukan dampak dari memberikan ASI eksklusif dengan perkembangan
kognitif pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah,
digunakanlah metode �Bayley scale of infant development� ketika bayi berumur
13 bulan dan �Wechler Preschool and Primary Scales of Intelligence� pada
anak ketika berumur 5 tahun. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut
adalah memberikan ASI secara eksklusif (tanpa tambahan vitamin/supplemen
apapun) pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah terbukti
memberikan keuntungan yang signifikan pada perkembangan kognitif dan
pertumbuhan fisik yang lebih baik. (Rao MR, Hediger ML, Levine RJ, Naficy
AB, Vik T. Effect of breastfeeding on cognitive development of infants born
small for gestational age. Arch Pediatr Adolesc 156: 651-655, 2002)

Menyusui terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang, karena
memiliki pengaruh positif pada pendidikan dan perkembangan kognitif di masa
kanak-kanak, tegas sebuah penelitian di Inggris. Analisis regresi yang
dilakukan pada sebuah penelitian menyatakan bahwa menyusui secara signifikan
berkorelasi positif dengan pendidikan dan kecerdasan. (Richards M, Hardy R,
Wadsworth ME. Long-tern effects of breast-feeding in a national cohort:
educational attainment and midlife cognition function. Publ Health Nutr 5:
631-635, 2002)

439 anak sekolah di Amerika Serikat yang lahir antara tahun 1991 � 1993
serta memiliki berat badan lahir rendah (di bawah 1,500 gram) diberikan
beberapa jenis tes kognitif. Hasilnya, anak-anak yang memiliki berat badan
lahir rendah dan tidak pernah disusui cenderung memiliki nilai/hasil tes
yang rendah pada tes IQ, kemampuan verbal, kemampuan visual dan motorik
dibandingkan mereka yang disusui/mendapatkan ASI. (Smith MM, Durkin M,
Hinton VJ, Bellinger D, Kuhn L. Influence of breastfeeding on cognitive
outcomes at age 6-8 year follow-up of very low-birth weight infants. Am J
Epidemiol 158:1075-1082, 2003)

Penelitian pada anak-anak yang lahir dari keluarga miskin di Filipina
membuktikan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI sampai umur 12-18 bulan
memiliki nilai yang lebih tinggi pada �nonverbal intelligence test�. Efek
seperti ini akan lebih besar dampaknya pada bayi yang lahir dengan berat
badan lahir rendah (1.6 dan 9.8 poin lebih tinggi). Para peneliti
menyimpulkan, bahwa memberikan ASI/menyusui dalam jangka waktu yang lama
sangatlah penting, apalagi setelah mengenalkan Makanan Pendamping ASI
(MP-ASI), terutama untuk bayi berat badan lahir rendah. (Daniels M C, Adair
L S. Breast-feeding influences cognitive development of Filipino children. J
Nutr. 135: 2589-2595, 2005)

4. Meningkatkan resiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)

Anak-anak di Brazil yang tidak disusui/mendapatkan ASI beresiko 16,7 kali
lebih tinggi terkena pneumonia dibandingkan anak-anak yang semasa bayinya
disusui secara eksklusif. (Cesar JA, Victora CG, Barros FC, et al. Impact of
breastfeeding on admission for pneumonia during postneonatal period in
Brazil: Nested casecontrolled study. BMJ 318: 1316-1320, 1999)

Untuk menentukan faktor-faktor resiko dalam mendeteksi ISPA pada balita,
sebuah rumah sakit di India membandingkan 201 kasus dengan 311 kunjungan
pemeriksaan. Menyusui adalah salah satu dari sekian faktor yang dapat
menurunkan tingkat risiko ISPA pada balita. (Broor S, Pandey RM, Ghosh M,
Maitreyi RS, Lodha R, Singhal T, Kabra SK. Risk factors for severe acute
lower respiratory tract infection in under-five children. Indian Pediatr 38:
1361-1369, 2001)

Beberapa sumber yang digunakan untuk meneliti hubungan antara menyusui dan
resiko ISPA pada bayi yang lahir cukup bulan. Analisis dari data-data yang
diteliti menunjukkan pada negara-negara berkembang, bayi yang diberikan susu
formula mengalami 3 kali lebih sering gangguan pernafasan yang membutuhkan
perawatan intensif di rumah sakit, dibandingkan dengan bayi yang diberikan
ASI eksklusif selama 4 bulan atau lebih. (Bachrach VRG, Schwarz E, Bachrach
LR. Breastfeeding and the risk of hospitalization for respiratory disease in
infancy. Arch Pediatr Adolesc Med. 157: 237-243, 2003)

5. Meningkatkan resiko oklusi gigi pada anak

Salah satu keuntungan menyusui adalah membuat gigi anak tumbuh rapih dan
teratur. Penelitian yang dilakukan pada 1.130 balita (usia 3-5 tahun) untuk
mengetahui dampak dari tipe pemberikan makanan dan aktivitas menghisap yang
tidak tepat terhadap pertumbuhan gigi yang kurang baik. Aktivitas menghisap
yang kurang baik (menghisap botol) memberikan dampak yang substansial pada
kerusakan gigi/oklusi gigi pada anak. Terjadinya �posterior cross-bite� pada
gigi anak lebih banyak ditemukan pada anak-anak yang menggunakan botol susu
serta anak-anak yang suka �mengempeng�. Persentase terkena cross-bite pada
anak ASI yang menyusu langsung 13% lebih kecil dibandingkan mereka yang
menyusu dari botol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa semakin awal bayi
menyusu dari botol dua kali lebih besar besar terkena risiko
maloklusi/kerusakan pada gigi dibandingkan bayi yang menyusu langsung/tidak
menyusu dari botol. (Viggiano D. et al. Breast feeding, bottle feeding, and
non-nutritive sucking; effects on occlusion in deciduous dentition. Arch Dis
Child 89:1121-1123, 2004)

6. Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi

Pada kasus tercemarnya susu formula dengan Enterobacter Sakazakii di Belgia,
ditemukan 12 bayi yang menderita Necrotizing Enetrocolitis (NEC) dan 2 bayi
yang meninggal setelah mengkonsumsi susu formula yang tercemar bakteri
tersebut. (Van Acker J, de Smet F, Muyldermans G, Bougatef A. Naessens A,
Lauwers S. Outbreak of necrotizing enterocolitis associated with
Enterobactersakazakii in powdered infant formulas. J Clin Microbiol 39:
293-297, 2001)

Sebuah kasus di Amerika Serikat menyebutkan bahwa seorang bayi berusia 20
hari meninggal dunia karena menderita panas, tachyardia�dan mengalami
penurunan fungsi pembuluh darah setelah diberikan susu formula yang tercemar
bakteri E-Sakazakii di NICU. (Weir E, Powdered infant formula and fatal
infection with Enterobacter sakazakii. CMAJ 166, 2002)

7. Meningkatkan resiko kurang gizi/gizi buruk

Pada tahun 2003 ditemukan bayi yang mengkonsumsi susu formula berbahan dasar
kedelai di Israel harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat
encephalopathy. Dua diantaranya meninggal akibat cardiomyopathy. Analisis
dari kasus ini menyebutkan bahwa tingkat tiamin pada susu formula tidak
dapat diidentifikasikan. Pada bayi yang mengkonsumsi susu formula berbasis
kedelai sering ditemukan gejala kekurangan tiamin, yang harus ditangani oleh
terapi tiamin. (Fattal-Valevski A, Kesler A, Seal B, Nitzan-Kaluski D,
Rotstein M, Mestermen R, Tolendano-Alhadef H, Stolovitch C, Hoffman C.
Globus O, Eshel G. Outbreak of Life-Threatening Thiamine Deficiency in
Infants in Israel Caused by a Defective Soy-Based Formula. Pediatrics 115:
223-238, 2005)

8. Meningkatkan resiko kanker pada anak

Pusat Studi Kanker Anak di Inggris melakukan penelitian terhadap 3.500 kasus
kanker anak dan hubungannya dengan menyusui. Hasil penelitian menunjukkan
adanya pengurangan tingkat resiko terkena leukemia dan kanker lain apabila
seorang anak memperoleh ASI ketika bayi. (UK Childhood Cancer Investigators.
Breastfeeding and Childhood Cancer. Br J Cancer 85: 1685-1694, 2001)

Studi pada 117 kasus acute lymphotic leukemia yang dilakukan di United Arab
Emirates menunjukkan bahwa menyusui secara eksklusif selama 6 bulan atau
lebih akan meminimalkan resiko terkena kanker leukemia dan lymphoma (getah
bening) pada anak. (Bener A, Denic S, Galadari S. Longer breast-feeding and
protection against childhood leukaemia and lymphomas. Eur J Cancer 37:
234-238, 2001)

Tidak menyusui adalah salah satu penyebab terbesar kanker pada ibu. Suatu
penelitian mengemukakan tingkat kerusakan genetis yang signifikan pada bayi
usia 9-12 bulan yang sama sekali tidak disusui. Para peneliti menyimpulkan
bahwa kerusakan genetis berperan penting dalam pembentukan kanker pada anak
atau setelah anak-anak tsb tumbuh dewasa. (Dundaroz R, Aydin HA, Ulucan H,
Baltac V, Denli M, Gokcay E. Preliminary study on DNA in non-breastfed
infants. Ped Internat 44: 127-130, 2002)

Sebuah penelitian yang menggunakan bukti-bukti atas dampak menyusui pada
risiko terkena leukemia mempelajari 111 kasus yang 32 diantaranya
mengemukakan hal tersebut. Dari 32 kasus ini dipelajari 10 kasus utama dan
ditemukan 4 kasus yang mengemukakan hubungan antara menyusui dan leukemia.
Kesimpulan yang diambil adalah: semakin lama menyusui/memberikan ASI pada
bayi, semakin kecil risiko terkena leukemia. Mereka mencatat, diperlukan
dana sebesar USD 1,4M tiap tahunnya untuk mengobati anak-anak yang terkena
leukemia. (Guise JM et al. Review of case-controlled studies related to
breastfeeding and reduced risk of childhood leukemia. Pediatrics 116:
724-731, 2005)

9. Meningkatkan resiko penyakit kronis

Penyakit kronis dapat dipicu oleh respon auto-imun tubuh anak ketika
mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten. Ivarsson dan tim-nya
melakukan penelitian terhadap pola menyusui 627 anak yang terkena penyakit
kronis dan 1.254 anak sehat untuk melihat dampak menyusui pada konsumsi
makanan yang mengandung protein gluten serta resiko terkena penyakit kronis.
Secara mengejutkan ditemukan bukti bahwa 40% anak-anak bawah umur dua tahun
(baduta) yang disusui/mendapatkan ASI berisiko lebih kecil terhadap penyakit
kronis, walaupun mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten.
(Ivarsson, A. et al. Breast-Feeding May Protect Against Celiac Disease Am J
Clin Nutr 75:914-921, 2002)

Rasa terbakar pada saat BAB dan penyakit Crohn adalah penyakit
gastrointestinal kronis yang sering terjadi pada bayi susu formula. Suatu
meta-analisis pada 17 kasus yang mendukung hipotesis bahwa menyusui
mengurangi resiko penyakit Crohn dan ulcerative colitis. (Klement E, Cohen
RV, Boxman V, Joseph A, Reif s. Breastfeeding and risk of inflammatory bowel
disease: a systematic review with meta-analysis. Am J Clin Nutr 80:
1342-1352, 2004)

Untuk memperjelas dampak dari pemberian MPASI yang terlalu dini (contoh:
dampak dari menyusui dibandingkan tidak menyusui; lama menyusui; dampak
menyusui dan hubungannya dengan pemberian makanan yang mengandung protein
gluten) pada resiko penyakit kronis, para peneliti melihat kembali literatur
tentang menyusui dan penyakit kronis. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang
menderita penyakit kronis hanya mendapatkan ASI/disusui dalam jangka waktu
pendek. Sementara anak-anak yang disusui lebih lama resiko terkena penyakit
kronis ini 52% lebih rendah. Para peneliti mendefinisikan 2 mekanisme
perlindungan yang diberikan ASI, yaitu: (1) melanjutkan pemberian
ASI/menyusui menghambat penyerapan gluten pada tubuh, (2) ASI melindungi
tubuh dari infeksi intestinal. Infeksi dapat menyebabkan penurunan daya
tahan tubuh bayi sehingga gluten dapat masuk ke dalam lamina propria.
Penelitian yang lain menyebutkan bahwa IgA dapat menurunkan respon antibody
terhadap gluten yang dicerna. (Akobeng A K et al. Effects of breast feeding
on risk of coeliac disease: a systematic review and meta-analysis of
observational studies. Arch DisChild 91: 39-43, 2006)

10. Meningkatkan resiko diabetes

Untuk memastikan hubungan antara konsumsi susu sapi (dan susu formula bayi
berbahan dasar susu sapi) dan respon antibodi bayi pada protein susu sapi,
peneliti di Italia mengukur respon antibodi pada 16 bayi ASI dan 12 bayi
usia 4 bulan yang mengkonsumsi susu formula. Bayi susu formula meningkatkan
antibodi beta-casein yang bisa menyebabkan diabetes type 1, dibandingkan
dengan bayi ASI. Para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa bayi yang
mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan beresiko lebih rendah terhadap
diabetes type 1, karena ASI dapat mencegah pembentukan anti-bodi
beta-casein. (Monetini L, Cavallo MG, Stefanini L, Ferrazzoli F, Bizzarri C,
Marietti G, Curro V, Cervoni M, Pozzilli P, IMDIAB Group. Bovine beta-casein
antibodies in breast-and bottle-fed infants: their relevance in Type 1
diabetes. Hormone Metab Res 34: 455-459, 2002)

Studi yang dilakukan pada 46 suku Indian Kanada yang menderita diabetes tipe
II dicocokkan dengan 92 jenis control penyakit diabetes. Kemudian
dibandingkanlah resiko pre dan post-natal dari suku Indian yang disusui dan
yang tidak disusui. Menariknya, ditemukan suatu fakta baru bahwa ASI dapat
menurunkan resiko terkena penyakit diabetes tipe II. (Young TK, Martens PJ,
Taback SP, Sellers EA, Dean HJ, Cheang M, Flett B. Type 2 diabetes mellitus
in children: prenatal and early infancy risk factors among native Canadians.
Arch Pediatr Adolesc Med 156: 651-655, 2002)

Penggunaan susu formula, makanan pengganti ASI dan susu sapi yang lebih dini
pada bayi, adalah factor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terkena
diabetes tipe I ketika dewasa. Sebayak 517 anak Swedia dan 286 anak
Lithuania usia 15 tahun yang didiagnosa menderita penyakit diabetes tipe I
dibandingkan dengan pasien non-diabets. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
memberikan ASI secara eksklusif sekurangnya 5 bulan dan dilanjutkan sampai
usia 7 atau 9 bulan (dengan MP-ASI) dapat mengurangi resiko terkena
diabetes. (Sadauskaite-Kuehne V, Ludvigsson J, Padaiga Z, Jasinskiene E,
Samuel U. Longer breastfeeding is an independent protective factor against
development of type I diabetes mellitus in childhood. Diabet Metab Res Rev
20: 150-157, 2004)

Data yang didapatkan dari 868 anak penderita diabetes asal Cekoslovakia dan
1466 kunjungan dar pasien yang terkena diabetes, mengkonfirmasi bahwa resiko
terkena diabetes tipe I dapat dikurangi dengan memperpanjang lama/periode
menyusui. Menyusui bayi selama 12 bulan atau lebih mengurangi risiko terkena
diabetes tipe I secara signifikan. (Malcove H et al. Absence of
breast-feeding is associated with the risk of type 1 diabetes: a
case-control study in a population with rapidly increasing incidence. Eur J
Pediatr 165: 114-119, 2005)

11. Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular

Untuk mempertegas hubungan antara gizi bagi bayi dengan resiko kesehatan
setelah dewasa, peneliti dari Inggris mengukur tekanan darah pada sampel 216
remaja usia 13 sampai 16 tahun yang lahir prematur. Mereka yang mengkonsumsi
susu formula pada awal kehidupannya memiliki tekanan darah yang lebih tinggi
dibandingkan mereka yang mendapatkan ASI ketika bayi. Hasil penelitian ini
menyimpulkan bahwa pada bayi yang lahir prematur maupun cukup bulan, ASI
dapat mengendalikan tekanan darah pada batas normal sampai mereka tumbuh
dewasa. (Singhal A, Cole TJ, Lucas A. Early nutrition in preterm infants and
later blood pressure: two cohorts after randomized trials. The Lancet 357:
413-419, 2001)

Sebuah penelitian di UK mengevaluasi tingkat kolesterol pada 1.500 anak dan
remaja usia 13-16 tahun dan menyimpulkan bahwa ASI mencegah penyakit
kardiovaskular karena dapat mengurangi kadar total kolesterol dan kadar LDL
(low-density lipid cholesterol). Hasil penelitian ini menyebutkan, bayi yang
memperoleh ASI terbukti dapat mengendalikan metabolisme pengolahan lemak di
tubuh dengan baik, yang menyebabkan kadar kolesterol yang rendah dan
menghindarkan dari resiko penyakit kardiovaskular. (Owen GC, Whipcup PH,
Odoki JA, Cook DG. Infant feeding and blood cholesterol: a study in
adolescents and systematic review. Pediatrics 110:597-608, 2002)

Sebuah studi di Inggris yang meneliti 4.763 anak-anak usia 7,5 tahun
menyebutkan bahwa anak-anak berusia 7 tahun dan tidak pernah mendapatkan ASI
memiliki kecenderungan tekanan systolic dan diastolic yang lebih tinggi
dibandingkan anak-anak yang mendapatkan ASI semasa bayinya. Ada pengurangan
sebesar 0.2mmHg setiap 3 bulan apabila anak mendapatkan ASI eksklusif. Para
peneliti menyarankan pemberian ASI eksklusif sekurangnya 3 bulan, karena
terbukti dapat mengurangi 1% populasi orang-orang yang menderita penyakit
tenakan darah tinggi, dan mengurangi 1,5% tingkat kematian penduduk karena
darah tinggi. (Martin RM, Ness AR, Gunnelle D, Emmet P, Smith GD. Does
breast-feeding in infancy lower blood pressure in childhood? Circulation
109: 1259-1266, 2004)

12. Meningkatkan resiko obesitas

Untuk menentukan dampak pemberian makanan bayi pada obesitas masa
kanak-kanak, studi besar di Skotlandia meneliti indeks massa tubuh dari
32.200 anak usia 39-42 bulan. Setelah eliminasi faktor-faktor yang bias,
status sosial ekonomi, berat lahir dan jenis kelamin, prevalensi obesitas
secara signifikan lebih tinggi pada anak-anak diberi susu formula, mengarah
pada kesimpulan bahwa pemberian susu formula terkait dengan peningkatan
risiko obesitas. (Armstrong, J. et al. Breastfeeding and lowering the risk
of childhood obesity. Lancet 359:2003-2004, 2002)

Dalam rangka untuk menentukan faktor yang terkait dengan pengembangan
kelebihan berat badan dan obesitas, 6.650 anak-anak usia sekolah di Jerman
yang berusia antara lima sampai 14 tahun diperiksa. Mengkonsumsi ASI
ditemukan sebagai pelindung terhadap obesitas. Efek perlindungan ini lebih
besar pada bayi yang secara eksklusif disusui ASI. (Frye C, Heinrich J.
Trend and predictors of overweight and obesity in East German children. Int
J Obesitas 27: 963-969, 2003)

Tindak lanjut aktif dari 855 pasang ibu dan bayi di Jerman digunakan untuk
menentukan hubungan antara tidak menyusui dan peningkatan risiko kelebihan
berat badan dan obesitas. Setelah dua tahun tindak lanjut, 8,4 persen dari
anak-anak kelebihan berat badan dan 2,8 persen sangat kelebihan berat badan:
8,9 persen tidak pernah disusui, sementara 62,3 persen disusui selama paling
sedikit enam bulan.

Anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif lebih dari tiga bulan dan kurang
dari enam bulan memiliki 20 persen pengurangan resiko, sementara mereka yang
telah ASI eksklusif selama paling sedikit enam bulan memiliki 60 persen
pengurangan resiko untuk menjadi gemuk dibandingkan kepada mereka yang
diberi susu formula. (Weyerman M et al. Duration of breastfeeding and risk
of overweight in childhood: a prospective birth cohort study from Germany.
Int J Obes muka publikasi online 28 Februari 2006)

13. Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan

Tujuh ratus tujuh puluh enam bayi dari New Brunswick, Kanada, diteliti untuk
mengetahui hubungan antara pernapasan dan penyakit gastrointestinal dengan
menyusui selama enam bulan pertama kehidupan. Meskipun angka pemberian ASI
ekslusif rendah, hasil menunjukkan efek perlindungan yang signifikan
terhadap total penyakit selama enam bulan pertama kehidupan. Bagi mereka
yang disusui ASI , insidensi infeksi gastrointestinal adalah 47 per persen
lebih rendah; tingkat penyakit pernapasan adalah 34 persen lebih rendah
daripada mereka yang tidak disusui. (Beaudry M, Dufour R, S. Marcoux.
Relationship between infant feeding and infections during the first six
months of life. J Pediatr 126: 191-197, 1995)

Perbandingan antara bayi yang menerima ASI terutama selama 12 bulan pertama
kehidupan dan bayi yang secara eksklusif diberikan susu formula atau disusui
ASI selama selama tiga bulan atau kurang, menemukan bahwa penyakit diare dua
kali lebih tinggi untuk bayi yang diberikan susu formula dibandingkan mereka
yang disusui ASI. (Dewey KG, Heinig MJ, Nommsen-Rivers LA. Differences in
morbidity between breast-fed and formula-fed infants. J Pediatr 126:
696-702, 1995)

Dukungan menyusui di Belarus secara signifikan mengurangi insiden infeksi
gastrointestinal sampai dengan 40 persen. (Kramer MS, Chalmers B, Hodnett
ED, et al. Promotion of Breastfeeding Intervention Trial (PROBIT): a
randomized trial in the Republic of Belarus. JAMA 285: 413-420, 2001)

14.Meningkatkan resiko kematian

Dibandingkan dengan pemberian ASI eksklusif, anak-anak yang sebagian disusui
ASI memiliki 4,2 kali peningkatan risiko kematian karena untuk penyakit
diare. Tidak disusui dikaitkan dengan 14,2 kali peningkatan risiko kematian
akibat penyakit diare pada anak-anak di Brazil. (Victora CG, Smith PG,
Patrick J, et al. Infant feeding and deaths due to diarrhea: a
case-controlled study. Amer J Epidemiol 129: 1032-1041, 1989)

Bayi di Bangladesh yang disusui secara sebagian atau tidak disusui sama
sekali, memiliki resiko kematian 2,4 kali lebih besar akibat infeksi saluran
pernafasan akut dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Pada
anak-anak yang mendapatkan campuran lebih banyak ASI dibandingkan susu
formula, resiko kematian karena pernapasan akut infeksi yang sama dengan
anak-anak ASI eksklusif. (Arifeen S, Black RE, Atbeknab G, Baqui A,
Caulfield L, Becker S, Exclusive breastfeeding reduces acute respiratory
infenction and diarrhea deaths among infants in Dhaka slums. Pediatrics 108:
e67, 2001)

Para peneliti meneliti 1.204 bayi yang meninggal antara 28 hari dan satu
tahun dari penyebab selain dari anomali bawaan atau tumor ganas dan 7.740
anak-anak yang masih hidup di satu tahun untuk menghitung angka kematian dan
apakah bayi tersebut mendapatkan ASI serta efek durasi-respons. Anak-anak
yang tidak pernah disusui memiliki 21 persen lebih besar resiko kematian
dalam periode pasca-neonatal daripada mereka yang disusui. Semakin lama
disusui, semakin rendah resikonya. Mendukung kegiatan menyusui memiliki
potensi untuk mengurangi sekitar 720 kematian pasca-neonatal di Amerika
Serikat setiap tahun. Di Kanada ini akan mengurangi sekitar 72 kematian.
(Chen A, Rogan WJ. Breastfeeding and the risk of postneonatal death in the
United States. Pediatrics 113: 435-439, 2004)

Penelitian penting dari Ghana dirancang untuk mengevaluasi apakah waktu yang
tepat untuk inisiasi menyusui dan praktek menyusui berhubungan dengan resiko
kematian bayi. Studi ini melibatkan 10.947 bayi yang selamat melewati hari
kedua dan yang ibunya dikunjungi selama periode neonatal. Menyusui dimulai
pada hari pertama pada 71 persen bayi dan 98,7 persen dimulai pada hari
ketiga. Menyusui dilakukan secara eksklusif oleh 70 persen selama periode
neonatal. Resiko kematian neonatal empat kali lipat lebih tinggi pada bayi
yang diberi susu berbasis cairan atau makanan padat selain ASI. Terdapat
tanda bahwa respon-dosis terhadap resiko peningkatan kematian bayi
dibandingkan dengan inisiasi menyusui yang tertunda dari satu jam pertama
sampai tujuh hari. Inisiasi setelah hari pertama terkait dengan 2,4 kali
lipat peningkatan risiko kematian. Penulis menyimpulkan bahwa 16 persen
kematian bayi dapat dicegah jika semua bayi disusui sejak hari pertama dan
22 persen dapat dicegah bila menyusui dimulai selama satu jam pertama.
(Edmond KM, Zandoh C, Quigley MA, Amenga-Etego S, Owusu-Agyei S, Kirkwood
BR. Delayed breastfeeding initiation increases risk of neonatal mortality.
Pediatrics 117: 380-386, 2006)

15.Meningkatkan resiko otitis media dan infeksi saluran telinga

Jumlah otitis media akut meningkat secara signifikan dengan menurunnya
durasi dan eksklusivitas menyusui. Bayi Amerika yang diberikan ASI eksklusif
selama empat bulan atau lebih mengalami penurunan 50 persen dibandingkan
dengan bayi yang tidak disusui. Penurunan sebesar 40 persen kejadian
dilaporkan berasal dari bayi ASI yang diberikan tambahan (makanan/susu
formula) lain sebelum usia empat bulan. (Duncan B, Ey J, Holberg CJ, Wright
AL, martines M, Taussig LM. Exclusive breastfeeding for at least 4 months
protects againsts otitis media. Pediatrics 91: 867-872, 1993)

Antara usia enam dan 12 bulan insiden pertama otitis media lebih besar untuk
bayi susu formula daripada untuk bayi ASI eksklusif. Untuk bayi ASI
eksklusif insidensi ini meningkat dari 25 persen menjadi 51 persen
dibandingkan kenaikan dari 54 persen menjadi 76 persen untuk bayi ang hanya
diberikan susu formula. Para penulis menyimpulkan bahwa menyusui bahkan
untuk jangka pendek (tiga bulan) akan secara signifikan mengurangi episode
dari otitis media selama masa kanak-kanak. (Duffy LC, Faden H, Wasielewski
R, Wolf J, Krystofik D. Exclusive breastfeeding protects against bacterial
colonization and day care exposure to otitis media. Pediatrics 100: E7,
1997)

16.Meningkatkan resiko efek samping kontaminasi lingkungan

Sebuah studi Belanda menunjukkan bahwa pada usia enam tahun, perkembangan
kognitif dipengaruhi oleh paparan pra-lahir terhadap poliklorinasi bifenil
(PCB) dan dioksin. Efek buruk paparan pra-lahir pada hasil neurologis juga
ditunjukkan dalam kelompok susu formula tetapi tidak dalam kelompok yang
diberikan ASI. Meskipun terjadi paparan PCB mealui ASI, studi ini menemukan
bahwa pada usia 18 bulan, 42 bulan, dan pada usia enam tahun suatu efek yang
menguntungkan dari menyusui ASI terlihat pada kualitas gerakan, dalam hal
kelancaran, dan dalam tes perkembangan kognitif. Data memberikan bukti bahwa
paparan PCB saat pra-lahir telah memberikan efek negatif secara halus pada
neurologis dan perkembangan kognitif anak sampai usia sekolah. Penelitian
ini juga memberikan bukti menyusui ASI melawan perkembangan merugikan dari
efek PCB dan dioksin. (Boersma ER, lanting CI. Environmental exposure to
polychlorinated biphenyls (PCBs) and dioxins. Consequences for longterm
neurological and congnitive development of the child. Adv Exp Med Biol
478:271-287, 2000)

Penelitian yang lain dilakukan di Belanda untuk menentukan efek paparan pra-
lahir terhadap poliklorinasi bifenil (PCB), mempelajari bayi yang disusui
ASI dan bayi yang diberikan susu formula pada saat mereka berusia sembilan
tahun. Dengan mengukur latency pendengaran P300 (waktu reaksi terhadap
rangsangan yang masuk, yang diketahui dipengaruhi secara negatif oleh PCB)
mereka menemukan bahwa mereka yang diberi susu formula atau yang disusui ASI
selama kurang dari enam sampai 16 minggu, mengalami latency yag loebih besar
dan mekanisme melambat di tengah sistem saraf yang mengevaluasi dan
memproses rangsangan. Di sisi lain, proses menyusui mempercepat mekanisme
ini. (Vreugedenhill HJI, Van Zanten GA, Brocaar MP, Mulder PGH, Weisglas -
Kuperus, N. Prenatal exposure to polychlorinated biphenols and
breastfeeding: opposing effects on auditory P300 latencies in 9-year old
Dutch children. Devlop Med & Anak Neurol 46: 398-405, 2004)

semoga berkenan,

ary

[Non-text portions of this message have been removed]

15.

Tanya Obat Batuk Pilek, tolong pencerahannya

Posted by: "Devi" devi_ksari@yahoo.com   devi_ksari

Wed Oct 26, 2011 1:23 am (PDT)



Anak saya Aira (2 thn 2 bulan BB 10.2 kg) semalam jam 12-an badannya panas sampai 38.6, lgs saya kasih tempra drop 1,1 mili.Ada batuk pilek. stengah jam kemudian muntah sisa makanan sorenya, dan kemudian muntah lagi 2x.Anaknya tidak bisa tidur sampai subuh. Saya bawa ke DSA pagi harinya krn selama ini kalau batpil ngga pernah muntah. Pagi sampai siang tidak ada muntah samsek. Jam 12 siang mulai naik lagi suhunya mjd 38,8, langsung sy kasih tempra lagi. Tapi sampai sore ini setelah 3 jam suhunya kok belum turun ya masih di 38.9 dercel. Tidak turun samsek setelah dikasih tempra.

Obat2 dokter belum saya kasih :
1. Sirup COHISTAN EXPECTORANT 100 ml 3x sehari 1 sdk teh 2.5 mili
2. Puyer : Dextromethorphane HBR 15 mg 1/3 tab
Disudrin Tablet 1/5 tab
Equal Granul Sache QS
MF P DTD No XV
Puyer diminum 3x sehari
3. Vometta Drop apabila masih terus muntah (sampai sekarang tidak ada muntah lagi,)
4. Antibiotik Amoxicilin (belum ditebus) ==> DSA juga bilang ngga usah ditebus dulu, nanti kalo masih panas setelah minum tempra 4x baru boleh tebus AB.

Diagnosis : Infeksi Virus
Semua obat2an belum saya kasih krn saya masih ragu2, kecuali 1x tempra tadi jam 12 siang.
Pertanyaan : bagaimana dengan obat2an terutama Sirup Cohistan & Puyernya ? apakah diminumkan saja ? Mengapa panasnya belum turun ya padahal sudah minum tempra, biasanya setelah minum tempra panasnya turun.

Saya ada alergi : Sulfa
Suami ada alergi : Sulfa, Antalgin, Asetosal dan Obat2 Malaria.

Mohon pencerahannya dari SP dan dokter.

Terima kasih

Devi

16.

[news] Anak Indonesia yang Kena Diabetes Banyak Tak Terdeteksi

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Wed Oct 26, 2011 1:25 am (PDT)



Rabu, 26/10/2011 15:17 WIB
Anak Indonesia yang Kena Diabetes Banyak Tak Terdeteksi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Jakarta, Banyak yang belum tahu kalau anak kecil juga bisa kena
diabetes? Tapi karena diabetes dianggap penyakit orang dewasa, orangtua
yang memiliki anak dengan gejala diabetes cenderung abai. Akibatnya
banyak anak yang terkena diabetes tak terdeteksi dan tak bisa berumur
panjang.

Berbeda dengan orang dewasa yang kebanyakan terkena diabtes tipe 2
karena perubahan pola makan, diabetes yang banyak terjadi pada anak
adalah diabtes tipe 1. Diabetes Militus (DM) tipe 1 ini adalah diabetes
yang terjadi karena kerusakan sel beta pankreas. Kerusakan pada pankreas
ini membuat tubuhnya tidak mampu memproduksi sendiri insulin.

Gejala paling khas pada DM tipe 1 adalah anak banyak makan (polifagia),
banyak minum (polidipsia) dan banyak kencing (poliuria). Namun sebelum
ketiga gejala itu muncul, biasanya anak akan mengalami gejala lainnya
yakni cepat letih dan berat badannya terus menurun.

Anak dengan DM tipe 1 menjadi banyak makan karena tubuhnya tidak
memproduksi insulin untuk memberi sinyal bahwa tubuh tidak lapar.
Akibatnya otak selalu merasa butuh asupan kalori, sehingga anak selalu
ingin makan seperti tidak pernah kenyang.

Banyak minum berhubungan dengan banyak kencing, karena cairan tubuh yang
terbuang saat kencing harus diimbangi dengan banyak minum. Banyak
kencing sendiri terjadi karena tubuh selalu berusaha mengeluarkan
kelebihan gula darah melalui air kencing.

"Tidak harus menunggu ketiga gejala itu, kalau anak sudah mulai sering
merasa lemas dan berat badannya selalu turun maka kemungkinan ada yang
tidak beres dengan insulin. Sebaiknya langsung diperiksa agar kalau ada
gangguan pada produksi insulin, tidak terlambat terdeteksi," ungkap dr
Erwin dalam seminar media bertajuk "Integrated and Comprehensive
Management of Type 1 DM in Indonesia: What Have We Achieved?" di Hotel
Akmani, Rabu (26/10/2011).

Anak penderita DM 1 harus mendapat pengobatan dan pemeriksaan darah
secara rutin seumur hidupnya. Tapi tidak semua orangtua mampu yang
anaknya terkena DM1 mampu meberikan pengobatan dan pemeriksaan darah
secara rutin. Akibatnya diperkirakan 30-40 persen anak dengan diabetes
tipe 1 gagal dalam pengobatan karena tidak punya biaya.

"Sekitar 30 persen. Antara 30-40 persen gagal dalam pengobatan karena
poverty, miskin," ungkap dr Erwin yang juga Project Manager Unit Kerja
Kelompok (UKK) Endokrinologi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Menurutnya, jaminan kesehatan yang baik sangat dibutuhkan untuk
menyelamatkan ratusan anak Indonesia dari penyakit tersebut.

Dikatakan oleh dr Erwin, dalam beberapa kasus, anak dengan Diabetes
Melitus (DM) tipe 1 hanya sempat mendapat insulin satu kali dan sesudah
itu meninggal. Ada yang karena memang terlambat terdeteksi, namun
sebagian di antaranya karena tidak sanggup menanggung biayanya.

Sebagai gambaran, dalam sehari seorang penyandang DM tipe 1 harus
melakukan tes darah kurang lebih 3 kali sehari dengan strip sekali pakai
yang masing-masing harganya sekitar Rp 10.000. Belum lagi harus membeli
insulin, yang harganya Rp 200.000 per flacon untuk beberapa kali suntik.

Jika dihitung secara kasar, pengeluaran rutin seorang penyandang DM tipe
1 bisa mencapai Rp 3,5 juta per bulan karena masih ditambah ongkos
pembelian jarum suntik yang masing-masing hanya sekali pakai. Nominal
sebesar ini tentu berat bagi yag penghasilannya pas-pasan.

Menurut dr Erwin, insulin untuk penyandang DM tipe 1 sebenarnya sudah
ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Namun dalam
praktiknya, dr Erwin menilai masih banyak masyarakat miskin yang
kesulitan untuk mengurus administrasi Jamkesmas.

Hingga saat ini memang belum ada angka pasti terkait jumlah anak yang
menyandang DM tipe 1 di Indonesia. Namun menurut data UKK Endokrinologi,
hingga Oktober 2011 jumlahnya diperkirakan mencapai 724 anak dengan
pertumbuhan sekitar 240 kasus baru/tahun.

Komplikasi

Salah satu komplikasi DM tipe 1 yang sering dijumpai pada anak adalah
ketoasidosis, atau sering disebut koma diabetik. Kondisi ini terjadi
karena tubuh tidak menghasilkan insulin untuk memproses gula menjadi
energi, sehingga kebutuhan energi diperoleh dari lemak yang diubah
menjadi keton.

Kelebihan keton dalam tubuh menyebabkan asidosis atau keasaman tubuh
meningkat, sehingga terjadilah koma diabetik yang jika tidak tertangani
bisa berujung pada kematian. Menurut dr Erwin, sebagian besar dari 724
anak penyandang DM tipe 1 terdeteksi setelah mengalami komplikasi ini.

http://us.detikhealth.com/read/2011/10/26/151759/1753136/764/anak-indonesia-yang-kena-diabetes-banyak-tak-terdeteksi?l991101755

Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Health

Healthy Aging

Improve your

quality of life.

Meditation and

Lovingkindness

A Yahoo! Group

to share and learn.

Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB           : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter      : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

No comments: