Wednesday, October 19, 2011

[sehat] Digest Number 16292

Milis SEHAT Group

Messages In This Digest (25 Messages)

1a.
Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi From: tristanathan
1b.
Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi From: siti amatullah mutmainah
1c.
Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi From: tika tk
1d.
Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi From: twinkle-little.z@telkomsel.blackberry.com
1e.
Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi From: piep71@ymail.com
2a.
Re: Esperson From: siti amatullah mutmainah
2b.
Re: Esperson From: Ninik Setiowati
2c.
Re: Esperson From: siti amatullah mutmainah
2d.
Re: Esperson From: risma
2e.
Re: Esperson From: Ninik Setiowati
2f.
Re: Esperson From: Ninik Setiowati
2g.
Re: Esperson From: fifiejohan@yahoo.com
2h.
Re: Esperson From: risma
3.1.
Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm From: indah_suciati@yahoo.com
3.2.
Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm From: marcella.kasih@indosat.blackberry.com
3.3.
Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm From: risma
3.4.
Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm From: Muhammad Arief Budiman
3.5.
Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm From: marcella.kasih@indosat.blackberry.com
4a.
Re: FW: [Hukum-Online]  Skandal Dokter dan Farmasi dampak mahalnya p From: WienTha
5.1.
Re: Ask--dokter kulit From: aina
5.2.
Re: Ask--dokter kulit From: risma
6a.
Re: Share ttg flash card dunk?? From: aries3_dee84@yahoo.com
7.
[news] Anak Indonesia Alami Kekurangan Zat Besi dan Zink From: /ghz
8.
Hitam - Putih Metode Glenn Doman From: /ghz
9a.
Re: FW: [Hukum-Online] Penyebab Harga Obat Mahal - Dokter Raup Fee O From: /ghz

Messages

1a.

Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi

Posted by: "tristanathan" tristanathan.amadeo@gmail.com   trinovi

Tue Oct 18, 2011 6:37 pm (PDT)



asli, ngiler deh, dan iri se iri-irinya....
sambil bermimpi, kapan indonesia bs seperti ini ya? :(

makasih sharingnya ya dok

-ria-

2011/10/18 Laksmi Purwitosari <laksmipurwitosari@yahoo.com>

> **
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]

1b.

Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi

Posted by: "siti amatullah mutmainah" amianakbinus@yahoo.com   amianakbinus

Tue Oct 18, 2011 7:01 pm (PDT)



Huaaaaaaaa kereeeen...
Makasi ya postingnya dr.laksmi ...

Butuh tekad yg kuat, support dari smua kalangan, dan tindakan yang nyata di negeri ini agar bisa spt itu ..

Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry® via Smart 1x / EVDO Network.
1c.

Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi

Posted by: "tika tk" tika_ktk@yahoo.com   tika_ktk

Tue Oct 18, 2011 7:28 pm (PDT)



TFS Dr Laksmi :)
Hanya bs berdoa dan bermimpi semoga nantinya Indonesia bisa menerapkan pelayanan seperti itu. Amin.

Warm Regards,
Tika
*pernah pny pengalaman ga ngenakin sama pelayanan RS di Jkt.

1d.

Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi

Posted by: "twinkle-little.z@telkomsel.blackberry.com" twinkle-little.z@telkomsel.blackberry.com

Tue Oct 18, 2011 7:41 pm (PDT)



Ya Allah beda bgt sm pelayanan di indonesiaaaa (ʃ˘̩̩̩_˘̩ƪ)

Sbenernya yg beda in apa ya? Kan sekolahnya jg sama kan? Apa karakter manusianya ya? Kalo di indonesia krn negara berkembang jd lebih materialistis...?

Di indonesia, setiap masuk ugd seringnya ga bs keluar lagi hehe minimal keluar bawa obat2an segambreng.. pdhl diagnosanya blm pasti..

Oiya, sy inget cerita teman sy yg tergolong org tidak mampu, dy tdk mau mengurus jamkes nya krn dia blg " ga ada guna nya" sama aja harus bayar mahaal mana ngurusnya susah, pdhl wkt itu anak nya lg koma berminggu2 di rs :'(

Semoga kita rakyat indonesia dibukakan pikiran dan hati nya untuk lebih peka terhadap sesama n ga mjd pribadi yg materialistis ...

*maaf curcol nya panjang, soalna baru aja menghadapi pelayanan kesehatan yg menyedihkan + disuruh bayaar mahal untuk itu :'( *

Zeta
Powered by Telkomsel BlackBerry®
1e.

Re: Contoh Pelayanan kesehatan di USA by Panji Hadisoemarto (Kompasi

Posted by: "piep71@ymail.com" piep71@ymail.com

Tue Oct 18, 2011 7:46 pm (PDT)



Iya nih bikin iri, tp dpt cerita sodara yg lg tubel di shiffield Inggris memang kalo lg Tubel di luar negeri ada fasilitas pengobatan/RS gratis, sekolah, susu gratis dll

Cuma mau komen ini :
" menyimpulkan kalau anak saya memang terkena radang paru-paru yang disebabkan oleh virus. Sayangnya, katanya, tidak ada obat untuk infeksi virus, yang juga saya ketahui. Namun tidak seperti yang kita harapkan di Indonesia, dokter tersebut tidak meresepkan obat apa pun. Katanya, obat yang kami berikan di rumah, obat panas dan obat batuk anak, sudah cukup."

Mau tanya Obat Batuk Anak apa ya ???...

Sarica
#jogja puanasssnya muantappp#
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
2a.

Re: Esperson

Posted by: "siti amatullah mutmainah" amianakbinus@yahoo.com   amianakbinus

Tue Oct 18, 2011 6:44 pm (PDT)



Dear mba fifie,
Pastikan dahulu gatalnya knp..
(Sdh dibantu mba risma, jeung marcel yah)
Kalau gatal karena jamur, akan smakin meluas jika diberi steroid ..
Bisa cocokkan gambar (di situs dermnet) dgn keyword yg diberikan oleh mba risma

Smoga lekas membaik

Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry® via Smart 1x / EVDO Network.
2b.

Re: Esperson

Posted by: "Ninik Setiowati" ninies11@gmail.com   ninies_11

Tue Oct 18, 2011 7:10 pm (PDT)



Wahhh topik yg tepat utk pertanyaan saya hehehe ikut nanyak yak bolehkan? Kulit kaki saya kdg suka gatal bgttt dan nggak tahan selalu saya garuk,hasilnya gatelnya makin melebar dan jadinya hitam2 gitu. Tapi cuma beberapa minggu setelah itu gatalnya ilang dan kulit bersih kembali tanpa saya pakai obat apapun. Dan lucunya si gatal ini muncul 1 tahun sekali, udah saya coba observasi takutnya alergi hbs makan apa gt tapi sampai skr nggak nemu jawabannya dan belum pernah ke dokter. Bahaya nggak ya? Apakah itu termaksud dermatitis? Kalo si gatal dtg lagi perlu nggak ke dokter?

terima kasih

Ninies
Sent from my 9700®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "siti amatullah mutmainah" <amianakbinus@yahoo.com>
Sender: sehat@yahoogroups.com
Date: Wed, 19 Oct 2011 01:31:34
To: Milist sehat<sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: sehat@yahoogroups.com
Subject: Re: [sehat] Esperson

Dear mba fifie,
Pastikan dahulu gatalnya knp..
(Sdh dibantu mba risma, jeung marcel yah)
Kalau gatal karena jamur, akan smakin meluas jika diberi steroid ..
Bisa cocokkan gambar (di situs dermnet) dgn keyword yg diberikan oleh mba risma

Smoga lekas membaik

Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry® via Smart 1x / EVDO Network.

------------------------------------

Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================Yahoo! Groups Links

2c.

Re: Esperson

Posted by: "siti amatullah mutmainah" amianakbinus@yahoo.com   amianakbinus

Tue Oct 18, 2011 7:15 pm (PDT)



Hi, mba ninies..
IMO, kalau sdh tau cara mengatasinya dan tdk ada keluhan lain yang dirasa mengganggu sih ga usah .. :)

Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry® via Smart 1x / EVDO Network.
2d.

Re: Esperson

Posted by: "risma" bunda_fazil@yahoo.com   bunda_fazil

Tue Oct 18, 2011 7:18 pm (PDT)




Mba ninik,
Coba di cek dulu gatal yg spt apa
Bisa coba pake symptom checker di mayoclinic
Bisa liat gambar2 di dermnet
Ato sekalian mau konsul dulu ke dokter...ya boleh aja...
Klo udah ketauan gatalnya krn apa, baru pikirin treatmentnya...

-risma-

Sent from the bottom of my heart®
powered by believing in You
2e.

Re: Esperson

Posted by: "Ninik Setiowati" ninies11@gmail.com   ninies_11

Tue Oct 18, 2011 7:22 pm (PDT)



btw saya nich orangnya parnoan mbak, sakit dikit mikirnya dah macem2 takutnya kanker kulitlah dll.tapi mudah2an sich cuma gatal biasa yak. thanks ya mbak ami ;-)
Sent from my 9700®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "siti amatullah mutmainah" <amianakbinus@yahoo.com>
Sender: sehat@yahoogroups.com
Date: Wed, 19 Oct 2011 02:15:19
To: Milist sehat<sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: sehat@yahoogroups.com
Subject: Re: [sehat] Esperson

Hi, mba ninies..
IMO, kalau sdh tau cara mengatasinya dan tdk ada keluhan lain yang dirasa mengganggu sih ga usah .. :)

Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry® via Smart 1x / EVDO Network.

------------------------------------

Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================Yahoo! Groups Links

2f.

Re: Esperson

Posted by: "Ninik Setiowati" ninies11@gmail.com   ninies_11

Tue Oct 18, 2011 7:25 pm (PDT)



Thanks juga mbak risma, nanti tak coba browsing gambar dermatitis mudah2an ada yg cocok dgn gatal yg saya alami ;-)
Sent from my 9700®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "Ninik Setiowati" <ninies11@gmail.com>
Date: Wed, 19 Oct 2011 02:22:21
To: <sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: ninies11@gmail.com
Subject: Re: [sehat] Esperson

btw saya nich orangnya parnoan mbak, sakit dikit mikirnya dah macem2 takutnya kanker kulitlah dll.tapi mudah2an sich cuma gatal biasa yak. thanks ya mbak ami ;-)
Sent from my 9700®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "siti amatullah mutmainah" <amianakbinus@yahoo.com>
Sender: sehat@yahoogroups.com
Date: Wed, 19 Oct 2011 02:15:19
To: Milist sehat<sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: sehat@yahoogroups.com
Subject: Re: [sehat] Esperson

Hi, mba ninies..
IMO, kalau sdh tau cara mengatasinya dan tdk ada keluhan lain yang dirasa mengganggu sih ga usah .. :)

Rgds,
Ami


Sent from AmiBerry® via Smart 1x / EVDO Network.

------------------------------------

Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================Yahoo! Groups Links

2g.

Re: Esperson

Posted by: "fifiejohan@yahoo.com" fifiejohan@yahoo.com

Tue Oct 18, 2011 7:34 pm (PDT)



Mba Risma, sory keywordnya apa ya?
Thanks
Fie
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "risma" <bunda_fazil@yahoo.com>
Sender: sehat@yahoogroups.com
Date: Wed, 19 Oct 2011 00:48:25
To: Milis sehat<sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: sehat@yahoogroups.com
Subject: Re: [sehat] Esperson


Aihh...mpok bawel liat aja...
Tp nambahin dikit ya...
Resep gatel yg aku share di thread itu utk biduran
Sementara yg di thread ini kayaknya krn dermatitis ya...
Nah klo yg ini mba ira udah share juga tuh bhw gatel dermatitis terkait dgn dermatitisnya.
Jd klo dermatitisnya udah baekan...si gatal juga baekan...

Pengalaman sy dgn gatal dermatitis juga juga gak saya apa2in tuh....cuma diolesin salep hidrocortison aja utk dermatitisnya...gatalnya tahan aja :)
Tp beberapa SP mencoba dikompres dgn NaCl.

-risma-

Sent from the bottom of my heart®
powered by believing in You

------------------------------------

Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================Yahoo! Groups Links

2h.

Re: Esperson

Posted by: "risma" bunda_fazil@yahoo.com   bunda_fazil

Tue Oct 18, 2011 7:37 pm (PDT)




Keyword utk cari apa?
Dermatitis?
Biduran?
Urticaria?
Hives?
Sorry, gak tau keyword apa maksudnya?

-risma-

Sent from the bottom of my heart®
powered by believing in You
3.1.

Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm

Posted by: "indah_suciati@yahoo.com" indah_suciati@yahoo.com   indah_suciati

Tue Oct 18, 2011 6:45 pm (PDT)



Ngomong2 soal sidik jari,
Si tukang sidik ini sempat datang ke kantor lewat HRD. Buka stand yg katanya gratis.
Berbondong2lah teman2 kantor kesitu buat tahu bakatnya masing2. Ngantrinya walah ampyuun..
Yaah siapa tau ternyata bakat jadi artis, hahaha..
Testimoni dari seorang temen, setelah finger print test dijelaskan bahwa intinya karir sudah sesuai dg yang didapat saat ini. Weleh, semua jg tau..
Kalo mau tau lebih lanjut bayar lagi 300 rb. Gubraaak..
Nginyem dah temen saya..

Untung udah baca di linknya Pak'e Ghozan..

Indah Suciati, mom of Afi, Sasya, Dheea

3.2.

Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm

Posted by: "marcella.kasih@indosat.blackberry.com" marcella.kasih@indosat.blackberry.com

Tue Oct 18, 2011 6:52 pm (PDT)



Pak E
Blognya dong
Reposting, tulung
Tks sebelumnya, file ku hilang di rumah

Regards,
Marcella
*huhuhu
Sent from my BlackBerry0…3
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
3.3.

Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm

Posted by: "risma" bunda_fazil@yahoo.com   bunda_fazil

Tue Oct 18, 2011 6:58 pm (PDT)




Wakakaka...
Asli ngakak baca yg ini.
Kirain yg minat finger print test ini adalah para ortu, utk anaknya.
Lah kok yg wis tuwek2 juga minat rupanya.
Hihihi

Klo hasil test kerjaan gak sesuai emang mau keluar?
Ah, lucu2 bgt...

-risma-

Sent from the bottom of my heart®
powered by believing in You
3.4.

Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm

Posted by: "Muhammad Arief Budiman" feira24@yahoo.com   feira24

Tue Oct 18, 2011 7:02 pm (PDT)



Hihihihi (Ú"ײ) iya udah baca2 jg ttg pseudo..tp buat saya menghargai temen saya yg ngasih hadiah, bikin saya sehat juga..

Kan yg dikhawatirkan adalah ke anaknya, ntar ortu jd terobsesi dgn hasil testnya..atau apalah..
Nah, disini perlu kebijaksanaan..

Buat saya sih, being open aja

Toh dr kecil anakku udah kena label macem2, secara "unyeng2"nya dua..haha..
Udaah kebal deh "wow, unyeng2nya duaa!!"

Saya blg, "iya, satunya baik, satunya pinter"

Nanya lg "bintangnya apa?" Hahahaha

Jd melantur deh..so, sekali lg, cerita gw td bukan maksud encourage utk coba test sidik jari yaa..

Cuma berbagi ajaa..bahwa informasi dr manapun itu netral..be wise..
(Setidaknya itu pelajaran buat gw)

Salam hormat,
Arief
Sent from BlackBerry® on 3
3.5.

Re: Need_Info: Tes Bakat Anak lewat Sidik Jari di Bekasi/Jakartabnnm

Posted by: "marcella.kasih@indosat.blackberry.com" marcella.kasih@indosat.blackberry.com

Tue Oct 18, 2011 7:16 pm (PDT)



Duh, seru amat ya, kalau saya finger print trus bakat jadi artis

Ayu ting2
Hati2
Heraikaaam (*sambil mencincing rok takut keserimpet)

Regards,
Marcella
*makin oot
Sent from my BlackBerry0…3
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
4a.

Re: FW: [Hukum-Online]  Skandal Dokter dan Farmasi dampak mahalnya p

Posted by: "WienTha" Muhammad.athaya@gmail.com

Tue Oct 18, 2011 6:51 pm (PDT)



00
Powered by AthayArkanaBerry®

-----Original Message-----
From: "Mutoyib" <MUTOYIB1@Mattel.com>
Sender: sehat@yahoogroups.com
Date: Tue, 18 Oct 2011 16:57:12
To: <sehat@yahoogroups.com>
Reply-To: sehat@yahoogroups.com
Subject: [sehat] FW: [Hukum-Online] Skandal Dokter dan Farmasi dampak mahalnya pendidikan kedokteran, Benarkah?

Mereka begitu tega…



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Skandal Dokter dan Farmasi dampak mahalnya pendidikan kedokteran, Benarkah?

sampai saat ini saya belum sepenuhnya yakin kalau mafia kedokteran itu benar-benar ada, tapi kalau membaca beberapa artikel yang ane dapatkan di Internet berikut ini kok saya jadi sangat prihatin.

ada yang bilang juga dokter Indonesia terlalu mudah memberikan obat dan terlalu mudah memfonis operasi. apakah benar??

apakah ini karena dampak mahalnya pendidikan kedokteran, sudah jadi harasia umum, untuk masuk ke Fakultas kedokteran butuh ratusan juta

kalau benar tentu masyarakt yang di rugikan....

Ini salah satu buku yang bahas tentang sisi gelap kedokteran dan farmasi gan...



“Mafia Kesehatan” â€" Sisi Gelap Dunia Medis yang Perlu Anda Ketahui

Hubungan bebas antara dokter dan industri obat yang melakukan jual-beli obat telah banyak merugikan pasien. Pasien menjadi ajang permainan bisnis obat para dokter. Adanya “iming-iming” mencapai target penjualan dari industri obat, telah memicu rusaknya profesi dokter yang sepantasnya menjadi habitus moralitas.

Dampaknya nilai kemanusiaan dipertaruhkan guna kepentingan bisnis. Mengerikan lagi, dengan keahliannya, dokter dapat mengarahkan resep obat yang sarat dengan kepentingan bisnis pribadi, lebih-lebih tanpa menghiraukan kemampuan ekonomi pasien. Suatu realitas profesi yang tergadaikan.

Lebih memprihatinkan lagi, ketika mendapati dokter yang hanya berorientasi bisnis semata. Pemeriksaan berlangsung singkat dan berakhir hanya dengan penyelesaian memberikan selembar coretan resep obat tanpa memperhatikan hak-hak pasien untuk membuka kesempatan berkomunikasi dan memberi informasi penyakitnya lebih mendalam.

Lantas bagaimana institusi dan profesi di sekitar kesehatan ketika mental para profesionalnya telah tergadaikan? Tentunya institusi tercermin dari para pelaku profesinya. Buku ini hadir membongkar tentang mafia kesehatan, yang sarat dengan orientasi bisnis dan jauh dari jamahan hukum. Menguak jaringan yang rapi, tersembunyi serta dikendlikan oleh orang-orang profesional.

Alexandra Indriyanti, penulis yang intens berkutat di dunia kesehatan, menulis secara gamblang menguak tabir kejahatan di seputar kesehatan. Mulai dari membongkar politik strategi bisnis besar industri obat; Kelakuan para dokter hingga memunculkan sebutan Dokter Jurus Angin Puyuh, Dokter Ban Berjalan, dan Dokter Memukul Angin; serta rumah sakit yang kerap menolak pasien tidak mampu atau mempersulit birokrasi ketika pasien merasa dirugikan.

Saya mengajak Anda untuk membaca buku ini dengan pikiran terbuka dan menilai sendiri apakah yang tertulis didalamnya merupakan realita atau bukan. Tapi yang pasti, dengan membaca buku ini, Anda akan merasakan seperti masuk ke dalam perangkap jaring terorisme model baru yang sangat terlindungi dan tersistematiskan.

Note: Anda bisa mendapatkan buku karya Alexandra Indriyanti yang fenomenal ini di toko-toko buku kota Anda.

Dt. Awan (Andreas Hermawan)

sumber : http://healindonesia.wordpress.com/2...-anda-ketahui/ <http://healindonesia.wordpress.com/2009/08/10/mafia-kesehatan-sisi-gelap-dunia-medis-yang-perlu-anda-ketahui/>



Mengakhiri 'selingkuh' dokter dan industri farmasi

Kalau akhirnya Anda terpaksa harus pergi ke dokter, tanyakanlah berapa banyak pasien yang dia sarankan penanganan penyakitnya harus lewat meja operasi. Itu perlu ditanyakan karena akan menjadi dasar bagi Anda untuk mengambil keputusan apakah tetap dirawat olehnya atau berpaling ke dokter lain.

Bila dalam setahun hanya 10% dari jumlah pasien yang ditanganinya harus menjalani operasi, maka dokter tersebut pantas mendapatkan kepercayaan Anda. Tapi apabila 25% hingga 50% dari jumlah pasiennya harus ditangani di ruang operasi, maka itu bisa menjadi indikasi bahwa ada kredit yang tengah 'dilunasi' si dokter untuk 'mengejar setoran'. Nah, bila persentasenya mencapai 80%, dokter itu layak mendapat julukan dangerous doctor, dan segeralah cari dokter lain.

Itu adalah guyonan yang disampaikan Anggota Komisi IX DPR Hakim Sorimuda Pohan dalam acara diskusi mengenai kelangkaan dan mahalnya harga obat beberapa waktu lalu. Guyonan yang disambut tawa semua orang yang hadir di acara itu.

Seperti kentut, praktik-praktik 'haram' dunia kedokteran memang tercium tak sedap tapi tidak kelihatan. Hal paling sederhana dan paling banyak dibahas dalam beberapa waktu terakhir adalah independensi dokter dalam menuliskan resep untuk pasiennya. 'Selingkuh' antara pabrik obat dan dokter-yang sudah pasti merugikan pasien--belakangan mendapatkan sorotan tajam.

Poin-poin etika promosi obat antara GP Farmasi Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI):

1. Dokter dilarang menjuruskan pasien membeli obat tertentu karena dokter bersangutan telah menerima komisi dari perusahaan farmasi tertentu.

2. Dukungan perusahaan farmasi pada pertemuan ilmiah dokter tidak boleh dikaitkan dengan kewajiban mempromosikan atau meresepkan suatu produk.

3. Dukungan kepada dokter secara individual dalam rangka pendidikan berkelanjutan terbatas pada biaya registrasi, akomodasi, dan transportasi.

4. Perusahaan farmasi dilarang memberikan honorarium atau uang saku kepada dokter yang menghadiri pendidikan berkelanjutan, kecuali sebagai pembicara atau moderator.

5. Donasi pada profesi kedokteran tidak boleh dikaitkan dengan penulisan resep atau penggunaan produk perusahaan tertentu.

6. Pemberian donasi dari perusahaan farmasi hanya diperolehkan untuk organisasi profesi kedokteran, bukan untuk dokter individual.

7. IDI harus memverifikasi berbagai kegiatan resmi organisasi, terkait dengan sponsorship dari anggota GP Farmasi Indonesia.


Sumber : GP Farmasi

Promosi obat industri farmasi yang tidak etis telah membuat pasien semakin tersakiti. Hadiah untuk sang dokter, harus dibayar is pasien lewat harga obat yang mencekik leher. Pasien tidak punya pilihan karena dokternya sudah terikat 'kontrak' tidak resmi dengan produsen obat.

Kalau memang praktik serupa ini tidak pernah ada, tidak mungkin Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sampai merasa perlu untuk melakukan penandatanganan kesepakatan bersama etika promosi obat pada 12 Juni lalu.

Dalam kesepakatan itu dokter dilarang menjuruskan pasien membeli obat tertentu karena dokter bersangkutan telah menerima komisi dari perusahaan farmasi tertentu. Masih ada sejumlah poin lainnya yang intinya ingin menegakkan independensi dokter dalam menjalankan tugasnya.

"Kami memang tidak memiliki data mengenai pelanggaran kode etik itu, namun saya yakin pelanggaran itu sangat mungkin terjadi. Jadi kesepakatan ini untuk penegasan," kata Ketua Umum GP Farmasi Indonesia Anthony Ch Sunarjo.

Menepis bias

Pertengahan Maret lalu, organisasi perusahaan farmasi internasional di Indonesia (IPMG) juga memperketat aturan promosi dan pemasaran obat oleh para anggotanya, lewat revisi terbaru kode etik organisasi itu.

Ketua IPMG Ahmet Genel mengatakan revisi kode etik IPMG itu diadopsi dari revisi terbaru International Federation Pharmaceutical Manufacturers & Association (IFPMA).

Namun, Genel membantah bahwa pengetatan aturan mengenai promosi dan pemasaran obat tersebut didasarkan pada adanya dugaan praktik promosi yang tidak sehat antara perusahaan farmasi dan dokter.

"Ini [kode etik] dibuat bukan atas adanya dugaan telah terjadi praktik tidak sehat antara produsen obat dan dokter. Kami ingin obat-obat yang diproduksi dipasarkan secara etis dan dokter dapat membuat keputusan tanpa bias," ujarnya berupaya meyakinkan.

Perusahaan farmasi yang tergabung dalam IPMG hanya diperbolehkan memberikan hadiah kepada profesi kesehatan dalam rangka acara nasional, budaya, atau keagamaan yang penting, dengan nilai maksimal Rp500.000, tidak boleh lebih.

Sebelumnya, perusahaan farmasi diperkenankan untuk memberikan hadiah senilai Rp500.000 untuk ulang tahun dan hadiah senilai hingga Rp2 juta untuk hadiah pernikahan. Tapi kini, hadiah untuk perayaan ulang tahun dan pernikahan telah diharamkan.

Batasan rupiah untuk membuat pekerjaan dokter tidak berbias juga ditetapkan oleh GP Farmasi, misalnya, lewat suvenir promosi yang harus bernilai wajar yaitu maksimum US$20 dan honorarium pembicara seminar yang tidak boleh melebihi US$300.

Sayangnya, tidak ada batasan rupiah yang ditetapkan apabila perusahaan farmasi ingin memberikan hadiah untuk perayaan tertentu, seperti hari besar keagamaan, kepada dokter.

Masalah independensi pastinya bukan hanya monopoli dokter dan industri farmasi. Dalam Pedoman Perilaku Hakim, seorang hakim juga disebutkan hanya boleh menerima hadiah yang nilainya tidak lebih dari Rp500.000.

Nilai itu disebut-sebut jauh lebih rendah dari standar kode etik hakim internasional yang memperbolehkan hakim menerima hadiah dengan nilai maksimal US$200 atau setara dengan Rp1,8 juta.

Bagaimanapun, upaya menciptakan transparansi kerja berbagai profesi memang layak dihargai. Semoga saja kode etik tadi tidak sekadar disimpan dalam laci meja yang kemudian dilupakan di saat tidak ada yang mengawasi.

Sulit memang. Sebab perselingkuhan memang mencurigakan, tapi sulit dibuktikan. (yeni.simanjuntak@...)

bisnis.com

sumber : http://finance.groups.yahoo.com/grou...sage/169?var=1 <http://finance.groups.yahoo.com/group/brainware-kaef/message/169?var=1>

















[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]

5.1.

Re: Ask--dokter kulit

Posted by: "aina" aina.anwar@yahoo.com   aina.anwar

Tue Oct 18, 2011 7:02 pm (PDT)



Mba risma,
Kumat nya mlm aja nih mba, msh observasi pencetusnya....hr ini puasa telur. Makasih yaahh..btw, oatmealnya segimana?? Knp oatmeat yah??

merci beaucoup
wassalamu'alaikum wr wb,

aina f.

5.2.

Re: Ask--dokter kulit

Posted by: "risma" bunda_fazil@yahoo.com   bunda_fazil

Tue Oct 18, 2011 7:13 pm (PDT)




Klo di mayoclinic, cuma disebut sedikit...hehe...
Klo saya takeran sedikitnya segenggam kecil untuk 1 ember besar air hangat.
Yg lbh sering sy praktekin mandi air hangat cenderung panas.

Knp oatmeal...dunno juga deh.
Dapet resep begitu di mayo
Mungkin biar klo tertelan msh agak enak rasanya...drpada disuruh campur balsem.....hahaha...kidding ya...

Klo gak salah inget, selain oatmeal bisa pake baking soda buat campurannya.

Tp buat saya air hangat cenderung panas yg paling top markotop
Apalagi klo bisa berendam..:).#cari salon yg punya fasilitas big bathup...hihi

-risma-

Sent from the bottom of my heart®
powered by believing in You
6a.

Re: Share ttg flash card dunk??

Posted by: "aries3_dee84@yahoo.com" aries3_dee84@yahoo.com   aries3_dee84

Tue Oct 18, 2011 7:07 pm (PDT)



Share aja ya mba, saya pernah beli flash card binatang untuk Atar, awalnya hanya membuat dia mengetahui ini loh gambar binatang dan saat itu berhasil usia 18 bulan Atar mengenal nama binatang dari gambar2 flash card yg saya tunjukin, dan itupun Atar yg selalu minta untuk main flash card sampe akhirnya sekilah di lihat gambarnya dia tau itu binatang apa aja, setelah dia mengenal nama binatang saya ajak ke ragunan dia langsung menunjuk binatang yg dia tau dr gambar jd saya pribadi terbantu dengan flash card. Intinya tiap anakkan beda2 ya mba, ada yg dia memang suka mengenal binatang dr melihat gambar ada yang langsung pada objeknya, intinya jangan memaksakan anak, dan konsistensi ortunya juga kudu tuh udah beli flash card nganggur aja malah jadi tumpukan kan sayang.

Maaf klo kurang berkenan.

Rgds
Dian-bunda Akhtar

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
7.

[news] Anak Indonesia Alami Kekurangan Zat Besi dan Zink

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Tue Oct 18, 2011 7:07 pm (PDT)




SEBAGIAN besar anak-anak usia sekolah dasar di Indonesia ternyata kurang
mendapatkan asupan makanan yang mengandung zat besi dan zat zink (zinc)
sesuai dengan kebutuhan minimalnya.

Itulah hasil penelitian yang dilakukan Departemen Ilmu Gizi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) terhadap 661 anak di lima
sekolah dasar negeri di Jakarta Timur. Hasilnya, 85% anak hanya
mendapatkan asupan zat besi sebesar 80% dari angka rekomendasi harian.
Sebanyak 98,6% anak juga diketahui mendapat asupan zat zink sebesar 80%
dari standar rekomendasi minimal harian.

Berkaca dari hal itu, tidaklah aneh jika sebagian anak-anak Indonesia
kedapatan kekurangan zat besi di dalam tubuhnya. Padahal, menurut staf
ahli dari Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Saptawati
Bardosono, anak usia pertumbuhan 6-12 tahun harus dibiasakan mengonsumsi
makanan dengan gizi yang seimbang.

Pasalnya, kekurangan gizi seimbang dapat menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan fisik, melemahnya daya tahan tubuh dan kemampuan otak.

Saptawati mengatakan, anak-anak dengan jumlah konsumsi zat besi di bawah
kebutuhan cenderung mengalami anemia yang dapat mengakibatkan sulit
konsentrasi, mudah lelah, dan tampak lesu.
Serius Bagi anak-anak yang kekurangan zink, lanjutnya, dapat menderita
gangguan dalam pertumbuhan. "Dampak yang didapat dari kekurangan zat
besi dan zink sangat serius.
Maka, fenomena ini pun harus disetop karena anak usia sekolah dasar
merupakan usia emas kedua bagi anak untuk tumbuh," ujarnya, kemarin, di
Jakarta.

Ia menjelaskan, kandungan zat besi pada makanan banyak terdapat pada
daging merah, sayuran hijau, kacang-kacangan, serta makan yang telah
difortifikasi (diberi tambahan vitamin dan mineral). Adapun zink dapat
diperoleh dengan mengonsumsi daging, keju, telur, unggas, sayuran hijau,
dan makanan yang difortikasi.

Masalahnya, berdasarkan survei bagian gizi FKUI, konsumsi daging dan
ikan pada anak-anak sekolah hanya 10%­16% dari porsi makan sehari-hari.

(Tlc/S-6)

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/10/19/ArticleHtmls/Anak-Indonesia-Alami-Kekurangan-Zat-Besi-dan-Zink-19102011012008.shtml?Mode=1

8.

Hitam - Putih Metode Glenn Doman

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Tue Oct 18, 2011 7:13 pm (PDT)



fyi
repost sedikit summary dari arsip milis sehat dan anakberbakat agar
lebih memudahkan saja.
siapa tahu bermanfaat

Ghozan Yuk Sinau.... <http://ghozan.blogsome.com>

Hitam - Putih Metode Glenn Doman
<http://ghozan.blogsome.com/2008/07/17/hitam-putih-metode-glenn-doman/>

July 17, 2008

Assalamualaikum...

Sejak tahun 2005 pertama kali saya menerima informasi mengenai metode
Glenn Doman dari milis sehat <http://groups.yahoo.com/group/sehat/> dan
informasi mengenai metode ini sampai saat ini tidak pernah surut, bahkan
berbagai macam media turut serta membombardir informasi ini.

Dan hari ini saya menerima informasi itu dari milis nakita
<http://ghozan.blogsome.com/2008/07/17/hitam-putih-metode-glenn-doman/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com>,
isinya kurang lebih sbb :

----- Original Message -----
From: uttiek
To: milis-nakita@news.gramedia-majalah.com
Sent: Tuesday, July 15, 2008 2:35 PM
Subject: [milis-nakita] Free Ticket Smart Parents Conference {01}
Dear nakita-ers,

nakita dan Frisian Flag menggelar event akbar dengan mengumpulkan ribuan
peserta dalam acara SMART PARENTS CONFERENCE
selama 3 hari berturut-turut mulai tanggal 25-27 Juli 2008 di Lower
Lobby-Jakarta Convention Center.
member milis nakita berkesempatan mendapat 50 free ticket untuk acara
hari Sabtu, 26 Juli 2008,
masing-masing tiket berlaku untuk 2 orang.
Silakan reply email ini ke uttiek@xxxxxx, sebelum Jumat 18 Juli 2008
untuk mendapatkan tiketnya.

Bukan acaranya nakita kalau tidak bertabur hadiah,
Dengan hadir di acara Smart Parents Conference, Anda berkesempatan untuk
mengikuti Smart Parents Contest dan memenangkan hadiah uang tunai serta
liburan sekeluarga mengunjungi science center di Singapura.
kami tunggu.

salam,
Moderator

Bila kurang jelas klik disini :
http://www.tabloid-nakita.com/iklan/ffbannerjuli.html

Sementara dari tahun ketahun informasi yang saya dapatkan tidak
berimbang, untuk itu perkenankan saya untuk memposting diskusi beberapa
tahun lalu yang saya ambil dari milis sehat
<http://groups.yahoo.com/group/sehat/> dan juga milis anakberbakat
<http://groups.yahoo.com/group/anakberbakat/> dengan harapan kita
sebagai orang tua mampu memberikan pendidikan yang terbaik buat
anak-anak kita....generasi masa depan bangsa.

Sudah saatnya Kita harus bangkit.....jangan hanya diam dan menunggu
untuk selalu disuapi.

Bangkitlah saudaraku.....

Wassalam
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius
Syrus (100 SM)

*Dari Milis Sehat <http://groups.yahoo.com/group/sehat/> :*

From: Pudji Yulianti Sukri
To: sehat@yahoogroups.com
Date: Nov 18, 2005 6:51 AM
Subject: [sehat] REPOST: Metode Glenn Doman

dear sps,..kebetulan pertengahan tahun yang lalu,. pernah dibahas dimilis
ini juga tentang metode glen doman ini,, disitu juga sudah dijelaskan
panjang lebar oleh ibu julia dan ada beberapa sharing dari sps,..

mudah2an bisa memberikan informasi yang seimbang buat kita dalam mengasuh
dan mendidik anak..

buat sps lama,.. sori yaa...

oh iya satu lagi.. kalo sps tertarik dengan metode flash card,...kalo ga
salah di web sehat ada lho flashcard,.. jadi sps tinggal print aja (lebih
bagus kalo printer-nya berwarna).. trus bisa ditempel di karton or
dilaminating..jadi bisa lumayan irit biaya.. (thanks banget niih sama
bundanya simamat.. hehehe...(

rgds,
-yuli-
mamabumi
=========
PERTANYAAN:

Dear Dr. Wati & SPs?

Mau numpang tanya mengenai metode membaca sambil bermain "Metode Glenn
Doman"?apakah para SPs ada yang punya pengalaman mengenai metode ini ?

Saya ditawari seminar "Bagaimana Mengajar Balita Membaca Sambil Bermain"
pembicaranya : Irene F. Mongkar , Penyelenggaranya : PT Tigaraksa Satria
(maaf nyebut nama).

Sebelum daftar mau konsultasi dulu ke milis? siapa tau ada yang bisa kasih
masukan mengenai penting hal ini, karena pada dasarnya saya tertarik? tapi
takut salah?

Mohon sharingnya ya Dok? dan SP juga tentunya?

Terima Kasih.
Bunda Kayla.
=============
TANGGAPAN:

Yang aku inget dari metoda ini adalah, jangan mengajari anak membaca dengan
memperkenalkan huruf. Jadi kita memperkenalkan tulisan AYAH itu
bacanya "ayah" kemudian tulisan BUNDA itu bacanya bunda dan bukan dieja AYAH
itu terdiri dari huruf A, Y, A, dan H. Caranya dengan membuat
tulisan di karton besar (ukuran 20 x 60 cm, kira-kira) kemudian setiap hari
sambil bermain anak-anak diperkenalkan dengan huruf-huruf itu
sambil bicara. Misalnya saat flashcard-nya bertulisakan AYAH maka yg
ngajarin bilang ayah, trus 5 detik ekmudian ganti dengan flashcard yg
lainm begitu seterusnya. Beberapa waktu yg lalu saya sempat meihat di NGC
beberapa waktu yg lalu (yg membahas ttg metoda ini) diperlihatkan
seorang ibu yg giat "mengajari" anaknya dengan memperlihatkan gambar-gambar
pesawat tempur dan jenis batu-batu. Selang beberapa tahun
kemudian sang anak dites dengan menggunakan flashcard yg dulu digunakan
ibunya ternyata sang anak tidak kenal sama sekali gambar-gambar yg
ditunjukkan.

Rina rinso

==============
Mbak Yulia bundanya Kayla,
Kalau boleh aku berbagi cerita niii...
terus terang aja, aku tuh gak percaya dah sama metode2 kayak
ginian...,buatku hanyalah suatu taktik marketing (apalagi kalo gak salah PT
Tigaraksa ini jualan buku yg muahal2 banget kan yah??), and kenapa yah
"jualan" yang kayak ginian selalu marak di Indo, tapi disini gak ngeblooming
tuh.. Buatku metode paling tokcer mau ngajarin balita/anak membaca yah baca
buku sama2. Tanamkan cinta membaca sejak dini, kalau gak ditanamkan cinta
membaca lah percuma aja toh, banyak anak yang sudah bisa membaca tapi males
baca, malah lebih milih main playstation or game boy..;o).

Mau sharing aja.. Mamatku (3tahun 7 bulan) sudah bisa membaca simple words
(3-4 huruf misalnya cat, dog, dad, shut, door etc)dan tau
phonics dari tiap alphabet (a = ah, b= buh, c=keh..etc)dan konsonan sh, ch.
Terus terang aja aku gak pernah ngajarin secara special set time. Aku sama
bapaknya membacakan dia buku dari masih newborn banget... apa aja deh gak
cuma buku bacaan bayi... kadang catalog belanjaan/supermarket jadi sasaran
juga hehehe..(kalo bapae si mamat emang doyan baca buku banget, kalo emake
si mamat demennya catalog toko..heheh) sambil mangku si Mamat yang masih
bayi banget saat itu, sambil ngeliat catalog supermarket trus aku bilang"
wah Mat, jeruknya lebih murah nih disini (sambil tunjuk gambar jeruk)" sampe
suka diledek emaknya mau menularkan hobi belanja ke anaknya hehehe.. Dari
dia lahir hingga saat ini tiap malam aku/bapaknya sebelum dia tidur selalu
baca buku, sambil baca kita point satu persatu kata2nya, trus sebelum balik
ke halaman selanjutnya, kita tanya tuh seputar cerita
yang kita baca, dan juga suruh dia tunjuk gambarnya.. misalnya kalo lagi
baca buku si Spot the dog, kita tanya "Spot mana?" atau "Spot tuh binatang
apa?" , or "Spot lagi ngapain?" Kami ngelakuin ini bukan hanya untuk
menanamkan dia jadi cinta membaca tapi juga melatih dia untuk konsentrasi
dan menyimak/mengerti apa yang dibacakan. Ke library pun merupakan acara
ritual tiap minggu.. Mamat sekarang hobi banget ke library, dia udah bisa
pilih buku mana yang dia mau pinjam dan tentunya dia tahu banget harus look
after itu buku properly karena minjam.

Karena tiap hari kita selalu membacakan buku, akhirnya mendorong dirinya dia
untuk bisa membaca sendiri. Buku favorite pertamanya adalah buku picture
dictionary. Pengenalan dia pertama dengan huruf, aku belikan dia poster A-Z
yang ada gambarnya misalnya A for Apple, B for Ball.. etc. Trus dia sendiri
yang tanya ini huruf apa? baru deh sambil nyanyi lagu abc aku tunjuk
hurufnya satu persatu.Selain pengenalan huruf aku merasa pengenalan akan
bunyi huruf tersebut sangatlah penting (apalagi dalam bahasa inggris yang
nama huruf dengan bunyinya beda).Karena dia sudah tahu semua bunyi huruf,
akhirnya mendorong dia untuk mengeja dan merangkai bunyi satu persatu hingga
pada akhirnya dia bisa membaca simple word. Inget banget, pertama kali kata
yang dia baca adalah CAR. Saat itu kita lewat car park ada sign gede "CAR
PARK" (tanpa gambar mobil tentunya) trus dia sambil tunjuk dia bilan "mummy,
C-A-R spell car!" kaget campur seneng tentunya aku, trus aku tanya lagi, and
dia bilang "keh (C)-ah (A) -er (R).. car!!" wah langsung deh ta cium and
tentunya kasih pujian. Sejak saat itu dia semangat banget buat belajar baca.

Soal buku... gak perlu beli buku yang muahal2 koq... or mbak bisa bikin
sendiri juga bukunya (jadi deh special book apalagi bikinnya sama2 dengan
Kayla).. misalnya ditempelin fotonya mbak trus ditulis "ini bunda" lalu
fotonya Kayla "ini Kayla", etc.. trus bikin cerita sendiri dehh ;o)

Ok deh.. sorry banget kalau kepanjangan and gak berkenan..

regards,
Shereen

================
Waaahh...Shereen...bagus juga tuh metode pembelajaran ala "Shereen' simple,
murah dan mudah dimengerti..dan idenya untuk membuat buku belajar membacanya
sangat bagus sekali... Saya justru lebih setuju jika para orang tua
menerapkan pola pembelajaran dengan metode yang Shereen terapkan...

PAPARAFI

===============
halo, sy Martha, mama Kezia (2th). Wah yg beginian rupanya lagi booming
dimana-mana. Sy pikir cm di Sby aja. Sampe2 pesat4jatim jd kalah pamor
(hiks..sedih).Sekarang ortu berlomba2 membuat anaknya genius
(weleh...weleh).

Metode mengajar anak membaca ala Glenn Doman sudah pernah sy ikuti. Bukan
latah. Bener. Tapi kok ya penasaran aja. Kayak apa sih? Pembicaranya adalah
beliaunya sendiri pengikut Glen Doman di Indo yg notabene pernah mengikuti
beberapa pelatihan di sekolah Glenn Doman sono di Philadelphia.
Malah sy mengikuti workshopnya seharga 300rb (plus buku) yg dimulai dr jam 9
pagi sampai 7 malam. Metodenya mmg seperti yg dijelaskan oleh mbak Rina.
Plus diajarkan jg cara membuat flashcard tsb. Dari jam ke jam sy ikuti,
aduh...(maaf) tidak ada sesuatu yg baru yg sy dapat. Apalagi tidak mengacu
pada satu teori baku yg reliabilitas&validitas nya sdh teruji (maksud saya
mis. berdasar pd teori psikologi y.i tahap perkembangan bahasa).

Ketika ada peserta yg bertanya:"Loh, bu. Kita hanya memberikan/mengajarkan
flashcard ini tanpa boleh menguji anak (ga boleh ngulang yg kita ajarin
dengan mis:hayo ini apa ya?) darimana kita tau bahwa metode ini berhasil?"
Sang narasumber menjawab (dgn setgh tertawa):"Ya darimana-mana
(waduh).Ya pokoknya kita ajarin aja. Kan nggak susah kita cuma butuh
beberapa menit aja.Lebih baik diberikan daripada tidak
samasekali...bla...bla(membeberkan pengalamannya)."

Disela-sela memberikan presentasinya beliau membawa buku2 yg muahal2 itu dan
mempromosikannya. "Kalo yg ini segini, isinya bagus bgt...bla...bla...Coba
kalau anak kita sejak dini uda kita ajarkan dgn....bla...bla..."

Oiya, beliau juga membawa paket flshcard utk dijual seharga ratusan ribu
/paketnya. Pdhl hanya cetakan tulisan berwarna merah tanpa gbr. Sy tertegun.
Sementara dosen sy pernah berbagi cerita kl beliau ditegur oleh guru anaknya
yg baru msk SD karena anaknya belum bisa membaca. Krn dosen sy ini psikolog
ya pasti dia punya alasan kuat utk itu. Masa TK kan masa bermain & bermain &
bermain. Jd tidak perlulah ngotot hrs bisa baca (tp kurikulum ya yg
mengharuskan begitu. Kali perlu direvisi ya?he). Toh pd akhirnya beberapa
saat stlh diajarkan anak dosen sy ini bisa lancar membaca.
Kembali ke workshop yg sy ikuti. Ketika beranjak sore, sy msh mencoba
bertahan&berharap mungkin nanti ada materi yg lebih penting yg akan
diberikan.Tp toh sama sj cm penawaran2 buku. Dann...ketika waktu sdh
menunjukkan pukul 5.30 pm sy sudah nggak tahan.Sy bergegas
pulaaaaang.Kepalasudah mau
EXPLODE.Setengah kesal sy injak pedal gas kenceng2 berharap bisa sgr nemui
Kezia yg agak demam wkt itu.
Yaa bukannya percaya tidak percaya atau berusaha memberi judgement pd pihak
tertentu, tp mungkin bapak/ibu bisa mengambil hikmah dr
pengalaman sy. Biarkan anak-anak menikmati masa bermainnya,
jingkrak-jingkrak, nyanyi,...dsb..tidak usahlah dipaksakan harus bisa ini
dan
itu. Semua kan ada masanya. Jgn dijejali melulu.Beri mrk fun jgn kejenuhan.
Jgn menciptakan2 robot2.Belajar sambil bermain sgt tdk maslah tp tidak usah
memaksa. Apalagi menuntut tinggi2 outcome dr yg kita ajarin. Ajarkan sesuai
tahap perkembangannya&jgn paksakan, shg anak2 kita nantinya bisa tumbuh
matang, ceria, dan kreatif.

Maaf kepanjangan.

Salam,
martha sitompul

==========

Dear Bapak Ibu,

Mengajarkan membaca anak terlebih anak batita, maksudnya bukan mengajarkan
membaca seperti kalau kita mengajarkan anak sekolah. Mengajarkan membaca
batita bisa dicari bacaannya di Webnya Zero to Three org, maksudnya kita
memperkenalkan pada anak bahwa di dunia ini ada kegiatan membaca dengan cara
melatih perilakunya agar ia siap menghadapi kegiatan membaca kelak. Misalnya
saja beri ia buku penuh gambar (bukan tulisan), lalu ajak ia bagaimana
caranya memperlakukan buku, yaitu buku di taruh dimukanya, lalu lembar demi
lembar dibuka. Bukan diuwel uwel apalagi dikunyah kunyah, atau dijejer jadi
mobil-mobilan. Dari mana lembaran bisa dibuka, dan bagaimana kita
mengajaknya menunjuk gambarnya. Lalu bercerita
tentang gambar itu. Hal seperti ini juga akan memperkaya wawasannya.
Misalnya ada gambar buah-buahan yang setiap harinya dimakan. Mainan
dan alat-alat yang setiap hari digunakan.

Jika ia sudah bisa berkonsentrasi mengikuti cerita (sekitar 2,5 tahun)
barulah kita mulai mengajaknya membaca, tetapi bukan ia disuruh membaca,
tapi mendengarkan cerita pendek sambil melihat gambarnya.

Untuk bisa belajar, learning process (proses belajar) seorang anak perlu
menunggu berbagai hal tumbuh kembangnya sampai mencukupi untuk mendukung
belajar membaca, menulis dan berhitung. Mengajar matematika pada bayi kan
nonsen?

Jika sejak bayi kita ketahui anak kita ternyata mengalami gangguan
perkembangan, nah itu harus kita perhatikan lebih ekstra dan lebih
hati-hati, karena ia mempunyai resiko mengalami gangguan belajar. Berbagai
tumbuh kembang yang tertinggal atau melenceng perlu kita stimulasi
perkembangannya, agar disaatnya seorang anak belajar betulan, ia sudah siap.
Contoh, kalau ia mengalami gangguan perkembangan motorik halus, nah anak ini
kita latih-latih agar
motorik halusnya berkembang baik, agar saat sekolah tangannya siap untuk
menulis.

Salam,
JM
================

Sharing aja nih..

Setuju banget nihma Mbak Shereen n papa Rafi..
Aku terrapin ke Kavin 16,5 bln sama aja kok.. minimal sehari sekali ada
acara baca buku bareng? so, anak2 suka n ngerasa diperhatiin.. Pake kartu2
semacam flashcard pernah juga but kurang efektif buat Kavinku yg sukanya ke
mana2.. but kalo sama buku2 cerita , VCD, or liat langsung di sekelilingnya
suka tuh.. bahkan skarang kalo ada buku pasti Kavin ambil n bilang.. "cita..
cita" maksudnya crita..crita.. minta dicritain getu.. Now, Kavin juga udah
ngerti macem2 binatang, alat transportasi, macem org, kosakatanya juga
banyak dsb.. n yg aku bias dikit bang atuh kemajuan bicara Kavin lebih dr
anak2 sebayanya di komples aku..

Btw, setelah aku banyak belajar dr berbagai seminar n berbagai milis or web2
metode pembelajaran anak yg tepat adalah metode dr otunya sendiri?
karna dr metode2 yg diungkapan para ahli tuh gak smuanya bias ditrima oleh
masing2 anak.. Ingat anak adalah pribadi yg unik? so, sebagai ortu kita sih
seharusnya ngerti metode yg cocok buat anak masing2..

Bukan aku tidak setuju dg metode yg diterpkan para ahli or pakar..but,
alangkah baik kita juga tau metode2 tsb tetapi untuk penerapannya perlu
disesuaikan dg kemauan n kemampuan anak.. Yg penting dlm mengajari anak
harus fun n tanpa paksaan.. kalo udah capek ya udah brenti.. yg perlu lagi
juga konsisten dlm mempelajari sesuatu n perlu juga kompak dengan org2 di
sekitar anak? biar anaknya gak bingung.. Kalo perlu punya buku khusu buat
nyatet perkembangan anak.. so, kita nantinya bias gampang mereview apa yg
udah kita jarkan?

Ok deh happy parenting yah..

Uci mamaKavin

============

Dear semuanya,

Metoda ini sudah seliweran bertahunan di milis-milis, tanpa ada yang protes.
kalau ada yang protes, yang jualan marah dan ngajak "berkelahi".

Untuk bisa tahu apakah metoda ini bermanfaat atau tidak, seharusnya kita
mempelajari saja pola tumbuh kembang dan prinsip prinsip perkembangan otak
dari sumber yang baik. Saya anjurkan sumber yang baik adalah: dari Zero To
Three org. http://www.zerotothree.org/ztt_parents.html
Selain ia juga membahasa berbagai ilmu di luaran (masayarakat yang
membingungkan saat ini) betul atau tidak, mereka juga mengeluarkan majalah,
buku-buku, dan ada radio web yang bisa kita dengarkan.

Sp's,
Sebetulnya gak susah kok dimana kita bisa berdiri kokoh mengasuh anak kita,
tidak dibingungkan dengan berbagai publikasi yang menyesatkan.
Kalau saja kita selalu berpatokan bahwa tumbuh kembang anak-anak selalu
dipengaruhi oleh masalah nature biologis (genetik) dan nurture pengasuhan.
Nature biologis akan senantiasa menjadi blue print anak itu tumbuh, dan
nurture (pengasuhan) yang baik akan memaksimalkan potensinya. Sehingga ia
akan menjadi anak sebagaimana dirinya. Bukan seperti yang dicita-citakan
oleh kita yang justru cita-cita itu seringkali menyimpang dari karakteristik
dan pola tumbuh kembangnya, itu kalau kita tidak memperhatikan nature
biologisnya.

Ambil contoh, seperti halnya ingin membuat anak menjadi jenius dengan musik
mozart yang dipublish bisa meningkatkan sel sel otak tanpa batas. Itu kan
engga mungkin karena faktor genetik akan mengendalikan besar, pola dan
kecepatan tumbuh kembang.

Glenn Doman dari Human Potensial Institute adalah seorang pencipta ide dari
kelompok yang justru tidak melihat faktor nature biologis. Sehingga sajian
materinya selalu menggiurkan. Mereka, dengan caranya mencoba seorang anak
mempunyai memori yang hebat,memori yang tahan lama (long term tanpa bisa
hilang lagi), detil dan tepat, memori fotografis namanya. Itu tah engga
normal. Seseorang yang mempunyai memori demikian, sebetulnya akan menjadi
anak yang sangat sulit dalam hidupnya. Saya sudah banyak mendongeng tentang
memori fotografis di blog ini.
http://si-entong.blogspot.com/2004/08/memori-fotografis-1.html

Sekalipun anak itu jenius, memori fotografisnya akan hilang juga, karena ia
mampu berfikir kreatif dan analisis. Jika seorang anak yang mempunyai memori
fotografis tapi tidak diikuti dengan kemampuan kreativitas dan analisis, ia
akan menjadi anak tidak normal.

Jadi kita musti hati hati ya Bapak Ibu...Kita curahkan waktu dan perhatian
kita dalam pola tumbuh kembang yang baik, dalam jalur normal.

Salam,
Julia Maria van Tiel

==============

Nah..Si Ibu pakar udah muncul nih?

Thx Mbak Jul? masukkan Mbak Jul sangat berarti buat aku.. terutama setelah
seminar online bebrapa wkt lalu di milis WRM (ingat gak yg sampe
benjol2.. n jd rame diskusinya gara2 per?an aku ttg metode pembelajaran yg
tepat bai baby..)

Pokoke intinya yg fun2 aja dlm mendidik n mengembangkan potensi anak? serius
tapi santai gitu lah.. jangan terlalu ngoyo dg ambisi/ego ortu
secara pribadi? Sekali lagi ingat setiap anak tu diciptakan secara unik..
gak bisa disamakan satu sama lain dlm hal pngasuhan or pembelajaran..

n ternyata ok menerapkan teori NATURE + NURTURE.. Kavin aku 16,5 bln jd
lebih happy n lebih bisa bekembang sesuai minat n kesukaannya.... suka
baca2 gambar n suka nyanyi (walo masih dikit kurang jelas..)

Salam,
Uci mamaKavin

==========
--- In sehat@yahoogroups.com, "ade" wrote:
> Ya, saya sependapat dengan mbak Intan dan mbak Heni.
> Memang pola pembelajaran yang baik menurut saya adalah pola pembelajaran
yang diberikan oleh orang tuanya sendiri. Karena orang tuanyalah
yang tahu mengenai luar dalamnya si anak.

Setuju pendapat Ibu Ade,
Banyak saran dalam pendidikan anak bahwa pendidikan/pengasuhan itu
perlu sesuai dengan:
- pola tumbuh kembangnya
- kulturnya
- logis dan realis

Jangan lupa (Mamakavin gak pernah lupa... he he) bahwa setiap anak akan
selalu membawa pengaruh dari nature-nya (genetik sebagai blue printnya) dan
nurture-nya (pola pengasuhan).

Jika mau mendongengkan siapa Glenn Doman, panjang dan menarik juga. Di
Amerika ia dikelompokkan sebagai orang yang melakukan quackery dan health
fraudulent (penipuan dalam bidang kesehatan), karena memperdagangkan
programnya untuk menyembuhkan (katanya) anak-anak cacat mental, mental
retarded, dan brain damage (yang sebetulnya long live disabilities yah!).
Menurutnya bisa disembuhkan. Sehingga banyak orang tua mengambil anaknya
dari pendidikan sekolah khusus yang mengajarkan kemandirian dan sosialisasi
(menyiasati kemampuan si anak agar ia mampu menyandang gangguan tsb dan
mampu hidup di tengah-tengah masyarakat). Anaknya dibawa ke Glenn Doman,
tidak boleh sekolah karena harus ditreat 40 jam seminggu (menyita waktu
ya?). Hasilnya? Abusing terhadap mental anak menjadi stress, waktu anak
tersia-sia untuk mempelajari kemandirian, dan menyikat habis duit orang
tuanya, orang tuanya berkelahi kiri kanan dengan saudara, dlst.

Glenn Doman sekarang sudah tua, usahanya diteruskan oleh putrinya Jannet
Doman tetapi tetap membawa nama bapaknya. Usahanya engga lagi ke arah
anak-anak cacat, tapi mengikuti trend terakhir menjadi The Prodigy Makers
(pembuat super baby jenius) dengan dasar teorinya yang justru bertentangan
dengan berbagai temuan ilmiah. Para The Prodigy Makers ini juga selalu
dicaci maki oleh berbagai fihak termasuk Zero to three org, karena membuat
bingung para orang tua dengan berbagai teorinya yang kelihatan ilmiah tetapi
ngawur. Lebih seru lagi kalau bisa membaca bukunya Edward F Zigler dengan
judul The First Three Years & Beyonds. Disana banyak deh ditampilkan
berbagai masalah dan dilema pengasuhan anak batita. Rusuhnya banyak.

Munculnya The Prodigy Makers ini karena adanya program pemerintah US Early
Head Start yaitu penyantunan anak-anak berkebutuhan khusus (special needs)
dari keluarga miskin. Oleh pemerintah anak-anak ini diberi full screening
dan berbagai intervensi dini, maksudnya agar nanti saat usia 5 tahun ia
sudah siap secara fisik dan psikis (mental, emosional, percaya diri dlsb)
masuk sekolah (school readiness). Tapi ide pemerintah ini kemudian
diplesetkan oleh kelompok The Prodigy Makers yang umumnya pedagang program
dan buku itu, untuk mengeruk duit para orang tua yang terkesima oleh ide
early intervention ( bukan cuma mulai bayi saja sasarannya, ibu-ibu hamil
juga jadi sasaran, disuruh pakai musik di perut, dibacakan buku cerita dlsb)
lalu dibohongin saja sekalian oleh mereka. Akhirnya ngetrend deh di dunia.
Lagian masak kita mau sih dibohongin orang Amerika itu? Datangnya dari
Amerika, dari negara maju, bukan berarti terus bener lho. Kalau sudah banyak
warning gitu, ya kita ini ngeh lah ya.... masak mau sih ikutan ditipu.
Lagipula negara kita sedang krismon gini... ee kok ya tega...

Di bawah ini ada worning dari Zero to Three:

Salam,
Julia Maria van Tiel

ZERO TO THREE Response to
The Myth of the First Three Years

A book entitled The Myth of the First Three Years has been reported on by
the news media and has created confusion about the significance of the early
years. ZERO TO THREE has developed the following response to help put the
book into perspective for parents, policymakers, professionals and others
who care about babies and toddlers. As you will see, there is no myth about
the importance of the first three years.

www.zerotothree.org/ztt_professionals.html
<http://ghozan.blogsome.com/2008/07/17/hitam-putih-metode-glenn-doman/www.zerotothree.org/ztt_professionals.html>

The Myth of the First Three Years, by John Bruer, is an attempt to
redresssome popular misconceptions about the importance to brain development
of achild's earliest experiences. The book is an extension of "Education and
the Brain: A Bridge Too Far," a scholarly article by Bruer that appeared in
the November 1997 issue of Educational Researcher. Bruer, who is president
of the James S. McDonnell Foundation, which awards $18 million annually for
biomedical, educational, and international projects, has no formal training
in either neuroscience or child development. But his "Bridge Too Far"
article provided an astute examination of the ways in which recent findings
in neuroscience have been blown out of proportion and used to imply that we
know how to increase the neural connections in a child's brain and
ultimately, the child's intelligence. Take the so-called "Mozart effect,"
for example, the
notion that playing classical music, especially Mozart, will boost a child's
IQ. This idea was popularized in the press and capitalized on by
entrepreneurs selling Mozart CDs for babies and parents, but it has no clear
foundation in science.

However, in The Myth of the First Three Years, a book written for a popular,
mass audience, Bruer crosses his own bridge and then burns it,taking his
correct observation that the neuroscience of early childhood is,in a sense,
in its own infancy, and leaping to the extreme conclusion thatwhat happens
to a child in the early years is of little consequence tosubsequent
intellectual development. He also suggests that intervening inthe lives of
very young children at risk for poor outcomes in school andadulthood will
have little or no effect. Nothing could be further from thetruth. We are
particularly concerned that readers will come away from this bookconfused
about what babies need and what parents can do to encouragedevelopment, and
that policymakers will see Bruer's argument as an excuseto ignore the
growing interest and demand for policies and services that support babies,
toddlers, and their families.

The Myth of Boosting Baby's Brain

ZERO TO THREE agrees with some of Bruer's assertions. He is right
thatscience has just begun to sort out how the trillions of nerve cells in
achild's brain are organized during the first three years of life to allow
achild to learn to talk, read, and reason. The application of these new
andexciting findings has sometimes been exaggerated, particularly by
themedia, or used inappropriately to make claims about what
parents,educators, and policymakers should or
should not be doing.Much of the confusion centers on the notion that the
first three years area "critical period," defined as a window of opportunity
for laying downcircuits in a child's brain or learning a particular set of
skills thatcloses irrevocably after a set amount of time. What we know from
earlyresearch is that critical periods exist in children only for some
verybasic capacities, such as vision, and to a lesser extent for
learninglanguage. For example, it has been well-documented that young
children canlearn a second language much more easily --- and often with
better pronunciation and grammar --- than can adolescents or adults. We
agree
with Bruer that a child's brain is not even close to being completely wired
when the third candle on the birthday cake has been blownout. In fact, brain
research suggests the opposite conclusion:

Importantparts of the brain are not fully developed until well past puberty,
and thebrain, unlike any other organ, changes throughout life. The human
brain is capable of learning and laying down new circuitry until old age.
But thisdoes not mean that the first three years are unimportant.

Why the Early Years Are So Important.
While scientists have so far only confirmed a few "critical periods" in
thedevelopment of the human brain, there is no doubt that the first
threeyears of life are critical to the growth of intelligence and to
latersuccess in adulthood. We know from rigorous psychological and
sociological research, and from compelling clinical experience, that early
childhood isa time when infants and toddlers acquire many of the motivations
and skills needed to become productive, happy adults. Curiously, Bruer turns
a blind eye to the immense and crucial social and emotional development that
begins during a child's first three years, which provides a foundation for
continued later intellectual development.

The importance of the first three years is no myth, and parents and
policymakers must not be misled by Bruer's book. Following are a few
examples that underscore why and how a child's intellectual development
rests on social and emotional skills learned in the early years:

1. Development of Trust
Every person needs to learn to trust other human beings in order to function
successfully in society. It is crucial that this sense of trustbegins to
grow during the earliest years. While it is certainly possible tolearn this
later, it becomes much more difficult the older a child gets.Years of living
in an interpersonal environment that is unresponsive,untrustworthy, or
unreliable is difficult to undo in later relationships.

Trust grows in infancy in the everyday, ordinary interactions between
thechild and the significant caregivers. A baby learns to trust through
theroutine experiences of being fed when she is hungry, and held when she
isupset or frightened. The child learns that her needs will be met, that
shematters, that someone will comfort her, feed her, and keep her warm
andsafe. She feels good about herself and about others. Children whose basic
needs are not met in infancy and early childhood oftenlack that sense of
trust, and have difficulty learning to believe inthemselves or in others. We
know this from a
multitude of scientificstudies, including the research of Alan Sroufe and
Byron Egeland, at theUniversity of Minnesota. In a long- term study that
followed infants throughtoddlerhood and into adulthood, Sroufe and his
colleagues found that when children were reared within relationships they
could count on, they hadfewer behavior problems in school, had more
confidence, and were emotionally more capable of positive social
relationships.

2. Development of Self-Control
From the time a child begins to walk, we can see the progress she is making
in mastering an important skill: self-control. Babies do not comeinto the
world knowing that nobody likes it when they bite and hit, or grabtoys and
food from them; they need help from adults to understand thatthese impulses
are not socially acceptable. John Gottman, of the Universityof Washington,
among others, has demonstrated that children who get no helpmonitoring or
regulating
their behavior during the early years, especiallybefore the age of three,
have a greater chance of being anxious,frightened, impulsive, and
behaviorally disorganized when they reachschool. Further, these children are
more likely to rely on more violent or other intimidating means to resolve
conflicts than their peers who havesuccessfully begun the long process of
learning self-control.

3. The Source of Motivation
Another pillar of intellectual development and success in school is
motivation. Infants and toddlers develop this through day-to-day
interactions with responsive caregivers. Responding to the needs of thechild
is a powerful process that builds confidence and an inner sense ofcuriosity.
This motivates the child to learn and has direct effects onsuccess in
school. The more confident a child is, the more likely she is totake on new
challenges with enthusiasm.

The Emotional Foundations of Learning
Trust, self-control, and motivation form the bedrock of a child's
intellectual development. Intelligence and achievement in school do
notdepend solely on a young child's fund of factual knowledge, ability to
reador recite the alphabet, or familiarity with numbers or colors. Rather,
in addition to such knowledge and skills, success rests on children,
ofwhatever background, coming to school curious, confident, and aware of
whatbehavior is expected. Successful
children are comfortable seekingassistance, able to get along with others,
and interested in using their knowledge and experience to master new
challenges.

Bruer is right that there is no magic bullet for making kids smart. But
byerroneously focusing exclusively on intellectual achievement, he fails
torecognize that all aspects of development affect one another, and
thatchildren cannot learn or display their intelligence as well if they
havenot developed emotionally and socially. The task for parents and
othercaregivers who want their children to succeed in school is not to
forcedevelopment. Rather, it is to try to ensure
that the moment-to-momentevents of daily life give babies and toddlers the
sense of security,encouragement, and confidence that are the foundation of
emotional health. It is this that will ultimately allow them to learn at
home, in school andthroughout life.

Dangers of the Book
We are concerned that readers will draw the wrong conclusions. Many
parentsare likely to be confused by Bruer's message, which contradicts what
theymay know instinctively about the importance of the first three years.
Thebook may let other parents off the hook --- particularly those
parents who
aren't willing or able to devote the time and attention that is needed to
provide a nurturing environment for babies and toddlers.

Moreover, some parents will be offended by Bruer's assertion that
"motherswho behave in acceptable American middle-class fashion tend to
havesecurely attached children. The challenge is to get more
non-complying,mostly minority and disadvantaged, mothers to act in this
way." We know that there are plenty of poor, minority parents doing a
marvelous job of raising their children in securely attached relationships.
Whether by design or accident, Bruer stigmatizes minority racial and ethnic
groups by defining them as the exception to the rule. And just what is
"acceptable American middle-class"
parenting? We know of no such thing as a homogeneous approach to parenting
and attachment.

Policymakers may come away from Bruer's book with the misconception that
efforts to help young children are a waste of money and time. Indeed, it
appears that this may be Bruer's intent. For example, he attacks the very
modest funding provided for such programs as Early Head Start, a desperately
needed initiative that is a drop in the bucket relative to other government
programs. Early Head Start was conceived on the basis of ample evidence for
the value of early intervention --- evidence that was gathered long before
the hoopla began over neuroscience, but that Bruer conveniently omits from
his
book.

Pioneering work done in the 1970s by Sally Provence, at the Child Study
Center at Yale University provides just one example. Over a period of
several years, Provence studied two groups of families with young children
who were at risk for poor outcomes in school and adulthood. One group was
offered free medical care and high quality day care, which included help in
learning to be more responsive parents. The other group received no
assistance. Provence found that when the children of both groups reached
school age, those who received help missed far less school than the others,
were able to learn and retain information more easily, and were more
motivated. Their families had fewer children and the births were spaced
farther apart.

Efforts to help all children achieve the basic skills of trust,
motivation,and self-control needed for later intellectual and emotional
development should not be aimed at creating super-babies, or giving anxious
parents one more thing to worry about, or overambitious parents one more
reason to push
their children. Our aim should be to ensure that all children reach school
age with a solid foundation for learning and relating to others, and that
all parents know what they can do to help their children develop. In the
last decade, the United States has made important progress in recognizing
the needs of young children. Businesses have made efforts to create
family-friendly policies. Government has made efforts to provide services to
families. Parents are increasingly interested in how best to encourage and
prepare their children. Taking to heart many of the negative messages of The
Myth of the First Three Years can only set back those efforts. Our nation's
youngest citizens deserve better.
----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
Readiness and Relationships ? Issues in Assessing Young Children,
Families, and Caregivers
By Samuel J. Meisels

School readiness has become a near obsession in this country. Although no
agreed-upon definition of readiness exists, children are now being asked to
take standardized "readiness" tests as early as the beginning of first
grade. This obsession with readiness has even gone below preschool and
kindergarten. Recent years have witnessed an explosion of interest in
infants' developing brains. Books and magazines are filled with information
on how to "grow the best brains possible." Though some of this information
is quite good, these publications fuel the view that infants' brains are
essentially moldable as long as you intervene early enough, and that if you
don't intervene early enough, you've missed the boat.

The critics of this interpretation of brain research complain that brain
development is not over at age three, and they are correct. However, that
does not free us from an obligation to nurture, support, and seek to advance
the development of children during those years. What we do during the first
three years is extremely important, even though much more growth and
development is still to come.

An essential element of good practice in the first three years is
assessment. Assessment should give a picture of the whole child, not just
splinter skills and milestones, and it should help to differentiate and
expand parents' and providers' perception of their babies. In early
childhood, assessment is not the same thing as testing. Assessment should
engage us in a process of ongoing discovery. It should be viewed as a
collaborative process of observation and analysis that involves formulating
questions, gathering information, sharing observations, and making
interpretations to form new questions.

Functional Assessment
What does an assessment like this look like at a practical level? My
colleagues and I make two assumptions in our work on new assessment tools.
The first is that skills and behaviors that have functional applications
should be the centerpiece of early intervention. A second is that positive
relationships between infants and their primary care providers, both within
and outside the family, advance development most effectively. In short, our
overall purpose is to enhance relationships by strengthening infant/toddler
competence and increasing parental and caregiver knowledge, information, and
skills. We can do this through functional assessments.

Functional assessments focus on everyday, naturally occurring behaviors that
are easily recognizable. In a functional approach, children do not have to
score at a certain level or exhibit a certain type of behavior to achieve a
certain acceptable score. Instead, we're trying to help parents and
caregivers appreciate children's abilities in the first three years of life
and think about how that relates to a whole range of other developmental
indicators.

Functional assessments help families and service providers set goals. They
also enable families and providers to work together to document
accomplishments and identify areas in need of further development. This type
of assessment provides a vehicle for families and service providers to learn
to observe the child and contribute to the evaluation of his or her growth.
It links intervention with assessment, programs with families, and families
with young
children's developing competence.

Returning to school readiness, we must begin to think of readiness as much
more than a few skills seen in the first few weeks of kindergarten.
Consistent with ZERO TO THREE's "Heart Start Indicators" described in the
1992 Head Start Report, The Emotional Foundations of School Readiness, the
characteristics that equip children to come to school with knowledge of how
to learn include confidence, curiosity, intentionality, self-control, and
the ability
to relate, communicate, and cooperate. To attain these readiness skills,
children need a sense of self that can only be developed over time and
through interactions with trustworthy and caring adults. We believe that
functional assessments can contribute to these kinds of relationships.

We have reached a critical moment in the life of Head Start. Besieged by
those who advocate a downward extension of K?12 testing practices, Early
Head Start must remain strong in its commitment to children, families, and
communities. It must remain committed to maximizing meaning in all aspects
of its activities, and particularly in assessment. If we can use assessment
data to enhance the child' s primary context? the family?then we will have
engaged
in something meaningful?something that will open the doors to lifelong
learning for untold numbers of children.

Sam Meisels is Professor of Education at the University of Michigan-
Ann Arbor. T: 734-763-7306, E: smeisels@....

==============
Selamat sore sp's

sekedar share aja....
karena saya penasaran dengan kecerdasan beliau (Prof. Ken Soetanto) yang
menyabet gelar profesor dan empat doktor
(http://tn85.blogsome.com/2005/07/01/profesor/
<http://tn85.blogsome.com/2005/07/01/profesor-ken-soetanto-arek-suroboyo-peraih-empat-doktor-di-jepang/>)

pikiran saya tergelitik ingin tanya ke beliau ...
berikut jawaban dari Ken Soetanto yg di wakili oleh sekertarisnya.

Dear Bapakeghozan,

Persilahkan saya Kenny Chen seketaris membalas surat anda. Terima kasih atas
perhatiannya pada articlenya Prof. Soetanto. Kami hanya orang biasa dan
bekerja keras demi memenui impian kami. Dan kami merasa lucky juga.
Persilahkan kami menanyakkan melalui milis mana anda melihat article kami?

Prof. Soetanto selalu mengajarkan kita lumayan banyak juga, tetapi yg kami
merasa beliau selalu bekerja keras sekali dan boleh dapat dikatakan tidak
pernah berputus asa. Beliau selalu berterima kasih atas segala-galanya,
termasuk kegagalan atau kesuksesan.

Pertanyak anda ttg kunci rahasia sebenarnya adalah biasa saja dan susah
menjawabnya. Tetapi persilahkan apa yg saya rasa selama bekerja dgn Prof.
Soetanto.
1. Untuk ilmu
Hanya mempunyai Goal dan berusaha benar2 dan tekun demi mencapaikan Goalsnya
tsb.
2. Keluarga
Berterima kasih atas adanya keluarga. Pengertian dan berani mengalah.
3. Mendidik anak
Menenukan bakatnya si anak serta memberi/membuat kesempatan demi grow. Self
esteem adalah sangat penting sekali. Penghormatan pada orang tua
juga sangat penting juga. Teman dan pergaulan sangat penting juga. Jadikan
anak kita sebagai Lakonnya di study/career/hidupnya.

Semoga ada gunanya.

with all the best,

Kenny Chen

jadi pendapat PapaRafi, Ibu Julia , Ibu Intan, Ibu Heni adalah benar....

saya copy paste lg dari Ibu Dr.drg. Julia Maria van Tiel.

Banyak saran dalam pendidikan anak bahwa pendidikan/pengasuhan itu
perlu sesuai dengan:
- pola tumbuh kembangnya
- kulturnya
- logis dan realis

Jangan lupa (Mamakavin gak pernah lupa... he he) bahwa setiap anak akan
selalu membawa pengaruh dari nature-nya (genetik sebagai blue
printnya) dan nurture-nya (pola pengasuhan).

kebetulan saya pernah baca buku yang lumayan bagus menurut saya Judulnya
Dunia Anak/ Memahami Perasaan Anak karangan Hisbullah (kl tidak salah agak
lupa maaf...kl perlu besok saya confirm lagi.Insya Allah besok, beliau
pemikir dari lebanon)

beliau menyebutkan bahwa...faktor genetik masih bisa di kalahkan oleh faktor
lingkungan/kultur yg disebutkan Ibu doktor Julia. kecuali kl kemudain dia
tumbuh dan berkembang dengan apa adanya...tentu faktor genetik akan lebih
dominan.

kemudian dalam buku tersebut juga betapa beliu sangat tidak setuju dengan
pola asuh yang di berikan ke pengasuh
(red-babysister)...kecuali..amat..sangat...diperlukan...dan tentu dipilih
pengasuh yang baik....karena akan sangat berdampak pula dalam
proses tumbuh kembang anak.

kemudian di buku: (pernah saya posting ke milis ini silakan kalo yang
berminat di buka-buka lagi arsip milis tercinta ini)

Einstein Never Used Flash Cards : How Our Children Really Learn- And Why
They Need to Play More and Memorize Less
by Roberta Michnick Golinkoff (Author), Kathy Hirsh-Pasek (Author), Diane
Eyer (Author)
Hardcover: 272 pages ; Dimensions (in inches): 1.15 x 9.39 x 6.38
Publisher: Rodale Press; (October 3, 2003)
ISBN: 1579546951

Itu pesan yang disampaikan dalam buku ini yang ditulis oleh tiga peneliti di
bidang psikologi perkembangan. Pesan tersebut didukung oleh berbagai
penelitian dalam bidang psikologi perkembangan anak selama 40 tahun
belakangan. Tetapi meskipun bukti-bukti penelitian menyatakan demikian,
pesan tersebut tampaknya tidak sampai kepada kita, orang tua dan pengasuh
anak. Buku ini mengingatkan kita bahwa kita terjebak dalam asumsi yang
salah sehingga kita membuat anak-anak kita belajar (dalam konteks akademis)
lebih awal dan mengurangi waktu bermain mereka, sementara dalam bermainlah
anak-anak belajar banyak.

Sebagai orang tua, kita tentu selalu mengkhawatirkan kesejahteraan anak-anak
kita. Salah satu yang kita khawatirkan adalah apakah anak kita akan memiliki
keunggulan untuk bersaing di dunia yang semakin kompetitif. Akibatnya kita
sangat mengedepankan perkembangan otak anak: susu formula
yang kita pilih adalah susu yang mengandung semua zat yang membantu
pertumbuhan otak bayi; kita membelikan mainan yang merangsang intelejensia
anak; musik Mozart dan Bach menjadi menu bagi telinga mereka. Begitu
anak-anak kita mulai bicara, sebagian dari kita berlomba-lomba memasukkan
anak-anak kita ke kelompok bermain dan taman kanak-kanak yang menawarkan
pelajaran musik, program dwi-bahasa, mental aritmatika dan berbagai
aktivitas lain. Kita merasa bahwa belajar secara mandiri sebagaimana yang
telah dilakukan selama ribuan tahun tidak lagi cukup. Kekhawatiran kita
menyebabkan anak-anak kita menjadi "anak-anak yang dibuat tergesa-gesa," dan
mereka pun kehilangan masa kecil ...dst....(selanjutnya => pernah saya
posting ke milis ini silakan kalo yang berminat di buka-buka lagi arsip
milis tercinta ini).

mohon maaf jika ada yg tidak berkenan....
semata-mata sekedar share saja

semoga bisa menjadi inpirasi buat kita agar anak-anak kita kelak tumbuh dan
berkembang sesuai dengan keinginan orang tua masing2.

salam,
-ayahghozanwongcilikbiasayangselaluberusahamenjadiorangtuayangbijak-
"Kesempurnaan Manusia Sejati Bukan Dari Apa Yang Dimilikinya, Tapi
Bagaimana Dia.!!!"

*Informasi lainnya yang wajib untuk Anda baca :*

http://rasti812.multiply.com/journal/item/36
<http://rasti812.multiply.com/journal/item/36>

Cuma mau menambahkan:

Glenn Doman memaksudkan memberi flash card adalah untuk membangun
fotografis memori
http://www.internationalparentingassociation.org/Early_Learning/math.html <http://www.internationalparentingassociation.org/Early_Learning/math.html>

Supaya nanti waktu anak itu bisa ngomong langsung bisa baca segala
macam bahasa yang diflash-kan, plus mampu berhitung en matematika.
Lha napa engga sekalian diajarkan ilmu2 fisika biar ngalah-ngalahin
Pak Rachmat Adi ... hehehee..

Ttg membentuk photographic memory itu adalah onzin, kalau kata Bu
Adi pepesan kosong. Bisa dilihat disini, publikasi dari Psychology
Today, sebab photografis memori adalah genetik.

http://juliavantiel.multiply.com/journal/item/20
http://si-entong.blogspot.com/2004/08/memori-fotografis-1.html

Salam,
Julia
http://ghozan.blogsome.com/2008/07/17/hitam-putih-metode-glenn-doman/

[Non-text portions of this message have been removed]

9a.

Re: FW: [Hukum-Online] Penyebab Harga Obat Mahal - Dokter Raup Fee O

Posted by: "/ghz" ghozan10032005@gmail.com

Tue Oct 18, 2011 7:46 pm (PDT)



On 10/18/2011 4:47 PM, Laksmi Purwitosari wrote:
> Pak'e
> Kalo Prof dr. Iwan Dwi Prahasto, PhD, ahli farmakologi klinik, beliau konsen pada pengobatan rasional sedangkan Prof dr.Ali Gufron, PhD, ahli asuransi kesehatan, semoga Prof Gufron dapat mewujudkan universal coverage, sistem jaminan sosial nasional.
>
==> bu'e :)
tadinya saya agak optimis publich health dari harvard gitu loch.
ternyata samimawon.
rpp asi gak kelar2.....ruu tembakau ga kelar2......wes ewes.....ewes....

salam binggung
bapakeghozan

Recent Activity
Visit Your Group
Meditation and

Lovingkindness

A Yahoo! Group

to share and learn.

Yahoo! Health

Memory Loss

Are you at risk

for Alzheimers?

Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
Milis SEHAT mengucapkan terimakasih kepada:
- Asuransi AIA atas partisipasinya sebagai sponsor PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia atas partisipasinya sebagai Sponsor Tunggal FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : HBTLaw, PT.Intiland, dan PT. Permata Bank Tbk. yang telah dan konsisten mensponsori program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

"Milis SEHAT didukung oleh : CBN Net Internet Access &Website.
=================================================================
Milis Sehat thanks to:
- AIA Insurance as sponsor for PESAT Bali 2011
- PT LG Electronics Indonesia as exclusive partner of FAMILY FUN DAY MILIS SEHAT 2011.

Our biggest gratitude to: HBTLaw, PT. Intiland, and PT. Permata Bank Tbk. who have consistently sponsored our program, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."
"SEHAT mailing list is supported by CBN Net for Internet Access &Website.

Kunjungi kami di (Visit us at):
Official Web : http://milissehat.web.id/
FB           : http://www.facebook.com/pages/Milissehat/131922690207238
Twitter      : @milissehat <http://twitter.com/milissehat/>
==================================================================
Donasi (donation):
Rekening Yayasan Orang Tua Peduli
Bank Mandiri
Cabang Kemang Raya Jakarta
Account Number: 126.000.4634514
==================================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

No comments: