Monday, October 24, 2011

[sehat] Digest Number 16320

Messages In This Digest (25 Messages)

1.1.
Re: Ask--dokter kulit From: nia2R
1.2.
Re: Ask--dokter kulit From: Ira Indrawati
1.3.
Re: Ask--dokter kulit From: risma
2a.
Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi From: yoga pranata
3.
Konsul prevnar + share imunisasi di UAE From: Ciptanti
4a.
Re: Help, PD kenceng, asi keluarnya jd sedikit From: Ade Novita Juliano
4b.
Re: Help, PD kenceng, asi keluarnya jd sedikit From: anggina_diksita@yahoo.com
5a.
Re: tonsil dan usus buntu sudah diangkat, apa yang perlu diperhatika From: siti amatullah mutmainah
5b.
Re: tonsil dan usus buntu sudah diangkat, apa yang perlu diperhatika From: marcella.kasih@indosat.blackberry.com
6a.
Pneumonia From: zoe_getme@yahoo.com
7a.
OOT : Promosi RUM From: marcella.kasih@indosat.blackberry.com
7b.
Re: OOT : Promosi RUM From: wrdolphin@gmail.com
7c.
Re: OOT : Promosi RUM From: Leocadia intas Jati Awandhani
7d.
Re: OOT : Promosi RUM From: mamikila@yahoo.com
7e.
Re: OOT : Promosi RUM From: yuli1307@yahoo.com
7f.
Re: OOT : Promosi RUM From: Elga Soeardi
8a.
Re: ASI sebagai satu satunya vaksin From: Titin Yunaini
8b.
Re: [asiforbaby] ASI sebagai satu satunya vaksin From: lilis nurindah sari
8c.
Re: [asiforbaby] ASI sebagai satu satunya vaksin From: pritha kurniasih
9a.
Re: Bls: [sehat] Imunisasi Rotavirus dan PVC From: Arifianto
9b.
Re: Bls: [sehat] Imunisasi Rotavirus dan PVC From: Arifianto
10.
Bahayanya Menolak Imunisasi From: Dina_Bundadanishali
11a.
Re: Imunisasi PCV + Varicella From: Dewi Hartati R Harris
11b.
9m imunisasi polio lagikah? From: Abrar Mom
11c.
Re: 9m imunisasi polio lagikah? From: niken qinen

Messages

1.1.

Re: Ask--dokter kulit

Posted by: "nia2R" niea_152@yahoo.com   niea_152

Sun Oct 23, 2011 12:43 pm (PDT)



Risma:
Knp oatmeal...dunno juga deh.
Dapet resep begitu di mayo

~▸ sebenarnya di sana ada oatmeal khusus utk rendem2an ini *lirik pak gendi*. Jd bukan oat yg biasa utk di konsumsi. Tapi utk meredakan gatalnya klo mau ya coba aja, tapi dari sisi ekonomis mending rendem pake air hangat di garamin.

Salam


-nia-ibunya Razan Ragha
@nieafardina
1.2.

Re: Ask--dokter kulit

Posted by: "Ira Indrawati" ira.tgh.indrawati@gmail.com   ira_indrawati

Sun Oct 23, 2011 1:58 pm (PDT)



Wah, tempo hari penasaran sampe browsing ttg colloidal oatmeal.
Memang ada produk siap-pakai, yg terbuat dari oatmeal dihaluskan trus
direbus untuk mendapatkan ekstrak koloid-nya.
Tapi bikin sendiri bisa juga tuh kayaknya...coba brosing aja dweh (maaf
belum bisa bantu).

Ira
*nyubuh*

2011/10/19 nia2R <niea_152@yahoo.com>

> **
>
>
>
>
> ~▸ sebenarnya di sana ada oatmeal khusus utk rendem2an ini *lirik pak
> gendi*. Jd bukan oat yg biasa utk di konsumsi.
>

[Non-text portions of this message have been removed]

1.3.

Re: Ask--dokter kulit

Posted by: "risma" bunda_fazil@yahoo.com   bunda_fazil

Sun Oct 23, 2011 5:54 pm (PDT)




Oalaa...ada oatmeal khusus toh
#tepok jidat
Tq infonya Nia...

Btw...keknya gak semua gatel bisa dipakein resep oatmeal ini ya.
Soalnya pas lg baca2 ttg dyshidrosis eczhema....resep rendamannya adalah air yg dikasih sedikit vinegar. Alias cuka.

Udah pernah cobain ni resep
Begitu tangan masuk rendaman...nyeess...adem....gatel yg super duper itu ilang deh.
Tp lama2 si bintil2 berisi air jd terkelupas.
Kulit jd terbuka kan...
Nah mulai deh tuh....perih cukup pun.
hehehe...
Rendaman selesai!

-risma-

Sent from the bottom of my heart�
powered by believing in You
2a.

Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi

Posted by: "yoga pranata" doyogh@gmail.com   doyogh

Sun Oct 23, 2011 1:23 pm (PDT)



dear all,

sebuah contoh sistem kesehatan yang bagus dibanding sistem kesehatan
indonesia, hehehehe...
sebuah contoh pasien yang bagus juga dibanding pasien di indonesia,
hehehehe...

sayang tidak dijelaskan dasar diagnosis infeksi bakteri *Mycoplasma
pneumonia* dari mana? karena dari IGD dikatakan penyebabnya virus, kenapa
tiba-tiba jadi bakteri *Mycoplasma pneumonia*? hasil follow up setelah
pulang dari dokter berbekal antibiotik juga tidak ada datanya. mungkin si
penulis tidak menitik beratkan ceritanya pada hal ini yah tapi pada sistem
kesehatannya, tapi menggelitik aja buat saya.

buat temen-temen sekalian, mohon diingat bahwa "Pelayanan gratis/mudah/murah
= Pelayanan rasional" seringkali teman-teman kita yang punya asuransi atau
malah berobatnya gratisan jadi lebih tidak rasional karena merasa tidak
perlu mengeluarkan biaya kesehatan banyak karena gratis atau ditanggung
asuransi, jadi semua pemeriksaan yang mungkin tidak diperlukan jadi
dilakukan cuma karena gratis. begitu pula dengan obatnya, cuma karena
obatnya ditanggung sama asuransi, maka dibeli aja.

Tetap harus diingat aspek rasionalitasnya. kalau tidak perlu ke dokter ya ga
usah ke dokter. kalau tidak perlu periksa-periksa ya ga perlu
periksa-periksa. kalau ga perlu obat ya ga usah minum obat. semoga buat
temen-temen yang punya asuransi atau biaya kesehatannya ditanggung kantor
tidak jadi membutakan mata sehingga menjadi tidak rasional cuma karena tidak
perlu keluar biaya atau gratisan. Hati-hati asuransi bisa jadi pisau bermata
dua jika kita tidak bijak menggunakannya.

mohon maaf kalo tidak berkenan

--
Yoga
yang lagi sama-sama belajar
Yayasan Orang Tua Peduli
www.milissehat.web.id

[Non-text portions of this message have been removed]

3.

Konsul prevnar + share imunisasi di UAE

Posted by: "Ciptanti" bunda.afnan@gmail.com   ciptanti

Sun Oct 23, 2011 3:01 pm (PDT)



Dear sehaters,

Kemarin hbs vaksin anak saya di puskesmas setempat, kebetulan saat ini kami
di uae. Af, 17m, lgs dpt 3suntikan: MMR, varicella, prevnar2. Sempet deg2an,
kuatir ga dikasih simultan, atau bahkan ga dikasih ijin vaksin soalnya
hidungnya lg meler. Alhamdulillah pd akhirnya kekuatiran saya tidak
beralasan samsek. Mana gratis pula :D Lumayan...

Nah, skrg saya pgn tanya soal prevnar nya.
Sblm brkt ke uae, af catch up prevnar di usia menjelang 10m, krn tmsk
imunisasi wajib di uae. Disuntik di jakarta krn pertimbangan 'agar lbh
terlindungi sejak pertama kali mendarat di uae'. Tapiii, krn alasan teknis
jg (dan kelalaian ortu jg sih), dose 2 baru kemarin itu, 7bulan stlh dose1
(baca di cdc mustinya jeda 4weeks).
Terus gimana nih statusnya ya? Dose 1 bs tetap dianggap dose 1, jd dose 3
nya 4minggu stlh dose 2 (4minggu dr kmrn)... atau... Dose 1 mjd neglected,
suntikan yg kmrn itu dianggap sbg prevnar1 dan suntikan selanjutnya berjarak
8minggu? *bingung*

mohon pencerahan

TIA :)

Tanti

[Non-text portions of this message have been removed]

4a.

Re: Help, PD kenceng, asi keluarnya jd sedikit

Posted by: "Ade Novita Juliano" ade.novita.juliano@gmail.com   novita_ade

Sun Oct 23, 2011 3:19 pm (PDT)



Dear Mama Keisha

bagaimana payudaranya, semoga sudah membaik ya

biasanya ibu itu akan membaik 1-3 hari dengan syarat terus diproduksi

artinya tetap diperah dan disusui

karena seperti membatu, maka mungkin butuh bantuan ekstra untuk mempermudah
yaitu dengan melakukan pijatan lembut dan kompres

jadi betul sekali yang dikatakan mba indah, kegiatannya akan bulak balik
kompres > massage > susui/perah > kompres terus berputar

ibu juga disarankan melakukan pijatan di leher, bahu dan punggung, (minta
tolong suami untuk melakukan agar lebih terasa efek relaksasinya) bisa juga
meminta bantuan pihak lain yang kita percaya dapat melakukan pijatan lembut
tersebut

pijatan seluruh tubuh juga boleh untuk membuat ibu lebih nyaman dan tidak
tegang

posisi menyusui yang bervariasi (cradle, cross over, football, reclining)
juga sangat2 dianjurkan (sebaiknya ini pun selalu tidak hanya saat terjadi
masalah saja)

apabila selesai menyusui atau memerah terasa panas atau tegang bisa
dikompres air dingin atau handuk melapisis es batu

tunggu sebentar lalu lanjutkan dengan massage dan kompres hangat kembali

model kompres bisa dengan membungkus dengan handuk hangat atau melakukan
gerakan pijat lembut dengan menggunakan handuk hangat

apabila memilki shower bisa menggunakan deras pelan air hangat untuk
mendapat efek pijat

apabila memiliki bathub mandi berendam air hangat juga bisa membantu

ada juga ibu yang baru benar2 nyaman di hari ke 10, ini sangat tergantung
pada ketenangan ibu dan frekuensi kompres, pijat, produksi

salam,
@Ade_Novita
KLASI-YOP
Klub Peduli ASI - Yayasan Orangtua Peduli

[Non-text portions of this message have been removed]

4b.

Re: Help, PD kenceng, asi keluarnya jd sedikit

Posted by: "anggina_diksita@yahoo.com" anggina_diksita@yahoo.com

Sun Oct 23, 2011 6:32 pm (PDT)



Makasih y mba ade, mba indah, dan mommy yg lain atas responnya..
Alhamdulillah setelah mengikuti saran2nya skrg sudah jauh lbh baik..
Milis ini sangat membantu sekali..

Thanks,
Mama Keisha
Powered by Telkomsel BlackBerry�
5a.

Re: tonsil dan usus buntu sudah diangkat, apa yang perlu diperhatika

Posted by: "siti amatullah mutmainah" amianakbinus@yahoo.com   amianakbinus

Sun Oct 23, 2011 5:11 pm (PDT)



Mba ariany ..
Bisa buka di situs mayoclinic sementara ini ..
Mdh2an ada sps lain yg akan menambahkan ..

Maaf ga bantu

Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry� via Smart 1x / EVDO Network.
5b.

Re: tonsil dan usus buntu sudah diangkat, apa yang perlu diperhatika

Posted by: "marcella.kasih@indosat.blackberry.com" marcella.kasih@indosat.blackberry.com

Sun Oct 23, 2011 5:27 pm (PDT)



Slamet pagi
Soal tonsil itu benar, soal usus buntu, saya tidak yakin, mungkin yang lain yang bantu buat yang satu ini.

Untuk empedu, kerena berfungsi dalam pencernaan lemak, maka bila sudah diangkat, sebailnya menghindari makanan berlebihan lemak. Tulung kureksi kl saya salah.

Btw, kalau mau belajar tentang tubuh manusia, fungsi organ, dll, bagi yang bukan berlatar belakang science, bisa baca buku Tubuh Manusia dari seri WHY terbitan elex. Formatnya komik, jadi anak2pun suka bacanya. Mudah dimengerti jadinya. Ini bukunya anak2 saya (tkB dan kls2 SD), dan kemarin ada sepupu mereka, 3 anak ABG, SMP sampai 3SMA, ikut mobil saya, bisa asik membaca bareng buku yang sama, karena pas kebetulan tuh buku ketinggalan di mobil.

Saya gak jualan lho ya, cuma saya prihatin, banyak orang tua dan member yang kayakya gak gitu ngerti soal tubuh sendiri, dan suka bingung. Nah kalau sudah gini, gampang dibohongi, termasuk forward broadcast hoax, misalnya yang mencampur saluran cerna dengan saluran reproduksi.

Lebih parah lagi kalau dapat oknum dokter (saya bilang oknum ya, jadi dokter2 berpegang teguh pada sumpahnya, gak termasuk), yang suka pakai strategi "marketing of fear" alias jualan jasanya pakai menakut2i. Yang bisa2nya mencampur kasus virus dan bakteri (contoh klasik, soal common cold), supaya pasien manut gak berdaya walaupun terjadi kasus poli farmasi dan overtreatment.

Ehhh, biasa, orang tua, ditanya satu, jawabnya satu juta. Maaf ya, jawaban saya jadi melebar jadi dongeng khas si mpok tuwir satu ini.

Regards,
Marcella
*arah cibitung macet..met..menghalangi jalan
Sent from my BlackBerry�0�3
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
6a.

Pneumonia

Posted by: "zoe_getme@yahoo.com" zoe_getme@yahoo.com   zoe_getme

Sun Oct 23, 2011 5:29 pm (PDT)



Dear all moms,
sy punya kekhawatiran nih, dulu anak saya usia 6,5 bulan terkena bronkopnemonia yg awalnya batpil biasa berlanjut ke sesak.sekarang bayiku 11,5 bln dan sedang batpil,sy jd worried banget kejadiannya berulang.yang mau saya tanyakan,
1.apa sih yang bisa membuat Bronkopnemonia berulang kembali? Krn DSAnya menyarankan utk vaksin influenza+PCV dan keduanya tdk sy ambil stlah sy baca2 di milis ini.apakah benar kedua vaksin ini tdk berkaitan dengan penyakit BP?

2.Pemahaman Ortu dan mertua saya,anak saya dirawat krn saya terlambat menangani batpil anak.pdhl saya tahu itu tdk benar dan saya sudah menjelaskan ke mereka.namun dlm hati sy khawatir juga klo tnyata nantinya anak saya lagi2 batpil berlanjut ke sesak napas dan BP lagi.adakah gejala kegawatdaruratan yg lebih dini selain sesak napas dari BP?

maaf ya moms terlalu panjang emailnya.mohon pencerahannya terimakasih

Regards,
Bunda etzel
Powered by Telkomsel BlackBerry�
7a.

OOT : Promosi RUM

Posted by: "marcella.kasih@indosat.blackberry.com" marcella.kasih@indosat.blackberry.com

Sun Oct 23, 2011 5:49 pm (PDT)



Pagih,
Kmaren baca Kompas Minggu.
Ada pengumuman Frans Seda Award
Buat yang berjasa di bidang pendidikan dan kemanusiaan. RUM kan bagian kemanusiaan toh.

Tapiiiii
Kandidat mesti berusia maximum 40th (*huhuhu, founder kita kan umurnya udah lewat ya dari segitu)

Kok si mpok mikir ke award2 macam gini ?
Soalnya kalau makin dikenal, komunitas kita bakal makin bisa diketahui keberadaan, visi dan misinya.

Hasil liputan media besar lho artinya. Terutama untuk pengakuan "legalitas"nya (catat: dalam tanda kutip ya) oleh masyarakat yang moyoritas menganggap ranah medis sebagai menara gading, yang sungkan untuk disentuh..

Gimana temans ? Ignore aja? Atau mau mengajukan kandidat ? Dokter2 muda yang berjibaku melawan arus kelirumologi ? Konselor ASI yang telaten mendampingi? Moderator yang berbagi waktu pribadi ? Penggagas Koin Prita ? Pendamping masalah hukum ? Dll, dst, dsb.

Tadi baru baca twitternya internet sehat bunyinya :
"Bertindaklah dengan keyakinan bahwa kau akan membuat perubahan" (William James : 1842-1910) #filosopagi

Ehmmm, iya juga sih ya, he2.
Makanya, walaupun beresiko ditimpuk moderator, si mpok nekat menulis OOT ini (*paling2 benjol, he2)

Regards,
Marcella
*yaah, cikarang macet juga, nasibku, huhuhu
Sent from my BlackBerry�0�3
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
7b.

Re: OOT : Promosi RUM

Posted by: "wrdolphin@gmail.com" wrdolphin@gmail.com   wr_dolphin

Sun Oct 23, 2011 5:55 pm (PDT)



Setuju, kita bisa promosikan dokter2 muda disini -SOL-

Powered by Telkomsel BlackBerry�0�3
7c.

Re: OOT : Promosi RUM

Posted by: "Leocadia intas Jati Awandhani" awandhani@yahoo.com   awandhani

Sun Oct 23, 2011 5:58 pm (PDT)



Mendukung......ayo kita promosikan dokter2 muda dan konselor laktasi disini
_SOL_

________________________________

[Non-text portions of this message have been removed]

7d.

Re: OOT : Promosi RUM

Posted by: "mamikila@yahoo.com" mamikila@yahoo.com   mamikila

Sun Oct 23, 2011 6:00 pm (PDT)



Dukuung..:D

Ayo mau calonin siapa?
Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
7e.

Re: OOT : Promosi RUM

Posted by: "yuli1307@yahoo.com" yuli1307@yahoo.com

Sun Oct 23, 2011 6:02 pm (PDT)



Sangat setujuh sedelapan sembilan...
Para konselor laktasi relaktasi patut mendapatkan award..

Bunda wati apalagi.. (��_��)

Wassalam,
Yuliastuti | T: @yuli1307
Mon, Oct 24, 2011 / 08:01:40
Powered by DakotaBerry�0�3
7f.

Re: OOT : Promosi RUM

Posted by: "Elga Soeardi" elgasoeardi@yahoo.com   elgasoeardi

Sun Oct 23, 2011 6:13 pm (PDT)



Setuju bgt mbak cella..SOL

Salam
Elga
@ elgasoeardi Sent from BlackBerry�0�3
8a.

Re: ASI sebagai satu satunya vaksin

Posted by: "Titin Yunaini" titin_yn@pusri.co.id   bundatiza

Sun Oct 23, 2011 5:59 pm (PDT)



ah..orang2 kayak gitu nggak usah didengerin moms, yg ada kita sakit hati n
bete terus ngerusak mood deh, kalo dah nggak bisa diajak buka pikiran ya
sudah tinggalkan saja...

aneh bin ajaib, kalo tidak ada ibu bekerja, dia melahirkan dibantu siapa,
orang2 kayak gitu dgn tameng agama kan biasanya nggak mau dibantu ma dokter
r perawat laki2, r kalo dia sakit r melahirkan ok2 aj, kontra
dunk...dikehidupan sehari2 kayak ibu2 jualan sayur dikompleks, guru anaknya
disekolah, toh bersinggungan semua n membantu kehidupan dia juga, semua
profesi yg ada ibu bekerja justru harus disyukurin, kita sebagai wanita kan
kadang lebih enak ma sesama gender tuk urusan tertentu terutama melahirkan,
;)) duh nggak bisa omong apa2...mau bekerja mau dirumah, silakan jalanin
pilihannya masing2..toh saling interaksi juga...

-titin-

8b.

Re: [asiforbaby] ASI sebagai satu satunya vaksin

Posted by: "lilis nurindah sari" nyonya.zaky@gmail.com   lilo_chantiq

Sun Oct 23, 2011 6:16 pm (PDT)



Mba titin.. I really like ur comments. Bener banget klo dlm hidup kita
pasti bersinggungan dgn ibu2 bekerja.. Hihihihihi..
Maap klo jd tambah oot.

Lilis
Mama Keisha 2y2m21d
*working mom, bangga bs ksh asi smp skr*

On 10/24/11, Titin Yunaini <titin_yn@pusri.co.id> wrote:
> ah..orang2 kayak gitu nggak usah didengerin moms, yg ada kita sakit hati n
> bete terus ngerusak mood deh, kalo dah nggak bisa diajak buka pikiran ya
> sudah tinggalkan saja...
>
> aneh bin ajaib, kalo tidak ada ibu bekerja, dia melahirkan dibantu siapa,
> orang2 kayak gitu dgn tameng agama kan biasanya nggak mau dibantu ma dokter
> r perawat laki2, r kalo dia sakit r melahirkan ok2 aj, kontra
> dunk...dikehidupan sehari2 kayak ibu2 jualan sayur dikompleks, guru anaknya
> disekolah, toh bersinggungan semua n membantu kehidupan dia juga, semua
> profesi yg ada ibu bekerja justru harus disyukurin, kita sebagai wanita kan
> kadang lebih enak ma sesama gender tuk urusan tertentu terutama melahirkan,
> ;)) duh nggak bisa omong apa2...mau bekerja mau dirumah, silakan jalanin
> pilihannya masing2..toh saling interaksi juga...
>
> -titin-
>
>

--
Sent from my mobile device

8c.

Re: [asiforbaby] ASI sebagai satu satunya vaksin

Posted by: "pritha kurniasih" pritha.saja@gmail.com   aphrodite_flyhigh

Sun Oct 23, 2011 6:23 pm (PDT)



males y sm topik ini,,kmrn jg smpt nyesel gr2 sy ngomong sy berusaha
mengimun anak sy lengkap sm dokter d kantor sy,,
duh,,ternyata dy komplen,,dy cm mengimun wajib aja bwd anaknya,,toh setiap
anak udah punya antibodi,,gak perlu vaksin mahal2,,duh,,mana dy dokter d
kantor lg,,byk temen kantor yg konsul sm dy,,
klo sy,,males aja membahas ginian sm mereka,,bikin capek dan sakit
hati,,apalagi semua jd menganggap aneh karena sy engineer dan dy
dokter,,hehehe..

regard,,
Pritha-mamaAsha

[Non-text portions of this message have been removed]

9a.

Re: Bls: [sehat] Imunisasi Rotavirus dan PVC

Posted by: "Arifianto" arifianto.apin@gmail.com   foxapin11

Sun Oct 23, 2011 6:39 pm (PDT)



Rotarix produksi GSK mengandung rotavirus strain G1 dan P[8]. RotaTeq dari MSD mengandung rotavirus strain G1-4 dan P[8]. Di negara berkembang dan maju, semua strain virus tadi termasuk yang paling sering menyebabkan diare akibat rotavirus.

Satu hal lagi, menurut CDC, pemberian dosis pertama vaksin rotavirus jangan melebihi usia 12 minggu ya. Mengingat beberapa bertanya ke Praktik Dokter Markas Sehat (PDMS) minta pemberian vaksin rotavirus, padahal umurnya sudah lewat dari 3 bulan.

CMIIW

apin

--- In sehat@yahoogroups.com, style_cut3@... wrote:
>
> Mumpung dibahas lagi,,
>
> Mbak ami,,klo udah nemu ttg totateq ama rotarex mau donk infonya,,,
>
> Dear sp's & doc's,
>
> Antara rotarex ama rotateq mana y yg plg bagus & direkomendasikan?
> Soalnya tgl 31 Okt nanti, bella dijadwalkan rotarex ama dsa-nya.
>
> Makasih yaa,
> Gayatri (mommynya bella)
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>

9b.

Re: Bls: [sehat] Imunisasi Rotavirus dan PVC

Posted by: "Arifianto" arifianto.apin@gmail.com   foxapin11

Sun Oct 23, 2011 6:52 pm (PDT)



Tambahan lagi: kalau merujuk pada Jadwal Imunisasi CDC Tahun 2011: pemberian pertama vaksin rotavirus jangan melewati usia 15 minggu (koreksi terhadap pernyataan di bawah).

Rotarix diberikan 2 kali: pertama pada usia 6 minggu (bisa simultan dengan vaksin lain pada usia 2 bulan), dan dosis kedua 4 minggu sesudahnya. Sedangkan RotaTeq diberikan sebanyak 3x, mulai usia yang sama denga Rotarix, dan diulang tiap 4 minggu.

CMIIW

apin

--- In sehat@yahoogroups.com, "Arifianto" <arifianto.apin@...> wrote:
>
> Rotarix produksi GSK mengandung rotavirus strain G1 dan P[8]. RotaTeq dari MSD mengandung rotavirus strain G1-4 dan P[8]. Di negara berkembang dan maju, semua strain virus tadi termasuk yang paling sering menyebabkan diare akibat rotavirus.
>
> Satu hal lagi, menurut CDC, pemberian dosis pertama vaksin rotavirus jangan melebihi usia 12 minggu ya. Mengingat beberapa bertanya ke Praktik Dokter Markas Sehat (PDMS) minta pemberian vaksin rotavirus, padahal umurnya sudah lewat dari 3 bulan.
>
> CMIIW
>
> apin
>
> --- In sehat@yahoogroups.com, style_cut3@ wrote:
> >
> > Mumpung dibahas lagi,,
> >
> > Mbak ami,,klo udah nemu ttg totateq ama rotarex mau donk infonya,,,
> >
> > Dear sp's & doc's,
> >
> > Antara rotarex ama rotateq mana y yg plg bagus & direkomendasikan?
> > Soalnya tgl 31 Okt nanti, bella dijadwalkan rotarex ama dsa-nya.
> >
> > Makasih yaa,
> > Gayatri (mommynya bella)
> > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
> >
>

10.

Bahayanya Menolak Imunisasi

Posted by: "Dina_Bundadanishali" danishapramesvari@gmail.com   adin_zahra

Sun Oct 23, 2011 6:55 pm (PDT)



Bahayanya Menolak Imunisasi

by Agnes Tri Harjaningrum on Saturday, October 22, 2011 at 8:52am

.

Mulanya, ia adalah seorang wanita yang sungguh rupawan. Namun,
kecantikan itu lenyap pada usianya yang ke 26 setelah penyakit
smallpox (variola atau cacar monyet) menyerangnya dan meninggalkan
jejak parut alias bopeng di wajahnya. Alis wajahnya pun menghilang
akibat penyakit yang sama(1). Di masanya dahulu, smallpox memang
penyakit yang cukup mengerikan, penyakit infeksi pembunuh terbesar. Di
akhir abad ke-18 penyakit ini telah membunuh 400.000 warga eropa per
tahunnya, yang sebagian besar adalah anak-anak. Bahkan diperkirakan
sekira 300-500 juta orang di abad ke-20 telah meninggal akibat
penyakit ini(2). Selain memunculkan bopeng yang membuat penderitanya
menjadi buruk rupa dan menyebabkan kematian, smallpox juga menyebabkan
kebutaan serta penyakit tulang. Penyakit yang disebabkan oleh virus
variola ini pun sangat mudah menular, hanya lewat udara, percikan
ludah atau berdekatan saja, orang lain bisa tertular(3), sungguh seram
bukan?

Untungnya, vaksinasi untuk melawan smallpox yang pertama kali
ditemukan oleh Edward jenner berhasil membuat penyakit ini lenyap dari
muka bumi. Tahun 1979, WHO mengumumkan bahwa penyakit ini telah
berhasil dieradikasi(4). Bayangkan kalau penyakit ini masih ada hingga
kini, berapa banyak wajah rupawan yang harus jadi korban, berapa
banyak nyawa lagi yang harus terbang. Edward Jenner patut diberi
penghargaan memang. Namun, dibalik sukses Edward Jenner sebagai penemu
vaksin pertama kali, inoculation, atau menanamkan bibit penyakit pada
orang sehat, agar terbentuk imunitas tubuh terhadap penyakit tersebut
sebetulnya telah dilakukan berabad-abad sebelumnya oleh bangsa
Cina(5). Cara ini pun telah dilakukan oleh bangsa Turki di jaman
kerajaan Ottoman(6).

Wanita yang diceritakan di atas adalah Lady Mary Wortley Montagu(1,6),
seorang istri ambassador Inggris yang pada tahun 1717 sempat tinggal
di Turki selama 2 tahun untuk menemani suaminya yang bertugas disana.
Saat tinggal di Turki, ia memperhatikan kebiasaan orang Turki dan
menyaksikan seorang wanita Turki yang melakukan inoculation untuk
melawan penyakit smallpox. Wanita Turki ini mengambil nanah dari luka
penderita penyakit smallpox. Lalu, dibuatlah beberapa sayatan di tubuh
anak yang sehat, dan nanah tersebut ditanamkan pada sayatan itu dan
dibalut. Lady Mary melihat anak yang sehat itu mengalami demam
beberapa hari, namun kemudian sembuh dan kebal terhadap penyakit
smallpox. Saat pulang ke negaranya, Lady Mary dengan antusias
mempromosikan cara Turki itu. Namun ia ditentang oleh kalangan medis
ketika itu dengan alasan konyol namun masuk akal untuk kondisi saat
itu: karena dia adalah seorang perempuan, dan karena ide yang dia bawa
berasal dari Timur (Turki). Meskipun begitu, Lady Mary tetap melakukan
inoculasi melawan smallpox untuk anak lelakinya, dan anak lelakinya
pun menjadi kebal terhadap smallpox. Beberapa puluh tahun kemudian,
barulah Edward Jenner muncul dan mempublikasikan bukti penemuannya
tentang vaksin Smallpox.

Jika melihat sejarah, ternyata awal mula munculnya vaksinasi berasal
dari Bangsa Cina dan Turki (yang saat kerajaan Ottoman berkuasa
negaranya berlandaskan Islam). Merekalah yang telah mempraktekan cikal
bakal vaksinasi. Mengapa membaca sejarah dalam hal ini menjadi
penting? Karena belakangan ini di Indonesia gerakan anti imunisasi
mulai berkembang dan membuat para orangtua bimbang. Dari sejarah, kita
bisa melihat dengan jernih asal muasal vaksinasi, dan apakah betul
vaksinasi memang hanya merupakan teori konspirasi untuk melemahkan
suatu kaum sehingga patut dihindari? Dan apakah betul manfaat
vaksinasi lebih sedikit daripada kebaikannya sehingga layak untuk
diantipati? Mari kita kaji lagi dengan seksama dan hati-hati.

Gerakan Anti-Imunisasi

Sebetulnya anti imunisasi sudah ada sejak jaman dulu, bahkan sejak
Edward Jenner dengan vaksinasi temuannya berhasil mengurangi kasus
smallpox dengan sangat signifikan. Poland GA dan Jacobson RM di tahun
2001(7) dalam artikelnya yang diterbitkan oleh Vaccine jurnal
mengatakan bahwa CDC (The Center for Disease Control and Prevention)
telah membuat booklet yang didalamnya mengumpulkan kritik dan
keberatan dari para anti imunisasi berkaitan dengan vaksinasi. Selain
alasan teori konspirasi dan politik seperti kecurigaan terhadap
keuntungan yang didapat perusahaan vaksin, isu kaum minoritas, serta
genocide ( pembunuhan masal suatu kaum), isu-isu lain juga muncul.
Jika membaca website-website anti imunisasi dalam internet, isue-isue
tersebut memang sering disebut-sebut diantaranya: bahwa penyakit sudah
mulai hilang sebelum vaksin digunakan, jadi buat apa divaksinasi;
bahwa alih-alih meningkatkan kekebalan tubuh, vaksin malah menyebabkan
kesakitan dan kematian; bahwa penyakit yang bisa dicegah oleh vaksin
sudah dieliminasi jadi buat apa divaksin; bahwa semakin banyaknya
vaksin yang masuk bisa menyebabkan kekebalan tubuh kita terbebani; dan
bahwa cara vaksin bekerja dengan menanamkan bibit penyakit untuk
meningkatkan kekebalan tubuh adalah cara yang tidak alami.

Masih dalam jurnal yang sama dikatakan bahwa saat ini lebih dari 300
anti vaccine website tersebar di internet. Para aktivis anti imunisasi
tersebut tidak hanya mengambil keuntungan dari kemudahan penyebaran
informasi dari debat di internet, tetapi juga melebih-lebihkan dan
mendramatisir kasus-kasus reaksi efek samping akibat imunisasi kepada
media dan masyarakat. Informasi-informasi yang seolah ilmiah, padahal
kadang salah kaprah atau diinterpretasikan secara salah menimbulkan
ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat. Fakta yang sesungguhnya,
data ilmiah yang valid dan bisa dipercaya telah dikaburkan oleh media
dan gerakan anti imunisasi sehingga ketakutan masyarakat semakin
menjadi.

Fakta yang tidak akurat

Dokter Ed Friedlander dalam websitenya(8) telah membeberkan beberapa
contoh kesalahan interpretasi yang sering terjadi entah disengaja
ataupun tidak oleh para anti imunisasi. Menurut dokter Ed, dengan
membaca tulisan-tulisan yang sekilas mencantumkan sumber jurnal dan
orang terkenal atau para ahli, orang awam yang tidak mengerti dunia
ilmiah akan segera terpengaruh oleh tulisan-tulisan tersebut.
Contohnya bisa kita lihat dari sebuah website anti imunisasi berbahasa
Indonesia yang penulisannya seperti ini:

�SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) naik dari 0.55 per 1000 orang di
1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota.
Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 � 4 bulan, waktu di mana vaksin
mulai diberikan kepada bayi. 85% kasus SIDS terjadi di 6 bulan pertama
bayi. Persentase kasus SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9
per 1000 dari 1953 sampai 1992. Naikan kematian akibat SIDS meningkat
pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena perbaikan
sanitasi dan kemajuan medikal kecuali SIDS. Kasus kematian SIDS
meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan kepada balita naik
secara meyakinkan menjadi 36 per anak.�

Tulisan ini tidak memberikan kutipan dari mana sumber asli jurnal
ilmiahnya, padahal data-data merujuk tentang penelitian yang
semestinya berasal dari jurnal. Lalu, kalau melihat websitenya, ada
jualan obat herbal juga dibaliknya. Sementara kalau melihat jurnal
ilmiah, issue tentang vaksin DPT dan hubungannya dengan SIDS ini telah
dibantah. Sejak 1982, telah dilakukan penelitian secara mendalam
tentang hubungan antara vaksinasi DPT (Diptheri, Pertusis, dan
Tetanus) dan SIDS, tapi ternyata tidak ada hubungannya. Dari telaah
dokter Ed, data yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara vaksin
DPT dan SIDS bisa didapatkan dari jurnal-jurnal berikut: J. Ped. 129:
695, 1996; Am. Fam. Phys. 54: 185, 1996. Malah berdasarkan penelitian
dari Edinburgh (FEMS Immuno. Med. Micro. 25: 183, 1999) imunisasi DPT
justru bisa melawan SIDS. SIDS sendiri kemungkinan malah disebabkan
oleh pertusis (Eur. J. Ped. 155: 551, 1996.).

Begitu juga dengan issue lain seperti vaksin hepatitis B menyebabkan
penyakit multiple sclerosis, issue vaksin MMR menyebabkan autism, dan
issue-issue lainnya, semua sudah dibantah secara ilmiah(9).

Memang betul vaksin adalah obat yang tidak mungkin 100 persen sempurna
dan aman, jadi walaupun diciptakan untuk mencegah penyakit tapi tentu
bisa menyebabkan efek samping. Sejak 1990, CDC and FDA sudah membuat
VAERS The Vaccine Adverse Event Reporting System untuk mendeteksi
reaksi yang tidak diinginkan atau efek samping dari vaksinasi(10).
Setelah kasus dilaporkan, badan ini akan melacak apakah penyebabnya
memang lantaran vaksinasi atau bukan. Setiap Negara pada prinsipnya
mempunyai lembaga ini yang juga mempunyai fungsi yang sama.

Karena itu sangat disarankan bagi orangtua agar tetap well informed.
Sebelum mengimunisasi anaknya, bertanya, membaca atau mendapatkan
informasi terlebih dahulu tentang kemungkinan efek samping dan reaksi
yang ditimbulkan dari sebuah vaksin serta mengetahui tindakan pertama
yang harus dilakukan ketika terjadi efek samping, sangatlah penting.
Tapi seringnya, meskipun ada, efek samping vaksinasi hanyalah ringan,
jika pun berat umumnya tidak berhubungan langsung dengan imunisasi.
Kalaupun ada hubungan dan akibatnya cukup fatal, itu terjadi hanya 1:
100.000 orang yang telah mendapatkan manfaat imunisasi.

Sayangnya jika ada kejadian fatal, media kerap meniup-niupkan dan
membuatnya bombastis serta emosional, sementara ketika kasus penyakit
yang bisa dicegah dengan vaksinasi mewabah dan menimbulkan kematian
banyak orang, beritanya tidak dibesar-besarkan. Manfaat vaksin yang
lebih besar ketimbang efek sampingnya juga sering tidak dimunculkan.
Alhasil masyarakat semakin ketakutan.

Sebagai contoh, Ben Goldrace, seorang dokter dan penulis science,
dalam sebuah artikelnya menceritakan bahwa 1592 artikel di google news
memberitakan tentang seorang gadis yang meninggal tiba-tiba setelah
mendapatkan vaksin pencegah kanker leher rahim(25). Namun, hanya 363
artikel yang memberitakan bahwa setelah di autopsi ternyata penyebab
kematian si gadis adalah lantaran telah memiliki tumor parah di
paru-parunya yang sebelumnya tak terdiagnosa. Ini menunjukkan bahwa
ketidakseimbangan media dalam pemberitaan ternyata bisa turut andil
dalam penyebaran rumor tak sedap tentang vaksin.

Dampak menolak imunisasi

Padahal dampak dari ketakutan dan menghindari imunisasi ini tidak
sederhana, malah bisa mengancam nyawa. Dengan menolak imunisasi,
sebenarnya yang rugi bukan anak sendiri, tapi kita juga jadi
membahayakan anak lain. Mari kita belajar dari merebaknya kasus
pertusis di Amerika Serikat tahun 2010, beberapa sekolah harus ditutup
dan setidaknya sepuluh bayi meninggal akibat merebaknya pertusis
ini(11). Dan sejak tahun 2007, akibat gerakan anti vaksinasi, telah
terjadi 77.000 penyakit yang sebetulnya bisa dicegah. Dampak secara
tidak langsungnya, gerakan anti vaksinasi ini juga telah mengakibatkan
700 kematian dalam rentang tahun yang sama.

Bukti-bukti ilmiah tentang manfaat vaksin sudah begitu banyak. Beragam
data terpercaya menunjukkan bahwa bila angka cakupan vaksinasi menurun
maka wabah penyakit akan muncul(11, 21). Masih perlu bukti lainnya?
Selain fakta di Amerika Serikat tentang pertusis, bukti nyata juga
baru saja terjadi di Indonesia dengan merebaknya kasus Diptheri di
Jawa Timur. Kasus diptheri tersebut telah menyerang 300 orang dan 11
anak meninggal karenanya. Artikel yang berjudul �Biofarma jawab pro
kontra imunisasi�(12) mengaminkan bahwa dalam 6 tahun belakangan
cakupan imunisasi di Indonesia memang menurun dan salah satunya
terjadi karena gerakan anti imunisasi. Kejadian ini sungguh membuat
miris mengingat diphteri adalah penyakit �urdu� yang sudah lama
kasusnya tidak ditemukan berkat adanya vaksinasi. Bukti lain lagi
terjadi pada merebaknya kasus campak baru-baru ini, yang terjadi di
negara-negara dengan angka cakupan vaksinasi turun seperti di
Prancis, Belgia, Jerman, Romania, Serbia, Spanyol, Macedonia dan
Turkey (11). Baru saja di tahun 2011 juga terjadi 334 kasus campak di
Inggris, padahal tahun sebelumnya hanya 33 kasus.

Meskipun tampaknya sedikit, tapi kerugian akibat merebaknya penyakit
yang bisa dicegah dengan imunisasi ini sungguh tak sedikit. Sebuah
laporan kasus yang ditulis dalam Oxford jurnal(13) menjadi contohnya.
Dilaporkan, seorang wanita yang tidak pernah mendapat imunisasi campak
kemudian terkena campak lalu pergi ke sebuah rumah sakit di Swiss.
Akibatnya setelah itu 14 orang tertular campak dari si wanita,
termasuk 4 orang anak-anak. Kerugian yang ditimbulkan hanya dari 1
wanita ini diperkirakan berkisar $800.000, belum lagi dampak
kesakitan yang ditimbulkan pada 14 orang itu. Lihat, hanya dari satu
orang saja yang menolak vaksinasi, ternyata dampaknya sungguh besar.

Data dalam negeri dari Jawa Barat mencatat bahwa pada tahun 2010 telah
terjadi 25 KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit campak, dengan total 739
penderita, sedangkan pada tahun 2011 status KLB meningkat menjadi 35
kali dengan penderita sebanyak 950 orang(14). Kerugian yang
ditimbulkan sungguh besar, bukan hanya korban tapi juga biaya.
Menurut menteri kesehatan, bila terjadi KLB di suatu daerah, dana yang
dibutuhkan adalah 8 miliar rupiah, itu pun masih harus dibantu
anggaran dari pusat sebesar 13-14 miliar(22). Jumlah uang yang
seharusnya tak perlu terbuang. Sungguh disayangkan.

Isue anti-imunisasi di Indonesia

Imunisasi hanyalah konspirasi Yahudi dan genocide

Bila kita tengok lebih dalam tentang isu anti imunisasi di Indonesia,
belakangan kerap muncul artikel-artikel dan buku-buku bertuliskan
�Bahaya imunisasi dan konspirasi yahudi� lalu isinya kerap
mencantumkan kalimat seperti �Imunisasi bertujuan untuk melenyapkan
sebuah umat�. Teori konspirasi dilandasi oleh asumsi, kecurigaan yang
seringnya tidak rasional, dan lebih memunculkan emosi sehingga sulit
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Meski begitu, teori konspirasi
sangat mudah berkembang dan dipercaya orang, namun sulit untuk
dihilangkan(15).

Goertzel T (2010) (16), dalam tulisannya yang berjudul �Conspiracy
theories in science� mengakui bahwa karena hal-hal yang tidak
objektif diatas, para ilmuwan sering enggan untuk terlibat dalam
diskusi teori konspirasi. Meskipun para ilmuwan telah bekerja sangat
keras untuk tetap objektif dan rasional, misalnya dengan mensyaratkan
tahapan-tahapan ilmiah dalam setiap penelitian; mensyaratkan bahwa
setiap jurnal harus dikritisi lagi oleh sesama ilmuwan (peer reviewed)
dan anonym pula, tapi tetap saja hasil kerja para ilmuwan akan
diserang oleh teori konspirasi.

Ketakutan terhadap science dan keyakinan terhadap teori konspirasi
ini dampaknya sungguh tidak sederhana. Kasus desas desus MMR
(Measleas, Mums, Rubela) vaksin menyebabkan autism di Inggris di
tahun 1998 telah menyebabkan angka cakupan imunisasi di Inggris
menurun tajam(17). Akibatnya wabah campak dan gondongan disana
merebak dan menyebabkan kematian serta cacat berat serta permanen.
Meskipun Andrew Wakefield, dokter yang pertama kali membuat issue
tersebut telah dikenakan sangsi (dicabut ijin prakteknya) dan MMR
telah dinyatakan tidak ada hubungannya dengan autism(23), tapi dampak
kematian dan penyakit yang ditimbulkan telah terjadi dan hanya bisa
disesali.

Ketakutan akan science ini bukan sesuatu yang baru. Benjamin Franklin
juga dulu takut mengimunisasi keluarganya untuk melawan penyakit
smallpox. Namun kemudian dia menyesal ketika anak lelakinya meninggal
di tahun 1736 akibat penyakit tersebut(16). Contoh lain akibat dari
konspirasi adalah issue tentang penyangkalan terhadap AIDS, yang
meyakini bahwa penyakit AIDS bukan disebabkan oleh HIV. Ketika Afrika
Selatan dipimpin oleh presidennya Thabo Mbeki yang mendukung ide
penyangkalan ini, konsekuensinya sungguh hebat(18). Mereka menolak
pengobatan untuk AIDS sehingga akibatnya di tahun 2000 hingga 2005,
terjadi 330.000 kematian akibat AIDS, 117.000 kasus baru HIV dan
35.000 bayi juga diperkirakan terinveksi virus HIV. Data-data
tersebut menunjukkan bahwa dalam hal science, akibat dari meyakini
sebuah teori konspirasi sungguh bisa membahayakan.

Namun, meski dampak yang ditimbulkan dari teori konspirasi telah
diketahui, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat, akhirnya
keputusan untuk mempercayai teori ini atau tidak, berpulang pada
masing-masing individu. Keputusan yang dibuat tentu tak bisa
main-main, karena akibatnya berhubungan dengan nyawa orang lain.

ASI bisa menggantikan imunisasi

Salah satu saran dari para anti imunisasi adalah menawarkan ASI
sebagai alternatif untuk menggantikan imunisasi. Apakah memang ASI
bisa menggantikan imunisasi?

ASI memang mengandung antibodi untuk melawan kuman, terutama jenis IgA
(Imunoglobulin A) (19). Antibodi adalah protein yang dibuat oleh
sistem kekebalan tubuh untuk melawan benda asing yang masuk (antigen)
seperti bakteri, virus maupun toxin. Tubuh membuat imunoglobulin yang
berbeda untuk melawan antigen yang berbeda pula. Misalnya antibodi
untuk penyakit cacar air akan berbeda dengan jenis antibodi untuk
penyakit pneumonia.

Sejak lahir bayi sudah membawa perlindungan terhadap beberapa penyakit
dari antibodi ibunya (IgG) yang disalurkan lewat placenta selama
dalam kandungan. Seperti disebutkan sebelumnya, bayi yang mendapat ASI
juga akan mendapatkan tambahan antibodi (IgA) dari ASI. Tetapi
perlindungan yang didapatkan si bayi tersebut (baik dari antibodi ibu
maupun ASI) tidak bisa digunakan untuk melawan semua penyakit dan
sifatnya pun hanya sementara. IgG ini akan menghilang menjelang si
anak berusia setahun.

Sebagai contoh, antibodi dari ibu akan memberikan perlindungan
sementara terhadap penyakit campak hingga antibodi ibu menghilang saat
9 bulan. Itulah mengapa vaksinasi campak diberikan saat anak berusia 9
bulan (15 bulan untuk MMR). Namun meski ampuh melawan penyakit
campak, antibodi ibu tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit
pertusis (batuk rejan). Sedangkan untuk ASI, antibodi dalam ASI lebih
efektif bekerja melawan kuman-kuman yang ada di pencernaan tapi kurang
efektif untuk melawan penyakit infeksi pernafasan.

Jadi meskipun bayi sudah mendapat kekebalan dari si ibu dan juga dari
ASI, tetap saja tidak bisa menggantikan imunisasi. Sebab, selain
alasan yang sudah disebutkan diatas, imunisasi juga bersifat spesifik
untuk penyakit tertentu. Imunisasi bisa melindungi penyakit-penyakit
spesifik yang tidak bisa (atau tidak cukup) dilakukan oleh antibodi
ibu dan antibodi dari ASI.

Kehalalan vaksinasi

Dalam sebuah tanya jawab soal �Pandangan Islam terhadap imunisasi
pada anak untuk melawan penyakit�, Yusuf Qardawi, seorang ilmuwan
Islam mengatakan bahwa menggunakan vaksin untuk meningkatkan
kekebalan tubuh adalah halal karena bertujuan untuk mencegah sesuatu
yang membahayakan(19). Menjadi tugas seorang muslim untuk sebisa
mungkin mencegah segala sesuatu yang membahayakan. Selain itu menurut
beliau orangtua bertanggungjawab untuk sebisa mungkin melindungi
anak-anaknya dan meningkatkan daya tahan tubuh mereka untuk melawan
penyakit dan segala sesuatu yang berbahaya.

Dalam tanya jawab tersebut, Qardawi lalu secara spesifik menyoroti
soal polio vaksin, dan menurut beliau, vaksin tersebut sudah digunakan
sejak lama di seluruh dunia termasuk oleh lebih dari 50 negara muslim.
Vaksin tersebut terbukti efektif untuk melawan penyakit polio, dan
tidak ada ahli agama Islam terutama dari Universitas di Mesir yang
keberatan untuk menggunakan vaksin ini.

Di Indonesia sendiri, Biofarma sebagai satu-satunya industri vaksin di
Indonesia sudah memperoleh prakualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia
(WHO) setidaknya untuk vaksin dasar: polio, campak, hepatitis B, BCG,
dan DTP (Difteri, Pertusis dan Tetanus) (20). Biofarma juga telah
menjadi kiblat industri vaksin bagi 57 negara Islam dengan program
vaksin halal dan berkualitas. Untuk menjamin vaksin produksinya
termasuk kualifikasi halal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) diundang
untuk menyaksikan proses pembuatan vaksin hingga akhirnya MUI
mendukung vaksin-vaksin Biofarma dan membantu sosialiasi vaksin halal
biofarma.

Bagaimana vaksin dibuat

Dalam kutipan salah satu artikel yang menolak imunisasi, tertulis
kalimat-kalimat sebagai berikut:

�Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita
tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tau bahwa vaksin didapat
dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan
penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang
inang dari tempat virus dibiakkan tersebut.�

Benarkah demikian? Sebetulnya, pembuatan vaksin merupakan proses yang
sangat komplex. Untuk membuat vaksin yang aman membutuhkan penelitian
yang intensif dan fase-fase pengujian yang rumit. Pembuatan sebuah
vaksin mulai dari penemuan penyebab penyakit hingga menjadi vaksin
yang siap dipasarkan membutuhkan waktu sekira 50 tahun. Dengan
kemajuan teknologi saat ini, waktu memang bisa dipersingkat, tapi
tetap saja membutuhkan waktu yang lama(21).

Cara pembuatan vaksin bermacam-macam, ada yang dengan melemahkan
kumannya, ada yang dengan mematikan, hanya mengambil sebagian unit
kuman yang memang bisa langsung merangsang sistem kekebalan tubuh
(tidak seluruh kuman), mengambil toxin si kuman lalu mematikannya
(toxoid vaccine), atau membuat link antigen (conjugate vaccine). Saat
ini sedang dikembangkan juga DNA vaccine. DNA dari antigen si kuman X
diambil, lalu dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Nanti DNA kuman dalam
sel tubuh manusia itu akan menyuruh si sel untuk memproduksi antigen.
Jadi sel tubuh sendiri yang akan menjadi �pabrik pembuat vaccine�:
memproduksi sendiri antigen yang diperlukan untuk merangsang timbulnya
kekebalan tubuh.

Sehubungan dengan kutipan anti imunisasi diatas, terlihat jelas bahwa
sebetulnya vaksin bukan didapat dari darah sang penderita penyakit.
Tetapi vaksin berasal dari kuman yang bisa jadi memang diambil dari
penderita yang sakit. Namun bukan DNA dari darah orang yang sakit yang
diambil, tapi DNA si kuman atau kumannya secara utuhlah yang diambil.
Jadi pembuatan vaksin tidak berhubungan dengan DNA si penderita
penyakit.

Untuk melemahkan atau mematikan kuman yang hendak dijadikan vaksin,
memang membutuhkan tempat pembiakan, bisa dengan media tumbuhan,
binatang, ataupun jaringan tubuh manusia(24). Namun setelah si kuman
berkembang biak lalu melemah atau dimatikan, hasil perkembangbiakan
virus atau bakteri ini akan dipisahkan dari media untuk
mengembangbiakkannya. Jadi tempat pembiakan ini hanya merupakan media
dan selanjutnya yang digunakan untuk menjadi vaksin hanyalah kumpulan
kuman-kuman yang dilemahkan atau dimatikan tadi.

Setelah vaksin berhasil dibuat, proses sehingga bisa dipasarkan masih
panjang. Pertama, vaksin ini harus lulus uji test keamanan terhadap
binatang terlebih dulu. Bila aman, lalu bisa lanjut ke fase uji I,
yang dilakukan hanya pada sekira 10-20 orang. Bila lulus dan aman,
baru bisa maju ke fase uji II yang dilakukan pada orang lebih banyak
dengan jumlah ratusan. Setelah itu, si vaksin harus melewati lagi uji
fase II b dan III yang diujikan pada orang lebih banyak lagi. Setelah
lulus uji III pun masih harus dipantau keamanannya jika mulai
dipasarkan. Intinya, pembuatan sebuah vaksin membutuhkan proses
panjang dan kompleks untuk kemudian bisa lolos dipasaran.

Penutup

Data-data dan ajakan untuk mengkaji ulang tentang penolakan anti
imunisasi telah dibeberkan. Manfaat dan kerugian imunisasi juga bisa
ditimbang. Kita tidak hidup di jaman dimana penyakit-penyakit infeksi
yang bisa dicegah dengan vaksinasi seperti polio, diptheri, pertusis
(batuk rejan), campak, rubella (campak jerman), dan gondongan masih
begitu merebak. Akibatnya apresiasi terhadap keberadaan vaksin untuk
mencegah penyakit tersebut menjadi berkurang. Di abad ke 19 dan awal
abad 20 dulu, ratusan ribu orang di Amerika Serikat terserang penyakit
ini setiap tahunnya, puluhan ribu orang pun meninggal terutama
anak-anak. Di jaman itu, mendengar nama-nama penyakitnya saja sudah
membuat orang-orang ketakutan(21). Coba bayangkan jika vaksin tidak
ditemukan lalu hingga saat ini jumlah anak yang menderita penyakit
tersebut masih begitu besar, anak-anak kita terus-terusan terkena
penyakit menular dan terancam meninggal, apa kita tak kelimpungan?

Tapi sekali lagi, akhir sebuah keputusan tentu saja berpulang pada
masing-masing orang. Benar, bahwa setiap manusia punya hak atas sebuah
pilihan, yang harus dihargai dan tentu tidak bisa diabaikan. Namun
tolong, sebelum memutuskan, pikirkan dengan matang, cek dan ricek
informasi yang datang. Gunakan hati, pikiran dan akal untuk mencari
yang benar, bukan sekedar ikut-ikutan atau karena pengaruh peer
pressured, tekanan dari kawan dan handai taulan. Tolong digarisbawahi
benar bahwa keputusan yang diambil kemudian, bukan hanya berpengaruh
pada anak kita seorang, tapi juga beresiko menolong atau membahayakan
anak-anak di sekitar. Ingat, keputusan kita bisa mematikan. Tegakah
hati melihat anak-anak jiwanya terancam hanya karena kita gegabah
dalam mengambil keputusan? (Agnes Tri Harjaningrum)

[ Download versi: e-book PDF, 23 halaman ]

Daftar Pustaka

Mercer J, PhD. Lady Mary Wortley Montagu: A contributor to public
health, about a fascinating figure in the history of vaccination.
[Online].;2009 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari:
http://www.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagu-contributor-public-health

ScienceDaily. How poxviruses such as samllpox evade the immune system.
[Online].;2008 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari:
http://www.sciencedaily.com/releases/2008/01/080131122956.htm

CDC. Smallpox Disease Overview. [Online].;2007 [dikutip 15 October
2001]. Diakses dari:
http://www.bt.cdc.gov/agent/smallpox/overview/disease-facts.asp

WHO. Smallpox. [Online].;2001 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/smallpox/en/

The history of vaccines.Timeline. [Online].;2001 [dikutip 15 October
2001]. Diakses dari:
http://www.historyofvaccines.org/content/timelines/all

Rosenhek J. Safe smallpox innoculation. [Online].;2005 [dikutip 15
October 2001]. Diakses dari:
http://www.doctorsreview.com/history/feb05-history/

Poland GA, Jacobson RM. Understanding those who do not understand: a
brief review of the anti-vaccine movement. Vaccine.[Online].;2010
[dikutip 15 October 2001]. Diakses dari:
http://www.morrisonlucas.com/GL/vaccines/Vaccine_19_2440_anti_vaccine_movement.pdf

Friedlander E. The Anti-Immunization Activists: A Pattern of
Deception. [Online].;2010 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari:
http://www.pathguy.com/antiimmu.htm

The College of Phycisian of Philadelphia. History anti vaccination
movements. [Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari:
http://www.historyofvaccines.org/content/articles/history-anti-vaccination-movements

10. CDC. Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS)
[Online].;2011 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:
http://www.cdc.gov/vaccinesafety/Activities/vaers.html

11. Los Angeles Time. Public Health: Not vaccinated, not acceptable?
[Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari:
http://articles.latimes.com/2011/jul/18/opinion/la-oe-ropeik-vaccines-20110718

12. Antaranews. Biofarma jawab pro kontra imunisasi. [Online].;2011
[dikutip 15 October 2011]. Diakses dari:
http://www.antaranews.com/berita/278863/bio-farma-jawab-pro-kontra-imunisasi

13. Lindsay A.The hazards of low vaccination rates. [Online].;2010
[dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:
http://www.sonic.net/~medsoc/images/bulletins/AUGUST%202011%20EXCERPTS.pdf

14. Fikri A. Selama 2011, penderita campak di Jawa Barat tembus 950
orang. [Online].;2011 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:
http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2011/10/18/brk,20111018-361978,id.html

15. Pigden C. Conspiracy theory and conventional wisdom.
[Online].;2007 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:
http://www.niu.edu/~gpynn/Pidgen_ConspiracyTheories&TheConventionalWisdom.pdf

16. Goertzel T. Conspiracy theories in science. [Online].;2010
[dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:
http://www.nature.com/embor/journal/v11/n7/full/embor201084.html

17. McIntyre P dan Leask J. Improving uptake of MMR vaccine.
[Online].;2008 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2287215/?tool=pmcentrez

18. Chigwedere P, Seage GR, Gruskin S, Lee TH, Essex M (October
2008). "Estimating the Lost Benefits of Antiretroviral Drug Use in
South Africa". Journal of acquired immune deficiency syndromes (1999)
49 (4): 410�415

19. Immunization Advisory Centre University of Auckland. The infant
immune system and immunization. [Online].;2006 [dikutip 20 October
2011]. Diakses dari:
http://www.immune.org.nz/site_resources/Professionals/Vaccinology/The_infant_immune_system_and_immunisation.pdf

20. Majelis Ulama Indonesia. Biofarma �kiblat� vaksin halal dunia.
[Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari:
http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=545%3Abio-farma-qkiblatq-vaksin-halal-dunia&catid=1%3Aberita-singkat&Itemid=50

21. National Institute of Allergy and Infectious. Understanding
vaccines, what they are how they work. [Online].;2008 [dikutip 20
October 2011]. Diakses dari:
http://www.niaid.nih.gov/topics/vaccines/documents/undvacc.pdf

22. Pramudiarja A, U. Satu saja anak tak diimunisasi efeknya bisa
memicu wabah. [Online].;2011 [dikutip 20 October 2011]. Diakses
dari: http://us.health.detik.com/read/2011/10/18/115311/1746520/764/satu-saja-anak-tak-diimunisasi-efeknya-bisa-memicu-wabah

23. Triggle N. MMR doctor struck from register. [Online].;2010
[dikutip 16 October 2011]. Diakses
dari:http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/8695267.stm

24. Ellis R,W. New vaccines technology. [Online].;2001 [dikutip 20
October 2011]. Diakses
dari:http://61.183.207.199/suite/resource/download.do?key=1754864

25. Goldrace B. And now, nerd news. [Online].;2009 [dikutip 20 October
2011]. Diakses dari:
http://www.badscience.net/2009/10/and-now-nerd-news/#more-1369

--
Dina Kurniasari
"Semoga semua bayi di dunia mendapat ASI dari ibunya"

11a.

Re: Imunisasi PCV + Varicella

Posted by: "Dewi Hartati R Harris" dewihartati_titi@yahoo.com   dewihartati_titi

Sun Oct 23, 2011 6:57 pm (PDT)



Dear mb Inta n mb Nia....

makasih atas responsenya yaaa....

best regards,
Dewi
#cintaberatsamamilisini#

Sent from my iPad

11b.

9m imunisasi polio lagikah?

Posted by: "Abrar Mom" abrar_mom@yahoo.com   abrar_mom

Sun Oct 23, 2011 7:09 pm (PDT)



dear docs n sps

hari ini anakku 9m1d jadwalnya imunisasi campak
karena aku lg di luar kota, pengasuhnya yang pergi
tapi barusan pulang katanya dikasih polio jg
padahal kan ga ada jadwal polio umur 9m, terakhir waktu 6m
gimana ya klo kebanyakan polionya? apa efeknya? tolong banget ya..
makasih sebelumnya buat responnya

[Non-text portions of this message have been removed]

11c.

Re: 9m imunisasi polio lagikah?

Posted by: "niken qinen" nikenqinen@gmail.com   qinen_q9

Sun Oct 23, 2011 7:16 pm (PDT)



Mom Abrar...
Pemberian vaksin polio ini terkait program PIN yang sedang berlangsung.
Kelebihan dosis vaksin tidak membahayakan, sebaliknya dapat menambah
kekebalan pada imunitas tubuh.

Salam,
-Niken-

2011/10/24 Abrar Mom <abrar_mom@yahoo.com>

> **
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]

Recent Activity
Visit Your Group
Meditation and

Lovingkindness

A Yahoo! Group

to share and learn.

Yahoo! Health

Early Detection

Know the symptoms

of breast cancer.

Sell Online

Start selling with

our award-winning

e-commerce tools.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB           : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter      : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

No comments: